Javascript must be enabled to continue!
PEWARISAN BUDAYA SAPI SONOK SEBAGAI AKTIVITAS BELAJAR INFORMAL BAGI MASYARAKAT MADURA
View through CrossRef
RINGKASANIkbar, A.Nauvalul. 2020. Pewarisan Budaya Sapi Sonok Sebagai Aktivitas Belajar Informal Bagi Masyarakat Madura. Tesis. Program Studi S-2 Pendidikan Luar Sekolah. Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hardika, M.Pd., (2) Dr. Ellyn Sugeng Desyanty, M.Pd.Kata Kunci: Pewarisan, Budaya Sapi Sonok, Aktivitas Belajar InformalBudaya sapi sonok merupakan budaya asli masyarakat Madura yang berlangsung turun-temurun dari leluhur di keluarga pemilik sapi sonok. Budaya sapi sonok dicetuskan pertama kali oleh H. Achmad Hairudin pada tahun 1940. Dalam pelaksanaan budaya sapi sonok terdapat beberapa proses yang harus dilakukan oleh ketua paguyuban, panitia pelaksana, dan pemilik sapi sonok. Orang tua (ayah) memiliki peran penting dalam memperkenalkan sekaligus mewariskan budaya kepada anak sebagai generasi penerus di dalam keluarga.Penelitian ini bertujuan yaitu menganalisis pewarisan budaya sapi sonok sebagai aktivitas belajar informal yang dilakukan oleh orang tua pemilik sapi sonok kepada anak sebagai generasi penerus.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih informan penelitian. Informan dalam penelitian ini meliputi Kepala Desa Dempo Barat yang juga menjadi Ketua Paguyuban sapi sonok, pemilik sapi sonok, dan anak pemilik sapi sonok. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan miles dan huberman.Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa awal mula terbentuknya budaya sapi sonok berawal dari kebiasaan para petani Madura yang sering kali tidak melepas pengonong (kayu perangkai sapi) yang digunakan membajak sawah mulai dari ladang hingga ke rumah, pada tahun 1940 H. Achmad Hairudin melihat kebiasaan petani tersebut dirasa menyenangkan dan memiliki nilai seni, kemudian dikemas sebagai pesta rakyat yang dikenal dengan kontes sapi sonok hingga saat ini. Kontes sapi sonok pertama kali secara resmi diadakan pada tahun 1967 oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan. Pelaksanaan kontes sapi sonok diadakan oleh paguyuban-paguyuban di Pulau Madura yaitu mulai dari Kabupaten Bangkalan Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep. Dalam pelaksanaan kontes sapi sonok diawali dengan beberapa proses yaitu (1) musyawarah akbar paguyuban,(2) pendataan anggota paguyuban, (3) pembentukan panitia, (4) persiapan teknis, (5) pelaksanaan budaya kontes sapi sonok selama satu hari dimulai jam 08:00 pagi hingga jam 16:00 sore. Proses pewarisan budaya sapi sonok yang dilakukan oleh orang tua pemilik sapi sonok kepada anak sebagai generasi penerus memiliki 5 tahapan belajar, yaitu: (1) Ngabes aghi (melihat), (2) Malae (motivasi) (3) Ngajhar aghi (menjelaskan) dan nyonto aghi (memberi contoh), (4) Nguddhi aghi (Praktik dibawah pengawasan orang tua), (5) Nerros aghi (Meneruskan). Anak meneruskan budaya sapi sonok dengan diberikan kepercayaan oleh orangtua untuk mengurus sapi saat memasuki usia 20 tahun atau sesuai kesepakatan masing-masing keluarga, semua dilakukan secara mandiri tanpa didampingi orang tua untuk melanjutkan keterampilan yang telah diwarisi oleh orang tua kepada anak dalam mengurus sapi sonok mulai proses merawat sapi sonok hingga sapi bisa mengikuti kontes.
State University of Malang (UM)
Title: PEWARISAN BUDAYA SAPI SONOK SEBAGAI AKTIVITAS BELAJAR INFORMAL BAGI MASYARAKAT MADURA
Description:
RINGKASANIkbar, A.
Nauvalul.
2020.
Pewarisan Budaya Sapi Sonok Sebagai Aktivitas Belajar Informal Bagi Masyarakat Madura.
Tesis.
Program Studi S-2 Pendidikan Luar Sekolah.
Pasca Sarjana.
Universitas Negeri Malang.
Pembimbing (1) Dr.
Hardika, M.
Pd.
, (2) Dr.
Ellyn Sugeng Desyanty, M.
Pd.
Kata Kunci: Pewarisan, Budaya Sapi Sonok, Aktivitas Belajar InformalBudaya sapi sonok merupakan budaya asli masyarakat Madura yang berlangsung turun-temurun dari leluhur di keluarga pemilik sapi sonok.
Budaya sapi sonok dicetuskan pertama kali oleh H.
Achmad Hairudin pada tahun 1940.
Dalam pelaksanaan budaya sapi sonok terdapat beberapa proses yang harus dilakukan oleh ketua paguyuban, panitia pelaksana, dan pemilik sapi sonok.
Orang tua (ayah) memiliki peran penting dalam memperkenalkan sekaligus mewariskan budaya kepada anak sebagai generasi penerus di dalam keluarga.
Penelitian ini bertujuan yaitu menganalisis pewarisan budaya sapi sonok sebagai aktivitas belajar informal yang dilakukan oleh orang tua pemilik sapi sonok kepada anak sebagai generasi penerus.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus.
Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih informan penelitian.
