Javascript must be enabled to continue!
EVALUASI TATA HIJAU JALUR HIJAU JALAN KOTA PEKANBARU
View through CrossRef
Jalur hijau kota Pekanbaru didominasi penanaman pohon dengan berbagai macam bentuk tajuk dan juga penanaman perdu dan penutup tanah dengan berbagai macam pola. Evaluasi terhadap tata hijau pada lanskap jalan dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan tata hijau pada lanskap jalan. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi aspek fungsi, estetika dan pengelolaan jalur hijau dan memberikan rekomendasi peningkatan fungsi, estetika dan pengelolaan tata hijau jalur hijau jalan. Penelitian ini bermanfaat memberikan masukan kepada perencana, perancang dan penegelola dalam mengembangkan jalur hijau jalan kota Pekanbaru.Metode evaluasi yang digunakan untuk aspek fungsi dan pengelolaan yaitu sesuai dengan kriteria berdasarkan referensi dalam bidang arsitektur lanskap yang dimasukkan ke dalam bentuk persentase pembobotan nilai dengan kategori sangat baik, baik, sedang dan rendah. Jalan yang dievaluasi terdiri dari 4 jalan (Jalan Cut Nyak Dien, Sudirman, Gajah Mada, Diponogero) yang dibagi kedalam 17 segmen jalan. Aspek fungsi tanaman yang dievaluasi berjumlah 7 yang terdiri dari ; fungsi pengarah, fungsi pembatas, fungsi peneduh, kontrol bunyi, kontrol cahaya, kontrol polusi, dan pemberi identitas. Aspek pengelolaan yang dievaluasi yaitu segi desain dan teknis. Metode evaluasi yang digunakan untuk aspek estetika menggunakan teknik SBE (Scenic Beauty Estimation). Responden yang dilibatkan adalah mahasiswa dengan latar belakang ilmu arsitektur lanskap. Penilaian dilakukan berdasarkan penataan tanaman pada jalur hijau jalan di lapang yaitu terdapat 3 kategori pohon massal sejenis, pohon kelompok campuran, dan massal campuran (pohon-perdu-penutup tanah).Hasil evaluasi seluruh aspek fungsional tanaman pada tiap segmen jalan menunjukkan kategori sangat baik yaitu Jalan Sudirman segmen 6 (81,9%). Kategori baik berjumlah 13 segmen jalan dengan nilai berkisar dengan nilai antara 65,2% - 78,9% yaitu Jalan Cut Nyak Dien segmen 1, 3, 4, jalan Sudirman segmen 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, dan Jalan Diponegoro segmen 1, 3, 4. Kategori sedang terdiri dari 3 segmen yaitu Jalan Cut Nyak Dien segmen 2 (49,5%), Jalan Gajah Mada (59,4%) dan Jalan Diponegoro segmen 2 (59,6%). Segmen jalan dengan kategori sangat baik perlu dipertahankan dan dijaga pemeliharaannya, segmen dengan kategori baik dan sedang perlu ditingkatkan pemenuhan kriteria.Hasil evaluasi aspek estetika menghasilkan nilai SBE untuk tiap lanskap. Lanskap pohon massal sejenis yang termasuk kedalam nilai SBE kategori tinggi yaitu lanskap 10 (Jalan Diponegoro Segmen 3), 12 (Jalan Sudirman segmen 8), 15,16 dan 21 (Jalan Sudirman segmen 6), 17, 18, dan 20 (Jalan Sudirman Segmen 7). Keindahan tinggi pohon massal sejenis ditunjukkan dengan penanaman pohon secara massal seragam (tinggi, warna, tekstur, bentuk), berkesinambungan dan jarak rapat. Pada pohon kelompok campuran, nilai SBE kategori tinggi yaitu lanskap 8, 10, 11. Keindahan tinggi pohon kelompok campuran ditunjukkan dengan penanaman kelompok pohon yang saling mendukung dan komposisi yang baik (tinggi, warna, tekstur, bentuk). Pada massal campuran, nilai SBE kategori tinggi yaitu lanskap 6, 14, 15, 16, 21, 25. Pada kategori keindahan pemandangan sedang dan rendah disebabkan belum terpenuhinya kriteria penanaman dan prinsip desain penataan tanaman.Hasil seluruh evaluasi aspek pengelolaan tiap segmen menunjukkan kategori baik berjumlah 16 dengan nilai berkisar 56,3% - 77,1% yaitu Jalan Cut Nyak Dien segmen 1, 2, 3, 4, Jalan Sudirman segmen 1, 2, 3, 5, 7, 8, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Cut Nyak Dien segmen 1, 2, 3, 4. Kategori sedang yaitu Jalan Sudirman segmen 4 (56,3%). Segmen jalan dengan kategori baik dan sedang perlu untuk ditingkatakan pemenuhan kriteria. Pada lanskap yang telah memenuhi kriteria fungsi, estetika, dan pengelolaan perlu untuk dipertahankan keberadaannya dan untuk lanskap yang belum baik diperlukan peningkatan untuk memenuhi kriteria fungsi, estetika dan pengelolaan. Pengelolaan yang baik dan teratur dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan lanskap. Kriteria fungsi, estetika dan pengelolaan dapat menjadi acuan untuk menghasilkan suatu lanskap jalan yang baik.
