Javascript must be enabled to continue!
PERILAKU HARIAN ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi) DI KANDANG REHABILITASI PUSAT KONSERVASI ELANG KAMOJANG GARUT
View through CrossRef
This research was done to find out the Javan eagle's daily habits, how long the rehabilitation process takes, and what factors influence the effectiveness of the procedure. The ad libitum approach is employed in this study, and every motion will be documented. Two birds with the names Mario and Tegar were the subject of the study. Compared to the Tegar individual, Mario, the Javan eagle, exhibits a behavior that is 51% more typical. The rate of hunting behavior is 51% in Mario individuals compared to 49% in Tegar individuals, which is higher. Mario people exhibit less social behavior than Tegar people: their respective rates are 49% and 51%, respectively. Hunting prowess and social behavior both necessary for life in the wild are the key elements in determining rehabilitation success. The process of rehabilitation is greatly influenced by environmental variables as well. The Javan eagle's rehabilitation will be interfered with by the volume of human activity near its cage. Mario and Tegar are still not ready to be released into the wild and still require rehabilitation because of some undesirable behaviors; if the eagle is released into the wild, it is anticipated.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku harian elang jawa, berapa lama waktu proses rehabilitasi dan faktor apa saja yang menjadi penentu keberhasilan. Metode yang digunakan yaituadlibitum, setiap pergerakan dicatat. Elang jawa yang diteliti berjumlah dua individu dengan nama Mario dan Tegar. Persentase perilaku berburu Tegar lebih kecil dari persentase berburu Mario yaitu 49% sedangkan Mario 51%. Persentase perilaku sosial Tegar lebih besar dari persentase sosial Mario yaitu sebanyak 51% sedangkan Tegar 49%. Persentase perilaku umum tegar lebih kecil dari persentase perilaku Mario yaitu sebanyak 49% sedangkan Mario 51%. Variabel yang jadi penentu kelayakan pelepasliaran yaitu kemampuan berburu dan perilaku sosial. Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh pada proses rehabilitasi, banyaknya aktifitas manusia di sekitar kandang akan menghambat proses rehabilitasi. Mario dan Tegar masih belum siap dilepasliarkan dan masih membutuhkan waktu untuk proses rehabilitasi karena masih ada beberapa perilaku yang belum baik
University of Kuningan
Title: PERILAKU HARIAN ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi) DI KANDANG REHABILITASI PUSAT KONSERVASI ELANG KAMOJANG GARUT
Description:
This research was done to find out the Javan eagle's daily habits, how long the rehabilitation process takes, and what factors influence the effectiveness of the procedure.
The ad libitum approach is employed in this study, and every motion will be documented.
Two birds with the names Mario and Tegar were the subject of the study.
Compared to the Tegar individual, Mario, the Javan eagle, exhibits a behavior that is 51% more typical.
The rate of hunting behavior is 51% in Mario individuals compared to 49% in Tegar individuals, which is higher.
Mario people exhibit less social behavior than Tegar people: their respective rates are 49% and 51%, respectively.
Hunting prowess and social behavior both necessary for life in the wild are the key elements in determining rehabilitation success.
The process of rehabilitation is greatly influenced by environmental variables as well.
The Javan eagle's rehabilitation will be interfered with by the volume of human activity near its cage.
Mario and Tegar are still not ready to be released into the wild and still require rehabilitation because of some undesirable behaviors; if the eagle is released into the wild, it is anticipated.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku harian elang jawa, berapa lama waktu proses rehabilitasi dan faktor apa saja yang menjadi penentu keberhasilan.
Metode yang digunakan yaituadlibitum, setiap pergerakan dicatat.
Elang jawa yang diteliti berjumlah dua individu dengan nama Mario dan Tegar.
Persentase perilaku berburu Tegar lebih kecil dari persentase berburu Mario yaitu 49% sedangkan Mario 51%.
Persentase perilaku sosial Tegar lebih besar dari persentase sosial Mario yaitu sebanyak 51% sedangkan Tegar 49%.
