Javascript must be enabled to continue!
Daro-daro dalam Ritus Rambu Solo’: Analisis Fenomenologis, Sosiologis, dan Reinterpretasi Teologis di Masyarakat Toraja Bori
View through CrossRef
This study examines the symbolic meaning of Daro-daro within the Rambu Solo’ ritual of the Toraja community, particularly in Bori’, and its sociological and theological implications. Employing a qualitative phenomenological approach, this research explores how local communities interpret and experience Daro-daro as part of their cultural and religious practices. The findings reveal that Daro-daro is understood as paningoan bombo, a symbolic medium through which relationships between the living and the deceased are perceived to continue. In this context, death is not interpreted as a rupture of relational ties but as a transformation into a symbolic and spiritual continuity. From a sociological perspective, Daro-daro functions as a mechanism for maintaining social cohesion, reinforcing collective memory, and strengthening intergenerational family bonds within the Toraja cultural structure. It also reflects social stratification and symbolic capital embedded in ritual practices. However, from a theological standpoint, the belief that Daro-daro mediates interaction with ancestral spirits raises critical tensions with Christian doctrine, which affirms that human relationships are ultimately grounded in God and not mediated through symbolic communication with the dead. In response, this study proposes a contextual theological reinterpretation of Daro-daro as a symbol of remembrance, familial love, and eschatological hope, rather than a medium of spiritual interaction. This reinterpretation allows the preservation of cultural identity while ensuring theological coherence. The study contributes to interdisciplinary dialogue between symbolic anthropology, sociology of religion, and contextual theology, offering a constructive framework for understanding and transforming local cultural symbols in contemporary faith contexts.
Penelitian ini mengkaji makna simbolik Daro-daro dalam ritus Rambu Solo’ pada masyarakat Toraja, khususnya di Bori’, serta implikasi sosiologis dan teologisnya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana masyarakat memahami dan menghayati Daro-daro sebagai bagian dari praktik budaya dan religius mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Daro-daro dimaknai sebagai paningoan bombo, yaitu media simbolik yang menghadirkan keberlanjutan relasi antara yang hidup dan yang telah meninggal. Dalam konteks ini, kematian tidak dipahami sebagai pemutusan relasi, melainkan sebagai transformasi menuju keberlanjutan simbolik dan spiritual. Secara sosiologis, Daro-daro berfungsi sebagai mekanisme pemeliharaan kohesi sosial, penguatan memori kolektif, serta pengikat relasi keluarga lintas generasi dalam struktur budaya masyarakat Toraja. Simbol ini juga merefleksikan stratifikasi sosial dan kapital simbolik dalam praktik ritual. Namun, secara teologis, pemaknaan Daro-daro sebagai media relasi dengan arwah menimbulkan ketegangan dengan iman Kristen yang menegaskan bahwa relasi manusia berakar pada Allah dan tidak dimediasi melalui simbol kepada yang telah meninggal. Sebagai respons, penelitian ini menawarkan reinterpretasi teologis kontekstual yang memaknai Daro-daro sebagai simbol ingatan, kasih keluarga, dan pengharapan eskatologis, bukan sebagai sarana komunikasi spiritual. Pendekatan ini memungkinkan pelestarian identitas budaya sekaligus menjaga keselarasan dengan iman Kristen. Penelitian ini berkontribusi pada dialog interdisipliner antara antropologi simbolik, sosiologi agama, dan teologi kontekstual dalam memahami transformasi makna simbol budaya.
Universitas Kristen Indonesia Toraja
Title: Daro-daro dalam Ritus Rambu Solo’: Analisis Fenomenologis, Sosiologis, dan Reinterpretasi Teologis di Masyarakat Toraja Bori
Description:
This study examines the symbolic meaning of Daro-daro within the Rambu Solo’ ritual of the Toraja community, particularly in Bori’, and its sociological and theological implications.
Employing a qualitative phenomenological approach, this research explores how local communities interpret and experience Daro-daro as part of their cultural and religious practices.
The findings reveal that Daro-daro is understood as paningoan bombo, a symbolic medium through which relationships between the living and the deceased are perceived to continue.
In this context, death is not interpreted as a rupture of relational ties but as a transformation into a symbolic and spiritual continuity.
From a sociological perspective, Daro-daro functions as a mechanism for maintaining social cohesion, reinforcing collective memory, and strengthening intergenerational family bonds within the Toraja cultural structure.
It also reflects social stratification and symbolic capital embedded in ritual practices.
However, from a theological standpoint, the belief that Daro-daro mediates interaction with ancestral spirits raises critical tensions with Christian doctrine, which affirms that human relationships are ultimately grounded in God and not mediated through symbolic communication with the dead.
In response, this study proposes a contextual theological reinterpretation of Daro-daro as a symbol of remembrance, familial love, and eschatological hope, rather than a medium of spiritual interaction.
This reinterpretation allows the preservation of cultural identity while ensuring theological coherence.
