Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Hubungan antara stres dan kebiasaan makan dengan kejadian dispepsia pada mahasiswa pendidikan dokter Universitas Udayana

View through CrossRef
Background: Dyspepsia syndrome was a health problem commonly found in everyday life. There were several factors related to the etiology and pathophysiology of dyspepsia, one of them was stress and eating habits. High stress levels and bad eating habits often occur in college students, especially medical students. Objective: To evaluate the association between stress and eating habits in medical students at the Faculty of Medicine, Udayana University. Methods: This was an observational analytic study with a cross-sectional approach. The sampling method is consecutive sampling. Primary data was taken from questionnaires filled out online by respondents. Results: Bivariate analysis showed stress was associated with the incidence of dyspepsia (p = 0.022). Irregular eating habits (p = 0.011), spicy (p = 0.001), sour (p = 0.001), and fatty foods (p <0.001) were significantly associated with the incidence of dyspepsia. Meanwhile, multivariate analysis showed the significance of several factors for dyspepsia, namely irregular eating habits (OR: 2.350 and 95% CI: 1.201-4.599), habit of consuming spicy food (OR: 2.132; 95% CI: 1.075-4.227, habit of consuming sour foods (OR: 2.455; 95% CI: 1.107-5.444), and habit of consuming fatty foods (OR: 2.185; 95% CI: 1.109-4.307). Conclusion: In medical students at the Faculty of Medicine at Udayana University, there was no significant correlation between stress and the prevalence of dyspepsia, however there was a correlation between eating habits and the condition.   Latar belakang: Sindroma dispepsia merupakan masalah kesehatan yang umum ditemukan. Terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan etiologi dan patofisiologi dispepsia, salah satunya adalah stres dan kebiasaan makan. Mahasiswa kedokteran sering mengalami tingkat stres yang tinggi dan kebiasaan makan yang tidak baik. Tujuan: Untuk mengevaluasi hubungan antara stres dan kebiasaan makan terhadap dispepsia pada mahasiswa pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud). Metode: Studi ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Metode pengambilan sampling adalah consecutive sampling. Data primer diambil dari kuesioner yang diisi secara daring oleh responden. Hasil: Analisis bivariat menunjukkan stres berhubungan signifikan dengan kejadian dispepsia (p = 0,022). Kebiasaan makan yang tidak teratur (p = 0,011), kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas (p = 0,001), asam (p = 0,001), dan berlemak (p < 0,001) berhubungan signifikan terhadap kejadian dispepsia. Sementara itu, analisis multivariat menunjukkan signifikansi dari beberapa faktor terhadap dispepsia, yaitu kebiasaan makan yang tidak teratur (OR: 2,350 dan 95% CI: 1,201-4.599), kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas (OR: 2,132; 95% CI: 1,075-4,227, kebiasaan mengkonsumsi makanan asam (OR: 2,455; 95% CI : 1,107-5,444), dan kebiasaan mengkonsumsi makanan berlemak (OR: 2,185; 95% CI: 1,109-4,307). Simpulan: Stres tidak berhubungan signifikan terhadap kejadian dispepsia. Namun, kebiasaan makan yang buruk berhubungan signifikan terhadap kejadian dispepsia pada mahasiswa pendidikan dokter FK Unud.
Title: Hubungan antara stres dan kebiasaan makan dengan kejadian dispepsia pada mahasiswa pendidikan dokter Universitas Udayana
Description:
Background: Dyspepsia syndrome was a health problem commonly found in everyday life.
There were several factors related to the etiology and pathophysiology of dyspepsia, one of them was stress and eating habits.
High stress levels and bad eating habits often occur in college students, especially medical students.
Objective: To evaluate the association between stress and eating habits in medical students at the Faculty of Medicine, Udayana University.
Methods: This was an observational analytic study with a cross-sectional approach.
The sampling method is consecutive sampling.
Primary data was taken from questionnaires filled out online by respondents.
Results: Bivariate analysis showed stress was associated with the incidence of dyspepsia (p = 0.
022).
Irregular eating habits (p = 0.
011), spicy (p = 0.
001), sour (p = 0.
001), and fatty foods (p <0.
001) were significantly associated with the incidence of dyspepsia.
Meanwhile, multivariate analysis showed the significance of several factors for dyspepsia, namely irregular eating habits (OR: 2.
350 and 95% CI: 1.
201-4.
599), habit of consuming spicy food (OR: 2.
132; 95% CI: 1.
075-4.
227, habit of consuming sour foods (OR: 2.
455; 95% CI: 1.
107-5.
444), and habit of consuming fatty foods (OR: 2.
185; 95% CI: 1.
109-4.
307).
Conclusion: In medical students at the Faculty of Medicine at Udayana University, there was no significant correlation between stress and the prevalence of dyspepsia, however there was a correlation between eating habits and the condition.
  Latar belakang: Sindroma dispepsia merupakan masalah kesehatan yang umum ditemukan.
Terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan etiologi dan patofisiologi dispepsia, salah satunya adalah stres dan kebiasaan makan.
Mahasiswa kedokteran sering mengalami tingkat stres yang tinggi dan kebiasaan makan yang tidak baik.
Tujuan: Untuk mengevaluasi hubungan antara stres dan kebiasaan makan terhadap dispepsia pada mahasiswa pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud).
Metode: Studi ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional).
Metode pengambilan sampling adalah consecutive sampling.
Data primer diambil dari kuesioner yang diisi secara daring oleh responden.
Hasil: Analisis bivariat menunjukkan stres berhubungan signifikan dengan kejadian dispepsia (p = 0,022).
Kebiasaan makan yang tidak teratur (p = 0,011), kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas (p = 0,001), asam (p = 0,001), dan berlemak (p < 0,001) berhubungan signifikan terhadap kejadian dispepsia.
Sementara itu, analisis multivariat menunjukkan signifikansi dari beberapa faktor terhadap dispepsia, yaitu kebiasaan makan yang tidak teratur (OR: 2,350 dan 95% CI: 1,201-4.
599), kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas (OR: 2,132; 95% CI: 1,075-4,227, kebiasaan mengkonsumsi makanan asam (OR: 2,455; 95% CI : 1,107-5,444), dan kebiasaan mengkonsumsi makanan berlemak (OR: 2,185; 95% CI: 1,109-4,307).
Simpulan: Stres tidak berhubungan signifikan terhadap kejadian dispepsia.
Namun, kebiasaan makan yang buruk berhubungan signifikan terhadap kejadian dispepsia pada mahasiswa pendidikan dokter FK Unud.

