Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

DISKRESI AKTOR STREET LEVEL BUREAUCRAT PADA IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF TK-SMP DI KOTA PADANG

View through CrossRef
Penelitian ini berangkat dari ketidakseragaman praktik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Padang. Tujuan penelitian yaitu menganalisis mekanisme diskresi guru dan kepala sekolah sebagai street level bureaucracy serta bagaimana komunikasi kebijakan, sumber daya, dan budaya organisasi lokal membentuk variasi implementasi pada  jenjang TK hingga SMP di Kota Padang. Melibatkan 47 informan dari 9 sekolah serta UPTD LDPI, data dikumpulkan melalui wawancara, telaah dokumen, serta observasi. Temuan menunjukkan bahwa meskipun prinsip penerimaan tanpa diskriminasi dipahami secara konsisten, tingkat kesiapan sekolah dan pemahaman praktis terhadap implementasi bervariasi. Para pelaksana memanfaatkan diskresi untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan anak, dinamika orang tua, serta beban kerja dan kemampuan sekolah. Diskresi yang muncul bukan sekedar respons terhadap tekanan struktural sebagaimana dijelaskan Lipsky, melainkan membentuk  adaptive discretion yakni diskresi reflektif yang mempertimbangkan dilema moral, nilai profesional, dan kepentingan institusional. Pola ini dipengaruhi budaya birokrasi lokal yang menekankan kehati-hatian, harmoni, dan penyelesaian kasus secara situsional, sehingga menghasilkan implementasi yang tidak seragam. Studi ini memperluas teori street level bureaucracy, bahwa diskresi dalam konteks inklusi pendidikan juga merupakan arena negosiasi etis, bukan sekedar respons teknis keterbatasan aturan dan sumber daya. Oleh karena itu, diperlukan SOP, koordinasi lintas jenjang dan penguatan kapasitas agar praktik inklusi menjadi lebih konsisten dan akuntabel. This study stems from the inconsistency of practices in the implementation of inclusive education in Padang City. The objective of this study is to analyze the discretion mechanisms of teachers and principals as street-level bureaucracy and how policy communication, resources, and local organizational culture shape variations in implementation at the kindergarten to junior high school levels in Padang City. Involving 47 informants from 9 schools and the UPTD LDPI, data were collected through interviews, document reviews, and observations. The findings show that although the principle of non-discriminatory acceptance is understood consistently, the level of school readiness and practical understanding of implementation varies. Implementers use discretion to tailor services to children's needs, parental dynamics, and school workload and capabilities. The discretion that emerged was not merely a response to structural pressures as described by Lipsky, but rather formed adaptive discretion, which is reflective discretion that considers moral dilemmas, professional values, and institutional interests. This pattern was influenced by the local bureaucratic culture that emphasized caution, harmony, and situational case resolution, resulting in inconsistent implementation. This study expands on the theory of street-level bureaucracy, arguing that discretion in the context of educational inclusion is also an arena for ethical negotiation, not merely a technical response to regulatory and resource constraints. Therefore, standard operating procedures (SOPs), cross-level coordination, and capacity building are needed to make inclusion practices more consistent and accountable.
Title: DISKRESI AKTOR STREET LEVEL BUREAUCRAT PADA IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF TK-SMP DI KOTA PADANG
Description:
Penelitian ini berangkat dari ketidakseragaman praktik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Padang.
Tujuan penelitian yaitu menganalisis mekanisme diskresi guru dan kepala sekolah sebagai street level bureaucracy serta bagaimana komunikasi kebijakan, sumber daya, dan budaya organisasi lokal membentuk variasi implementasi pada  jenjang TK hingga SMP di Kota Padang.
Melibatkan 47 informan dari 9 sekolah serta UPTD LDPI, data dikumpulkan melalui wawancara, telaah dokumen, serta observasi.
Temuan menunjukkan bahwa meskipun prinsip penerimaan tanpa diskriminasi dipahami secara konsisten, tingkat kesiapan sekolah dan pemahaman praktis terhadap implementasi bervariasi.
Para pelaksana memanfaatkan diskresi untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan anak, dinamika orang tua, serta beban kerja dan kemampuan sekolah.
Diskresi yang muncul bukan sekedar respons terhadap tekanan struktural sebagaimana dijelaskan Lipsky, melainkan membentuk  adaptive discretion yakni diskresi reflektif yang mempertimbangkan dilema moral, nilai profesional, dan kepentingan institusional.
Pola ini dipengaruhi budaya birokrasi lokal yang menekankan kehati-hatian, harmoni, dan penyelesaian kasus secara situsional, sehingga menghasilkan implementasi yang tidak seragam.
Studi ini memperluas teori street level bureaucracy, bahwa diskresi dalam konteks inklusi pendidikan juga merupakan arena negosiasi etis, bukan sekedar respons teknis keterbatasan aturan dan sumber daya.
Oleh karena itu, diperlukan SOP, koordinasi lintas jenjang dan penguatan kapasitas agar praktik inklusi menjadi lebih konsisten dan akuntabel.
 This study stems from the inconsistency of practices in the implementation of inclusive education in Padang City.
The objective of this study is to analyze the discretion mechanisms of teachers and principals as street-level bureaucracy and how policy communication, resources, and local organizational culture shape variations in implementation at the kindergarten to junior high school levels in Padang City.
Involving 47 informants from 9 schools and the UPTD LDPI, data were collected through interviews, document reviews, and observations.
The findings show that although the principle of non-discriminatory acceptance is understood consistently, the level of school readiness and practical understanding of implementation varies.
Implementers use discretion to tailor services to children's needs, parental dynamics, and school workload and capabilities.
The discretion that emerged was not merely a response to structural pressures as described by Lipsky, but rather formed adaptive discretion, which is reflective discretion that considers moral dilemmas, professional values, and institutional interests.
This pattern was influenced by the local bureaucratic culture that emphasized caution, harmony, and situational case resolution, resulting in inconsistent implementation.
This study expands on the theory of street-level bureaucracy, arguing that discretion in the context of educational inclusion is also an arena for ethical negotiation, not merely a technical response to regulatory and resource constraints.
Therefore, standard operating procedures (SOPs), cross-level coordination, and capacity building are needed to make inclusion practices more consistent and accountable.

