Javascript must be enabled to continue!
Relasi Karma dan Samsara dalam Pandangan Manawa Dharmaçastra (Mengurai Phala Hasil Karma Kehidupan Pra-Kematian)
View through CrossRef
Kehidupan manusia dalam pandangan agama Hindu adalah sebuah bentuk samsara/penderitaan. Samsara adalah implikasi dari sesuatu yang disebut karma, sehingga keduanya memiliki relasi yang sangat erat. Artikel ini berupaya untuk mengkaji relasi antara karma dan samsara dalam pandangan Manawa Dharmaçastra sebagai salah satu teks hukum Hindu. Dalam proses penulisan artikel ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika filosofis. Kemudian untuk membantu proses analisis dan pengumpulan data, penulis menggunakan pola analisis Miles dan Huberman yakni dari data koleksi, kemudian reduksi data, display data, serta terakhir adalah memberikan simpulan data yang telah dianalisis tersebut. Hasil dari kajian artikel ini memperoleh kesimpulan bahwa wacana tentang relasi karma dan samsara adalah wacana yang santer untuk dibahas demi kepentingan kulminasi sraddha umat Hindu. Karma menjadi penyebab manusia mengalami samsara dan ini merupakan hal yang pasti tanpa bisa dibantah sebagaimana dijelaskan dalam pustaka suci Manawa Dharmaçastra. Memahami konsepsi karma harus dilandasi dengan pemahaman yang utuh tentang konsepsi tri guna. Sebuah konsepsi yang menjabarkan sifat-sifat manusia yakni sattva (kebajikan/kebijaksanaan), rajas (emosi/kesombongan), dan tamas (kemalasan). Sifat-sifat inilah yang akan membawa manusia ke dalam kondisi samsara yang penuh akan penderitaan. Namun tidak semua membawa penderitaan, salah satu yang bisa membawa manusia pada tujuan akhir yakni moksa adalah sattva. Apabila sifat atau guna manusia didominasi oleh tamas (baik itu jaghanyā tāmasī, madhyamā tāmasī, maupun tamāso ṣuttamā), maka kelak kelahirkannya akan menjadi makhluk hidup tingkat rendah. Sementara bagi manusia yang didominasi oleh sifat atau guna rajas (baik itu jaghanyā rājasī, madhyamā rājasī, maupun rājasī suttama), maka kelak kelahirannya akan menjadi manusia atau golongan bhuta dengan berbagai kondisi. Kemudian yang terakhir adalah manusia yang sifat atau guna-nya didominasi oleh sattva (baik itu prathamā sāttwiki, dwitīya sāttwiki, maupun uttamāṃ sāttwikimetām), maka kelak kelahirannya akan berada pada kondisi kehidupan para dewa, roh pelayan para dewa, dan yang paling tinggi adalah mencapai kesadaran Brahman yakni moksa.
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Title: Relasi Karma dan Samsara dalam Pandangan Manawa Dharmaçastra (Mengurai Phala Hasil Karma Kehidupan Pra-Kematian)
Description:
Kehidupan manusia dalam pandangan agama Hindu adalah sebuah bentuk samsara/penderitaan.
Samsara adalah implikasi dari sesuatu yang disebut karma, sehingga keduanya memiliki relasi yang sangat erat.
Artikel ini berupaya untuk mengkaji relasi antara karma dan samsara dalam pandangan Manawa Dharmaçastra sebagai salah satu teks hukum Hindu.
Dalam proses penulisan artikel ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika filosofis.
Kemudian untuk membantu proses analisis dan pengumpulan data, penulis menggunakan pola analisis Miles dan Huberman yakni dari data koleksi, kemudian reduksi data, display data, serta terakhir adalah memberikan simpulan data yang telah dianalisis tersebut.
Hasil dari kajian artikel ini memperoleh kesimpulan bahwa wacana tentang relasi karma dan samsara adalah wacana yang santer untuk dibahas demi kepentingan kulminasi sraddha umat Hindu.
Karma menjadi penyebab manusia mengalami samsara dan ini merupakan hal yang pasti tanpa bisa dibantah sebagaimana dijelaskan dalam pustaka suci Manawa Dharmaçastra.
