Javascript must be enabled to continue!
Profil kalus dan klavus di Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Periode Januari 2016 - Desember 2020
View through CrossRef
Introduction: Callus and clavus are skin disorders in the form of hyperkeratotic lesions that are common and can affect the patient's quality of life. Callus and clavus can occur in men or women of all ages. Treatment of callus and clavus has a low cost benefit but has received little attention and until now there is no gold standard of treatment that is considered ideal. Data on callus and clavus characteristics, common treatments, and the final outcome of callus and clavus therapy have not been widely reported so that it has an impact on the standard management of these two lesions. The aim of this study was to evaluate the description of callus and clavus cases in the form of gender, age, location lesions, management, and cure rate 1 month after therapy in the Outpatient Unit (URJ) Skin and Venereology Tumor Division and Skin Surgery (TBK) Regional General Hospital (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya.
Methods: A cross-sectional retrospective descriptive study on 25 Electronic Medical Records (EMR) patients with callus and clavus who met the inclusion and exclusion criteria at the Dermatology and Venereology Outpatient Unit, Skin Surgery Tumor Division (TBK) RSUD Dr. Soetomo Surabaya period January 2016 - December 2020.
Results: Twenty-five samples were recruited in this study consisting of 13 (52%) male patients and 12 (48%) female patients. Clavus dominated all cases in 20 (80%) cases, while callus was in 5 (20%) cases. The lower extremity was the most common site for lesions in 20 (80%) cases. Excision was the most frequently chosen method in 21 (84%) cases. Clinical recovery after 1 month after therapy was obtained in 20 (80%) cases.
Conclusion: Management of callus and clavus in URJ Skin and Venereology, TBK Division, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya showed a cure rate of 80% with the most preferred modality being excision.
Pendahuluan: Kalus dan klavus adalah kelainan kulit berupa lesi hiperkeratotik yang umum didapatkan dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Kalus dan klavus dapat terjadi pada pria ataupun wanita di segala rentang usia. Tatalaksana kalus dan klavus memiliki cost benefit yang rendah namun kurang mendapat perhatian dan hingga saat ini belum terdapat standar emas tatalaksana yang dianggap ideal. Data karakteristik kalus dan klavus, tatalaksana yang umum dilakukan, dan hasil akhir dari terapi kalus dan klavus belum banyak dilaporkan sehingga berdampak pada standar manajemen kedua lesi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi gambaran kasus kalus dan klavus berupa jenis kelamin, usia, lokasi lesi, tatalaksana, dan angka kesembuhan 1 bulan paska terapi di Unit Rawat Jalan (URJ) Kulit dan Kelamin Divisi Tumor dan Bedah Kulit (TBK) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya.
Metode: Penelitian deskriptif retrospektif potong lintang pada 25 Electronic Medical Records (EMR) pasien dengan kalus dan klavus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin Divisi Tumor Bedah Kulit (TBK) RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari 2016 - Desember 2020.
Hasil: Dua puluh lima sampel direkrut pada penelitian ini terdiri dari 13 (52%) pasien laki-laki dan 12 (48%) pasien perempuan. Klavus mendominasi keseluruhan kasus yaitu 20 (80%) kasus, sedangkan kalus 5 (20%) kasus. Ekstremitas bawah merupakan lokasi tersering didapatkannya lesi yaitu pada 20 (80%) kasus. Eksisi merupakan metode yang paling sering dipilih yaitu pada 21 (84%) kasus. Kesembuhan klinis setelah 1 bulan paska terapi didapatkan pada 20 (80%) kasus.
Simpulan: Tatalaksana kalus dan klavus di URJ Kulit dan Kelamin Divisi TBK RSUD Dr. Soetomo, Surabaya menunjukkan angka kesembuhan sebesar 80% dengan modalitas yang paling banyak dipilih berupa eksisi.
Title: Profil kalus dan klavus di Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Periode Januari 2016 - Desember 2020
Description:
Introduction: Callus and clavus are skin disorders in the form of hyperkeratotic lesions that are common and can affect the patient's quality of life.
Callus and clavus can occur in men or women of all ages.
Treatment of callus and clavus has a low cost benefit but has received little attention and until now there is no gold standard of treatment that is considered ideal.
Data on callus and clavus characteristics, common treatments, and the final outcome of callus and clavus therapy have not been widely reported so that it has an impact on the standard management of these two lesions.
The aim of this study was to evaluate the description of callus and clavus cases in the form of gender, age, location lesions, management, and cure rate 1 month after therapy in the Outpatient Unit (URJ) Skin and Venereology Tumor Division and Skin Surgery (TBK) Regional General Hospital (RSUD) Dr.
Soetomo, Surabaya.
Methods: A cross-sectional retrospective descriptive study on 25 Electronic Medical Records (EMR) patients with callus and clavus who met the inclusion and exclusion criteria at the Dermatology and Venereology Outpatient Unit, Skin Surgery Tumor Division (TBK) RSUD Dr.
