Javascript must be enabled to continue!
DEKONSTRUKSI DERRIDA PADA KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF
View through CrossRef
Bahasa merupakan sekumpulan tanda-tanda yang menggiring pada suatu makna tertentu. Strukturalisme Ferdinand de Saussure beranggapan penanda (signifier) berkaitan erat dengan petanda (signified). Lebih jauh petanda bagi paham strukturalisme hanya bisa diartikulasikan oleh penanda. Tidak demikian dengan Derrida. Derrida memahami hal tersebut berbeda bahwa keduanya tidak saling bersinggungan (Derrida, 2010; Balkin, 2010; Gnanasekaran, 2015). Penanda dan Petanda tidak memiliki relasi secara langsung, artinya antara kata dan pemikiran dan apa yang dituju tidak pernah sejalan. Ada makna plural terhadap suatu bahasa dan hal itu tidak menetap sifatnya. Dalam memahami teks, seorang pembaca memiliki ruang untuk menafsirkan apa yang dibaca karena teks tidak lagi terikat pada penutur atau penulis. Melalui dekonstruksi, kebebasan pembaca dalam menafsirkan teks tersebut menunjukkan adanya ruang terbuka bagi interpretasi teks baru yang maknanya akan selalu ter-rekonstruksi. Pemikiran Derrida inilah yang juga mempengaruhi kajian-kajian di bidang linguistik kognitif. Oleh sebab itu, makalah ini bertujuan memaparkan bagaimana dekonstruksi masuk dalam proses penafsiran atau pemaknaan pada dimensi-dimensi metaforis dan figuratif dari bahasa. Metode yang digunakan pada makalah ini adalah deskriptif kualitatif. Proses analisis tuturan dan tulisan bermakna metaforis pada makalah ini menggunakan langkah-langkah teori dekonstruksi Derrida oleh Haryatmoko (2016). Beberapa teori pada kajian linguistik kognitif, seperti Metafora Konseptual (Lakoff & Johnson, 2003), Implikatur Percakapan (Sperber & Wilson, 1995), dan Kesantunan Berbahasa (Brown & Levinson, 1987) akan dibahas di dalam tulisan ini beserta contoh-contoh penerapan yang muncul di keseharian dan bagaimana teori dekonstruksi Derrida berpengaruh di dalamnya. Contoh-contoh relevan yang memuat tuturan ataupun tulisan bermakna metaforis tersebut diambil dari dua sumber data secara acak, yaitu dari dialog film dan lirik lagu. Makalah ini meyakini bahwa teori dekonstruksi pada kajian linguistik kognitif dapat memunculkan kembali karakter alami suatu bahasa yang bersifat ambigu dan bermakna plural.
Atma Jaya Catholic University of Indonesia
Title: DEKONSTRUKSI DERRIDA PADA KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF
Description:
Bahasa merupakan sekumpulan tanda-tanda yang menggiring pada suatu makna tertentu.
Strukturalisme Ferdinand de Saussure beranggapan penanda (signifier) berkaitan erat dengan petanda (signified).
Lebih jauh petanda bagi paham strukturalisme hanya bisa diartikulasikan oleh penanda.
Tidak demikian dengan Derrida.
Derrida memahami hal tersebut berbeda bahwa keduanya tidak saling bersinggungan (Derrida, 2010; Balkin, 2010; Gnanasekaran, 2015).
Penanda dan Petanda tidak memiliki relasi secara langsung, artinya antara kata dan pemikiran dan apa yang dituju tidak pernah sejalan.
Ada makna plural terhadap suatu bahasa dan hal itu tidak menetap sifatnya.
Dalam memahami teks, seorang pembaca memiliki ruang untuk menafsirkan apa yang dibaca karena teks tidak lagi terikat pada penutur atau penulis.
Melalui dekonstruksi, kebebasan pembaca dalam menafsirkan teks tersebut menunjukkan adanya ruang terbuka bagi interpretasi teks baru yang maknanya akan selalu ter-rekonstruksi.
Pemikiran Derrida inilah yang juga mempengaruhi kajian-kajian di bidang linguistik kognitif.
Oleh sebab itu, makalah ini bertujuan memaparkan bagaimana dekonstruksi masuk dalam proses penafsiran atau pemaknaan pada dimensi-dimensi metaforis dan figuratif dari bahasa.
