Javascript must be enabled to continue!
Konsep Keselamatan Masyarakat Jawa Dalam Upacara Midodareni
View through CrossRef
Masyarakat Jawa mempunyai berbagai macam ritus dalam upacara perkawinan. Salah satu ritus itu adalah ritus atau upacara malam midodareni. Malam midodareni adalah malam tirakatan menjelang hari pernikahan. Malam tirakatan ini dilaksanakan oleh kerabat, kenalan, dan orang-orang sekitar rumah calon pengantin perempuan dengan hening. Upacara midodareni sebagai salah satu upacara di Jawa mempunyai makna yang dalam. Ritus ini dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk memperoleh keselamatan, terutama dalam rangkaian upacara perkawinan. Dalam ritus midodareni ini, masyarakat Jawa percaya akan peran bidadari yang mampu mempercantik dan memberi restu kepada calon pengantin yang akan melangsungkan perkawinannya. Ritus atau upacara malam midodareni ini berasal dari cerita rakyat Jaka Tarub yang memperisteri bidadari Dewi Nawangwulan, yang memiliki putri bernama Dewi Nawangsih dan dari kisah perkawinan pahlawan Arjuna dengan titisan bidadari yang bernama Dewi Wara Subadra yang diberi sepasang kembar mayang oleh dewa Krisna. Kembar mayang merupakan sarana yang tidak dilupakan dalam upacara perkawinan adat Jawa. Dalam Keyakinan Masyarakat Jawa, yang menjadi penghambat turunnya restu keselamatan itu adalah lengkap atau tidaknya ritus dan persyaratan yang dilakukan. Jika salah satu persyaratan tidak dipenuhi, ada kecemasan dan kekhawatiran bahwa rahmat itu tidak turun. Dalam perkembangannya, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Jawa tradisional, tetapi juga oleh masyarakat modern yang sudah beragama. Oleh karena itu, paham keselamatan menjadi semakin bervariatif sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, dan keyakinan masyarakat.
Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Title: Konsep Keselamatan Masyarakat Jawa Dalam Upacara Midodareni
Description:
Masyarakat Jawa mempunyai berbagai macam ritus dalam upacara perkawinan.
Salah satu ritus itu adalah ritus atau upacara malam midodareni.
Malam midodareni adalah malam tirakatan menjelang hari pernikahan.
Malam tirakatan ini dilaksanakan oleh kerabat, kenalan, dan orang-orang sekitar rumah calon pengantin perempuan dengan hening.
Upacara midodareni sebagai salah satu upacara di Jawa mempunyai makna yang dalam.
Ritus ini dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk memperoleh keselamatan, terutama dalam rangkaian upacara perkawinan.
Dalam ritus midodareni ini, masyarakat Jawa percaya akan peran bidadari yang mampu mempercantik dan memberi restu kepada calon pengantin yang akan melangsungkan perkawinannya.
Ritus atau upacara malam midodareni ini berasal dari cerita rakyat Jaka Tarub yang memperisteri bidadari Dewi Nawangwulan, yang memiliki putri bernama Dewi Nawangsih dan dari kisah perkawinan pahlawan Arjuna dengan titisan bidadari yang bernama Dewi Wara Subadra yang diberi sepasang kembar mayang oleh dewa Krisna.
Kembar mayang merupakan sarana yang tidak dilupakan dalam upacara perkawinan adat Jawa.
Dalam Keyakinan Masyarakat Jawa, yang menjadi penghambat turunnya restu keselamatan itu adalah lengkap atau tidaknya ritus dan persyaratan yang dilakukan.
Jika salah satu persyaratan tidak dipenuhi, ada kecemasan dan kekhawatiran bahwa rahmat itu tidak turun.
Dalam perkembangannya, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Jawa tradisional, tetapi juga oleh masyarakat modern yang sudah beragama.
Oleh karena itu, paham keselamatan menjadi semakin bervariatif sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, dan keyakinan masyarakat.
Related Results
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
MUSIK DALAM UPACARA ADAT POSUO
MUSIK DALAM UPACARA ADAT POSUO
Musik merupakan salah satu aspek penting yang digunakan dalam berbagai upacara keagamaan dan budaya oleh masyarakat seperti upacara kelahiran, pernikahan, kematian dan upacara inis...
PENDIDIKAN ETIKA HINDU PADA TEKS AGASTYA PARWA DALAM KEHIDUPAN MODERN
PENDIDIKAN ETIKA HINDU PADA TEKS AGASTYA PARWA DALAM KEHIDUPAN MODERN
ABSTRAK
Agama Hindu memiliki tiga kerangka dasar yaitu tattwa, etika dan upacara. Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi suatu kesatuan yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Ji...
Analisis Pelaksanaan Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Unit Gawat Darurat Ribka Saktiana Pasaribu
Analisis Pelaksanaan Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Unit Gawat Darurat Ribka Saktiana Pasaribu
Latar belakang Keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan anal...
PERENCANAAN LANGKAH -LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN
PERENCANAAN LANGKAH -LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN
Dalam melakukan keselamatan pasien perlu merencanakan langkah-langkah dalam keselamatan pasien. keselamatan pasien (patien safety) merupakan proses dalam sRumah Sakit dalam memberi...
PENGGUNAAN PALAKIWA DALAM UPACARA NGABEN DI DESA ADAT KULUB KECAMATAN TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR
PENGGUNAAN PALAKIWA DALAM UPACARA NGABEN DI DESA ADAT KULUB KECAMATAN TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR
Dalam mewujudkan rasa bhakti memuja kebesaran Tuhan, masyarakat di Desa Adat Kulub Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, melakukan upacara pitra yadnya yang dimana di dalam...
TRADISI TEDAK SITI PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU
TRADISI TEDAK SITI PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU
Indonesia mempunyai keanekaragaman tradisi dan budaya warisan leluhur yang masih diteruskan dari generasi ke generasi hingga kini. Upacara peringatan daur hidup seseorang, sejak se...
Kajian Etnobotani Tumbuhan Dalam Upacara Kehamilan (Posipo) Hingga Masa Anak-Anak (Dole-Dole) Pada Masyarakat Wolio Kota Bau-Bau
Kajian Etnobotani Tumbuhan Dalam Upacara Kehamilan (Posipo) Hingga Masa Anak-Anak (Dole-Dole) Pada Masyarakat Wolio Kota Bau-Bau
Tujuan dari penelitia ini adalah untuk mengetahui (1) jenis-jenis tumbuhan apa saja yang digunakan dalam upacara kehamilan (posipo) hingga upacara masa anak-anak (dole-dole), (2) o...

