Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Catatan Editor: Langkah JPS dalam situasi pandemi dan pengantar Vol. 18 (3) tentang budaya, identitas, dan relasi antarkelompok

View through CrossRef
Salam sejahtera, Tahun 2020 ini merupakan tahun yang menantang bagi kita semua. Awal tahun diwarnai dengan berbagai peristiwa, diantaranya politik global yang memanas serta peristiwa alam seperti darurat kebakaran di Australia dan banjir besar yang melanda ibu kota Indonesia, Jakarta. Seakan tidak cukup, pada tahun yang sama wabah virus corona (COVID-19) menyebar ke seluruh dunia; menciptakan situasi pandemi yang ber-tahan hingga naskah ini ditulis. Per tanggal 24 Agustus 2020, telah ditemukan 23.499.048 kasus infeksi COVID-19 di 214 negara dan 809.834 angka kematian akibat infeksi tersebut. Pada tanggal yang sama, di Indonesia, sudah terdapat 155.412 kasus positif COVID-19 dan tercatat 6.759 angka kematian (Petterson, Manley, & Hernandez, 24 Agustus, 2020). Ini secara langsung berdampak pula terhadap kondisi sosial kema-syarakatan dan ekonomi di seluruh dunia, tak terkecuali dampak psikologis. Dikarenakan pentingnya mengetahui bagaimana situasi pandemi ini berdampak pada dinamika psikis terutama pada masyarakat Indonesia, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengundang peneliti dan akademisi dari berbagai Universitas di Indonesia untuk menulis dalam edisi khusus JPS: Respons terhadap COVID-19. Dalam edisi ini, JPS menerima naskah-naskah dengan tema: (1) Respon individu maupun kolektif terhadap fenomena wabah corona virus, (2) Faktor-faktor yang memprediksi respon masyarakat terhadap corona virus, (3) Peranan leader dan authority dalam menangani wabah corona virus, (4) Psikologi politik dan penanganan corona virus, (5) Isu kebijakan terkait corona virus dan dampaknya terha-dap psikologi individual, dan (6) Dampak ekonomi dan finansial pada individu dalam wabah corona virus. Untuk edisi ini, kami juga mengundang tiga ahli psikologi sosial sebagai editor tamu. Diurutkan sesuai abjad, editor tamu pertama adalah Bapak Indra Yohanes Kiling, Ph.D dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur. Riset beliau banyak mengidentifikasi faktor sistemik atau risiko lingkungan pada kualitas hidup manusia di berbagai dimensi. Pemahaman ini penting karena situasi pandemi berdampak pada berbagai kondisi sistemik yang juga meme-ngaruhi kualitas hidup individu dalam masyarakat (Van Bavel dkk., 2020). Sementara editor tamu kedua adalah Dr. Rakhman Ardi dari Universitas Airlangga, Jawa Timur. Pemahaman akan dinamika perilaku di media sosial pada riset-riset beliau akan membantu kita juga, khususnya untuk tulisan-tulisan terkait dampak pandemi pada perilaku daring dan dalam dunia maya (Bao, 2020; Pennycook, McPhetres, Zhang, Lu, & Rand, 2020; Cinelli dkk., 2020). Last but not least, Dr. Setiawati Intan Savitri dari Unversitas Mercu Buana, DKI Jakarta yang memiliki berbagai riset tentang bagaimana individu bisa berespon dalam menghadapi situasi negatif dalam hidupnya. Kondisi pandemi ini bisa mengakibatkan dampak-dampak psikis seperti depresi dan rendahnya kesejahte-raan psikis maupun ekonomi (Rajkumar, 2020; Nguyen dkk., 2020), sehingga pemahaman beliau akan membantu terutama pada tema dampak COVID-19 terhadap psikis individu. Naskah-naskah yang terbit dalam edisi khusus “Respon terhadap COVID-19” (“Response to COVID-19”) diharapkan mampu menjadi fondasi pengetahuan untuk