Javascript must be enabled to continue!
Pola Penyelesaian Sengketa Waralaba Produk Teh Poci Di Ponorogo
View through CrossRef
The purpose of this study is first to find out the pattern of dispute resolution in the franchise practice of Teh Poci, the second is to describe what the ideal pattern should be. In accordance with the characteristics of the existing problems, the most relevant form of approach to analyzing the above problems is empirical legal research. This research sees law as a reality in society, meaning how the law is practiced. The settlement of default on the agreement in the Tea Poci product franchise business in Ponorogo is the cancellation of the contract as a result of default and is settled on the principle of peace, namely by consulting and negotiation techniques. Ideally, under such a mechanism the franchisor should develop an internal procedure for handling complaints. However, this procedure is not stipulated in the franchise agreement and meets certain minimum standards. This standard should provide a procedure for resolving disputes. If a dispute arises, either party can initiate a complaint handling procedure under the Code of Conduct, or under a franchise agreement.Tujuan dari penelitian ini adalah pertama untuk mengetahui pola penyelesaian sengketa dalam praktek waralaba Teh Poci, kedua untuk mendeskripsikan pola yang ideal yang seharusnya. Sesuai dengan karakteristik permasalahan yang ada, bentuk pendekatan yang paling relevan untuk menganalisis permasalahan di atas adalah penelitian hukum empiris. Penelitian ini melihat hukum sebagai realitas dalam masyarakat, artinya bagaimana hukum itu dipraktikkan. Penyelesaian wanprestasi atas kesepakatan dalam usaha waralaba produk Teh Poci di Ponorogo adalah batalnya akad akibat wanprestasi dan diselesaikan dengan prinsip damai yaitu dengan teknik konsultasi dan negosiasi. Idealnya, di bawah mekanisme seperti itu pemilik waralaba harus mengembangkan prosedur internal untuk menangani keluhan. Namun, prosedur ini tidak diatur dalam perjanjian waralaba dan memenuhi standar minimum tertentu. Standar ini harus menyediakan prosedur untuk menyelesaikan perselisihan. Jika timbul perselisihan, salah satu pihak dapat memulai prosedur penanganan keluhan berdasarkan Kode Etik, atau berdasarkan perjanjian waralaba.
Title: Pola Penyelesaian Sengketa Waralaba Produk Teh Poci Di Ponorogo
Description:
The purpose of this study is first to find out the pattern of dispute resolution in the franchise practice of Teh Poci, the second is to describe what the ideal pattern should be.
In accordance with the characteristics of the existing problems, the most relevant form of approach to analyzing the above problems is empirical legal research.
This research sees law as a reality in society, meaning how the law is practiced.
The settlement of default on the agreement in the Tea Poci product franchise business in Ponorogo is the cancellation of the contract as a result of default and is settled on the principle of peace, namely by consulting and negotiation techniques.
Ideally, under such a mechanism the franchisor should develop an internal procedure for handling complaints.
However, this procedure is not stipulated in the franchise agreement and meets certain minimum standards.
This standard should provide a procedure for resolving disputes.
If a dispute arises, either party can initiate a complaint handling procedure under the Code of Conduct, or under a franchise agreement.
Tujuan dari penelitian ini adalah pertama untuk mengetahui pola penyelesaian sengketa dalam praktek waralaba Teh Poci, kedua untuk mendeskripsikan pola yang ideal yang seharusnya.
Sesuai dengan karakteristik permasalahan yang ada, bentuk pendekatan yang paling relevan untuk menganalisis permasalahan di atas adalah penelitian hukum empiris.
Penelitian ini melihat hukum sebagai realitas dalam masyarakat, artinya bagaimana hukum itu dipraktikkan.
Penyelesaian wanprestasi atas kesepakatan dalam usaha waralaba produk Teh Poci di Ponorogo adalah batalnya akad akibat wanprestasi dan diselesaikan dengan prinsip damai yaitu dengan teknik konsultasi dan negosiasi.
Idealnya, di bawah mekanisme seperti itu pemilik waralaba harus mengembangkan prosedur internal untuk menangani keluhan.
Namun, prosedur ini tidak diatur dalam perjanjian waralaba dan memenuhi standar minimum tertentu.