Title: EVALUASI TATA HIJAU JALUR HIJAU JALAN KOTA PEKANBARU
Description:
Jalur hijau kota Pekanbaru didominasi penanaman pohon dengan berbagai macam bentuk tajuk dan juga penanaman perdu dan penutup tanah dengan berbagai macam pola.
Evaluasi terhadap tata hijau pada lanskap jalan dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan tata hijau pada lanskap jalan.
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi aspek fungsi, estetika dan pengelolaan jalur hijau dan memberikan rekomendasi peningkatan fungsi, estetika dan pengelolaan tata hijau jalur hijau jalan.
Penelitian ini bermanfaat memberikan masukan kepada perencana, perancang dan penegelola dalam mengembangkan jalur hijau jalan kota Pekanbaru.
Metode evaluasi yang digunakan untuk aspek fungsi dan pengelolaan yaitu sesuai dengan kriteria berdasarkan referensi dalam bidang arsitektur lanskap yang dimasukkan ke dalam bentuk persentase pembobotan nilai dengan kategori sangat baik, baik, sedang dan rendah.
Jalan yang dievaluasi terdiri dari 4 jalan (Jalan Cut Nyak Dien, Sudirman, Gajah Mada, Diponogero) yang dibagi kedalam 17 segmen jalan.
Aspek fungsi tanaman yang dievaluasi berjumlah 7 yang terdiri dari ; fungsi pengarah, fungsi pembatas, fungsi peneduh, kontrol bunyi, kontrol cahaya, kontrol polusi, dan pemberi identitas.
Aspek pengelolaan yang dievaluasi yaitu segi desain dan teknis.
Metode evaluasi yang digunakan untuk aspek estetika menggunakan teknik SBE (Scenic Beauty Estimation).
Responden yang dilibatkan adalah mahasiswa dengan latar belakang ilmu arsitektur lanskap.
Penilaian dilakukan berdasarkan penataan tanaman pada jalur hijau jalan di lapang yaitu terdapat 3 kategori pohon massal sejenis, pohon kelompok campuran, dan massal campuran (pohon-perdu-penutup tanah).
Hasil evaluasi seluruh aspek fungsional tanaman pada tiap segmen jalan menunjukkan kategori sangat baik yaitu Jalan Sudirman segmen 6 (81,9%).
Kategori baik berjumlah 13 segmen jalan dengan nilai berkisar dengan nilai antara 65,2% - 78,9% yaitu Jalan Cut Nyak Dien segmen 1, 3, 4, jalan Sudirman segmen 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, dan Jalan Diponegoro segmen 1, 3, 4.
Kategori sedang terdiri dari 3 segmen yaitu Jalan Cut Nyak Dien segmen 2 (49,5%), Jalan Gajah Mada (59,4%) dan Jalan Diponegoro segmen 2 (59,6%).
Segmen jalan dengan kategori sangat baik perlu dipertahankan dan dijaga pemeliharaannya, segmen dengan kategori baik dan sedang perlu ditingkatkan pemenuhan kriteria.
Hasil evaluasi aspek estetika menghasilkan nilai SBE untuk tiap lanskap.
Lanskap pohon massal sejenis yang termasuk kedalam nilai SBE kategori tinggi yaitu lanskap 10 (Jalan Diponegoro Segmen 3), 12 (Jalan Sudirman segmen 8), 15,16 dan 21 (Jalan Sudirman segmen 6), 17, 18, dan 20 (Jalan Sudirman Segmen 7).
Keindahan tinggi pohon massal sejenis ditunjukkan dengan penanaman pohon secara massal seragam (tinggi, warna, tekstur, bentuk), berkesinambungan dan jarak rapat.
Pada pohon kelompok campuran, nilai SBE kategori tinggi yaitu lanskap 8, 10, 11.
Keindahan tinggi pohon kelompok campuran ditunjukkan dengan penanaman kelompok pohon yang saling mendukung dan komposisi yang baik (tinggi, warna, tekstur, bentuk).
Pada massal campuran, nilai SBE kategori tinggi yaitu lanskap 6, 14, 15, 16, 21, 25.
Pada kategori keindahan pemandangan sedang dan rendah disebabkan belum terpenuhinya kriteria penanaman dan prinsip desain penataan tanaman.
Hasil seluruh evaluasi aspek pengelolaan tiap segmen menunjukkan kategori baik berjumlah 16 dengan nilai berkisar 56,3% - 77,1% yaitu Jalan Cut Nyak Dien segmen 1, 2, 3, 4, Jalan Sudirman segmen 1, 2, 3, 5, 7, 8, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Cut Nyak Dien segmen 1, 2, 3, 4.
Kategori sedang yaitu Jalan Sudirman segmen 4 (56,3%).
Segmen jalan dengan kategori baik dan sedang perlu untuk ditingkatakan pemenuhan kriteria.