menghadapi wabah virus corona, khususnya berkaitan dengan isu psikologi sosial dalam konteks Indonesia. Sementara JPS memproses naskah-naskah edisi khusus tersebut, kami juga mempublikasikan edisi reguler pada bulan Agustus tahun 2020 ini (Volume 18 (3)). Terdapat delapan naskah yang dipublikasikan JPS pada edisi ini. Semua naskah ini merepresen-tasikan tema identitas dan relasi antar kelompok serta antarbudaya. Naskah-naskah ini menambah pengetahuan dalam memahami isu mendasar pada identitas sosial dan budaya serta warna-warna relasi antar kelompok identitas. Tidak hanya itu, beberapa naskah juga membantu kita memahami pengetahuan tentang intervensi pada isu hubungan antar identitas di Indonesia. Dua naskah membahas tentang isu peng-asuhan atau relasi anak dengan pengasuh dalam budaya Indonesia. Naskah Hartanti berjudul “Apakah sistem kekerabatan matrilineal di suku Minang masih membudaya? Analisis tematik pada makna pemberian dukungan sosial mamak kepada kemenakan” membahas hubungan pengasuh (‘mamak’ atau paman dari sisi ibu) dengan anak di kebudayaan Minang. Seperti yang mungkin sudah kita ketahui, suku Minang adalah salah satu suku matrilineal terbesar di dunia (Levenson, Ekman, Heider, & Friesen, 1992). Pemahaman tentang relasi ini penting untuk memberikan kita pengetahuan tentang budaya matrilineal tersebut. Sementara naskah Wiswanti, Kuntoro, Ar Rizqi, dan Halim berjudul “Pola asuh dan budaya: Studi komparatif antara masyarakat urban dan masya-rakat rural Indonesia” membantu dalam memahami perbedaan pola asuh pada masyarakat rural dan urban di Indonesia. Temuan mereka menja-wab inkonsistensi pada studi sebelumnya tentang perbedaan pola asuh di dua konteks tersebut. Naskah berikutnya yang ditulis oleh Nugraha, Samian, dan Riantoputra membahas tentang relasi bawahan-atasan dengan memeriksa anteseden dibalik dukungan bawahan terhadap atasan lewat perspektif identitas sosial. Dalam naskah yang berjudul “Anteseden leader endorsement: perspektif teori identitas sosial”, ditemukan bahwa identitas pemimpin bukanlah faktor yang menentukan dukungan bawahan terhadap pemimpin—khususnya dalam konteks perusahaan swasta. Tiga naskah berikutnya membahas me-ngenai relasi antar identitas (intergroup) seperti prasangka dan kecemasan antar kelompok. Naskah oleh Yang dan Pelupessy berjudul “Apakah saliensi mortalitas berperan dalam menjelaskan prasangka terhadap pasangan antarbudaya? Sebuah studi eksperimental” menemukan bahwa efek saliensi mortalitas dalam teori manajemen teror bisa digeneralisasi di konteks: (1) prasangka terhadap relasi romantis antar budaya, dan (2) budaya yang lebih luas yaitu konteks budaya Indonesia. Motivasi eksistensial seperti motivasi meredam kecemasan kematian dan efeknya secara sosial ternyata juga ditemukan pada masyarakat Indonesia. Pada naskah berjudul “Do intergroup threats provoke intergroup anxiety? An experimental study on Chinese ethnic group in Indonesia”, Ampuni dan Irene menemukan pola menarik terkait efek ancaman intergroup terhadap kecemasan intergrup. Ditemukan bahwa kelompok yang diberikan manipulasi ancaman intergroup cenderung lebih tinggi dalam kecemasan. Temu-an ini konsisten dengan temuan sebelumnya; akan tetapi, setelah mengontrol kontak inter-group, pola yang terjadi justru berkebalikan. Ini menunjukkan bahwa pengalaman kontak sebelumnya pada partisipan berpengaruh pada per-sepsi ancaman di situasi eksperimen. Sementara pada naskah berjudul “Mawas diri berideologi: Tantangan berpartisipasi religius online di era ujaran kebencian”, dibahas tentang peranan ideologi otoritarianisme dalam hubungan antara relijiusitas dan prasangka. Pada riset yang dilaporkan oleh Sadida dan Pratiwi ini, ditemukan bahwa keterlibatan aktivitas agama secara daring memang memprediksi tingginya prasangka. Aktivitas agama itu memicu ideologi otoritarianisme yang lebih kuat sehingga sikap negatif pun juga semakin tinggi. Menariknya, tidak semua dimensi prasangka diprediksi oleh aktivitas keagamaan itu. Dua naskah terakhir membahas tentang metode intervensi untuk mengurangi stigma dan meningkatkan sensitivitas interkultural. Pada naskah oleh Soedarmadi, dibahas tentang efek intervensi keterampilan antar budaya dengan menginkorporasikan metode sebelumnya dengan kearifan lokal seperti nilai gotong royong. Dalam naskah berjudul “Apakah pelatihan keterampilan antarbudaya pada instansi pemerintahan dapat meningkatkan sensitivitas antarbudaya? Peranan nilai lokal gotong royong” ini, para pekerja di instansi pemerintahan memiliki sensitifitas interkultural yang lebih baik setelah mengikuti intervensi yang diberikan. Pada naskah berjudul “Pelatihan Rise and Shine sebagai metode psikoedukasi: Bisakah menurunkan stigma bunuh diri?”, Febriawan mengungkap bahwa metode psikoedukasi dapat menurunkan stigma. Terdapat perbedaan metode psikoedukasi Rise and Shine dengan metode-metode sebelumnya. Jika sebelumnya lebih banyak terfokus pada kemampuan seperti literasi bunuh diri dan kesehatan mental, pada psikoedukasi Rise and Shine juga masuk materi penyangga seperti berpikir kritis, ekspresi dengan kata, serta pengetahuan tentang kebijakan negara dalam kesehatan mental. Lewat naskah-naskah ini, ditemukan berbagai pola menarik yang bisa bermanfaat untuk menambah pengetahuan pada teori besar di psikologi sosial seperti teori identitas sosial, teori manajemen teror, dan teori kontak. Juga, kontribusi pengetahuan muncul untuk menjelaskan subkultur pada konteks Indonesia khususnya dalam konteks pengasuhan. Tidak hanya itu, metode intervensi berbasis kearifan lokal dan psikoedukasi integratif bisa berguna untuk menciptakan relasi tanpa stigma atau sensitifitas kebudayaan. Kedelapan naskah ini diharapkan mampu memberikan fondasi bagi riset lanjutan dan menginspirasi peneliti lain untuk mengatasi limitasi-limitasi yang muncul.
Title: Catatan Editor: Langkah JPS dalam situasi pandemi dan pengantar Vol. 18 (3) tentang budaya, identitas, dan relasi antarkelompok
Description:
Salam sejahtera, Tahun 2020 ini merupakan tahun yang menantang bagi kita semua.
Awal tahun diwarnai dengan berbagai peristiwa, diantaranya politik global yang memanas serta peristiwa alam seperti darurat kebakaran di Australia dan banjir besar yang melanda ibu kota Indonesia, Jakarta.
Seakan tidak cukup, pada tahun yang sama wabah virus corona (COVID-19) menyebar ke seluruh dunia; menciptakan situasi pandemi yang ber-tahan hingga naskah ini ditulis.
Per tanggal 24 Agustus 2020, telah ditemukan 23.
499.
048 kasus infeksi COVID-19 di 214 negara dan 809.
834 angka kematian akibat infeksi tersebut.
Pada tanggal yang sama, di Indonesia, sudah terdapat 155.
412 kasus positif COVID-19 dan tercatat 6.
759 angka kematian (Petterson, Manley, & Hernandez, 24 Agustus, 2020).
Ini secara langsung berdampak pula terhadap kondisi sosial kema-syarakatan dan ekonomi di seluruh dunia, tak terkecuali dampak psikologis.
