Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Miskonsepsi Guru Bahasa Jerman terhadap Sistem Konjugasi Verba Bahasa Jerman

View through CrossRef
Menguasai sistem konjugasi verba bahasa Jerman merupakan tantangan tersendiri bagi para siswa karena kerumitannya, yang melibatkan kala, persona, dan jumlah. Pada tingkat A1, siswa diperkenalkan dengan verba beraturan (regelmäßige Verben) dan tidak beraturan (unregelmäßige Verben). Namun, miskonsepsi di kalangan guru, seperti kekeliruan dalam mengklasifikasikan verba kommen yang bermakna 'datang' sebagai verba beraturan, dapat menghambat pemahaman siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengidentifikasi miskonsepsi tentang konjugasi verba bahasa Jerman di antara 43 guru bahasa Jerman dari berbagai wilayah di Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert yang terdiri dari 10 pernyataan terkait klasifikasi dan konjugasi verba bahasa Jerman. Teknik analisis data yang digunakan menerapkan statistik deskriptif, dengan menghitung persentase jawaban responden untuk mengidentifikasi pola miskonsepsi yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan adanya miskonsepsi yang signifikan di antara guru bahasa Jerman, terutama kebingungan terhadap istilah jenis verba dan klasifikasi verba dalam bahasa Jerman. Sebagai temuan, sebanyak 36 guru yang salah mengklasifikasikan verba trinken bermakna 'minum' dan gehen bermakna 'pergi' sebagai verba beraturan, dan mengabaikan pola konjugasi yang tidak beraturan pada Präteritum dan Perfekt sebagai kala bentuk lampau dalam bahasa Jerman. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya pelatihan yang ditargetkan untuk mengatasi miskonsepsi guru. Dengan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengajaran dan mendorong kemahiran siswa dalam tata bahasa Jerman di Indonesia.
Title: Miskonsepsi Guru Bahasa Jerman terhadap Sistem Konjugasi Verba Bahasa Jerman
Description:
Menguasai sistem konjugasi verba bahasa Jerman merupakan tantangan tersendiri bagi para siswa karena kerumitannya, yang melibatkan kala, persona, dan jumlah.
Pada tingkat A1, siswa diperkenalkan dengan verba beraturan (regelmäßige Verben) dan tidak beraturan (unregelmäßige Verben).
Namun, miskonsepsi di kalangan guru, seperti kekeliruan dalam mengklasifikasikan verba kommen yang bermakna 'datang' sebagai verba beraturan, dapat menghambat pemahaman siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengidentifikasi miskonsepsi tentang konjugasi verba bahasa Jerman di antara 43 guru bahasa Jerman dari berbagai wilayah di Indonesia.
Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert yang terdiri dari 10 pernyataan terkait klasifikasi dan konjugasi verba bahasa Jerman.
Teknik analisis data yang digunakan menerapkan statistik deskriptif, dengan menghitung persentase jawaban responden untuk mengidentifikasi pola miskonsepsi yang muncul.
Hasil penelitian menunjukkan adanya miskonsepsi yang signifikan di antara guru bahasa Jerman, terutama kebingungan terhadap istilah jenis verba dan klasifikasi verba dalam bahasa Jerman.
Sebagai temuan, sebanyak 36 guru yang salah mengklasifikasikan verba trinken bermakna 'minum' dan gehen bermakna 'pergi' sebagai verba beraturan, dan mengabaikan pola konjugasi yang tidak beraturan pada Präteritum dan Perfekt sebagai kala bentuk lampau dalam bahasa Jerman.
Hasil penelitian ini menekankan pentingnya pelatihan yang ditargetkan untuk mengatasi miskonsepsi guru.
Dengan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengajaran dan mendorong kemahiran siswa dalam tata bahasa Jerman di Indonesia.

Related Results

MAKNA VERBA BAHASA JEPANG
MAKNA VERBA BAHASA JEPANG
Fenomena verba bahasa Jepang terdapat verba yang memiliki kemiripan makna, misalnya verba melihat, yang dalam bahasa Jepang adalah miru dan mikakeru. Pemakaian verba yang tepat men...
Makna Gramatikal Verba dalam Lirik Lagu Hoshi wo Tsukame dan Garuda to Tomo ni oleh Hiroaki Kato
Makna Gramatikal Verba dalam Lirik Lagu Hoshi wo Tsukame dan Garuda to Tomo ni oleh Hiroaki Kato
Masalah penelitian ini adalah bagaimana pengaruh verba yang memiliki makna gramatikal dalam lirik lagu Hoshi wo Tsukame dan Garuda to Tomo ni berpengaruh terhadap makna dari kedua ...
Interferensi Morfologis Verba Bahasa Dawan Dalam Pemakaian Bahasa Indonesia Tulis Siswa Kelas VIII SLTP
Interferensi Morfologis Verba Bahasa Dawan Dalam Pemakaian Bahasa Indonesia Tulis Siswa Kelas VIII SLTP
Interferensi merupakan suatu gejala dalam proses belajar bahasa kedua karena faktor sistem kebahasaan yang telah dikuasai oleh pembelajar yang sedang belajar bahasa kedua. Gejala i...
INTERAKSI INSTRUCTIONAL MODEL DAN ENTRY LEVEL TERHADAP MISKONSEPSI MAHASISWA
INTERAKSI INSTRUCTIONAL MODEL DAN ENTRY LEVEL TERHADAP MISKONSEPSI MAHASISWA
AbstractLearners have different entry level and have varying misconception. Misconception of learners tend to be resistant and difficult to change. Alternative instructional model ...
Analisis Kemampuan Kognitif dan Miskonsepsi Pembelajaran IPA Materi Kalor Pada Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar
Analisis Kemampuan Kognitif dan Miskonsepsi Pembelajaran IPA Materi Kalor Pada Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar
Pendidikan melalui program pembelajaran pada dasarnya mempunyai tujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk mewujudkannya calon guru harus memiliki kemampu...
Meta Analisis Miskonsepsi Buku Teks Biologi SMA Kelas XI
Meta Analisis Miskonsepsi Buku Teks Biologi SMA Kelas XI
Miskonsepsi adalah perbedaan antara konsep yang dipahami dengan penjelasan para ahli. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kembali miskonsepsi pada buku teks Biologi SMA kel...
Analisis Miskonsepsi Siswa SD pada Materi Gaya dan Gerak
Analisis Miskonsepsi Siswa SD pada Materi Gaya dan Gerak
This research is to find out and describe elementary students misconception on the concept of force and motion. Data collection methods using tests in the form of four tier tests a...

Back to Top