Javascript must be enabled to continue!
PENENTUAN SKALA PRIORITAS PENANGANAN JALAN KOTA DI KOTA MATARAM
View through CrossRef
Jalan adalah prasarana penting dalam pertumbuhan sosial dan ekonomi. Berdasarkan keputusan Walikota Mataram No. 1053/IX/2014, tanggal 22 September 2014, Kota Mataram memiliki 619 ruas jalan, dan panjang 333.918 km. Karena keterbatasan dana dan kompleknya permasalahan hanya 0.16 % - 5.50 % dari panjang jalan yang tertangani. Sementara itu skala prioritas yang digunakan yaitu SK.No.77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga, sudah tidak dapat mengakomodir kompleknya permasalahan sekarang ini. Sehingga perlu ada alternatif untuk melengkapi metode yang ada.Berdasarkan hal tersebut maka penulis menyusun tesis dengan judul “Penentuan Skala Prioritas Penanganan Jalan Kota di Kota Mataram”. Selanjutnya dianalisa bagaimana urutan skala prioritas berdasarkan SK.No.77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga. Kemudian dianalisa metode alternatif yaitu metode Analytical Hierarchy Process (AHP), dan bagaimana keterbatasan masing-masing pada penentuan skala prioritas penanganan jalan kota di Kota Mataram. Berdasarkan analisa, metode SK.No.77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga menggunakan dua faktor penentu skala prioritas penanganan yaitu: faktor Volume Lalu Lintas (LHR) dan Net Present Value (NPV). Sedangkan metode AHP pada kajian ini mengkombinasikan beberapa faktor yaitu: kondisi jalan, volume lalu lintas, manfaat ekonomi, dan aspek tata guna lahan. Hasil analisa penentuan skala prioritas penanganan jalan kota dengan kedua metode, adalah: Jalan Gora sebagai prioritas utama, dan Jalan Subak I sebagai prioritas terakhir. Selanjutnya bila disandingkan antara kedua metode terdapat perbedaan urutan untuk ruas jalan yang lain seperti jalan peternakan, pada metode AHP sebagai prioritas kedua dan prioritas keempat pada metode SK.No.77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga. Hal ini karena perbedaan faktor yang ditinjau dari kedua metode tersebut. Sehingga disimpulkan bahwa, penggunaan AHP pada penentuan skala prioritas penanganan jalan akan melengkapi metode yang ada karena menggunakan multikriteria yang memberikan aspirasi bagi para penentu kebijakan pada penanganan jalan kota yang aspiratif dan komunikatif. Sedangkan metode SK.No.77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga terus dapat digunakan untuk kondisi jalan dengan permasalahan yang sederhana terutama karena faktor volume lalu lintas dan NPV. Kata Kunci : Skala prioritas,Jalan kota, AHP
Title: PENENTUAN SKALA PRIORITAS PENANGANAN JALAN KOTA DI KOTA MATARAM
Description:
Jalan adalah prasarana penting dalam pertumbuhan sosial dan ekonomi.
Berdasarkan keputusan Walikota Mataram No.
1053/IX/2014, tanggal 22 September 2014, Kota Mataram memiliki 619 ruas jalan, dan panjang 333.
918 km.
Karena keterbatasan dana dan kompleknya permasalahan hanya 0.
16 % - 5.
50 % dari panjang jalan yang tertangani.
Sementara itu skala prioritas yang digunakan yaitu SK.
No.
77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga, sudah tidak dapat mengakomodir kompleknya permasalahan sekarang ini.
Sehingga perlu ada alternatif untuk melengkapi metode yang ada.
Berdasarkan hal tersebut maka penulis menyusun tesis dengan judul “Penentuan Skala Prioritas Penanganan Jalan Kota di Kota Mataram”.
Selanjutnya dianalisa bagaimana urutan skala prioritas berdasarkan SK.
No.
77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga.
Kemudian dianalisa metode alternatif yaitu metode Analytical Hierarchy Process (AHP), dan bagaimana keterbatasan masing-masing pada penentuan skala prioritas penanganan jalan kota di Kota Mataram.
Berdasarkan analisa, metode SK.
No.
77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga menggunakan dua faktor penentu skala prioritas penanganan yaitu: faktor Volume Lalu Lintas (LHR) dan Net Present Value (NPV).
Sedangkan metode AHP pada kajian ini mengkombinasikan beberapa faktor yaitu: kondisi jalan, volume lalu lintas, manfaat ekonomi, dan aspek tata guna lahan.
Hasil analisa penentuan skala prioritas penanganan jalan kota dengan kedua metode, adalah: Jalan Gora sebagai prioritas utama, dan Jalan Subak I sebagai prioritas terakhir.
Selanjutnya bila disandingkan antara kedua metode terdapat perbedaan urutan untuk ruas jalan yang lain seperti jalan peternakan, pada metode AHP sebagai prioritas kedua dan prioritas keempat pada metode SK.
No.
77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga.
Hal ini karena perbedaan faktor yang ditinjau dari kedua metode tersebut.
