Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Klasifikasi Kemurnian Daging Sapi Berbasis Electronic Nose dengan Metode Principal Component Analysis

View through CrossRef
AbstrakDaging merupakan bahan makanan yang dikonsumsi secara luas, sehingga dibutuhkan standar kualitas tertentu agar dapat aman dikonsumsi dan tidak merugikan konsumen. Standar tersebut diantaranya adalah kesegaran dan kemurnian. Dalam praktek jual beli daging ditemukan adanya kasus pencampuran daging sapi dengan daging babi sehingga dapat merugikan konsumen. Untuk mengetahui kemurnian daging sapi tersebut dibutuhkan pengujian dengan menggunakan tes aroma berbasis electronic nose.Sampel daging sapi campuran dibuat dengan variasi kandungan daging babi sebesar 20%, 40%, 60%, dan 80% dari total massa sampel, dengan massa sampel adalah 20 gram. Pengambilan data selama 10 hari dilakukan dengan proses sensing dan flushing masing-masing selama 180 detik dengan pengulangan sebanyak 6 kali per hari. Pengolahan data dilakukan dalam beberapa tahap yang meliputi prapemrosesan sinyal dengan manipulasi baseline, ekstraksi ciri dengan menghitung luas kurva sinyal menggunakan pendekatan integral aturan trapesium, dan analisis multivariat menggunakan Principal Component Analysis (PCA).Hasil persentase variansi kumulatif dua komponen utama pada pengujian klasifikasi antara daging sapi dengan daging babi adalah sebesar 99,9%, sedangkan pada pengujian klasifikasi antara daging sapi murni dengan daging sapi campuran adalah sebesar 99,6%. Dengan demikian, electronic nose dapat membedakan antara daging sapi murni dengan daging sapi campuran. Kata kunci— Electronic nose, sensor gas metal oksida, klasifikasi, kemurnian daging, Principal Component Analysis. AbstractMeat is a widely consumed food, therefore it requires certain quality standards to be safe to consumed and does not harm the consumers. Several of those standards including meat freshness and meat purity. Recently it has been found some cases of pork adulteration in beef which consequently could harm the consumers. In order to examine the purity of beef, it required test method based on odor characteristics by using electronic nose.Adulterated beef samples were prepared with pork content within samples varied by 20%, 40%, 60%, and 80% of total sample mass where the sample mass is 20 grams. The 10 days data collecting consists of sensing and flushing cycles for 180 seconds each cycles, with 6 times process repeating over 1 day. Data processing was carried out in several stages which including signal preprocessing based on baseline manipulation, feature extraction by calculating the area of the response signal curve by using trapezoidal rule of integral approximation, and multivariate analysis using PCA.Cumulative percentage of variance of two principal components of beef and pork classification test yields at 99.9% of total variance, and classification test between pure beef and adulterated beef resulting in 99.6% of total variance. Therefore, it can be concluded that electronic nose can classify between pure beef and adulterated beef. Keywords— Electronic nose, metal-oxide gas sensor, classification, meat purity, Principal Component Analysis.
Title: Klasifikasi Kemurnian Daging Sapi Berbasis Electronic Nose dengan Metode Principal Component Analysis
Description:
AbstrakDaging merupakan bahan makanan yang dikonsumsi secara luas, sehingga dibutuhkan standar kualitas tertentu agar dapat aman dikonsumsi dan tidak merugikan konsumen.
Standar tersebut diantaranya adalah kesegaran dan kemurnian.
Dalam praktek jual beli daging ditemukan adanya kasus pencampuran daging sapi dengan daging babi sehingga dapat merugikan konsumen.
Untuk mengetahui kemurnian daging sapi tersebut dibutuhkan pengujian dengan menggunakan tes aroma berbasis electronic nose.
Sampel daging sapi campuran dibuat dengan variasi kandungan daging babi sebesar 20%, 40%, 60%, dan 80% dari total massa sampel, dengan massa sampel adalah 20 gram.
Pengambilan data selama 10 hari dilakukan dengan proses sensing dan flushing masing-masing selama 180 detik dengan pengulangan sebanyak 6 kali per hari.
Pengolahan data dilakukan dalam beberapa tahap yang meliputi prapemrosesan sinyal dengan manipulasi baseline, ekstraksi ciri dengan menghitung luas kurva sinyal menggunakan pendekatan integral aturan trapesium, dan analisis multivariat menggunakan Principal Component Analysis (PCA).
Hasil persentase variansi kumulatif dua komponen utama pada pengujian klasifikasi antara daging sapi dengan daging babi adalah sebesar 99,9%, sedangkan pada pengujian klasifikasi antara daging sapi murni dengan daging sapi campuran adalah sebesar 99,6%.
Dengan demikian, electronic nose dapat membedakan antara daging sapi murni dengan daging sapi campuran.
 Kata kunci— Electronic nose, sensor gas metal oksida, klasifikasi, kemurnian daging, Principal Component Analysis.
 AbstractMeat is a widely consumed food, therefore it requires certain quality standards to be safe to consumed and does not harm the consumers.
Several of those standards including meat freshness and meat purity.
Recently it has been found some cases of pork adulteration in beef which consequently could harm the consumers.
In order to examine the purity of beef, it required test method based on odor characteristics by using electronic nose.
Adulterated beef samples were prepared with pork content within samples varied by 20%, 40%, 60%, and 80% of total sample mass where the sample mass is 20 grams.
The 10 days data collecting consists of sensing and flushing cycles for 180 seconds each cycles, with 6 times process repeating over 1 day.
Data processing was carried out in several stages which including signal preprocessing based on baseline manipulation, feature extraction by calculating the area of the response signal curve by using trapezoidal rule of integral approximation, and multivariate analysis using PCA.
Cumulative percentage of variance of two principal components of beef and pork classification test yields at 99.
9% of total variance, and classification test between pure beef and adulterated beef resulting in 99.
6% of total variance.
Therefore, it can be concluded that electronic nose can classify between pure beef and adulterated beef.
 Keywords— Electronic nose, metal-oxide gas sensor, classification, meat purity, Principal Component Analysis.