Pada lanskap yang telah memenuhi kriteria fungsi, estetika, dan pengelolaan perlu untuk dipertahankan keberadaannya dan untuk lanskap yang belum baik diperlukan peningkatan untuk memenuhi kriteria fungsi, estetika dan pengelolaan.
Pengelolaan yang baik dan teratur dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan lanskap.
Kriteria fungsi, estetika dan pengelolaan dapat menjadi acuan untuk menghasilkan suatu lanskap jalan yang baik.
Related Results
KEPUASAN PENGGUNA JALAN TERHADAP PELAYANAN JALAN PROVINSI DI KALIMANTAN BARAT
KEPUASAN PENGGUNA JALAN TERHADAP PELAYANAN JALAN PROVINSI DI KALIMANTAN BARAT
Abstract
The quality of road services includes the performance of road infrastructure components, which include road pavement structures, road geometry, road complementary buil...
Analisa Kinerja Bersinyal Pada Jalan Pasca Perubahan Arus Di Kota Medan
Analisa Kinerja Bersinyal Pada Jalan Pasca Perubahan Arus Di Kota Medan
Transportasi merupakan kegiatan yang penting bagi masyarakat. Dari banyak hal, kualitas hidup masyarakat salah satunya dipengaruhi oleh transportasi dan akses ke tempat kerja, temp...
Analisis Pencemaran Udara Akibat Kepadatan Jalan Lalu Lintas di Kota Padang (Studi Kasus: Karbon Monoksida di Jalan Prof.Dr.Hamka, Jalan Khatib Sulaiman, dan Jalan Rasuna Said)
Analisis Pencemaran Udara Akibat Kepadatan Jalan Lalu Lintas di Kota Padang (Studi Kasus: Karbon Monoksida di Jalan Prof.Dr.Hamka, Jalan Khatib Sulaiman, dan Jalan Rasuna Said)
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT KEPADATAN
JALAN LALU LINTAS DI KOTA PADANG
(Studi Kasus: Karbon Monoksida di Jalan Prof Dr Hamka, Jalan Khatib Sulaiman, dan Jalan Rasu...
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK 4 SEGMEN KORIDOR JALAN UTAMA KOTA TANGERANG SELATAN (JL. PAHLAWAN SERIBU, JL. KAPTEN SOEBIANTO DJOJOHADIKUSUMO, JL. RAYA RAWABUNTU, DAN JL. BUARAN)
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK 4 SEGMEN KORIDOR JALAN UTAMA KOTA TANGERANG SELATAN (JL. PAHLAWAN SERIBU, JL. KAPTEN SOEBIANTO DJOJOHADIKUSUMO, JL. RAYA RAWABUNTU, DAN JL. BUARAN)
A good road corridor is one that pays attention to functionality, quality, and aesthetics, all optimized to meet road corridor planning standards. The profile of physical condition...
Analisis Derajat Kejenuhan dan Tingkat Pelayanan Jalan Sudirman Kota Pekanbaru
Analisis Derajat Kejenuhan dan Tingkat Pelayanan Jalan Sudirman Kota Pekanbaru
Jalan Sudirman Kota Pekanbaru adalah salah satu jalan yang mengalami aktifitas masyarakat yang disebabkan oleh adanya dua Mall dan padat pemukiman masyarakat. Terutama dalam hal ur...
ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) KOTA LANGSA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) KOTA LANGSA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi kondisi yang ada di lapangan (eksisting) ruang terbuka hijau di Kota Langsa, melihat perubahan ruang terbuka hijau di Kota Langsa ...
Analisis Ketergantungan Kota Bangkinang sebagai Kota Kecil terhadap Kota Pekanbaru Sebagai Kota Induk di Kawasan Metropolitan Pekansikawan (Pekanbaru, Siak, Kampar, dan Pelalawan)
Analisis Ketergantungan Kota Bangkinang sebagai Kota Kecil terhadap Kota Pekanbaru Sebagai Kota Induk di Kawasan Metropolitan Pekansikawan (Pekanbaru, Siak, Kampar, dan Pelalawan)
<p><em><span lang="IN">Kawasan Pekansikawan sebagai kawasan metropolitan terdiri dari </span><span lang="EN-US">Kota </span><span lang="IN"&g...
Jalan Nasional, Leger Jalan, Pem ANALISA TEKNIS DAN BIAYA PEMELIHARAAN JALAN MELALUI STUDI LEGER (Studi Kasus: Jalan Tingkat Provinsi Ruas Jalan Lateng-Madenan-Bondalem Provinsi Bali)
Jalan Nasional, Leger Jalan, Pem ANALISA TEKNIS DAN BIAYA PEMELIHARAAN JALAN MELALUI STUDI LEGER (Studi Kasus: Jalan Tingkat Provinsi Ruas Jalan Lateng-Madenan-Bondalem Provinsi Bali)
Abstrak
Jalan merupakan aset negara yang pada hakekatnya mempunyai peranan penting dalam rangka mewujudkan sarana pembangunan Nasional, terutama yang menyangkut perwujudan pe...