Sehingga disimpulkan bahwa, penggunaan AHP pada penentuan skala prioritas penanganan jalan akan melengkapi metode yang ada karena menggunakan multikriteria yang memberikan aspirasi bagi para penentu kebijakan pada penanganan jalan kota yang aspiratif dan komunikatif.
Sedangkan metode SK.
No.
77/KPTS/Db/1990 Dirjen Bina Marga terus dapat digunakan untuk kondisi jalan dengan permasalahan yang sederhana terutama karena faktor volume lalu lintas dan NPV.
Kata Kunci : Skala prioritas,Jalan kota, AHP.
Related Results
KEPUASAN PENGGUNA JALAN TERHADAP PELAYANAN JALAN PROVINSI DI KALIMANTAN BARAT
KEPUASAN PENGGUNA JALAN TERHADAP PELAYANAN JALAN PROVINSI DI KALIMANTAN BARAT
Abstract
The quality of road services includes the performance of road infrastructure components, which include road pavement structures, road geometry, road complementary buil...
EVALUASI TATA HIJAU JALUR HIJAU JALAN KOTA PEKANBARU
EVALUASI TATA HIJAU JALUR HIJAU JALAN KOTA PEKANBARU
Jalur hijau kota Pekanbaru didominasi penanaman pohon dengan berbagai macam bentuk tajuk dan juga penanaman perdu dan penutup tanah dengan berbagai macam pola. Evaluasi terhadap ta...
Analisis Prioritas Pemeliharaan Jalan Kabupaten Dairi dengan Metode AHP dan GIS
Analisis Prioritas Pemeliharaan Jalan Kabupaten Dairi dengan Metode AHP dan GIS
Persoalan keterbatasan dana seringkali menjadi kendala dalam menentukan prioritas pemeliharaan jalan, termasuk pada Kabupaten Dairi. Dalam penentuan urutan prioritas jalan diperluk...
Analisis Pencemaran Udara Akibat Kepadatan Jalan Lalu Lintas di Kota Padang (Studi Kasus: Karbon Monoksida di Jalan Prof.Dr.Hamka, Jalan Khatib Sulaiman, dan Jalan Rasuna Said)
Analisis Pencemaran Udara Akibat Kepadatan Jalan Lalu Lintas di Kota Padang (Studi Kasus: Karbon Monoksida di Jalan Prof.Dr.Hamka, Jalan Khatib Sulaiman, dan Jalan Rasuna Said)
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT KEPADATAN
JALAN LALU LINTAS DI KOTA PADANG
(Studi Kasus: Karbon Monoksida di Jalan Prof Dr Hamka, Jalan Khatib Sulaiman, dan Jalan Rasu...
SKALA PRIORITAS USULAN PENANGANAN JALAN DALAM UPAYA STRATEGI PENINGKATAN KEMANTAPAN JALAN
SKALA PRIORITAS USULAN PENANGANAN JALAN DALAM UPAYA STRATEGI PENINGKATAN KEMANTAPAN JALAN
Abstract - The stability of roads is one of the important indicators in supporting connectivity and smooth transportation, which directly impacts the economy and the welfare of the...
MODEL PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN JALAN KABUPATEN BERDASARKAN ANALISIS HIRARKI PROSES
MODEL PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN JALAN KABUPATEN BERDASARKAN ANALISIS HIRARKI PROSES
Jalan kabupaten sangat berperan penting bagi perekonomian dan memacu pengembangan potensi ekonomi daerah wilayah Kabupaten Sukabumi, sebagai Kabupaten terluas kedua di pulau jawa. ...
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK 4 SEGMEN KORIDOR JALAN UTAMA KOTA TANGERANG SELATAN (JL. PAHLAWAN SERIBU, JL. KAPTEN SOEBIANTO DJOJOHADIKUSUMO, JL. RAYA RAWABUNTU, DAN JL. BUARAN)
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK 4 SEGMEN KORIDOR JALAN UTAMA KOTA TANGERANG SELATAN (JL. PAHLAWAN SERIBU, JL. KAPTEN SOEBIANTO DJOJOHADIKUSUMO, JL. RAYA RAWABUNTU, DAN JL. BUARAN)
A good road corridor is one that pays attention to functionality, quality, and aesthetics, all optimized to meet road corridor planning standards. The profile of physical condition...
Jalan Nasional, Leger Jalan, Pem ANALISA TEKNIS DAN BIAYA PEMELIHARAAN JALAN MELALUI STUDI LEGER (Studi Kasus: Jalan Tingkat Provinsi Ruas Jalan Lateng-Madenan-Bondalem Provinsi Bali)
Jalan Nasional, Leger Jalan, Pem ANALISA TEKNIS DAN BIAYA PEMELIHARAAN JALAN MELALUI STUDI LEGER (Studi Kasus: Jalan Tingkat Provinsi Ruas Jalan Lateng-Madenan-Bondalem Provinsi Bali)
Abstrak
Jalan merupakan aset negara yang pada hakekatnya mempunyai peranan penting dalam rangka mewujudkan sarana pembangunan Nasional, terutama yang menyangkut perwujudan pe...