Metode yang digunakan pada makalah ini adalah deskriptif kualitatif.
Proses analisis tuturan dan tulisan bermakna metaforis pada makalah ini menggunakan langkah-langkah teori dekonstruksi Derrida oleh Haryatmoko (2016).
Beberapa teori pada kajian linguistik kognitif, seperti Metafora Konseptual (Lakoff & Johnson, 2003), Implikatur Percakapan (Sperber & Wilson, 1995), dan Kesantunan Berbahasa (Brown & Levinson, 1987) akan dibahas di dalam tulisan ini beserta contoh-contoh penerapan yang muncul di keseharian dan bagaimana teori dekonstruksi Derrida berpengaruh di dalamnya.
Contoh-contoh relevan yang memuat tuturan ataupun tulisan bermakna metaforis tersebut diambil dari dua sumber data secara acak, yaitu dari dialog film dan lirik lagu.
Makalah ini meyakini bahwa teori dekonstruksi pada kajian linguistik kognitif dapat memunculkan kembali karakter alami suatu bahasa yang bersifat ambigu dan bermakna plural.
Related Results
Because Neglect Isn't Cute: Tuxedo Stan's Campaign for a Humane World
Because Neglect Isn't Cute: Tuxedo Stan's Campaign for a Humane World
On 10 September 2012, a cat named Tuxedo Stan launched his campaign for mayor of the Halifax Regional Municipality in Nova Scotia, Canada (“Tuxedo Stan for Mayor”). Backed by his h...
Sebuah Pengantar kepada Dekonstruksi
Sebuah Pengantar kepada Dekonstruksi
Artikel ini adalah sebuah pengantar kepada dekonstruksi. Harus diakui bahwa kita tidak dapat memahami apa itu dekonstruksi secara utuh. Tepatnya, kita hanya dapat menggambarkannya ...
Dekonstruksi Sikap Hidup Tokoh Masyarakat Madura dalam Cerpen Tandak Karya Royyan Julian
Dekonstruksi Sikap Hidup Tokoh Masyarakat Madura dalam Cerpen Tandak Karya Royyan Julian
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud dekonstruksi sikap hidup tokoh masyarakat Madura dalam cerpen Tandak karya Royyan Julian. Penelitian ini menggunakan metode dekonstru...
Kajian Penerjemahan Berbasis Korpus
Kajian Penerjemahan Berbasis Korpus
Kehadiran linguistik korpus telah memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai penelitian yang mengkaji bahasa, tak terkecuali kajian penerjemahan. Dampak dari linguistik ko...
Domain kognitif dan pencapaian ungkapan algebra dalam kalangan pelajar Tingkatan Dua
Domain kognitif dan pencapaian ungkapan algebra dalam kalangan pelajar Tingkatan Dua
Algebra merupakan salah satu topik yang sukar dalam pembelajaran Matematik khususnya di peringkat Menengah Rendah. Permasalahan pelajar dalam topik Algebra sering dikaitkan dengan ...
Dekonstruksi Derrida terhadap Humanisme Barat
Dekonstruksi Derrida terhadap Humanisme Barat
Tulisan ini menyajikan sebuah uraian tentang bagaimana Jacques Derrida (1930-2004) melakukan dekonstruksi terhadap proposisi filsafat Barat tentang hakikat manusia di bawah wacana ...
METODE SEMIOTIKA HUKUM JACQUES DERRIDA MEMBONGKAR GAMBAR LAMBANG NEGARA INDONESIA
METODE SEMIOTIKA HUKUM JACQUES DERRIDA MEMBONGKAR GAMBAR LAMBANG NEGARA INDONESIA
Derrida sebagai contoh post strukturalisme mencoba menawarkan metode dekonstruksi untuk mengatasi problem moderinitas. Sasaran dekonstruksinya ditujukan untuk membongkar sifat tota...
Filsafat Pasca Dekonstruksi
Filsafat Pasca Dekonstruksi
Artikel ini hendak memberikan sebuah gambaran tentang masa depan filsafat pasca Dekonstruksi menurut pemikiran Derrida. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: “Bagaimana ber...