Memahami konsepsi karma harus dilandasi dengan pemahaman yang utuh tentang konsepsi tri guna.
Sebuah konsepsi yang menjabarkan sifat-sifat manusia yakni sattva (kebajikan/kebijaksanaan), rajas (emosi/kesombongan), dan tamas (kemalasan).
Sifat-sifat inilah yang akan membawa manusia ke dalam kondisi samsara yang penuh akan penderitaan.
Namun tidak semua membawa penderitaan, salah satu yang bisa membawa manusia pada tujuan akhir yakni moksa adalah sattva.
Apabila sifat atau guna manusia didominasi oleh tamas (baik itu jaghanyā tāmasī, madhyamā tāmasī, maupun tamāso ṣuttamā), maka kelak kelahirkannya akan menjadi makhluk hidup tingkat rendah.
Sementara bagi manusia yang didominasi oleh sifat atau guna rajas (baik itu jaghanyā rājasī, madhyamā rājasī, maupun rājasī suttama), maka kelak kelahirannya akan menjadi manusia atau golongan bhuta dengan berbagai kondisi.
Kemudian yang terakhir adalah manusia yang sifat atau guna-nya didominasi oleh sattva (baik itu prathamā sāttwiki, dwitīya sāttwiki, maupun uttamāṃ sāttwikimetām), maka kelak kelahirannya akan berada pada kondisi kehidupan para dewa, roh pelayan para dewa, dan yang paling tinggi adalah mencapai kesadaran Brahman yakni moksa.
.
Related Results
PERLINDUNGAN ANAK DALAM KITAB MANAWA DHARMAÇASTRA
PERLINDUNGAN ANAK DALAM KITAB MANAWA DHARMAÇASTRA
Pemberian perlindungan pada anak tidak pernah berhenti sepanjang sejarah kehidupan. Anak adalah generasi penerus bangsa, dan penerus pembangunan. Anak tidak hanya sebagai objek pe...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Optimalisasi Bimbingan Pra- Nikah di Kantor Urusan Agama
Optimalisasi Bimbingan Pra- Nikah di Kantor Urusan Agama
Pre Marriage Marriage Guidance comes because of the need, with the increasing number of divorce cases that occur in the community of Ujung Berung Subdistrict, it also indicates tha...
Catatan Editor: Langkah JPS dalam situasi pandemi dan pengantar Vol. 18 (3) tentang budaya, identitas, dan relasi antarkelompok
Catatan Editor: Langkah JPS dalam situasi pandemi dan pengantar Vol. 18 (3) tentang budaya, identitas, dan relasi antarkelompok
Salam sejahtera,
Tahun 2020 ini merupakan tahun yang menantang bagi kita semua. Awal tahun diwarnai dengan berbagai peristiwa, diantaranya politik global yang memanas serta perist...
Gugurnya Bhisma Oleh Srikandi: Studi Mengenai Refleksi Konsep Karma-Phala Melalui Cerita Mahabharata
Gugurnya Bhisma Oleh Srikandi: Studi Mengenai Refleksi Konsep Karma-Phala Melalui Cerita Mahabharata
Mahabharata samapai saat ini termasyur dan memperoleh apresiasi serta direpresentasikan dalam berbagai ekspresi yang merefleksikan makna-makna kehidupan yang relevan bagi perseptor...
Role of Ashvatha Phala Churna And Shveta Palandu Swarasa Bhavita Yavani in the Management of Ksheena Shukra (Oligozoospermia) after Shodhana Therapy - Clinical Study
Role of Ashvatha Phala Churna And Shveta Palandu Swarasa Bhavita Yavani in the Management of Ksheena Shukra (Oligozoospermia) after Shodhana Therapy - Clinical Study
Almost 30% of cases of infertility will have a male factor attached to it, though in the society there are many misconceptions
and wrong ideas regarding the cause and occurrence of...
Paying it forward- Tohu Manawa Ora | Healthy Heart Award makes an investment in tamariki and early learning environments
Paying it forward- Tohu Manawa Ora | Healthy Heart Award makes an investment in tamariki and early learning environments
The Tohu Manawa Ora | Healthy Heart Award programme helps early learning services across Aotearoa create an environment that promotes nutritional health and physical activity. It a...

