Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PERANCANGAN IDENTITAS TEMPAT PADA SEKOLAH CANDRA NAYA DENGAN PENDEKATAN NARASI ARSITEKTUR

View through CrossRef
A place will have meaning as a Place, if there is contiguity, uniqueness, and connection both physically and non-physically. In its development, a place can experience degradation from activity or physicality known as Placeless Place. One of the places that experienced this phenomenon was Candra Naya School. At first, the existence of Candra Naya School had existed since 1946 in the Candra Naya Building, but due to changes in land use, Candra Naya School was moved to Jl. Jembatan Besi II. Since its move in 1993 until its current existence, Candra Naya School has lost its authenticity, uniqueness, disconnection with its environment and sense of belonging, making Candra Naya School experience the process of Placeless Place. Referring to this background, there is a problem of how to solve the architectural Placeless Place at Candra Naya School. Therefore, the purpose of this design is to restore the identity, uniqueness, historical ties, and meaning of student life at Candra Naya School. The design approach used is Narrative Architecture through space experience with the stages of Edu-cial, Society-Hub, and Historium activities.Edu-cial is a community-oriented educational space where interaction between students and the community occurs. Society-Hub is a space to accommodate activities and serve the community. And, Historium is a space about the historical journey of Candra Naya School. These stages of activity will become a bond between students, the community, and Candra Naya School so that a Sense of Place is created and becomes a Place again. Keywords: edu-cial; historium; narrative architecture; placeless place; society-hub Abstrak Suatu tempat akan memiliki makna sebagai Place, jika terdapat keontetikan, keunikan, dan koneksi baik secara fisik maupun non fisik. Dalam perkembangannya, tempat dapat mengalami degradasi dari aktivitas atau fisik dikenal dengan istilah Placeless Place. Salah satu tempat yang mengalami fenomena tersebut adalah Sekolah Candra Naya. Pada awalnya, eksistensi Sekolah Candra Naya sudah ada sejak tahun 1946 di Gedung Candra Naya, namun akibat pergantian tata guna lahan membuat Sekolah Candra Naya dipindahkan ke Jl. Jembatan Besi II. Sejak kepindahannya di tahun 1993 hingga eksistensinya saat ini, Sekolah Candra Naya kehilangan keotentikan, keunikan, diskoneksi dengan lingkungannya dan sense of belonging sehingga menjadikan Sekolah Candra Naya mengalami proses Placeless Place. Mengacu pada latar belakang tersebut, terdapat permasalahan bagaimana penyelesaian arsitektural Placeless Place pada Sekolah Candra Naya. Oleh karena itu, tujuan dari desain ini adalah untuk mengembalikan identitas, keunikan, ikatan historis, serta memaknai kehidupan siswa di Sekolah Candra Naya. Pendekatan desain yang digunakan adalah Arsitektur Naratif melalui pengalaman ruang dengan tahapan aktivitas Edu-cial, Society-Hub, serta Historium. Edu-cial merupakan ruang pendidikan yang berorientasi pada masyarakat dimana terjadi interaksi antara siswa dan masyarakat. Society-Hub merupakan ruang untuk mewadahi kegiatan serta melayani masyarakat. Serta, Historium merupakan ruang tentang perjalanan sejarah Sekolah Candra Naya. Tahapan aktivitas ini akan menjadi pengikat antar siswa, masyarakat, dan Sekolah Candra Naya itu sehingga terciptanya Sense of Place dan menjadi Place kembali.
Title: PERANCANGAN IDENTITAS TEMPAT PADA SEKOLAH CANDRA NAYA DENGAN PENDEKATAN NARASI ARSITEKTUR
Description:
A place will have meaning as a Place, if there is contiguity, uniqueness, and connection both physically and non-physically.
In its development, a place can experience degradation from activity or physicality known as Placeless Place.
One of the places that experienced this phenomenon was Candra Naya School.
At first, the existence of Candra Naya School had existed since 1946 in the Candra Naya Building, but due to changes in land use, Candra Naya School was moved to Jl.
Jembatan Besi II.
Since its move in 1993 until its current existence, Candra Naya School has lost its authenticity, uniqueness, disconnection with its environment and sense of belonging, making Candra Naya School experience the process of Placeless Place.
Referring to this background, there is a problem of how to solve the architectural Placeless Place at Candra Naya School.
Therefore, the purpose of this design is to restore the identity, uniqueness, historical ties, and meaning of student life at Candra Naya School.
The design approach used is Narrative Architecture through space experience with the stages of Edu-cial, Society-Hub, and Historium activities.
Edu-cial is a community-oriented educational space where interaction between students and the community occurs.
Society-Hub is a space to accommodate activities and serve the community.
And, Historium is a space about the historical journey of Candra Naya School.
These stages of activity will become a bond between students, the community, and Candra Naya School so that a Sense of Place is created and becomes a Place again.
Keywords: edu-cial; historium; narrative architecture; placeless place; society-hub Abstrak Suatu tempat akan memiliki makna sebagai Place, jika terdapat keontetikan, keunikan, dan koneksi baik secara fisik maupun non fisik.
Dalam perkembangannya, tempat dapat mengalami degradasi dari aktivitas atau fisik dikenal dengan istilah Placeless Place.
Salah satu tempat yang mengalami fenomena tersebut adalah Sekolah Candra Naya.
Pada awalnya, eksistensi Sekolah Candra Naya sudah ada sejak tahun 1946 di Gedung Candra Naya, namun akibat pergantian tata guna lahan membuat Sekolah Candra Naya dipindahkan ke Jl.
Jembatan Besi II.
Sejak kepindahannya di tahun 1993 hingga eksistensinya saat ini, Sekolah Candra Naya kehilangan keotentikan, keunikan, diskoneksi dengan lingkungannya dan sense of belonging sehingga menjadikan Sekolah Candra Naya mengalami proses Placeless Place.
Mengacu pada latar belakang tersebut, terdapat permasalahan bagaimana penyelesaian arsitektural Placeless Place pada Sekolah Candra Naya.
Oleh karena itu, tujuan dari desain ini adalah untuk mengembalikan identitas, keunikan, ikatan historis, serta memaknai kehidupan siswa di Sekolah Candra Naya.
Pendekatan desain yang digunakan adalah Arsitektur Naratif melalui pengalaman ruang dengan tahapan aktivitas Edu-cial, Society-Hub, serta Historium.
Edu-cial merupakan ruang pendidikan yang berorientasi pada masyarakat dimana terjadi interaksi antara siswa dan masyarakat.
Society-Hub merupakan ruang untuk mewadahi kegiatan serta melayani masyarakat.
Serta, Historium merupakan ruang tentang perjalanan sejarah Sekolah Candra Naya.
Tahapan aktivitas ini akan menjadi pengikat antar siswa, masyarakat, dan Sekolah Candra Naya itu sehingga terciptanya Sense of Place dan menjadi Place kembali.

