Javascript must be enabled to continue!
Estimasi Sumberdaya Batugamping di PT X, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat
View through CrossRef
Abstract. Limestone is an excavated material that can be used as a raw material for cement. In the manufacture of cement there are three raw materials, namely limestone as the main raw material, then there are corrective raw materials, namely iron sand and quartz sand and additive raw material, namely gypsum. The main compound of limestone used as raw material for cement is CaO compound. In the formation of limestone, the value of CaO content has variations due to differences in facies in the formation process, so that the distribution of CaO content is not necessarily homogeneous. With the requirement for CaO content as a cement raw material, which is 47%, it is necessary to have a model to describe the geometry of the sediment and the distribution of CaO levels at the research site. The resource estimation method used is the kriging method. The basis for determining resources is to talk about the level of confidence. Thus, the selection of the kriging method is because this method is the best linear unbiased estimator, many parameters are considered in the kriging method, one of which is the variogram model. The variogram model is a spatial statistical analysis (geostatistics), or statistical analysis by considering the location of the sample points, in order to obtain information related to the relationship of one point to another which is expressed in a range or radius of information points that still have a spatial relationship. The results of the estimation of limestone resources are as follows. Limestone resources in Quarry B are 12,844,500 tons with an average CaO content of 48.48%, and in Quarry C as many as 10,857,000 tons with an average CaO content of 41.17%.
Abstrak. Batugamping merupakan bahan galian yang dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai bahan baku semen. Dalam pembuatan semen terdapat tiga bahan baku, yaitu batugamping sebagai bahan baku utama, kemudian terdapat bahan baku corrective yaitu pasir besi dan pasir kuarsa serta bahan baku additive yaitu gypsum. Senyawa utama batugamping yang dimanfaatkan sebagai bahan baku semen adalah senyawa CaO. Pada keterbentukan batugamping, nilai kadar CaO memiliki variasi yang diakibatkan adanya perbedaan fasies dalam proses pembentukannya, sehingga distribusi kadar CaO yang belum tentu homogen. Dengan adanya syarat kadar CaO sebagai bahan baku semen yaitu 47% maka perlu adanya pemodelan untuk menggambarkan bentuk geometri endapan dan distribusi kadar CaO di lokasi penelitian. Metode estimasi sumberdaya yang digunakan adalah metode kriging. Dasar dalam penentuan sumberdaya adalah berbicara terkait tingkat keyakinan. Dengan demikian, pemilihan metode kriging dikarenakan metode ini merupakan best linear unbiased estimator, banyak parameter yang diperhatikan dalam metode kriging salah satunya adalah model variogram. Model variogram merupakan analisis statistik spasial (geostatistik), atau analisis statistik dengan mempertimbangkan lokasi titik sampel, sehingga didapatkan informasi terkait hubungan satu titik dengan titik yang lainnya yang dinyatakan dalam range atau radius titik informasi yang masih memiliki hubungan secara spasial. Hasil dari estimasi sumberdaya batugamping adalah sebagai berikut Sumberdaya batugamping di Quarry B sebanyak 12.844.500 Ton dengan kadar rata-rata CaO 48,48%, dan di Quarry C sebanyak 10.857.000 Ton dengan kadar rata-rata CaO 41,17%.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Estimasi Sumberdaya Batugamping di PT X, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat
Description:
Abstract.
Limestone is an excavated material that can be used as a raw material for cement.
In the manufacture of cement there are three raw materials, namely limestone as the main raw material, then there are corrective raw materials, namely iron sand and quartz sand and additive raw material, namely gypsum.
The main compound of limestone used as raw material for cement is CaO compound.
In the formation of limestone, the value of CaO content has variations due to differences in facies in the formation process, so that the distribution of CaO content is not necessarily homogeneous.
With the requirement for CaO content as a cement raw material, which is 47%, it is necessary to have a model to describe the geometry of the sediment and the distribution of CaO levels at the research site.
The resource estimation method used is the kriging method.
The basis for determining resources is to talk about the level of confidence.
Thus, the selection of the kriging method is because this method is the best linear unbiased estimator, many parameters are considered in the kriging method, one of which is the variogram model.
The variogram model is a spatial statistical analysis (geostatistics), or statistical analysis by considering the location of the sample points, in order to obtain information related to the relationship of one point to another which is expressed in a range or radius of information points that still have a spatial relationship.
The results of the estimation of limestone resources are as follows.
Limestone resources in Quarry B are 12,844,500 tons with an average CaO content of 48.
48%, and in Quarry C as many as 10,857,000 tons with an average CaO content of 41.
17%.
Abstrak.
Batugamping merupakan bahan galian yang dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai bahan baku semen.