Dikarenakan pentingnya mengetahui bagaimana situasi pandemi ini berdampak pada dinamika psikis terutama pada masyarakat Indonesia, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengundang peneliti dan akademisi dari berbagai Universitas di Indonesia untuk menulis dalam edisi khusus JPS: Respons terhadap COVID-19.
Dalam edisi ini, JPS menerima naskah-naskah dengan tema: (1) Respon individu maupun kolektif terhadap fenomena wabah corona virus, (2) Faktor-faktor yang memprediksi respon masyarakat terhadap corona virus, (3) Peranan leader dan authority dalam menangani wabah corona virus, (4) Psikologi politik dan penanganan corona virus, (5) Isu kebijakan terkait corona virus dan dampaknya terha-dap psikologi individual, dan (6) Dampak ekonomi dan finansial pada individu dalam wabah corona virus.
Untuk edisi ini, kami juga mengundang tiga ahli psikologi sosial sebagai editor tamu.
Diurutkan sesuai abjad, editor tamu pertama adalah Bapak Indra Yohanes Kiling, Ph.
D dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur.
Riset beliau banyak mengidentifikasi faktor sistemik atau risiko lingkungan pada kualitas hidup manusia di berbagai dimensi.
Pemahaman ini penting karena situasi pandemi berdampak pada berbagai kondisi sistemik yang juga meme-ngaruhi kualitas hidup individu dalam masyarakat (Van Bavel dkk.
, 2020).
Sementara editor tamu kedua adalah Dr.
Rakhman Ardi dari Universitas Airlangga, Jawa Timur.
Pemahaman akan dinamika perilaku di media sosial pada riset-riset beliau akan membantu kita juga, khususnya untuk tulisan-tulisan terkait dampak pandemi pada perilaku daring dan dalam dunia maya (Bao, 2020; Pennycook, McPhetres, Zhang, Lu, & Rand, 2020; Cinelli dkk.
, 2020).
Last but not least, Dr.
Setiawati Intan Savitri dari Unversitas Mercu Buana, DKI Jakarta yang memiliki berbagai riset tentang bagaimana individu bisa berespon dalam menghadapi situasi negatif dalam hidupnya.
Kondisi pandemi ini bisa mengakibatkan dampak-dampak psikis seperti depresi dan rendahnya kesejahte-raan psikis maupun ekonomi (Rajkumar, 2020; Nguyen dkk.
, 2020), sehingga pemahaman beliau akan membantu terutama pada tema dampak COVID-19 terhadap psikis individu.
Naskah-naskah yang terbit dalam edisi khusus “Respon terhadap COVID-19” (“Response to COVID-19”) diharapkan mampu menjadi fondasi pengetahuan untuk menghadapi wabah virus corona, khususnya berkaitan dengan isu psikologi sosial dalam konteks Indonesia.
Sementara JPS memproses naskah-naskah edisi khusus tersebut, kami juga mempublikasikan edisi reguler pada bulan Agustus tahun 2020 ini (Volume 18 (3)).
Terdapat delapan naskah yang dipublikasikan JPS pada edisi ini.
Semua naskah ini merepresen-tasikan tema identitas dan relasi antar kelompok serta antarbudaya.
Naskah-naskah ini menambah pengetahuan dalam memahami isu mendasar pada identitas sosial dan budaya serta warna-warna relasi antar kelompok identitas.
Tidak hanya itu, beberapa naskah juga membantu kita memahami pengetahuan tentang intervensi pada isu hubungan antar identitas di Indonesia.
Dua naskah membahas tentang isu peng-asuhan atau relasi anak dengan pengasuh dalam budaya Indonesia.
Naskah Hartanti berjudul “Apakah sistem kekerabatan matrilineal di suku Minang masih membudaya? Analisis tematik pada makna pemberian dukungan sosial mamak kepada kemenakan” membahas hubungan pengasuh (‘mamak’ atau paman dari sisi ibu) dengan anak di kebudayaan Minang.
Seperti yang mungkin sudah kita ketahui, suku Minang adalah salah satu suku matrilineal terbesar di dunia (Levenson, Ekman, Heider, & Friesen, 1992).
