Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

HUBUNGAN ANTARA STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN BALITA USIA 24–60 BULAN PADA LEVEL KOMUNITAS POSYANDU

View through CrossRef
Masalah gangguan tumbuh kembang di Indonesia adalah isu kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Masa balita merupakan periode emas yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini, kebutuhan gizi yang cukup serta stimulasi perkembangan yang tepat menjadi pilar utama pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan gizi dan rendahnya kesadaran orang tua terhadap deteksi dini tumbuh kembang masih menjadi penyebab utama gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak di Indonesia. Penelitian ini menawarkan novelty melalui integrasi data antropometri dan skrining perkembangan dalam satu analisis komunitas mikro (RW), pemetaan risiko stunting dengan perkembangan pada level layanan primer (Posyandu), serta pengembangan model deteksi dini terpadu berbasis Posyandu untuk mendukung intervensi kesehatan masyarakat yang lebih efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara stunting dan perkembangan balita usia 24–60 bulan di RW 01 Desa Kalisongo Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran tinggi badan serta skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan balita stunting sebanyak 18,7% dan perkembangan belum sesuai usia sebanyak 12,5%. Outcome utama penelitian ini adalah risk association antara stunting dan keterlambatan perkembangan, dengan hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p < 0,05), dimana balita dengan stunting memiliki risiko lebih tinggi (odds ratio yang signifikan) mengalami keterlambatan perkembangan dibandingkan dengan balita yang memiliki status gizi normal. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada 5 dari 6 anak yang mengalami stunting memiliki perkembangan yang belum sesuai dengan usianya. Sehingga perlunya memperkuat kegiatan pemantauan tumbuh kembang serta meningkatkan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang, stimulasi perkembangan anak sesuai usia serta pemantauan rutin ke posyandu.
Yayasan Rahmatan Fiddunya Wal Akhirah
Title: HUBUNGAN ANTARA STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN BALITA USIA 24–60 BULAN PADA LEVEL KOMUNITAS POSYANDU
Description:
Masalah gangguan tumbuh kembang di Indonesia adalah isu kesehatan yang tidak bisa diabaikan.
Masa balita merupakan periode emas yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan.
Pada masa ini, kebutuhan gizi yang cukup serta stimulasi perkembangan yang tepat menjadi pilar utama pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kekurangan gizi dan rendahnya kesadaran orang tua terhadap deteksi dini tumbuh kembang masih menjadi penyebab utama gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak di Indonesia.
Penelitian ini menawarkan novelty melalui integrasi data antropometri dan skrining perkembangan dalam satu analisis komunitas mikro (RW), pemetaan risiko stunting dengan perkembangan pada level layanan primer (Posyandu), serta pengembangan model deteksi dini terpadu berbasis Posyandu untuk mendukung intervensi kesehatan masyarakat yang lebih efektif.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara stunting dan perkembangan balita usia 24–60 bulan di RW 01 Desa Kalisongo Kecamatan Dau Kabupaten Malang.
Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang dipilih menggunakan teknik total sampling.
Data dikumpulkan melalui pengukuran tinggi badan serta skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan balita stunting sebanyak 18,7% dan perkembangan belum sesuai usia sebanyak 12,5%.
Outcome utama penelitian ini adalah risk association antara stunting dan keterlambatan perkembangan, dengan hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p < 0,05), dimana balita dengan stunting memiliki risiko lebih tinggi (odds ratio yang signifikan) mengalami keterlambatan perkembangan dibandingkan dengan balita yang memiliki status gizi normal.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada 5 dari 6 anak yang mengalami stunting memiliki perkembangan yang belum sesuai dengan usianya.
Sehingga perlunya memperkuat kegiatan pemantauan tumbuh kembang serta meningkatkan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang, stimulasi perkembangan anak sesuai usia serta pemantauan rutin ke posyandu.

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Frequency Of Toddler’S Visit To Posyandu And Nutritional Status Of Toddlers (BW/A, BH/A, BW/BH)
Frequency Of Toddler’S Visit To Posyandu And Nutritional Status Of Toddlers (BW/A, BH/A, BW/BH)
Latar belakang: Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) pada Tahun 2018 prevalensi balita underweight di Kabupaten Way Kanan sebesar 19,57%. Kunjungan balita ke Posyand...
Gambaran Kejadian Stunting Pada Balita di Puskesmas Paliyan Gunung Kidul Yogyakarta
Gambaran Kejadian Stunting Pada Balita di Puskesmas Paliyan Gunung Kidul Yogyakarta
Latar Belakang: Masalah stunting di Indonesia adalah ancaman serius yang memerlukan penanganan yang tepat. Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2020, ...
HUBUNGAN STUNTING DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PADA BALITA
HUBUNGAN STUNTING DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PADA BALITA
Abstrak : Tuberkulosis (TB) dan stunting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan stunting dengan kejadian TB pada anak usia 1-59 ...
Edukasi gizi dengan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan pencegahan stunting
Edukasi gizi dengan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan pencegahan stunting
Background: Stunting remains a significant public health problem in Indonesia. Data from the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) shows that the national stunting preva...
Hubungan Pendapatan dan Asi Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita
Hubungan Pendapatan dan Asi Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita
ABSTRACT Stunting is the nutritional status of toddlers based on the height index for age. The maximum stunting standard according to World Health Organization (WHO) is 20% or one-...
HUBUNGAN ANTARA KREDIBILTAS KADER DENGAN TINGKAT KUNJUNGAN DI POSYANDU
HUBUNGAN ANTARA KREDIBILTAS KADER DENGAN TINGKAT KUNJUNGAN DI POSYANDU
Background : Posyandu (Integrated Service Post in Indonesian) activities are highly dependent on its cadre, in which they play a pivotal role in helping the Posyandu activities. Po...

Back to Top