Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Kuda Renggong dalam Perspektif Semiotika dan Etnopedagogik Sunda

View through CrossRef
Kuda Renggong dalam Perspektif Semiotika dan Etnopedagogik Sunda merupakan sebuah karya yang mengajak pembaca menelusuri makna mendalam di balik salah satu kesenian paling ikonik dari Sumedang. Buku ini menunjukkan bahwa kuda renggong bukan sekadar tontonan rakyat yang meriah, melainkan sebuah teks budaya yang kaya akan simbol, nilai, dan pesan pendidikan yang diwariskan turun-temurun. Melalui pendekatan semiotika, penulis membedah setiap unsur pertunjukan—mulai dari kostum kuda, iringan musik, ragam gerak, hingga sesajen—sebagai tanda yang menyimpan makna filosofis. Gerakan kuda yang tampak lincah ternyata merepresentasikan harmoni antara manusia, hewan, dan alam. Sementara ornamen-ornamen yang dikenakan kuda merefleksikan keindahan, kehormatan, dan kewibawaan yang dijunjung tinggi dalam budaya Sunda. Buku ini juga menyoroti sejarah lahirnya kuda renggong yang berakar dari kreativitas Eyang Sipan di Desa Cikurubuk. Dari sebuah interaksi sederhana antara manusia dan kuda, lahirlah sebuah kesenian yang kini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kisah ini menunjukkan bahwa tradisi besar sering kali tumbuh dari kecintaan yang mendalam terhadap budaya dan lingkungan sekitar. Keistimewaan buku ini terletak pada pembacaan etnopedagogik yang mengungkap nilai-nilai pendidikan lokal dalam setiap prosesi pertunjukan. Kuda renggong dipahami sebagai media pembelajaran yang menanamkan nilai religius, tanggung jawab, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, kecintaan terhadap alam, dan keseimbangan hidup lahir batin. Dengan demikian, kesenian ini hadir sebagai sumber pengetahuan yang relevan bagi generasi masa kini. Penulis menyajikan uraian yang sistematis dan mudah diikuti, dimulai dari konsep kebudayaan, struktur pertunjukan, fungsi sosial, hingga analisis simbolik yang mendalam. Pembaca tidak hanya diajak memahami apa itu kuda renggong, tetapi juga mengapa kesenian ini memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Sunda. Buku ini menjembatani kajian akademik dengan narasi budaya yang hidup dan membumi. Lebih dari sekadar dokumentasi ilmiah, buku ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal yang terus bertahan di tengah arus modernisasi. Di saat banyak tradisi mulai terpinggirkan, karya ini hadir sebagai pengingat bahwa kebudayaan lokal menyimpan nilai-nilai universal yang tetap relevan untuk membangun karakter bangsa. Bagi akademisi, mahasiswa, budayawan, guru, dan pecinta seni tradisional, buku ini menawarkan perspektif yang kaya dan inspiratif. Ia menunjukkan bahwa sebuah pertunjukan rakyat dapat dibaca sebagai sistem makna yang kompleks sekaligus sebagai sumber pendidikan yang autentik. Pada akhirnya, Kuda Renggong dalam Perspektif Semiotika dan Etnopedagogik Sunda adalah bukti bahwa di balik derap langkah kuda dan gemuruh musik tradisional, tersimpan filosofi hidup masyarakat Sunda yang luhur. Buku ini bukan hanya layak dibaca, tetapi juga layak dimiliki sebagai kontribusi penting bagi pelestarian budaya Indonesia.
Title: Kuda Renggong dalam Perspektif Semiotika dan Etnopedagogik Sunda
Description:
Kuda Renggong dalam Perspektif Semiotika dan Etnopedagogik Sunda merupakan sebuah karya yang mengajak pembaca menelusuri makna mendalam di balik salah satu kesenian paling ikonik dari Sumedang.
Buku ini menunjukkan bahwa kuda renggong bukan sekadar tontonan rakyat yang meriah, melainkan sebuah teks budaya yang kaya akan simbol, nilai, dan pesan pendidikan yang diwariskan turun-temurun.
Melalui pendekatan semiotika, penulis membedah setiap unsur pertunjukan—mulai dari kostum kuda, iringan musik, ragam gerak, hingga sesajen—sebagai tanda yang menyimpan makna filosofis.
Gerakan kuda yang tampak lincah ternyata merepresentasikan harmoni antara manusia, hewan, dan alam.
Sementara ornamen-ornamen yang dikenakan kuda merefleksikan keindahan, kehormatan, dan kewibawaan yang dijunjung tinggi dalam budaya Sunda.
Buku ini juga menyoroti sejarah lahirnya kuda renggong yang berakar dari kreativitas Eyang Sipan di Desa Cikurubuk.
Dari sebuah interaksi sederhana antara manusia dan kuda, lahirlah sebuah kesenian yang kini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Kisah ini menunjukkan bahwa tradisi besar sering kali tumbuh dari kecintaan yang mendalam terhadap budaya dan lingkungan sekitar.
Keistimewaan buku ini terletak pada pembacaan etnopedagogik yang mengungkap nilai-nilai pendidikan lokal dalam setiap prosesi pertunjukan.
Kuda renggong dipahami sebagai media pembelajaran yang menanamkan nilai religius, tanggung jawab, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, kecintaan terhadap alam, dan keseimbangan hidup lahir batin.
Dengan demikian, kesenian ini hadir sebagai sumber pengetahuan yang relevan bagi generasi masa kini.
Penulis menyajikan uraian yang sistematis dan mudah diikuti, dimulai dari konsep kebudayaan, struktur pertunjukan, fungsi sosial, hingga analisis simbolik yang mendalam.
Pembaca tidak hanya diajak memahami apa itu kuda renggong, tetapi juga mengapa kesenian ini memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Buku ini menjembatani kajian akademik dengan narasi budaya yang hidup dan membumi.
Lebih dari sekadar dokumentasi ilmiah, buku ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.
Di saat banyak tradisi mulai terpinggirkan, karya ini hadir sebagai pengingat bahwa kebudayaan lokal menyimpan nilai-nilai universal yang tetap relevan untuk membangun karakter bangsa.
Bagi akademisi, mahasiswa, budayawan, guru, dan pecinta seni tradisional, buku ini menawarkan perspektif yang kaya dan inspiratif.
Ia menunjukkan bahwa sebuah pertunjukan rakyat dapat dibaca sebagai sistem makna yang kompleks sekaligus sebagai sumber pendidikan yang autentik.
Pada akhirnya, Kuda Renggong dalam Perspektif Semiotika dan Etnopedagogik Sunda adalah bukti bahwa di balik derap langkah kuda dan gemuruh musik tradisional, tersimpan filosofi hidup masyarakat Sunda yang luhur.
Buku ini bukan hanya layak dibaca, tetapi juga layak dimiliki sebagai kontribusi penting bagi pelestarian budaya Indonesia.

