Javascript must be enabled to continue!
Social Community in the Qur’an (A Study of Muhammad Abduh's Interpretation in Tafsir Al-Manar)
View through CrossRef
<p class="abstrak">This study offers Muhammad Abduh's ideas about awakening and advancing the backwardness of Islamic social communities which, left behind from western civilization from the perspective of the Koran. Abduh is a contemporary commentator and also a reformer of Islamic thought in the 19th century AD. This research is a library research using the maudhu'i interpretation research model. Based on Muhammad Abduh's interpretation of the verses of social community, it was found: 1). The concept of ummatan wasathan (middle society) is the best profile of society that should be applied by Muslims; 2). Ummah wahidah is an affirmation that humans are social creatures to live together and need each other; 3). Khairu ummah, is a guide to become the best and superior society by doing: al-amru bi al-ma''ruf, al-nahi 'an al-munkar, believing in Allah SWT and sticking to Islamic law; 4). The progress and decline of the Islamic community are greatly influenced by the efforts and awareness of the Islamic community to rise up and change their own destiny; and 5). Islam is present as the religion of rahmatan lil'alamin shalihun li kulli era wa al-makan. Several factors cause the backwardness and decline of the Islamic social community in various fields of life from other communities: 1). Abandoning the teachings of the Qur'an and Sunnah; 2). There is no unity and integrity of the people; and 3). Widespread understanding of jumud and taklid in religious matters.</p><p class="abstrak"><em>Penelitian ini menawarkan ide pemikiran Muhammad Abduh dalam membangkitkan dan memajukan keterbelakangan komunitas sosial masyarakat Islam yang jauh tertinggal dari peradaban Barat perspektif al-Quran. Abduh adalah seorang mufassir kontemporer dan juga seorang tokoh pembaharu kebangkitan pemikiran dalam Islam abad ke 19 M. Penelitian ini merupakan penelitian library research dengan menggunakan model penelitian tafsir maudhu’i. Berdasarkan penafsiran Muhammad Abduh tentang ayat-ayat komunitas sosial, ditemukan: 1). Konsep ummatan wasathan (masyarakat pertengahan) merupakan profil masyarakat terbaik yang seharusnya diterapkan oleh umat Islam; 2). Ummah wahidah merupakan penegasan bahwa manusia adalah makhluk sosial untuk hidup bersama dan saling membutuhkan; 3). Khairu ummah, merupakan tuntunan untuk menjadi masyarakat terbaik dan unggul dengan melakukan: al-amru bi al-ma’’ruf, al-nahi ‘an al-munkar, beriman kepada Allah SWT dan berpegang teguh dengan syari’at Islam; 4). Kemajuan dan kemunduran masyarakat Islam sangat dipengaruhi oleh usaha dan kesadaran masyarakat Islam untuk bangkit dan merubah nasib sendiri; dan 5). Islam hadir sebagai agama rahmatan lil’alamin shalihun li kulli zaman wa al-makan. Beberapa faktor penyebab keterbelakangan dan kemunduran komunitas sosial Islam dalam berbagai bidang kehidupan dari komunitas lain: 1). Meninggalkan ajaran al-Qur’an dan Sunnah; 2). Tidak terjalinnya persatuan dan kesatuan umat; dan 3). Menyebarluasnya paham jumud dan taklid dalam persoalan agama.</em></p>
Title: Social Community in the Qur’an (A Study of Muhammad Abduh's Interpretation in Tafsir Al-Manar)
Description:
<p class="abstrak">This study offers Muhammad Abduh's ideas about awakening and advancing the backwardness of Islamic social communities which, left behind from western civilization from the perspective of the Koran.
Abduh is a contemporary commentator and also a reformer of Islamic thought in the 19th century AD.
This research is a library research using the maudhu'i interpretation research model.
Based on Muhammad Abduh's interpretation of the verses of social community, it was found: 1).
The concept of ummatan wasathan (middle society) is the best profile of society that should be applied by Muslims; 2).
Ummah wahidah is an affirmation that humans are social creatures to live together and need each other; 3).
Khairu ummah, is a guide to become the best and superior society by doing: al-amru bi al-ma''ruf, al-nahi 'an al-munkar, believing in Allah SWT and sticking to Islamic law; 4).
The progress and decline of the Islamic community are greatly influenced by the efforts and awareness of the Islamic community to rise up and change their own destiny; and 5).
Islam is present as the religion of rahmatan lil'alamin shalihun li kulli era wa al-makan.
Several factors cause the backwardness and decline of the Islamic social community in various fields of life from other communities: 1).
