Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TRADISI PEMBACAAN ASMA’ AL-HUSNA DI MASJID I’TIKAF, PEDURUNGAN KIDUL, SEMARANG (STUDI LIVING HADIS)

View through CrossRef
This article discusses a phenomenon that has become a religious tradition in Pedurungan Kidul II, Semarang. The mosque, which was originally a place of worship, has become a place of religious ritual over time. People unconsciously have carried out a habit based on al-Qur’an and hadith, specifically reciting Asma’ al-Husna. The discourse of Asma’ al-Husna has been discussed by hadith scholars who state that the hadith about people who keep Asma’ al-Husna going to heaven indirectly has its own reception when it enters the social realm. The reception turned out to have a different meaning when it was carried out by the congregation of the mosque of I’tikaf Baitul Muhajirin. The recitation of Asma’ al-Husna in the mosque originated from a takmir’s desire to introduce and broadcast the reading of Asma’ al-Husna, as time went on the assembly became wasilah to pray, establish friendship, and the names contained in Asma’ al-Husna is a provision for life for the community. This article uses a phenomenological approach and functional theory as a tool to find the meaning contained in these assemblies.   Artikel ini mendiskusikan tentang sebuah fenomena yang menjadi tradisi keagamaan di Pedurungan Kidul II, Semarang. Masjid yang mulanya menjadi tempat ibadah, seiring berjalannya waktu menjadi tempat ritual keagamaan. Masyarakat secara tidak sadar telah melakukan sebuah kebiasaan berbasis Al-Qur’an dan hadis, yaitu pembacaan Asma’ al-Husna. Diskursus Asma’ al-Husna telah dibahas oleh para pensyarah hadis yang menyebutkan bahwa hadis tentang orang yang menjaga Asma’ al-Husna akan masuk surga secara tidak langsung memiliki resepsi tersendiri ketika telah masuk di ranah sosial. Resepsi tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda ketika dilakukan oleh Jemaah Masjid I’tikaf Baitul Muhajirin. Pembacaan Asma’ al-Husna di masjid tersebut berawal dari keinginan seorang takmir untuk mengenalkan dan mensyiarkan bacaan Asma’ al-Husna, seiring berjalannya waktu majelis tersebut menjadi wasilah untuk berdoa, menjalin silaturrahim, dan nama-nama yang terdapat di dalam Asma’ al-Husna menjadi bekal hidup bagi masyarakat. Artikel ini menggunakan pendekatan fenomenologi, dan teori fungsional sebagai alat untuk menemukan makna yang terkandung di majelis tersebut.
Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin Jambi
Title: TRADISI PEMBACAAN ASMA’ AL-HUSNA DI MASJID I’TIKAF, PEDURUNGAN KIDUL, SEMARANG (STUDI LIVING HADIS)
Description:
This article discusses a phenomenon that has become a religious tradition in Pedurungan Kidul II, Semarang.
The mosque, which was originally a place of worship, has become a place of religious ritual over time.
People unconsciously have carried out a habit based on al-Qur’an and hadith, specifically reciting Asma’ al-Husna.
The discourse of Asma’ al-Husna has been discussed by hadith scholars who state that the hadith about people who keep Asma’ al-Husna going to heaven indirectly has its own reception when it enters the social realm.
The reception turned out to have a different meaning when it was carried out by the congregation of the mosque of I’tikaf Baitul Muhajirin.
The recitation of Asma’ al-Husna in the mosque originated from a takmir’s desire to introduce and broadcast the reading of Asma’ al-Husna, as time went on the assembly became wasilah to pray, establish friendship, and the names contained in Asma’ al-Husna is a provision for life for the community.
This article uses a phenomenological approach and functional theory as a tool to find the meaning contained in these assemblies.
  Artikel ini mendiskusikan tentang sebuah fenomena yang menjadi tradisi keagamaan di Pedurungan Kidul II, Semarang.
Masjid yang mulanya menjadi tempat ibadah, seiring berjalannya waktu menjadi tempat ritual keagamaan.
Masyarakat secara tidak sadar telah melakukan sebuah kebiasaan berbasis Al-Qur’an dan hadis, yaitu pembacaan Asma’ al-Husna.
Diskursus Asma’ al-Husna telah dibahas oleh para pensyarah hadis yang menyebutkan bahwa hadis tentang orang yang menjaga Asma’ al-Husna akan masuk surga secara tidak langsung memiliki resepsi tersendiri ketika telah masuk di ranah sosial.
Resepsi tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda ketika dilakukan oleh Jemaah Masjid I’tikaf Baitul Muhajirin.
Pembacaan Asma’ al-Husna di masjid tersebut berawal dari keinginan seorang takmir untuk mengenalkan dan mensyiarkan bacaan Asma’ al-Husna, seiring berjalannya waktu majelis tersebut menjadi wasilah untuk berdoa, menjalin silaturrahim, dan nama-nama yang terdapat di dalam Asma’ al-Husna menjadi bekal hidup bagi masyarakat.
Artikel ini menggunakan pendekatan fenomenologi, dan teori fungsional sebagai alat untuk menemukan makna yang terkandung di majelis tersebut.

Related Results

PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
<p>Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang di...
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
Abstract: The Tahfiz Hadis program is one of the extracurricular programs carried out at the Al Falah Puteri Islamic Boarding School Banjarbaru. This program was formed because of ...
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
Hadis disepakati sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Namun, untuk dapat menjadikannya sebagai dasar ajaran, hadis harus melewati uji naqd al-hadis dan fiqh al-hadi...
PEMBACAAN TRADISI ASMAUL HUSNA SEBELUM MENGHAFAL AL-QUR’AN DI RQ MASKANUL MUTTAQIN JAMBI
PEMBACAAN TRADISI ASMAUL HUSNA SEBELUM MENGHAFAL AL-QUR’AN DI RQ MASKANUL MUTTAQIN JAMBI
Jurnal ini merupakan hasil penelitian praktik living qur’an dan hadist disebuah Rumah Qur’an Maskanul Muttaqin yang berupa tradisi pembacaan Asmaul Husna setiap sebelum memulai men...
KOMPARASI TATA MASSA DAN RUANG PADA MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON DAN MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA
KOMPARASI TATA MASSA DAN RUANG PADA MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON DAN MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA
Abstrak- Penyebaran Islam di Indonesia meninggalkan keberagaman budaya akibat adanya akulturasi khususnya di Pulau Jawa. Di antaranya adalah ritual-ritual atau aktivitas asli Jawa ...
Pengaruh I’tikaf terhadap Peningkatan Psychological Well-Being Jemaah di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Palembang
Pengaruh I’tikaf terhadap Peningkatan Psychological Well-Being Jemaah di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Palembang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital membawa berbagai dampak psikologis bagi individu, termasuk meningkatnya stres, kecemasan, dan penurunan kualitas hubu...

Back to Top