Javascript must be enabled to continue!
REPRESENTASI SAPTA TIMIRA DALAM PALEGONGAN AMBEKING MANUSA DENGAN METODE ANGRIPTA SASOLAHAN
View through CrossRef
Karya kreasi baru Palegongan Ambeking Manusa adalah sebuah karya tari Palegongan yang digarap disesuaikan dengan perkembangan jaman.Dengan adanya kemajuan iptek, maka sifat manusia mulai berubah sesuai dengan apa yang dilihatnya. Fenomena-fenomena yang terjadi dimasyarakat inilah yang penata tuangkan ke dalam bentuk karya Palegongan dengan judul Ambeking Manusa. Ambeking artinya sifat / kelakuan sedangkan Manusa artinya manusia. Jadi Ambeking Manusa artinya sifat yang terdapat dalam diri manusia,Garapan ini menampilkan tujuh sifat manusia yang membuat manusia tersebut lupa diri, yang biasa disebut dengan Sapta Timira.Tujuan dari garapan Palegongan ini adalah dapat mewujudkan ketujuh sifat manusia yang tertuang kedalam bentuk dan karekter topeng.Karya ini dibagi menjadi tiga rumusan ide penciptaan, 1).Bagaimanakah proses penciptaannya ?; 2) Bagaimanakah wujud garapan Palegongan Ambeking Manusa dan yang ke 3) Pesan apa yang terkandung dalam garapan palegongan Ambeking Manusa ini. Landasan teori yang dipergunakan dalan penciptaan Palegongan Ambeking Manusa ini menggunakan teori Angripta Sasolahan.Karya kreasi Palegongan Ambeking Manusa ini berbentuk kreasi palegongan menggunakan tujuh orang penari dengan menggunakan topeng dan didukung oleh multimedia untuk memperkuat dari teknik penyajiannya.Iringan yang dipergunkan adalah gamelan Semar Pagulingan.Pesan yang terkandung dalam garapan ini adalah pesan untuk pendidikan, kreativitas dan moral. Pesan untuk pendidikan bagi masyarakat tentang integritas, etos kerja dan gotong royong.Pesan untuk kreativitas dalam garapan ini mampu untuk berkarya dengan kreasi yang dimiliki, baik dari segi gerak, pola lantai maupun kostum. Pesan yang terakhir adalah pesan moral, yang mengharapkan manusia menghindari sifat-sifat yang membuat manusia itu lupa diri dan sombong,yang mempunyai rasa tanggung jawab dan suka menolong sesama.
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Title: REPRESENTASI SAPTA TIMIRA DALAM PALEGONGAN AMBEKING MANUSA DENGAN METODE ANGRIPTA SASOLAHAN
Description:
Karya kreasi baru Palegongan Ambeking Manusa adalah sebuah karya tari Palegongan yang digarap disesuaikan dengan perkembangan jaman.
Dengan adanya kemajuan iptek, maka sifat manusia mulai berubah sesuai dengan apa yang dilihatnya.
Fenomena-fenomena yang terjadi dimasyarakat inilah yang penata tuangkan ke dalam bentuk karya Palegongan dengan judul Ambeking Manusa.
Ambeking artinya sifat / kelakuan sedangkan Manusa artinya manusia.
Jadi Ambeking Manusa artinya sifat yang terdapat dalam diri manusia,Garapan ini menampilkan tujuh sifat manusia yang membuat manusia tersebut lupa diri, yang biasa disebut dengan Sapta Timira.
Tujuan dari garapan Palegongan ini adalah dapat mewujudkan ketujuh sifat manusia yang tertuang kedalam bentuk dan karekter topeng.
Karya ini dibagi menjadi tiga rumusan ide penciptaan, 1).
Bagaimanakah proses penciptaannya ?; 2) Bagaimanakah wujud garapan Palegongan Ambeking Manusa dan yang ke 3) Pesan apa yang terkandung dalam garapan palegongan Ambeking Manusa ini.
Landasan teori yang dipergunakan dalan penciptaan Palegongan Ambeking Manusa ini menggunakan teori Angripta Sasolahan.
Karya kreasi Palegongan Ambeking Manusa ini berbentuk kreasi palegongan menggunakan tujuh orang penari dengan menggunakan topeng dan didukung oleh multimedia untuk memperkuat dari teknik penyajiannya.
Iringan yang dipergunkan adalah gamelan Semar Pagulingan.
Pesan yang terkandung dalam garapan ini adalah pesan untuk pendidikan, kreativitas dan moral.
Pesan untuk pendidikan bagi masyarakat tentang integritas, etos kerja dan gotong royong.
Pesan untuk kreativitas dalam garapan ini mampu untuk berkarya dengan kreasi yang dimiliki, baik dari segi gerak, pola lantai maupun kostum.
Pesan yang terakhir adalah pesan moral, yang mengharapkan manusia menghindari sifat-sifat yang membuat manusia itu lupa diri dan sombong,yang mempunyai rasa tanggung jawab dan suka menolong sesama.
Related Results
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Tari Ngibing Ngalegong: Sebuah Ungkapan Rasa Suka Cita, Tulus, dan Ikhlas
Tari Ngibing Ngalegong: Sebuah Ungkapan Rasa Suka Cita, Tulus, dan Ikhlas
Abstrak
Karya tari yang berjudul Ngibing Ngalegong terinspirasi dari salah satu bagian dari legong yang berasal dari Desa Bongan Tabanan. Tari Ngibing Ngalegong merupakan sebuah k...
Representasi Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika
Representasi Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika
Representasi adalah bentuk interpretasi pemikiran siswa yang digunakan untuk menemukan solusi dari suatu masalah. Adapun representasi matematis siswa dalam memecahkan masalah dipen...
Analisis Ajen Atikan Dina Novel Pelesir Ka Basisir Karya Risnawati
Analisis Ajen Atikan Dina Novel Pelesir Ka Basisir Karya Risnawati
The purpose of this study is to describe the content of the story, structure, and ajen atikan in the novel Pelesir ka Basisir by Risnawati with an analysis of the structure and aje...
ROLE OF PADABHYANGA IN TIMIRA W.S.R TO MYOPIA
ROLE OF PADABHYANGA IN TIMIRA W.S.R TO MYOPIA
Myopia the commonest refractive error includes a large section of present day population. myopia along with other refractive errors accounts for 7 % of the cause...
A COMPARATIVE CLINICAL STUDY OF MANSHILADI ANJANA AND CHANDANADI ANJANA IN PRATHAMA PATALAGATA TIMIRA WITH SPECIAL REFERENCE TO SIMPLE MYOPIA: A RESEARCH PROTOCOL
A COMPARATIVE CLINICAL STUDY OF MANSHILADI ANJANA AND CHANDANADI ANJANA IN PRATHAMA PATALAGATA TIMIRA WITH SPECIAL REFERENCE TO SIMPLE MYOPIA: A RESEARCH PROTOCOL
Background: Timira is an important Drishtigata Roga described in Ayurvedic classics. In Prathama Patalagata Timira, the characteristic manifestation is Avyakta Darshana, or indisti...
ISLAMIC RELIGIOUS VALUES IN SAPTA TIRTA PABLENGAN FOLKLORE
ISLAMIC RELIGIOUS VALUES IN SAPTA TIRTA PABLENGAN FOLKLORE
“Sapta Tirta Pablengan” folklore which is originated from Karanganyar Regency, Central Java, is one of Javanese identities with a lot of local values and wisdom. This study aims to...