Persentase perilaku umum tegar lebih kecil dari persentase perilaku Mario yaitu sebanyak 49% sedangkan Mario 51%.
Variabel yang jadi penentu kelayakan pelepasliaran yaitu kemampuan berburu dan perilaku sosial.
Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh pada proses rehabilitasi, banyaknya aktifitas manusia di sekitar kandang akan menghambat proses rehabilitasi.
Mario dan Tegar masih belum siap dilepasliarkan dan masih membutuhkan waktu untuk proses rehabilitasi karena masih ada beberapa perilaku yang belum baik.
Related Results
MANAJEMEN REHABILITASI DAN PELEPASLIARAN ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi Stresemann, 1924)
MANAJEMEN REHABILITASI DAN PELEPASLIARAN ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi Stresemann, 1924)
Kelestarian elang jawa (Nisaetus bartelsi) sangat penting karena perannya dalam ekosistem sebagai predator puncak. Perburuan dan perdagangan ilegal menjadi ancaman serius terhadap ...
Konservasi Elang dan Upaya Rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang: Studi Kasus di Jawa Barat
Konservasi Elang dan Upaya Rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang: Studi Kasus di Jawa Barat
ABSTRAKElang dari suku Accipitridae, khususnya genus Aquila, mengalami ancaman kepunahan akibat degradasi habitat, perdagangan ilegal, dan perilaku masyarakat yang memelihara satwa...
Aktivitas Harian Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) Rehabilitasi di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa
Aktivitas Harian Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) Rehabilitasi di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa
The Javan Hawk-eagle has a very important role in the balance of the forest ecosystem. In addition, the presence of the Javan Hawk-eagle can indicate an environmental quality. Howe...
IKLIM MIKRO DAN RESPON HEMATOLOGI KELINCI LOKAL (Lepus nigricollis) PADA JENIS KANDANG BERBEDA
IKLIM MIKRO DAN RESPON HEMATOLOGI KELINCI LOKAL (Lepus nigricollis) PADA JENIS KANDANG BERBEDA
Salah satu kendala dalam pengembangan ternak kelinci adalah ternak ini sensitif terhadap perubahan faktor lingkungan. Pergeseran kondisi lingkungan (iklim mikro ) dari kebutuhan op...
EFEKTIVITAS SISTEM KANDANG TERHADAP DEPLESI DAN KONVERSI PAKAN AYAM BROILER DI PT CIOMAS ADISATWA UNIT SIDENRENG RAPPANG
EFEKTIVITAS SISTEM KANDANG TERHADAP DEPLESI DAN KONVERSI PAKAN AYAM BROILER DI PT CIOMAS ADISATWA UNIT SIDENRENG RAPPANG
Penelitian ini dilakukan di kandang ayam broiler sistem kandang terbuka dengan populasi sebanyak 5.000 ekor dan sistem kandang semi tertutup dengan populasi sebanyak 4.500 ekor. Pe...
PELAYANAN REHABILITASI PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DI KABUPATEN KEDIRI
PELAYANAN REHABILITASI PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DI KABUPATEN KEDIRI
Pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di kabupaten Kediri, dalam mengatasi pecandu narkotika, meski ada hambatan yang dihadapi, terutama masalah sarana dan prasarana reha...
PENGARUH PUPUK HAYATI DAN PUPUK KANDANG TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT MOLER (Fusarium oxysporum) DAN PRODUKSI BAWANG MERAH BERPOLA TANAM ORGANIK
PENGARUH PUPUK HAYATI DAN PUPUK KANDANG TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT MOLER (Fusarium oxysporum) DAN PRODUKSI BAWANG MERAH BERPOLA TANAM ORGANIK
Rendahnya produksi bawang merah di Indonesia disebabkan salah satunya oleh penyakit moler (Fusarium oxysporum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk h...
Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis pupuk kandang serta mendapatkan jenis pupuk kandang dan dosis pupuk yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil kacang...