Dalam pembuatan semen terdapat tiga bahan baku, yaitu batugamping sebagai bahan baku utama, kemudian terdapat bahan baku corrective yaitu pasir besi dan pasir kuarsa serta bahan baku additive yaitu gypsum.
Senyawa utama batugamping yang dimanfaatkan sebagai bahan baku semen adalah senyawa CaO.
Pada keterbentukan batugamping, nilai kadar CaO memiliki variasi yang diakibatkan adanya perbedaan fasies dalam proses pembentukannya, sehingga distribusi kadar CaO yang belum tentu homogen.
Dengan adanya syarat kadar CaO sebagai bahan baku semen yaitu 47% maka perlu adanya pemodelan untuk menggambarkan bentuk geometri endapan dan distribusi kadar CaO di lokasi penelitian.
Metode estimasi sumberdaya yang digunakan adalah metode kriging.
Dasar dalam penentuan sumberdaya adalah berbicara terkait tingkat keyakinan.
Dengan demikian, pemilihan metode kriging dikarenakan metode ini merupakan best linear unbiased estimator, banyak parameter yang diperhatikan dalam metode kriging salah satunya adalah model variogram.
Model variogram merupakan analisis statistik spasial (geostatistik), atau analisis statistik dengan mempertimbangkan lokasi titik sampel, sehingga didapatkan informasi terkait hubungan satu titik dengan titik yang lainnya yang dinyatakan dalam range atau radius titik informasi yang masih memiliki hubungan secara spasial.
Hasil dari estimasi sumberdaya batugamping adalah sebagai berikut Sumberdaya batugamping di Quarry B sebanyak 12.
844.
500 Ton dengan kadar rata-rata CaO 48,48%, dan di Quarry C sebanyak 10.
857.
000 Ton dengan kadar rata-rata CaO 41,17%.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Hubungan Antara Fasies Batugamping Terhadap Kualitasnya Sebagai Bahan Baku Semen Portland Menurut Kadar CaO dan Senyawa Terkait di Kuari B dan C, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Unit Palimanan, Cirebon
Hubungan Antara Fasies Batugamping Terhadap Kualitasnya Sebagai Bahan Baku Semen Portland Menurut Kadar CaO dan Senyawa Terkait di Kuari B dan C, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Unit Palimanan, Cirebon
Batugamping merupakan sumberdaya alam kategori bahan galian industri nonlogam. Penelitian mengenai fasies dan kualitas batugamping di PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Unit Palima...
Analisis Konsumsi Daya Listrik Pada Kereta Penumpang Kelas Eksekutif Argo Cirebon (Studi Pada PT. Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta)
Analisis Konsumsi Daya Listrik Pada Kereta Penumpang Kelas Eksekutif Argo Cirebon (Studi Pada PT. Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta)
ABSTRACT
The purpose of this study is to conduct a study of the total electricity consumption on the Argo Cirebon executive class train, and to find out the number of passeng...
Perbandingan Sistem Hidrotermal Air Panas Ciater dan Palimanan: Analisis berdasarkan Komposisi Hidrogeokimia
Perbandingan Sistem Hidrotermal Air Panas Ciater dan Palimanan: Analisis berdasarkan Komposisi Hidrogeokimia
Penelitian ini membandingkan sistem hidrotermal air panas di dua lokasi di Jawa Barat, yaitu Ciater (Subang) dan Palimanan (Cirebon), berdasarkan komposisi hidrogeokimia. Ciater, y...
Sejarah Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Dari Pesantren hingga Panggung Politik
Sejarah Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Dari Pesantren hingga Panggung Politik
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam dengan pengikut terbesar di Indonesia bahkan di dunia, pendirian NU didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926 atas sumbangsih dari ...
SEJARAH SINGKAT KERAJAAN CIREBON
SEJARAH SINGKAT KERAJAAN CIREBON
AbstrakAdanya kecenderungan beberapa daerah yang dahulunya merupakan pusat kerajaan untuk membentuk provinsi sendiri merupakan fenomena yang muncul di era reformasi. Di Jawa Barat,...
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA PEGAWAI DI KECAMATAN PABEDILAN KABUPATEN CIREBON
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA PEGAWAI DI KECAMATAN PABEDILAN KABUPATEN CIREBON
Kecamatan Pabedilan merupakan bagian dari Kabupaten Cirebon Jawa Barat yang di bawahnya memiliki beberapa desa dan dikepalai oleh Camat. Kecamatan sebetulnya sama dengan pemerintah...
Mikrofasies batugamping Formasi Tokala Daerah Ululere dan Sekitarnya, Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah
Mikrofasies batugamping Formasi Tokala Daerah Ululere dan Sekitarnya, Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah
Penelitian mikrofasies batugamping telah dilakukan pada Formasi Tokala Daerah Ululere. Formasi Tokala terendapkan pada lingkungan laut dalam hingga laut dangkal. Tujuan utama penel...