Related Results

Analisa Biaya Dan Waktu Pelaksanaan Kuda-Kuda Baja Ringan Dengan Kuda-Kuda Kayu Pembangunan Puskesmas Pintu Padang
Analisa Biaya Dan Waktu Pelaksanaan Kuda-Kuda Baja Ringan Dengan Kuda-Kuda Kayu Pembangunan Puskesmas Pintu Padang
: Material kuda-kuda yang paling sering dijumpai di kalangan masyarakat adalah kayu. Seiring dengan berkembangnya teknologi di bidang teknik sipil dan pesatnya pertumbuhan hunian y...
KOMPARASI BIAYA PENGGUNAAN KAYU DAN BAJA RINGAN UNTUK KONTRUKSI KUDA-KUDA
KOMPARASI BIAYA PENGGUNAAN KAYU DAN BAJA RINGAN UNTUK KONTRUKSI KUDA-KUDA
Perencanaan gedung pada saat ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor namun semua ditujukan untuk mencapai suatu struktur yang kuat dan ekonomis. Termasuk dalam hal perencanaan st...
Analisis Efisiensi Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan
Analisis Efisiensi Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan
Atap adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi sebagai penutup seluruh ruangan yang ada dibawahnya dari pengaruh panas, hujan, angin, debu, termasuk juga untuk keperluan per...
Olahraga Pacu Kuda sebagai Warisan Sejarah Budaya di Kota Bukittinggi Tahun (1889-1945)
Olahraga Pacu Kuda sebagai Warisan Sejarah Budaya di Kota Bukittinggi Tahun (1889-1945)
Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji Olahraga Pacu Kuda Sebagai Warisan Sejarah Budaya Di Kota Bukittinggi. Bukittinggi merupakan sebuah kota yang terletak di Sumatera Barat yang...
OPTIMASI BENTUK RANGKA ATAP STRUKTUR KUDA-KUDA BAJA CANAI DINGIN
OPTIMASI BENTUK RANGKA ATAP STRUKTUR KUDA-KUDA BAJA CANAI DINGIN
Abstrak: Pertumbuhan atau kenaikan penduduk Indonesia yang sangat pesat mengakibatkan bertambahnya jumlah kebutuhan rumah tinggal yang juga semakin meningkat. Saat ini pembangunan ...
REKONSTRUKSI “ISLAM TEH SUNDA, SUNDA TEH ISLAM”
REKONSTRUKSI “ISLAM TEH SUNDA, SUNDA TEH ISLAM”
This paper describes the background of the “Islam teh Sunda dan Sunda teh Islam” means that “Islam is the same as the Sunda and Sunda that is Islam”, the term, was introduced by Ha...
PENDAMPINGAN KESENIAN KUDA LUMPING BERBASIS NILAI-NILAI RELIJIUS DAN KEARIFAN LOKAL DI DUSUN GANDON, KABUPATEN TEMANGGUNG
PENDAMPINGAN KESENIAN KUDA LUMPING BERBASIS NILAI-NILAI RELIJIUS DAN KEARIFAN LOKAL DI DUSUN GANDON, KABUPATEN TEMANGGUNG
Kuda Lumping has long been an integral part of the cultural identity of the people in Gandon Hamlet. However, no practices or performances had taken place since 2010. This communit...
Wawacan Suryamana: Cerita, Simbol, dan Nilai Kehidupan dalam Tradisi Sunda
Wawacan Suryamana: Cerita, Simbol, dan Nilai Kehidupan dalam Tradisi Sunda
Buku Wawacan Suryamana: Cerita, Simbol, dan Nilai Kehidupan dalam Tradisi Sunda karya M. Idwar, Denny Adrian Nurhuda, dan Winci Firdaus merupakan sebuah kajian yang berhasil menghi...

Back to Top