Javascript must be enabled to continue!
Implementasi Penempatan Sentra Wisuta Kuliner Menggunakan Multidimensional Scalling : Studi Kasus di Kota Madya Surabaya
View through CrossRef
Penempatan sentra wisata kuliner yang optimal sangat penting untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan metode Multidimensional Scaling (MDS) dalam menentukan lokasi yang paling tepat untuk sentra wisata kuliner di suatu kota. Pendekatan Multidimensional Scaling digunakan untuk memetakan persepsi pengunjung dan stakeholder terhadap berbagai faktor penentu lokasi, seperti aksesibilitas, fasilitas pendukung, potensi pasar, dan karakteristik lingkungan. Data yang dikumpulkan dari survei dan observasi lapangan diolah untuk mengidentifikasi pola persepsi dan preferensi yang dominan, serta menentukan koordinat ideal untuk lokasi sentra kuliner. Hasil dari pemetaan menggunakan multidimensional scaling adalah Kelompok 1 terdiri dari SWK Babat Jerawat, SWK Balas Klumprik, SWK Bratang Binangun, SWK Dharmahusada, SWK Embong Sawo, SWK Indrapura, SWK Kapas Krampung, SWK Penjaringan Sari, SWK Rmi, SWK Tanah Merah Dan SWK Tandes. Kelompok 2 terdiri dari SWK Convention Hall, SWK Ketabang, SWK Klampis Ngasem, SWK Krembangan, SWK Sukomannggal, SWK Terminal Manukan, SWK Urip Sumoharjo, SWK Wiyung, Dan SWK Wonorejo. Kelompok 3 terdiri dari SWK Deles Mer, SWK Dharmawangsa, SWK Gayungan, SWK Gunung Anyar, SWK Kandangan, SWK Lidah Kulon, SWK Mulyorejo, SWK Sememi, Dan SWK Semolowaru. Dan yang terakhir Kelompok 4 terdiri dari SWK Bentul, SWK Dukung Menanggal, SWK Jajar Tunggal, SWK Karah, SWK Kembang Kuning, SWK Manukan Lor, SWK Pegirian, SWK Putro Agung, SWK Siwalan Kerto Dan SWK Taman Prestasi. Kelompok 1 sangat cocok dijadikan referensi wisata dikarenakan dekat dengan hotel, wisata dan masjid, kelompok 2 cocok dijadikan tempat sentra wisata atau usaha baru dikarenakan jauh dari berbagai lokasi strategis. Kelompok 3 cocok dikunjungi oleh penduduk sekitar karena dekat dengan perumahan dan masjid. Untuk kelompok 4 cocok dilewati oleh orang orang sekitar yang lewat di daerah sekitar kelompok 4.
Institut Teknologi dan Bisnis Semarang
Title: Implementasi Penempatan Sentra Wisuta Kuliner Menggunakan Multidimensional Scalling : Studi Kasus di Kota Madya Surabaya
Description:
Penempatan sentra wisata kuliner yang optimal sangat penting untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan metode Multidimensional Scaling (MDS) dalam menentukan lokasi yang paling tepat untuk sentra wisata kuliner di suatu kota.
Pendekatan Multidimensional Scaling digunakan untuk memetakan persepsi pengunjung dan stakeholder terhadap berbagai faktor penentu lokasi, seperti aksesibilitas, fasilitas pendukung, potensi pasar, dan karakteristik lingkungan.
Data yang dikumpulkan dari survei dan observasi lapangan diolah untuk mengidentifikasi pola persepsi dan preferensi yang dominan, serta menentukan koordinat ideal untuk lokasi sentra kuliner.
Hasil dari pemetaan menggunakan multidimensional scaling adalah Kelompok 1 terdiri dari SWK Babat Jerawat, SWK Balas Klumprik, SWK Bratang Binangun, SWK Dharmahusada, SWK Embong Sawo, SWK Indrapura, SWK Kapas Krampung, SWK Penjaringan Sari, SWK Rmi, SWK Tanah Merah Dan SWK Tandes.
Kelompok 2 terdiri dari SWK Convention Hall, SWK Ketabang, SWK Klampis Ngasem, SWK Krembangan, SWK Sukomannggal, SWK Terminal Manukan, SWK Urip Sumoharjo, SWK Wiyung, Dan SWK Wonorejo.
Kelompok 3 terdiri dari SWK Deles Mer, SWK Dharmawangsa, SWK Gayungan, SWK Gunung Anyar, SWK Kandangan, SWK Lidah Kulon, SWK Mulyorejo, SWK Sememi, Dan SWK Semolowaru.