The study contributes to interdisciplinary dialogue between symbolic anthropology, sociology of religion, and contextual theology, offering a constructive framework for understanding and transforming local cultural symbols in contemporary faith contexts.
Penelitian ini mengkaji makna simbolik Daro-daro dalam ritus Rambu Solo’ pada masyarakat Toraja, khususnya di Bori’, serta implikasi sosiologis dan teologisnya.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana masyarakat memahami dan menghayati Daro-daro sebagai bagian dari praktik budaya dan religius mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Daro-daro dimaknai sebagai paningoan bombo, yaitu media simbolik yang menghadirkan keberlanjutan relasi antara yang hidup dan yang telah meninggal.
Dalam konteks ini, kematian tidak dipahami sebagai pemutusan relasi, melainkan sebagai transformasi menuju keberlanjutan simbolik dan spiritual.
Secara sosiologis, Daro-daro berfungsi sebagai mekanisme pemeliharaan kohesi sosial, penguatan memori kolektif, serta pengikat relasi keluarga lintas generasi dalam struktur budaya masyarakat Toraja.
Simbol ini juga merefleksikan stratifikasi sosial dan kapital simbolik dalam praktik ritual.
Namun, secara teologis, pemaknaan Daro-daro sebagai media relasi dengan arwah menimbulkan ketegangan dengan iman Kristen yang menegaskan bahwa relasi manusia berakar pada Allah dan tidak dimediasi melalui simbol kepada yang telah meninggal.
Sebagai respons, penelitian ini menawarkan reinterpretasi teologis kontekstual yang memaknai Daro-daro sebagai simbol ingatan, kasih keluarga, dan pengharapan eskatologis, bukan sebagai sarana komunikasi spiritual.
Pendekatan ini memungkinkan pelestarian identitas budaya sekaligus menjaga keselarasan dengan iman Kristen.
Penelitian ini berkontribusi pada dialog interdisipliner antara antropologi simbolik, sosiologi agama, dan teologi kontekstual dalam memahami transformasi makna simbol budaya.
Related Results
PERCEPTION OF THE LOCAL TOURIST ON RAMBU SOLO CEREMONY
PERCEPTION OF THE LOCAL TOURIST ON RAMBU SOLO CEREMONY
The Rambu Solo ceremony has its uniqueness. There are various long ritual processes so this uniqueness makes Toraja a tourist destination that is visited by many tourists with many...
Pengenalan Rambu-rambu Lalu Lintas Melalui Edugames untuk Siswa Sekolah Dasar di Desa Separe
Pengenalan Rambu-rambu Lalu Lintas Melalui Edugames untuk Siswa Sekolah Dasar di Desa Separe
Di desa ini tidak semua siswa memiliki latar belakang pada dunia teknologi informasi / IT yang memadai. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini memberikan pengenalan kepada sisw...
Studi Komunikasi Budaya Masyarakat Toraja di Jakarta (Upaya Masyarakat Toraja Mempertahankan Budaya Asli)
Studi Komunikasi Budaya Masyarakat Toraja di Jakarta (Upaya Masyarakat Toraja Mempertahankan Budaya Asli)
Toraja is an area that has many unique cultures. However, over time many native Toraja people left hometown, and went to wander outside Toraja, one of which was Jakarta. The resear...
Kepemimpinan Kapuangan Balusu dan Relevansinya Terhadap Peran Pandu Budaya Gereja Toraja
Kepemimpinan Kapuangan Balusu dan Relevansinya Terhadap Peran Pandu Budaya Gereja Toraja
Abstract: The Balusu are indigenous peoples who are in the kaparengesan leadership area who also apply the kapuangan leadership. This leadership model finds a unique form. In addit...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Kam Böri'nin Oğlu Bamsı Beyrek Boyu'nun Tarihi
Kam Böri'nin Oğlu Bamsı Beyrek Boyu'nun Tarihi
Dede Korkut Kitabı’ndaki üçüncü boy Kam Böri’nin Oğlu Bamsı Beyrek Boyu’dur. Kam Böri’nin Oğlu Bamsı Beyrek Boyu’nda ve Bamsı Beyrek ve Banu Çiçek tiplerinde en eskisi tarihin deri...
Kerukunan Dalam Beragama: Koeksistensi Antar Agama Dalam Upacara Rambu Solo Tana Toraja
Kerukunan Dalam Beragama: Koeksistensi Antar Agama Dalam Upacara Rambu Solo Tana Toraja
Harmony between religions is an important foundation in building a harmonious and inclusive society. One concrete example of this harmony can be found in the practice of the Rambu ...
RANCANG BANGUN APLIKASI RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DALAM BENTUK POP QUIS BERBASIS ANDROID
RANCANG BANGUN APLIKASI RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DALAM BENTUK POP QUIS BERBASIS ANDROID
<p><em>Saat ini perkembangan Tren Teknologi Informasi terus meningkat dengan cepat termasuk aspek pendidikan. Tidak terkecuali aspek pendidikan pada anak.</em><...