Related Results

Implementasi Sensor Gas MQ-136 Dan MQ-137 Untuk Mendeteksi Kesegaran Daging Sapi Menggunakan Metode Neural Network
Implementasi Sensor Gas MQ-136 Dan MQ-137 Untuk Mendeteksi Kesegaran Daging Sapi Menggunakan Metode Neural Network
Daging sapi merupakan pangan penting dalam budaya dan tradisi makanan di Indonesia, walaupun konsumsi daging sapi relative lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi ikan ataupun ay...
Penerapan Deep Learning Untuk Klasifikasi Kesegaran Daging Sapi Berbasis Mobile Apps
Penerapan Deep Learning Untuk Klasifikasi Kesegaran Daging Sapi Berbasis Mobile Apps
Tingginya konsumsi daging sapi di Indonesia membuat kebutuhan daging sapi di Indonesia selalu naik secara signifikan setiap tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan produksi dagin...
ANALISIS IMPOR DAGING SAPI DI INDONESIA
ANALISIS IMPOR DAGING SAPI DI INDONESIA
 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan produksi daging sapi di Indonesia, siklus perkembangan produksi daging sapi di Indonesia tahun, dan elastisitas impor dagi...
IDENTIFIKASI PEMALSUAN DENGAN METODE UJI PCR MULTIPLEKS DAN UJI ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) PADA DAGING SAPI
IDENTIFIKASI PEMALSUAN DENGAN METODE UJI PCR MULTIPLEKS DAN UJI ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) PADA DAGING SAPI
Daging merupakan sumber nutrisi yang penting bagi manusia untuk mendapatkan protein berkualitas tinggi. Kualitas daging ditentukan oleh pertumbuhan komponen jaringan ikat berupa tu...
DETEKSI AROMA DAGING SAPI DAN DAGING BABI MENGGUNAKAN ELECTRONIC NOSE BERBASIS SENSOR MQ3 DAN MQ5
DETEKSI AROMA DAGING SAPI DAN DAGING BABI MENGGUNAKAN ELECTRONIC NOSE BERBASIS SENSOR MQ3 DAN MQ5
Ketersediaan dan tata niaga daging sapi yang belum stabil mengakibatkan banyaknya tindakan pemalsuan menggunakan daging babi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Tindakan ini me...
Manajemen Rantai Pasok Komoditas Ternak dan Daging Sapi
Manajemen Rantai Pasok Komoditas Ternak dan Daging Sapi
<p>Beef products demand keeps increasing and its domestic supply is insufficient. Domestic beef production to meet domestic demand is one of priorities in the 2015-2019 Strat...
Pengaruh Penambahan Kikil terhadap Kualitas Fisik Bakso Daging Sapi
Pengaruh Penambahan Kikil terhadap Kualitas Fisik Bakso Daging Sapi
Bakso merupakan jenis makanan olahan hasil ternak yang digemari oleh masyarakat baik tua terlebih muda dan anak-anak. Bakso yang berkualitas adalah bakso bersifat kenyal namun muda...
Uji Kualitas Fisik dan Mikroskopis (pH, Kadar Air dan Jumlah Total Mikroba) Daging Broiler di Kabupaten Jember
Uji Kualitas Fisik dan Mikroskopis (pH, Kadar Air dan Jumlah Total Mikroba) Daging Broiler di Kabupaten Jember
Daging broiler adalah salah satu produk pangan asal peternakan yang banyak diminati masyarakat karena merupakan sumber protein hewani yang mengandung asam amino esensial dan nilai ...

Back to Top