Pemahaman tentang relasi ini penting untuk memberikan kita pengetahuan tentang budaya matrilineal tersebut.
Sementara naskah Wiswanti, Kuntoro, Ar Rizqi, dan Halim berjudul “Pola asuh dan budaya: Studi komparatif antara masyarakat urban dan masya-rakat rural Indonesia” membantu dalam memahami perbedaan pola asuh pada masyarakat rural dan urban di Indonesia.
Temuan mereka menja-wab inkonsistensi pada studi sebelumnya tentang perbedaan pola asuh di dua konteks tersebut.
Naskah berikutnya yang ditulis oleh Nugraha, Samian, dan Riantoputra membahas tentang relasi bawahan-atasan dengan memeriksa anteseden dibalik dukungan bawahan terhadap atasan lewat perspektif identitas sosial.
Dalam naskah yang berjudul “Anteseden leader endorsement: perspektif teori identitas sosial”, ditemukan bahwa identitas pemimpin bukanlah faktor yang menentukan dukungan bawahan terhadap pemimpin—khususnya dalam konteks perusahaan swasta.
Tiga naskah berikutnya membahas me-ngenai relasi antar identitas (intergroup) seperti prasangka dan kecemasan antar kelompok.
Naskah oleh Yang dan Pelupessy berjudul “Apakah saliensi mortalitas berperan dalam menjelaskan prasangka terhadap pasangan antarbudaya? Sebuah studi eksperimental” menemukan bahwa efek saliensi mortalitas dalam teori manajemen teror bisa digeneralisasi di konteks: (1) prasangka terhadap relasi romantis antar budaya, dan (2) budaya yang lebih luas yaitu konteks budaya Indonesia.
Motivasi eksistensial seperti motivasi meredam kecemasan kematian dan efeknya secara sosial ternyata juga ditemukan pada masyarakat Indonesia.
Pada naskah berjudul “Do intergroup threats provoke intergroup anxiety? An experimental study on Chinese ethnic group in Indonesia”, Ampuni dan Irene menemukan pola menarik terkait efek ancaman intergroup terhadap kecemasan intergrup.
Ditemukan bahwa kelompok yang diberikan manipulasi ancaman intergroup cenderung lebih tinggi dalam kecemasan.
Temu-an ini konsisten dengan temuan sebelumnya; akan tetapi, setelah mengontrol kontak inter-group, pola yang terjadi justru berkebalikan.
Ini menunjukkan bahwa pengalaman kontak sebelumnya pada partisipan berpengaruh pada per-sepsi ancaman di situasi eksperimen.
Sementara pada naskah berjudul “Mawas diri berideologi: Tantangan berpartisipasi religius online di era ujaran kebencian”, dibahas tentang peranan ideologi otoritarianisme dalam hubungan antara relijiusitas dan prasangka.
Pada riset yang dilaporkan oleh Sadida dan Pratiwi ini, ditemukan bahwa keterlibatan aktivitas agama secara daring memang memprediksi tingginya prasangka.
Aktivitas agama itu memicu ideologi otoritarianisme yang lebih kuat sehingga sikap negatif pun juga semakin tinggi.
Menariknya, tidak semua dimensi prasangka diprediksi oleh aktivitas keagamaan itu.
Dua naskah terakhir membahas tentang metode intervensi untuk mengurangi stigma dan meningkatkan sensitivitas interkultural.
Pada naskah oleh Soedarmadi, dibahas tentang efek intervensi keterampilan antar budaya dengan menginkorporasikan metode sebelumnya dengan kearifan lokal seperti nilai gotong royong.
Dalam naskah berjudul “Apakah pelatihan keterampilan antarbudaya pada instansi pemerintahan dapat meningkatkan sensitivitas antarbudaya? Peranan nilai lokal gotong royong” ini, para pekerja di instansi pemerintahan memiliki sensitifitas interkultural yang lebih baik setelah mengikuti intervensi yang diberikan.