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
STRATEGI TRANSFORMASI ARSITEKTUR PADA STUDIO AKANOMA DI PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
STRATEGI TRANSFORMASI ARSITEKTUR PADA STUDIO AKANOMA DI PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Abstrak - Arsitektur Indonesia, seperti halnya arsitektur banyak negara dan kawasan di dunia, akhir-akhir ini mengalami berbagai perubahan karena fenomena globalisasi. Modernisasi ...
Arsitektur Dan Organisasi Komputer
Arsitektur Dan Organisasi Komputer
Artikel ini membahas tentang konsep dasar arsitektur dan organisasi komputer, jenis-jenis arsitektur komputer yang umum digunakan, serta pentingnya pengetahuan tentang arsitektur d...
PERANCANGAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STP SAHID MENGGUNAKAN TOGAF ADM
PERANCANGAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STP SAHID MENGGUNAKAN TOGAF ADM
Peningkatan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalamsuatu organisasi bertujuan untuk meningkatkan daya saing di berbagai bidang. Dalam era globalisasi, pendidikan ...
ARSITEKTUR SEBAGAI MANIFESTASI IDENTITAS INDONESIA
ARSITEKTUR SEBAGAI MANIFESTASI IDENTITAS INDONESIA
Arsitektur secara umum dipahami sebagai ilmu bangunan. Namun bagaimana latar belakang munculnya pemikiran arsitektur terutama dalam perspektif politik dan kebangsaan tidak banyak d...
ARSITEKTUR TRADISIONAL TIONGHOA: TINJAUAN TERHADAP IDENTITAS, KARAKTER BUDAYA DAN EKSISTENSINYA
ARSITEKTUR TRADISIONAL TIONGHOA: TINJAUAN TERHADAP IDENTITAS, KARAKTER BUDAYA DAN EKSISTENSINYA
Budaya merupakan sebuah proses perkembangan pola pikir yang terjadi secara bertahap  dalam waktu yang lama. Proses ini terjadi selama manusia ada dan terus  berkembang  sesuai den...
PENGARUH PRESEDEN ARSITEKTUR DUNIA TERHADAP KARAKTERISTIK BENTUK FASADE BANGUNAN DI KOTA MAKASSAR
PENGARUH PRESEDEN ARSITEKTUR DUNIA TERHADAP KARAKTERISTIK BENTUK FASADE BANGUNAN DI KOTA MAKASSAR
Pada era modern sekarang ini, fasade dan bentuk bangunan yang berkembang dan di bangun di kota-kota besar Indonesia adalah kebanyakan fasade dan bentuk bangunan modern dan futurist...
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Fenomena Arsitektur Candi Prambanan adalah unik karena memenuhi kriterium dimensi makna transendental sejak awal mula pembangunannya, masa kehidupan, masa kegelapan, penemuan kemba...

Back to Top