Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

AYAT-AYAT PUASA DALAM TAFSIR AL-AZHAR

View through CrossRef
Abstract  This study examines interpretations on fasting verses in QS. Al-Baqarah verses 183, 185, and 187 through Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka, one of the most eminent Indonesian mufassir. The focus of the study is to examine Buya Hamka’s thoughts on the concept of fasting using the Tahlili interpretation method and al-adab al-ijtima’i pattern, which emphasizes the literary and socio-cultural aspects of society appropriate to Indonesian society. This study aimed to describe the biography and intellectual reputation of Buya Hamka, identify the characteristics of Tafsir Al-Azhar, and analyze his expressions on the fasting verses. The results of this study indicate that in the QS Al-Baqarah verse 183, fasting is understood as the obligation of self-restraint for believers to develop piety. Meanwhile, in the verse 185, Buya Hamka emphasized the principle of easiness (yusr) in Islamic shari’ah, which specifically means leniency for people who are sick and traveler through qadha or fidyah. Furthermore, in QS. Al-Baqarah verse 187, the concept of fasting time boundaries and legally sexual intercourse and i’tikaf during fasting were clearly explained. In conclusion, Buya Hamka sees fasting as a means of educating the faithful to develop sincere and mature spiritual Islamic teachings. Keywords: Fasting Verses, Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka.   Abstrak Studi ini mengkaji interpretasi mengenai ayat-ayat puasa dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, 185, dan 187 melalui Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, salah seorang mufasir Indonesia yang paling terkemuka. Fokus studi ini adalah untuk mengkaji pemikiran Buya Hamka tentang konsep puasa dengan menggunakan metode tafsir Tahlili dan corak al-adab al-ijtima’i (sastra kemasyarakatan), yang menekankan aspek sastra serta sosial-budaya masyarakat yang sesuai dengan masyarakat Indonesia.Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan biografi dan reputasi intelektual Buya Hamka, mengidentifikasi karakteristik Tafsir Al-Azhar, dan menganalisis ungkapannya pada ayat-ayat puasa. Hasil studi ini menunjukkan bahwa dalam QS Al-Baqarah ayat 183, puasa dipahami sebagai kewajiban menahan diri bagi orang beriman untuk mengembangkan ketakwaan.Sementara itu, dalam ayat 185, Buya Hamka menekankan prinsip kemudahan (yusr) dalam syariat Islam, yang secara spesifik berarti keringanan bagi orang yang sakit dan musafir melalui qadha (mengganti puasa di hari lain) atau fidyah (membayar tebusan). Selanjutnya, dalam QS. Al-Baqarah ayat 187, dijelaskan dengan gamblang konsep batasan waktu puasa serta kebolehan hubungan seksual dan i'tikaf (berdiam diri di masjid) selama berpuasa.Kesimpulannya, Buya Hamka melihat puasa sebagai sarana mendidik orang beriman untuk mengembangkan ajaran Islam spiritual yang tulus dan matang.
State Islamic University of Raden Fatah Palembang
Title: AYAT-AYAT PUASA DALAM TAFSIR AL-AZHAR
Description:
Abstract  This study examines interpretations on fasting verses in QS.
Al-Baqarah verses 183, 185, and 187 through Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka, one of the most eminent Indonesian mufassir.
The focus of the study is to examine Buya Hamka’s thoughts on the concept of fasting using the Tahlili interpretation method and al-adab al-ijtima’i pattern, which emphasizes the literary and socio-cultural aspects of society appropriate to Indonesian society.
This study aimed to describe the biography and intellectual reputation of Buya Hamka, identify the characteristics of Tafsir Al-Azhar, and analyze his expressions on the fasting verses.
The results of this study indicate that in the QS Al-Baqarah verse 183, fasting is understood as the obligation of self-restraint for believers to develop piety.
Meanwhile, in the verse 185, Buya Hamka emphasized the principle of easiness (yusr) in Islamic shari’ah, which specifically means leniency for people who are sick and traveler through qadha or fidyah.
Furthermore, in QS.
Al-Baqarah verse 187, the concept of fasting time boundaries and legally sexual intercourse and i’tikaf during fasting were clearly explained.
In conclusion, Buya Hamka sees fasting as a means of educating the faithful to develop sincere and mature spiritual Islamic teachings.
Keywords: Fasting Verses, Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka.
  Abstrak Studi ini mengkaji interpretasi mengenai ayat-ayat puasa dalam QS.
Al-Baqarah ayat 183, 185, dan 187 melalui Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, salah seorang mufasir Indonesia yang paling terkemuka.
Fokus studi ini adalah untuk mengkaji pemikiran Buya Hamka tentang konsep puasa dengan menggunakan metode tafsir Tahlili dan corak al-adab al-ijtima’i (sastra kemasyarakatan), yang menekankan aspek sastra serta sosial-budaya masyarakat yang sesuai dengan masyarakat Indonesia.
Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan biografi dan reputasi intelektual Buya Hamka, mengidentifikasi karakteristik Tafsir Al-Azhar, dan menganalisis ungkapannya pada ayat-ayat puasa.
Hasil studi ini menunjukkan bahwa dalam QS Al-Baqarah ayat 183, puasa dipahami sebagai kewajiban menahan diri bagi orang beriman untuk mengembangkan ketakwaan.
Sementara itu, dalam ayat 185, Buya Hamka menekankan prinsip kemudahan (yusr) dalam syariat Islam, yang secara spesifik berarti keringanan bagi orang yang sakit dan musafir melalui qadha (mengganti puasa di hari lain) atau fidyah (membayar tebusan).
Selanjutnya, dalam QS.
Al-Baqarah ayat 187, dijelaskan dengan gamblang konsep batasan waktu puasa serta kebolehan hubungan seksual dan i'tikaf (berdiam diri di masjid) selama berpuasa.
Kesimpulannya, Buya Hamka melihat puasa sebagai sarana mendidik orang beriman untuk mengembangkan ajaran Islam spiritual yang tulus dan matang.