Soetomo Surabaya period January 2016 - December 2020.
Results: Twenty-five samples were recruited in this study consisting of 13 (52%) male patients and 12 (48%) female patients.
Clavus dominated all cases in 20 (80%) cases, while callus was in 5 (20%) cases.
The lower extremity was the most common site for lesions in 20 (80%) cases.
Excision was the most frequently chosen method in 21 (84%) cases.
Clinical recovery after 1 month after therapy was obtained in 20 (80%) cases.
Conclusion: Management of callus and clavus in URJ Skin and Venereology, TBK Division, RSUD Dr.
Soetomo, Surabaya showed a cure rate of 80% with the most preferred modality being excision.
Pendahuluan: Kalus dan klavus adalah kelainan kulit berupa lesi hiperkeratotik yang umum didapatkan dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Kalus dan klavus dapat terjadi pada pria ataupun wanita di segala rentang usia.
Tatalaksana kalus dan klavus memiliki cost benefit yang rendah namun kurang mendapat perhatian dan hingga saat ini belum terdapat standar emas tatalaksana yang dianggap ideal.
Data karakteristik kalus dan klavus, tatalaksana yang umum dilakukan, dan hasil akhir dari terapi kalus dan klavus belum banyak dilaporkan sehingga berdampak pada standar manajemen kedua lesi tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi gambaran kasus kalus dan klavus berupa jenis kelamin, usia, lokasi lesi, tatalaksana, dan angka kesembuhan 1 bulan paska terapi di Unit Rawat Jalan (URJ) Kulit dan Kelamin Divisi Tumor dan Bedah Kulit (TBK) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr.
Soetomo, Surabaya.
Metode: Penelitian deskriptif retrospektif potong lintang pada 25 Electronic Medical Records (EMR) pasien dengan kalus dan klavus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin Divisi Tumor Bedah Kulit (TBK) RSUD Dr.
Soetomo Surabaya periode Januari 2016 - Desember 2020.
Hasil: Dua puluh lima sampel direkrut pada penelitian ini terdiri dari 13 (52%) pasien laki-laki dan 12 (48%) pasien perempuan.
Klavus mendominasi keseluruhan kasus yaitu 20 (80%) kasus, sedangkan kalus 5 (20%) kasus.
Ekstremitas bawah merupakan lokasi tersering didapatkannya lesi yaitu pada 20 (80%) kasus.
Eksisi merupakan metode yang paling sering dipilih yaitu pada 21 (84%) kasus.
Kesembuhan klinis setelah 1 bulan paska terapi didapatkan pada 20 (80%) kasus.
Simpulan: Tatalaksana kalus dan klavus di URJ Kulit dan Kelamin Divisi TBK RSUD Dr.
Soetomo, Surabaya menunjukkan angka kesembuhan sebesar 80% dengan modalitas yang paling banyak dipilih berupa eksisi.
Related Results
Pengaruh Konsentrasi Sukrosa terhadap Kadar Piperin pada Kalus Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.)
Pengaruh Konsentrasi Sukrosa terhadap Kadar Piperin pada Kalus Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.)
Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan tanaman herbal yang mengandung alkaloid utama piperin. Prospek cabe jawa sebagai bahan obat belum didukung oleh ketersediaan bahan ba...
Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Rawat Jalan Pasien di RSUD Kota Makassar
Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Rawat Jalan Pasien di RSUD Kota Makassar
Menurut Kemenkes RI Nomor 129/Menkes/SK/II 2008 waktu tunggu pelayanan adalah waktu yang diperlukan mulai dari pasien mendaftar di tempat pendaftraran pasien rawat jalan (TPPRJ), s...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Profil Pasien Infeksi Menular Seksual di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Moewardi Surakarta Periode Januari 2016−Desember 2020
Profil Pasien Infeksi Menular Seksual di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Moewardi Surakarta Periode Januari 2016−Desember 2020
Latar belakang: Infeksi menular seksual (IMS) merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit yang sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual secara v...
EVALUASI TATA HIJAU JALUR HIJAU JALAN KOTA PEKANBARU
EVALUASI TATA HIJAU JALUR HIJAU JALAN KOTA PEKANBARU
Jalur hijau kota Pekanbaru didominasi penanaman pohon dengan berbagai macam bentuk tajuk dan juga penanaman perdu dan penutup tanah dengan berbagai macam pola. Evaluasi terhadap ta...
Pengaruh Pemberian Elisitor Ekstrak Khamir pada Pertumbuhan Kultur Kalus Gembili dengan Penambahan ZPT 2,4-D dan Kinetin
Pengaruh Pemberian Elisitor Ekstrak Khamir pada Pertumbuhan Kultur Kalus Gembili dengan Penambahan ZPT 2,4-D dan Kinetin
Senyawa bioaktif pada tanaman gembili dapat dihasilkan lebih banyak dari kalus dibandingkan tanaman utuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian 2,4-D dan ...