Related Results

DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
The making of immigrant clients; An ethnographic study of categorisation work in the Norwegian Labour and Welfare Administration (NAV)
The making of immigrant clients; An ethnographic study of categorisation work in the Norwegian Labour and Welfare Administration (NAV)
In this study, I contribute to our understanding of the welfare services provided to immigrants. How street-level bureaucrats make sense of and categorise immigrant clients determi...
DILEMA DISKRESI BAGI PEJABAT PEMERINTAHAN
DILEMA DISKRESI BAGI PEJABAT PEMERINTAHAN
Diskresi dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang AdministrasiPemerintahan (UU AP) didefinisikan sebagai keputusan dan/atau tindakan yangditetapkan dan/atau dilakukan oleh P...
EVALUASI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF DI KOTA SURABAYA
EVALUASI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF DI KOTA SURABAYA
Pemerintah melalui Permendiknas RI No.70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa membuktikan komitmennya ...
PENGUATAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI MELALUI PEMBELAJARAN IPS DI SMP NEGERI 1 KOTA SEMARANG
PENGUATAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI MELALUI PEMBELAJARAN IPS DI SMP NEGERI 1 KOTA SEMARANG
Fondasi awal pencegahan tindak korupsi dapat dilakukan melalui penanaman Pendidikan Antikorupsi pada tingkat pendidikan. Salah satu caranya dengan penanaman nilai-nilai Antikorupsi...
Analisis Livelihood Street Children Dalam Penanggulangan Anak Jalanan Di Kota Pekanbaru
Analisis Livelihood Street Children Dalam Penanggulangan Anak Jalanan Di Kota Pekanbaru
Anak jalanan ini menjadi fenomena yang sangat di perhatikan karena hak-hak anak masih belum sepenuhnya terwujud. Anak-anak jalanan yang seharusnya bersekolah, mendapatkan pendidika...
ANALISIS KETERLAKSANAAN PENDIDIKAN MITIGASI BENCANA DALAM PEMBELAJARAN IPA DI WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU
ANALISIS KETERLAKSANAAN PENDIDIKAN MITIGASI BENCANA DALAM PEMBELAJARAN IPA DI WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU
ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan pendidikan mitigasi bencana dalam pembelajaran IPA, mengetahui persepsi guru dan peserta didik terhadap penting...

Back to Top