Related Results

Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Mental
Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Mental
Artikel ini mengulas tentang dampak dari puasa terhadap kesehatan mental, di era modern banyak orang yang salah memahami puasa banyak orang yang mengira, bahkan menuding, bahwa pua...
Karakteristik Tafsir Tahlili dan Tafsir Ijmali
Karakteristik Tafsir Tahlili dan Tafsir Ijmali
Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas perbedaan karakteristik antara tafsir tahlili dan tafsir ijmali dalam Al-Quran. Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif dengan analis...
PUASA YANG MENAJUBKAN (STUDI FENOMENOLOGIS PENGALAMAN INDIVIDU YANG MENJALANKAN PUASA DAUD)
PUASA YANG MENAJUBKAN (STUDI FENOMENOLOGIS PENGALAMAN INDIVIDU YANG MENJALANKAN PUASA DAUD)
Sebagian umat manusia di dunia menjalankan ibadah puasa. Berbagai agama turut memerintahkan umatnya untuk menjalankan puasa sesuai dengan tata cara dan pelaksanaannya masing-masing...
Pelatihan Problematika Puasa bagi Warga Madrasah Minu 13 Gandariyah melalui Kajian Fiqih Puasa
Pelatihan Problematika Puasa bagi Warga Madrasah Minu 13 Gandariyah melalui Kajian Fiqih Puasa
Pelatihan problematika puasa bagi warga Madrasah MINU 13 Gandariyah melalui kajian fiqih puasa bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang hukum dan adab puasa. Pelatiha...
Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Kadar Asam Urat Mencit (Mus musculus L.)
Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Kadar Asam Urat Mencit (Mus musculus L.)
Abstract. Lifestyle changes in the modern era such as changes in diet that more often consume high-fat foods cause various diseases, one of which is hyperuricemia which is caused b...
STUDI KRITIS TAFSIR AL-MANAR KARYA MUHAMMAD ABBDUH DAN RASYID RIDLA
STUDI KRITIS TAFSIR AL-MANAR KARYA MUHAMMAD ABBDUH DAN RASYID RIDLA
Al-Qur’an, dalam tradisi pemikiran Islam, telah melahirkan sederetan teks turunan yang demikian luas dan mengagumkan yang disebut Tafsir. Tafsir al-Qur’an adalah penjelasan tentang...

Back to Top