Informan dalam penelitian ini meliputi Kepala Desa Dempo Barat yang juga menjadi Ketua Paguyuban sapi sonok, pemilik sapi sonok, dan anak pemilik sapi sonok.
Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.
Analisis data pada penelitian ini menggunakan miles dan huberman.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa awal mula terbentuknya budaya sapi sonok berawal dari kebiasaan para petani Madura yang sering kali tidak melepas pengonong (kayu perangkai sapi) yang digunakan membajak sawah mulai dari ladang hingga ke rumah, pada tahun 1940 H.
Achmad Hairudin melihat kebiasaan petani tersebut dirasa menyenangkan dan memiliki nilai seni, kemudian dikemas sebagai pesta rakyat yang dikenal dengan kontes sapi sonok hingga saat ini.
Kontes sapi sonok pertama kali secara resmi diadakan pada tahun 1967 oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan.
Pelaksanaan kontes sapi sonok diadakan oleh paguyuban-paguyuban di Pulau Madura yaitu mulai dari Kabupaten Bangkalan Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep.
Dalam pelaksanaan kontes sapi sonok diawali dengan beberapa proses yaitu (1) musyawarah akbar paguyuban,(2) pendataan anggota paguyuban, (3) pembentukan panitia, (4) persiapan teknis, (5) pelaksanaan budaya kontes sapi sonok selama satu hari dimulai jam 08:00 pagi hingga jam 16:00 sore.
Proses pewarisan budaya sapi sonok yang dilakukan oleh orang tua pemilik sapi sonok kepada anak sebagai generasi penerus memiliki 5 tahapan belajar, yaitu: (1) Ngabes aghi (melihat), (2) Malae (motivasi) (3) Ngajhar aghi (menjelaskan) dan nyonto aghi (memberi contoh), (4) Nguddhi aghi (Praktik dibawah pengawasan orang tua), (5) Nerros aghi (Meneruskan).
Anak meneruskan budaya sapi sonok dengan diberikan kepercayaan oleh orangtua untuk mengurus sapi saat memasuki usia 20 tahun atau sesuai kesepakatan masing-masing keluarga, semua dilakukan secara mandiri tanpa didampingi orang tua untuk melanjutkan keterampilan yang telah diwarisi oleh orang tua kepada anak dalam mengurus sapi sonok mulai proses merawat sapi sonok hingga sapi bisa mengikuti kontes.
Related Results
Analisis Morfometrik-Biofisika antara Sapi Karapan, Sapi Sonok dan Sapi Peternak Madura (Bos primiginius) di Kabupaten Sumenep
Analisis Morfometrik-Biofisika antara Sapi Karapan, Sapi Sonok dan Sapi Peternak Madura (Bos primiginius) di Kabupaten Sumenep
The purpose of this study was to determine the morphometric and biophysical differences between three types of Madura Cattle, namely Karapan Cattle, Sonok Cattle and Breeder Cattle...
Persepsi Peternak Terhadap Pemeliharaan Sapi Sonok di Madura
Persepsi Peternak Terhadap Pemeliharaan Sapi Sonok di Madura
Madura island is one area that has potential in the farm sector. Madura cattle are classified into three categories: beef cattle, sonok cattle, and karapan cattle. The high cost of...
Perbedaan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Susu Sapi Murni dan Susu Sapi Bubuk
Perbedaan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Susu Sapi Murni dan Susu Sapi Bubuk
Abstract: Saliva is a complex oral fluid consisting of a mixture of secretion of the major and minor salivary glands in the oral mucosa with a normal pH of 5.6-7.0. There are sever...
Nilai lokalitas budaya Madura dalam cerpen-cerpen karya Muna Masyari
Nilai lokalitas budaya Madura dalam cerpen-cerpen karya Muna Masyari
Kelokalitasan suatu daerah dapat ditelusuri melalui karya sastra berupa cerpen yang memotret keunikan budaya. Madura sebagai daerah dengan ragam budaya yang kental dapat dipelajari...
POLA AKTIVITAS MASYARAKAT SEBAGAI HIRARKI KAMPUNG NAGA SEBAGAI WARISAN BUDAYA CERDAS
POLA AKTIVITAS MASYARAKAT SEBAGAI HIRARKI KAMPUNG NAGA SEBAGAI WARISAN BUDAYA CERDAS
The pattern of community activities in Tasikmalaya, Kampung Naga can be identified as a cultural transformation that exists in the neighborhood of the traditional house and can be ...
ALTERNATIF RANCANGAN MESIN PASTEURISASI SUSU SAPI MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT
ALTERNATIF RANCANGAN MESIN PASTEURISASI SUSU SAPI MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT
Pemerintah menganggap penting sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bagi perekonomian Indonesia. Dukungan besar pemerintah terhadap sektor UMKM karena besarnya potensi dan...
PERFORMA SAPI MADURA BIBIT BETINA PADA BERBAGAI UMUR (STUDI KASUS) DI WILAYAH SUMBER BIBIT SAPI MADURA KAWASAN PAPABARU, KABUPATEN PAMEKASAN, MADURA
PERFORMA SAPI MADURA BIBIT BETINA PADA BERBAGAI UMUR (STUDI KASUS) DI WILAYAH SUMBER BIBIT SAPI MADURA KAWASAN PAPABARU, KABUPATEN PAMEKASAN, MADURA
Abstrak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans sapi Madura bibit betina berdasarkan statistik vital (panjang badan, lingkar dada dan tinggi gumba) dan bobot badan d...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...