Pada naskah berjudul “Pelatihan Rise and Shine sebagai metode psikoedukasi: Bisakah menurunkan stigma bunuh diri?”, Febriawan mengungkap bahwa metode psikoedukasi dapat menurunkan stigma.
Terdapat perbedaan metode psikoedukasi Rise and Shine dengan metode-metode sebelumnya.
Jika sebelumnya lebih banyak terfokus pada kemampuan seperti literasi bunuh diri dan kesehatan mental, pada psikoedukasi Rise and Shine juga masuk materi penyangga seperti berpikir kritis, ekspresi dengan kata, serta pengetahuan tentang kebijakan negara dalam kesehatan mental.
Lewat naskah-naskah ini, ditemukan berbagai pola menarik yang bisa bermanfaat untuk menambah pengetahuan pada teori besar di psikologi sosial seperti teori identitas sosial, teori manajemen teror, dan teori kontak.
Juga, kontribusi pengetahuan muncul untuk menjelaskan subkultur pada konteks Indonesia khususnya dalam konteks pengasuhan.
Tidak hanya itu, metode intervensi berbasis kearifan lokal dan psikoedukasi integratif bisa berguna untuk menciptakan relasi tanpa stigma atau sensitifitas kebudayaan.
Kedelapan naskah ini diharapkan mampu memberikan fondasi bagi riset lanjutan dan menginspirasi peneliti lain untuk mengatasi limitasi-limitasi yang muncul.

Related Results

KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
Pesan dari Managing Editor
Pesan dari Managing Editor
Salam sejahtera, Untuk volume 17 edisi 2 tahun 2019, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) menerbitkan tujuh naskah dengan topik yang menyentuh berbagai fenomena di masyarakat Indonesia. ...
Catatan dari Managing Editor
Catatan dari Managing Editor
Salam sejahtera, Tahun 2020 ini menandakan awal dari akhir sebuah dekade dimana terjadi berbagai perubahan sosial dan teknologi. Pertama, diketahui bahwa teknologi internet dan me...
Catatan Managing Editor: Manusia, lingkungan, dan interaksi keduanya
Catatan Managing Editor: Manusia, lingkungan, dan interaksi keduanya
Salam sejahtera, Pada awal tahun baru ini, terjadi perubahan struktural yang sangat penting di Jurnal Psikologi Sosial (JPS). Kami selaku tim manajerial JPS mengucapkan selamat at...
Military Exercises, Knee and Ankle Joint Position Sense, and Injury in Male Conscripts: A Pilot Study
Military Exercises, Knee and Ankle Joint Position Sense, and Injury in Male Conscripts: A Pilot Study
Context: The high incidence of lower limb injuries associated with physical exercises in military conscripts suggests that fatigue may be a risk factor for injuri...
Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Nilai Biologi Mahasiswa Semester Satu Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah
Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Nilai Biologi Mahasiswa Semester Satu Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah
Pandemi COVID-19 juga membawa dampak yang cukup besar pada bidang pendidikan. Kebijakan mengharuskan semua kegiatan yang dilakukan di luar rumah, termasuk kegiatan belajar-mengajar...
Menelisik politik identitas di Kalimantan Barat berdasarkan perspektif filsafat politik Armada Riyanto
Menelisik politik identitas di Kalimantan Barat berdasarkan perspektif filsafat politik Armada Riyanto
Artikel ini membahas politik identitas sebagai tindakan politis yang bertujuan untuk memajukan kepentingan kelompok berdasarkan kesamaan identitas atau karakteristik mereka. Politi...
ANALISIS NILAI BUDAYA DALAM HIKAYAT BANTA AMAT JILID I DAN II KARYA T. A. SAKTI
ANALISIS NILAI BUDAYA DALAM HIKAYAT BANTA AMAT JILID I DAN II KARYA T. A. SAKTI
This study aims to describe the cultural values ​​contained in the Hikayat Banta Amat Volume I and II by T. A. Sakti. Cultural value is very important to be studied in order to pre...

Back to Top