Standar ini harus menyediakan prosedur untuk menyelesaikan perselisihan.
Jika timbul perselisihan, salah satu pihak dapat memulai prosedur penanganan keluhan berdasarkan Kode Etik, atau berdasarkan perjanjian waralaba.
Related Results
PENERAPAN PRINSIPDISCLOSURE TERHADAP PROSPEKTUS PENAWARAN DALAM PERJANJIAN KERJASAMA WARALABA
PENERAPAN PRINSIPDISCLOSURE TERHADAP PROSPEKTUS PENAWARAN DALAM PERJANJIAN KERJASAMA WARALABA
Di dalam dunia bisnis kini dikenal juga adanya praktik waralaba (Franchise) yang umumnya dilakukan oleh perusahaan maupun perorangan yang melaksanakan kegiatan usaha di bidang jasa...
SIFAT ANTIOKSIDATIF EKSTRAK TEH (Camellia sinensis Linn.) JENIS TEH HIJAU, TEH HITAM, TEH OOLONG DAN TEH PUTIH DENGAN PENGERINGAN BEKU (Freeze Drying)
SIFAT ANTIOKSIDATIF EKSTRAK TEH (Camellia sinensis Linn.) JENIS TEH HIJAU, TEH HITAM, TEH OOLONG DAN TEH PUTIH DENGAN PENGERINGAN BEKU (Freeze Drying)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat antioksidatif ekstrak teh (Camellia sinensis Linn.) jenis teh hijau, teh hitam, teh oolong dan teh putih dengan pengeringan beku (Fr...
KOMPARASI SIFAT ANTIOKSIDATIF SEDUHAN TEH HIJAU, TEH HITAM, TEH OOLONG DAN TEH PUTIH PRODUKSI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX
KOMPARASI SIFAT ANTIOKSIDATIF SEDUHAN TEH HIJAU, TEH HITAM, TEH OOLONG DAN TEH PUTIH PRODUKSI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX
Teh merupakan minuman yang paling populer di masyarakat. Terdapat empat jenis teh : teh hijau, teh hitam, teh oolong, teh putih. Keempatnya dibedakan berdasarkan proses pengolahan....
PEMBUATAN “POCI LIMPU” SEBAGAI ALTERNATIF PEMANFAATAN LIMBAH
PEMBUATAN “POCI LIMPU” SEBAGAI ALTERNATIF PEMANFAATAN LIMBAH
Tujuan dari inovasi produk "Poci Limpu", yaitu untuk membuat produk "Poci Limpu" yang memanfaatkan panas buangan dari lilin untuk menyalakan LED sehingga penggunaan lilin menjadi o...
Eksistensi Peradilan Adat Dalam Penyelesaian Sengketa di Sumatera Barat
Eksistensi Peradilan Adat Dalam Penyelesaian Sengketa di Sumatera Barat
Peradilan adat merupakan suatu lembaga organik yang berperan dalam menyelesaikan sengketa dalam sistem hukum adat. Pada daerah Minangkabau berdasarkan Pasal 1 ayat (8) Perda Prov. ...
Penyelesaian Sengketa Melalui Ekstra Yudisial
Penyelesaian Sengketa Melalui Ekstra Yudisial
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan hukum penyelesaian sengketa melalui lembaga ekstra yudisial serta alasan mengapa putusan yang dihasilkan oleh lembaga tersebut...
Efektivitas Peran Mediator Dalam Penyelesaian Sengketa Non Litigasi Dalam Bidang Bisnis Maupun Hukum
Efektivitas Peran Mediator Dalam Penyelesaian Sengketa Non Litigasi Dalam Bidang Bisnis Maupun Hukum
Sengketa antara para pihak dapat diselesaikan melalui jalur litigasi (lembaga Peradilan) ataupun non litigasi (di luar Pengadilan). Penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi yai...
URGENSI PENGATURAN WARALABA DALAM UNDANG-UNDANG
URGENSI PENGATURAN WARALABA DALAM UNDANG-UNDANG
<p align="center"><em>Abstract</em></p><p><em>One of the characteristics of Fundamental Research is provide an explanation a phenomenon. The pur...