Dan yang terakhir Kelompok 4 terdiri dari SWK Bentul, SWK Dukung Menanggal, SWK Jajar Tunggal, SWK Karah, SWK Kembang Kuning, SWK Manukan Lor, SWK Pegirian, SWK Putro Agung, SWK Siwalan Kerto Dan SWK Taman Prestasi.
Kelompok 1 sangat cocok dijadikan referensi wisata dikarenakan dekat dengan hotel, wisata dan masjid, kelompok 2 cocok dijadikan tempat sentra wisata atau usaha baru dikarenakan jauh dari berbagai lokasi strategis.
Kelompok 3 cocok dikunjungi oleh penduduk sekitar karena dekat dengan perumahan dan masjid.
Untuk kelompok 4 cocok dilewati oleh orang orang sekitar yang lewat di daerah sekitar kelompok 4.
Related Results
ANALISIS EFEKTIVITAS APLIKASI WARGAKU SURABAYA DALAM MENUNJANG PELAYANAN PUBLIK MASYARAKAT KOTA SURABAYA
ANALISIS EFEKTIVITAS APLIKASI WARGAKU SURABAYA DALAM MENUNJANG PELAYANAN PUBLIK MASYARAKAT KOTA SURABAYA
Era revolusi industri 4.0 telah memaksa dunia bergerak kedalam trend digital dan internet di berbagai lini kehidupan bermasyarakat. Hal ini telah direspons secara positif oleh peme...
Aktualisasi Konsep Hredaya Kamala Madya dalam Penciptaan Tari Kamala Madya di Desa Tanjung Benoa, Bali
Aktualisasi Konsep Hredaya Kamala Madya dalam Penciptaan Tari Kamala Madya di Desa Tanjung Benoa, Bali
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konsep filosofis Hredaya Kamala Madya dalam Kakawin Siwaratri Kalpa dan bagaimana konsep tersebut diintegrasikan dalam penciptaan tari ber...
Strategi Pemberdayaan Umkm Berbasis Sentra Wisata Kuliner Di Surabaya
Strategi Pemberdayaan Umkm Berbasis Sentra Wisata Kuliner Di Surabaya
Kuliner merupakan salah satu elemen penting yang memberi pengalaman wisatawan secara utuh terhadap budaya tuan rumah pada sebuah destinasi. Kuliner mampu menceritakan budaya yang d...
PUSAT WISATA KULINER dan UMKM TANJUNG KRAMAT di KOTA GORONTALO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR KONTEMPORER
PUSAT WISATA KULINER dan UMKM TANJUNG KRAMAT di KOTA GORONTALO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR KONTEMPORER
Kota Gorontalo merupakan salah satu kota yang memiliki perkembangan yang cukup dalam bidang wisata dan kuliner yang di dukung dengan hasil laut yang melimpah sehingga membuat wisat...
DAMPAK PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN GEMBONG KOTA SURABAYA
DAMPAK PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN GEMBONG KOTA SURABAYA
Sektor informal pada kota-kota besar seringkali merujuk pada aktivitas perekonomian kecil. Pedagang kaki lima merupakan beberapa pelaku usaha sektor informal yang terkait langsung ...
ANALISIS PERAN AKTOR DALAM KOLABORASI PENYEDIAAN PERMUKIMAN LAYAK HUNI DI KOTA SURABAYA (STUDI KASUS PADA PROGRAM DANDAN OMAH)
ANALISIS PERAN AKTOR DALAM KOLABORASI PENYEDIAAN PERMUKIMAN LAYAK HUNI DI KOTA SURABAYA (STUDI KASUS PADA PROGRAM DANDAN OMAH)
Pada tahun 2022, Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan program Dandan Omah yang merupakan keberlanjutan dari program rehabilitasi sosial rutilahu yang dimodifikasi dengan konsep bar...
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN SENTRA UNTUK MENGOPTIMALKAN KECERDASAN MAJEMUK
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN SENTRA UNTUK MENGOPTIMALKAN KECERDASAN MAJEMUK
Abstrak
Artikel ini membahas mengenai sudut pandang model pembelajaran sentra dalam pendidikan anak usia dini. Model pembelajaran yang tepat adalah penentu bagi keberhasilan sebua...
KAJIAN SENTRA BLANGKON KOTA SURAKARTA
KAJIAN SENTRA BLANGKON KOTA SURAKARTA
Perkembangan industri blangkon di Kota Surakarta masih berjalan lambat dibanding subsektor lain seperti industri batik dan industri makanan. Karena itu Pemerintah Daerah Surakarta ...

