Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PEDANG PENINGGALAN PRABU SILIWANGI DARI PANJALU, CIAMIS, JAWA BARAT

View through CrossRef
Pedang Sanghyang Borosngora adalah pedang yang diyakini oleh sebagian masyarakat Panjalu sebagai pemberian Sayyidina Ali kepada Prabu Borosngora. Pedang yang sekarang disimpan di Bumi Alit, Panjalu, dan merupakan artefak penting dalam sejarah masyarakat Ciamis dan Sunda, karena memuat nilai-nilai kultural masa lalu yang dapat diidentifikasi sebagai sumber penulisan sejarah. Informasi yang bias tentang Pedang Sanghyang Borosngora adalah masalah utama penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menarasikan sejarah Pedang Prabu Siliwangi dan bagian-bagiannya secara detail sesuai dengan pakem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literatur review dengan menelaah sumber arsip, dan melakukan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber-sumber tradisional yang dianggap otoritatif oleh masyarakat terkait narasi sejarah Pedang Sanghyang Borosngora mengalami perubahan sejak awal abad ke-20 Masehi. Hal tersebut terjadi karena sejak masa itu Pedang Sanghyang Borosngora mulai dikenal sebagai Pedang Sayyidina Ali, padahal sebelumnya pedang itu diriwayatkan sebagai pedang pemberian Prabu Siliwangi kepada Raja Panjalu. Selain itu, ditemukan kesamaan yang spesifik dari pedang ini dengan pedang-pedang lain yang berasal dari Kerajaan Sunda. Dengan demikian, Pedang Sanghyang Borosngora lebih cocok untuk disebut sebagai Pedang Prabu Siliwangi. The Sanghyang Borosngora sword is believed by some Panjalu people to have been given by Sayyidina Ali to King Borosngora. The sword is now stored in Bumi Alit, Panjalu, and is known as an important artifact in the history of the Ciamis and Sundanese people due to its old cultural values which can be identified as a source of historical writing. Biased information about the sword of Sanghyang Borosngora is the main issue of this research. This study aims to narrate the history of King Siliwangi's sword and its parts in detail according to its standard narration. The method used in this study was literature reviews by examining archival sources and making direct observations. The study suggests that traditional sources which are considered authoritative by the community regarding the historical narrative of the sword of Sanghyang Borosngora have changed since the early 20th century. Such a circumstance occurred because since the early 20th century the Sanghyang Borosngora Sword began to be known as the Sayyidina Ali Sword, even though previously the sword was narrated as a sword given by Prabu Siliwangi to King Panjalu. Additionally, specific similarities were found between this sword and other swords originating from the Kingdom of Sunda. Thus, the Sanghyang Borosngora Sword is more suitable to be called the Prabu Siliwangi Sword.
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan
Title: PEDANG PENINGGALAN PRABU SILIWANGI DARI PANJALU, CIAMIS, JAWA BARAT
Description:
Pedang Sanghyang Borosngora adalah pedang yang diyakini oleh sebagian masyarakat Panjalu sebagai pemberian Sayyidina Ali kepada Prabu Borosngora.
Pedang yang sekarang disimpan di Bumi Alit, Panjalu, dan merupakan artefak penting dalam sejarah masyarakat Ciamis dan Sunda, karena memuat nilai-nilai kultural masa lalu yang dapat diidentifikasi sebagai sumber penulisan sejarah.
Informasi yang bias tentang Pedang Sanghyang Borosngora adalah masalah utama penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk menarasikan sejarah Pedang Prabu Siliwangi dan bagian-bagiannya secara detail sesuai dengan pakem.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literatur review dengan menelaah sumber arsip, dan melakukan observasi langsung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber-sumber tradisional yang dianggap otoritatif oleh masyarakat terkait narasi sejarah Pedang Sanghyang Borosngora mengalami perubahan sejak awal abad ke-20 Masehi.
Hal tersebut terjadi karena sejak masa itu Pedang Sanghyang Borosngora mulai dikenal sebagai Pedang Sayyidina Ali, padahal sebelumnya pedang itu diriwayatkan sebagai pedang pemberian Prabu Siliwangi kepada Raja Panjalu.
Selain itu, ditemukan kesamaan yang spesifik dari pedang ini dengan pedang-pedang lain yang berasal dari Kerajaan Sunda.
Dengan demikian, Pedang Sanghyang Borosngora lebih cocok untuk disebut sebagai Pedang Prabu Siliwangi.
The Sanghyang Borosngora sword is believed by some Panjalu people to have been given by Sayyidina Ali to King Borosngora.
The sword is now stored in Bumi Alit, Panjalu, and is known as an important artifact in the history of the Ciamis and Sundanese people due to its old cultural values which can be identified as a source of historical writing.
Biased information about the sword of Sanghyang Borosngora is the main issue of this research.
This study aims to narrate the history of King Siliwangi's sword and its parts in detail according to its standard narration.
The method used in this study was literature reviews by examining archival sources and making direct observations.
The study suggests that traditional sources which are considered authoritative by the community regarding the historical narrative of the sword of Sanghyang Borosngora have changed since the early 20th century.
Such a circumstance occurred because since the early 20th century the Sanghyang Borosngora Sword began to be known as the Sayyidina Ali Sword, even though previously the sword was narrated as a sword given by Prabu Siliwangi to King Panjalu.
Additionally, specific similarities were found between this sword and other swords originating from the Kingdom of Sunda.
Thus, the Sanghyang Borosngora Sword is more suitable to be called the Prabu Siliwangi Sword.

