Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perbandingan Makna Simbolik dalam Puisi “Cintaku Jauh Di Pulau” Karya Chairil Anwar dan “Le Pont Mirabeau” Karya Guillaume Apollinaire

View through CrossRef
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan makna simbol dan nada dalam puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar dan “Le Pont Mirabeau” karya Guillaume Apollinaire dengan fokus pada tema cinta, keterpisahan, dan waktu. Metode yang digunakan yaitu komparatif untuk mengetahui perbandingan dalam menelaah aspek makna, simbol, dan nada berdasarkan konteks budaya dan sejarah kedua penyair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chairil Anwar mengekspresikan cinta sebagai pergulatan batin yang emosional dan tragis, sedangkan Apollinaire menampilkan cinta sebagai bagian alami dari kehidupan yang mengalir dan harus diterima dengan tenang. Perbedaan nada dan simbol dalam kedua puisi mencerminkan latar budaya yang berbeda, namun keduanya menyampaikan nilai kemanusiaan universal tentang cinta dan kehilangan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa simbol-simbol yang digunakan kedua penyair berfungsi sebagai jembatan antara perasaan personal dan realitas sosial yang mereka hadapi. Hasil kajian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi sastra lintas budaya dan memperkaya pemahaman mengenai ekspresi cinta dalam karya sastra modern. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengungkapan hubungan antara simbol dan ekspresi nada dalam dua tradisi sastra modern yang berbeda, sehingga memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sastra lintas budaya dan pemahaman terhadap nilai-nilai eksistensial manusia.
Title: Perbandingan Makna Simbolik dalam Puisi “Cintaku Jauh Di Pulau” Karya Chairil Anwar dan “Le Pont Mirabeau” Karya Guillaume Apollinaire
Description:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan makna simbol dan nada dalam puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar dan “Le Pont Mirabeau” karya Guillaume Apollinaire dengan fokus pada tema cinta, keterpisahan, dan waktu.
Metode yang digunakan yaitu komparatif untuk mengetahui perbandingan dalam menelaah aspek makna, simbol, dan nada berdasarkan konteks budaya dan sejarah kedua penyair.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chairil Anwar mengekspresikan cinta sebagai pergulatan batin yang emosional dan tragis, sedangkan Apollinaire menampilkan cinta sebagai bagian alami dari kehidupan yang mengalir dan harus diterima dengan tenang.
Perbedaan nada dan simbol dalam kedua puisi mencerminkan latar budaya yang berbeda, namun keduanya menyampaikan nilai kemanusiaan universal tentang cinta dan kehilangan.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa simbol-simbol yang digunakan kedua penyair berfungsi sebagai jembatan antara perasaan personal dan realitas sosial yang mereka hadapi.
Hasil kajian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi sastra lintas budaya dan memperkaya pemahaman mengenai ekspresi cinta dalam karya sastra modern.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengungkapan hubungan antara simbol dan ekspresi nada dalam dua tradisi sastra modern yang berbeda, sehingga memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sastra lintas budaya dan pemahaman terhadap nilai-nilai eksistensial manusia.

Related Results

EKSPRESI AMIR HAMZAH DAN CHAIRIL ANWAR DALAM PUISI-PUISI PERCINTAAN (The Expression of Amir Hamzah and Chairil Anwar in Romantic-Poetry)
EKSPRESI AMIR HAMZAH DAN CHAIRIL ANWAR DALAM PUISI-PUISI PERCINTAAN (The Expression of Amir Hamzah and Chairil Anwar in Romantic-Poetry)
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep  kekasih dalam puisi Amir Hamzah “Dalam Matamu” dan puisi Chairil Anwar “Sajak Putih”  serta konsep pengkhianatan kekasih dalam puisi...
Kajian Semiotika pada Kumpulan Puisi Nyanyian Pesisir Karya Marsel Robot
Kajian Semiotika pada Kumpulan Puisi Nyanyian Pesisir Karya Marsel Robot
Kumpulan puisi Nyanyian Pesisir karya Marsel Robot merupakan objek kajian dalam artikel ini. Puisi mengekpresikan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan ...
Chairil Anwar Service Literature Practices, 1942-1949
Chairil Anwar Service Literature Practices, 1942-1949
Chairil Anwar's literary resistance practices in 1942-1949 were supported by ‘literary habitus’--foreign and local literature, literary totality, and literary rationality-- as a fo...
STRATEGI PENERJEMAHAN PUISI-PUISI CHAIRIL ANWAR OLEH RAFFEL DALAM BUKU THE COMPLETE PROSE AND POETRY OF CHAIRIL ANWAR
STRATEGI PENERJEMAHAN PUISI-PUISI CHAIRIL ANWAR OLEH RAFFEL DALAM BUKU THE COMPLETE PROSE AND POETRY OF CHAIRIL ANWAR
This article discusses Indonesian—Poetry translation. The purpose of this article is to describe the strategies of translating poetry of Chairil Anwar by Raffel Raffel in “The Comp...
APRESIASI PUISI DALAM GERAKAN LITERASI
APRESIASI PUISI DALAM GERAKAN LITERASI
Memahami puisi dan memahami prosa ada bedanya. Ini disebabkan karena bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang dipakai prosa. Memahami puisi mungkin sedikit lebih rumit...
ANALISIS SEMIOTIKA RIFFATERRE PADA PUISI BARU KARYA SULTAN TAKDIR ALISJAHBANA
ANALISIS SEMIOTIKA RIFFATERRE PADA PUISI BARU KARYA SULTAN TAKDIR ALISJAHBANA
Bahasa merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Aktivitas Bahasa mengenal adanya empat keterampilan berbahasa yaitu, mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis....
Membaca Puisi
Membaca Puisi
Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Secara etimologis kata puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti membuat atau poeisis yang berarti pembuatan, dalam bahasa I...
Membaca Puisi
Membaca Puisi
Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Secara etimologis kata puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti membuat atau poeisis yang berarti pembuatan, dalam bahasa I...

Back to Top