Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Ideologi Patriarki dalam Cerpen Air Suci Sita Karya Leila S. Chudori

View through CrossRef
Artikel ini membahas tentang ideologi patriarki yang terdapat dalam cerpen yang berjudul Air Suci Sita karya Leila S. Chudori. Cerpen tersebut merupakan salah satu judul cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen yang berjudul Malam Terakhir. Cerpen tersebut dianalisis menggunakan kritik sastra feminis. Hasil penelitian menunjukkan adanya tokoh perempuan yang mandiri dan berani, namun ia masih tetap harus patuh pada nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya. Pengakuan tunangan perempuan itu tentang kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukannya merupakan gambaran bahwa sebenarnya tidak hanya perempuan yang melakukan kesalahan dan pengkhiatan, namun lelaki juga dapat melakukan kesalahan dan pengkhianatan. Lelaki dengan ideologi patriarkinya menganggap kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh lelaki sebagai hal yang biasa, sedangkan perempuan yang melakukan kesalahan dan pengkhianatan akan dianggap sebagai perempuan nista. Tokoh perempuan itu juga membayangkan tentang tokoh permaisuri dari Sang Raja Agung yang bersiap terjun ke dalam api penyucian diri dan tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada sang raja tentang kesetiaan sang raja. Hal tersebut merupakan bentuk subordinasi terhadap perempuan yang berlaku karena adanya ideologi patriarki. Ideologi patriarki tersebut merupakan hal yang ditentang oleh kaum feminis.
Title: Ideologi Patriarki dalam Cerpen Air Suci Sita Karya Leila S. Chudori
Description:
Artikel ini membahas tentang ideologi patriarki yang terdapat dalam cerpen yang berjudul Air Suci Sita karya Leila S.
Chudori.
Cerpen tersebut merupakan salah satu judul cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen yang berjudul Malam Terakhir.
Cerpen tersebut dianalisis menggunakan kritik sastra feminis.
Hasil penelitian menunjukkan adanya tokoh perempuan yang mandiri dan berani, namun ia masih tetap harus patuh pada nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.
Pengakuan tunangan perempuan itu tentang kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukannya merupakan gambaran bahwa sebenarnya tidak hanya perempuan yang melakukan kesalahan dan pengkhiatan, namun lelaki juga dapat melakukan kesalahan dan pengkhianatan.
Lelaki dengan ideologi patriarkinya menganggap kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh lelaki sebagai hal yang biasa, sedangkan perempuan yang melakukan kesalahan dan pengkhianatan akan dianggap sebagai perempuan nista.
Tokoh perempuan itu juga membayangkan tentang tokoh permaisuri dari Sang Raja Agung yang bersiap terjun ke dalam api penyucian diri dan tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada sang raja tentang kesetiaan sang raja.
Hal tersebut merupakan bentuk subordinasi terhadap perempuan yang berlaku karena adanya ideologi patriarki.
Ideologi patriarki tersebut merupakan hal yang ditentang oleh kaum feminis.

Related Results

Konflik Norma (Antinomy Normen) Sita Umum Dengan Sita Pidana Dalam Pemberesan Harta Pailit
Konflik Norma (Antinomy Normen) Sita Umum Dengan Sita Pidana Dalam Pemberesan Harta Pailit
This study aims to analyze the normative conflict between general seizure (sita umum) and criminal seizure (sita pidana) in the settlement of bankruptcy assets, as well as to exami...
THE RED THREAD IN LEILA S. CHUDORI’S NADIRA AND PULANG (Benang Merah dalam Novel Nadira dan Pulang karya Leila S. Chudori)
THE RED THREAD IN LEILA S. CHUDORI’S NADIRA AND PULANG (Benang Merah dalam Novel Nadira dan Pulang karya Leila S. Chudori)
Novel Nadira (2015) dan Pulang (2012) karya Leila S. Chudori merupakan dua novel yang dianalisis dalam tulisan ini. Keduanya sama-sama bercerita tentang sebuah keluarga yang berjua...
Perspektif Gender dalam Kumpulan Cerpen Karya Djenar Maesa Ayu
Perspektif Gender dalam Kumpulan Cerpen Karya Djenar Maesa Ayu
Gender merupakan piranti yang lebih dikonstruksikan secara sosial daripada biologis. Seseorang bisa menjadi kurang atau lebih ‘feminim’ dan kurang atau lebih ‘maskulin’. Seorang la...
Nilai Kearifan Lokal pada Cerpen Silariang dalam Antologi Cerpen Gadis Pakarena Karya Khrisna Pabichara
Nilai Kearifan Lokal pada Cerpen Silariang dalam Antologi Cerpen Gadis Pakarena Karya Khrisna Pabichara
Karya sastra menjadi bentuk karya yang di dalamnya memadukan unsur imajinasi dan kehidupan nyata baik sastra lisan maupun tulisan. Karya sastra mengandung babagi aspek salah satuny...

Back to Top