Abandoning the teachings of the Qur'an and Sunnah; 2).
There is no unity and integrity of the people; and 3).
Widespread understanding of jumud and taklid in religious matters.
</p><p class="abstrak"><em>Penelitian ini menawarkan ide pemikiran Muhammad Abduh dalam membangkitkan dan memajukan keterbelakangan komunitas sosial masyarakat Islam yang jauh tertinggal dari peradaban Barat perspektif al-Quran.
Abduh adalah seorang mufassir kontemporer dan juga seorang tokoh pembaharu kebangkitan pemikiran dalam Islam abad ke 19 M.
Penelitian ini merupakan penelitian library research dengan menggunakan model penelitian tafsir maudhu’i.
Berdasarkan penafsiran Muhammad Abduh tentang ayat-ayat komunitas sosial, ditemukan: 1).
Konsep ummatan wasathan (masyarakat pertengahan) merupakan profil masyarakat terbaik yang seharusnya diterapkan oleh umat Islam; 2).
Ummah wahidah merupakan penegasan bahwa manusia adalah makhluk sosial untuk hidup bersama dan saling membutuhkan; 3).
Khairu ummah, merupakan tuntunan untuk menjadi masyarakat terbaik dan unggul dengan melakukan: al-amru bi al-ma’’ruf, al-nahi ‘an al-munkar, beriman kepada Allah SWT dan berpegang teguh dengan syari’at Islam; 4).
Kemajuan dan kemunduran masyarakat Islam sangat dipengaruhi oleh usaha dan kesadaran masyarakat Islam untuk bangkit dan merubah nasib sendiri; dan 5).
Islam hadir sebagai agama rahmatan lil’alamin shalihun li kulli zaman wa al-makan.
Beberapa faktor penyebab keterbelakangan dan kemunduran komunitas sosial Islam dalam berbagai bidang kehidupan dari komunitas lain: 1).
Meninggalkan ajaran al-Qur’an dan Sunnah; 2).
Tidak terjalinnya persatuan dan kesatuan umat; dan 3).
Menyebarluasnya paham jumud dan taklid dalam persoalan agama.
</em></p>.
Related Results
DISKURSUS MUNĀSABAH: Problem Tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān
DISKURSUS MUNĀSABAH: Problem Tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān
Abstract: Munāsabah al-Qur’ān is a part of ‘Ulūm al-Qur’ān which presents pros and contrast. The pros ulama makes munāsabah as a method to reveal enigma system of Quran verses and ...
STUDI KRITIS TAFSIR AL-MANAR KARYA MUHAMMAD ABBDUH DAN RASYID RIDLA
STUDI KRITIS TAFSIR AL-MANAR KARYA MUHAMMAD ABBDUH DAN RASYID RIDLA
Al-Qur’an, dalam tradisi pemikiran Islam, telah melahirkan sederetan teks turunan yang demikian luas dan mengagumkan yang disebut Tafsir. Tafsir al-Qur’an adalah penjelasan tentang...
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
The Tafsir al-Azhar of HAMKA is one of the Malay world's tafsir which reveals the vastness of knowledge that encompasses and covers all disciplines of science. In this interpretati...
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
Pada abad ke-20 M, penulisan tafsir al-Qur’an yang lahir di Nusantara umumnya menampilkan ciri kemodernannya, baik dari segi bahasa dan aksara. Namun, berbeda dengan Tafsīr Tūjuh S...
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
Al-Qur’an is the Final divine revelation sent down to the Final Messenger of God, the Prophet Muhammad (PBUH). Allah SWT is the creator of all humankind, Jinns, and all creatures...
Idealisasi Metode Living Qur’an
Idealisasi Metode Living Qur’an
<p align="center"><strong>Abstract</strong></p><p> </p><p>Living Qur’an is one of the contemporary method which needs some supports to be ...
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
AbstrakKegiatan tafsir Al-Qu’ran telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad Saw dan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa, yaitu periode Nabi Muhammad Saw dan sahabatnya, peri...
Muhammad Abduh dan Transformasi Epistemologi Tafsir: Studi Terhadap Pendekatan Al-Adaby Al-Ijtima’i
Muhammad Abduh dan Transformasi Epistemologi Tafsir: Studi Terhadap Pendekatan Al-Adaby Al-Ijtima’i
<p>Penelitian ini mengkaji corak tafsir al-Adaby al-Ijtima’i dalam pemikiran Muhammad Abduh, khususnya sebagaimana tertuang dalam Tafsir al-Qur’an al-Ḥakīm atau yang lebih di...