Related Results

KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Hubungan Pola Hidup Sehat dengan Dispepsia pada Mahasiswa Tingkat Akhir UNISBA
Hubungan Pola Hidup Sehat dengan Dispepsia pada Mahasiswa Tingkat Akhir UNISBA
Abstract Dyspepsia is a common health problem in the productive age group, including university students. Final-year students are at high risk of developing dyspepsia due to irregu...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., &amp; Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Hubungan Tingkat Stres Dengan Sindrom Dispepsia Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
Hubungan Tingkat Stres Dengan Sindrom Dispepsia Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
Stres merupakan masalah psikologi yang menimbulkan perubahan perilaku, fisiologi maupun psikologi seseorang.  Mahasiswa pendidikan dokter merupakan kalangan yang rentang terhadap s...
Hubungan Jenis Makanan terhadap Kejadian Dispepsia Fungsional pada Remaja di Yogyakarta (Studi Komparatif Rural dan Urban)
Hubungan Jenis Makanan terhadap Kejadian Dispepsia Fungsional pada Remaja di Yogyakarta (Studi Komparatif Rural dan Urban)
Dispepsia adalah kumpulan gejala nyeri atau ketidaknyamanan di perut, disertai mual, muntah, kembung, mudah kenyang, merasa penuh, dan sendawa berulang atau kronis. Salah satu fakt...

Back to Top