Related Results

KAJIAN KEBUTUHAN PRODUK DESAIN PADA MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN SEBAGAI TEMPAT WISATA EDUKASI SEJARAH
KAJIAN KEBUTUHAN PRODUK DESAIN PADA MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN SEBAGAI TEMPAT WISATA EDUKASI SEJARAH
 The Prabu Geusan Ulun Museum, which is located in Sumedang Regency, has the potential to be an educational tourism destination. However, the Prabu Geusan Ulun Museum has had obsta...
Kedudukan dan Kewenangan Balai Harta Peninggalan dalam Pengelolaan Harta Peninggalan Tak Terurus
Kedudukan dan Kewenangan Balai Harta Peninggalan dalam Pengelolaan Harta Peninggalan Tak Terurus
Berdasarkan Pasal 1127 KUHPerdata Balai Harta Peninggalan ditugaskan menjalankan pengurusan atas setiap warisan yang tak terurus selama 30 tahun/ lebih, setelah melakukan pengelola...
Nilai-Nilai Pendidikan Religius dalam Tradisi Nyangku Masyarakat Panjalu Kabupaten Ciamis
Nilai-Nilai Pendidikan Religius dalam Tradisi Nyangku Masyarakat Panjalu Kabupaten Ciamis
Panjalumerupakan sebuah wilayah ibu kota kecamatan yang terletak di sebelah Utara Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.  Dalam sejarahnya, masyarakat Panjalumemiliki sebuah budayaa...
Acculturing of Islamic Values in The Nyangku Panjalu Ciamis Tradition
Acculturing of Islamic Values in The Nyangku Panjalu Ciamis Tradition
This study examines the Islamic values ​​contained in the Nyangku ceremony in the midst of the existence of the Islamic values ​​of the Panjalu community. The Panjalu community is ...
Monitoring Kualitas Udara Menggunakan NodeMCU Esp8266 Berbasis Internet of Thing (IoT) di Ciamis
Monitoring Kualitas Udara Menggunakan NodeMCU Esp8266 Berbasis Internet of Thing (IoT) di Ciamis
Kabupaten Ciamis adalah tempat yang strategis untuk dilalui kendaraan, terutama untuk di kawasan Alun Alun Ciamis dikarenakan mobilitas kendaraan sangat tinggi sama halnya dengan k...
Sejarah Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Dari Pesantren hingga Panggung Politik
Sejarah Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Dari Pesantren hingga Panggung Politik
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam dengan pengikut terbesar di Indonesia bahkan di dunia, pendirian NU didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926 atas sumbangsih dari ...
POTENSI ARKEOLOGI DI GUA-GUA SEKITAR SONG PEDANG, KABUPATEN GUNUNG KIDUL
POTENSI ARKEOLOGI DI GUA-GUA SEKITAR SONG PEDANG, KABUPATEN GUNUNG KIDUL
Song Pedang merupakan sebuah ceruk yang secara administratif terletak di Dusun Karang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Penelitian yang dilakukan oleh Ba...
PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN SITU PANJALU Di CIAMIS, JAWA BARAT
PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN SITU PANJALU Di CIAMIS, JAWA BARAT
Situ Panjalu merupakan situ alam yang dimanfaatkan untuk penangkapan ikan oleh masyarakat sekitar. Alat tangkap yang digunakan berupa alat tangkap jala tebar, gill net, sirib (anco...

Back to Top