Javascript must be enabled to continue!
Kadar Debu Lingkungan Kerja dan Kapasitas Kerja sebagai Determinan Penurunan Kapasitas Fungsi Paru
View through CrossRef
Latar belakang: Selain meningkatkan produktivitas kerja karyawan, lingkungan kerja yang aman dan sehat akan membuat tenaga kerja nyaman dalam bekerja. Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan kerja adalah paparan debu di tempat kerja. Paparan debu dapat menyebabkan berkurangnya kenyamanan kerja, maslah penglihatan dan gangguan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kapasitas kerja dan penurunan fungsi paru pada pekerja di lingkungan berdebu.Metode: Penelitian adalah penelitian eksplanatory research dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 32 orang penenun yang diambil secara purposif di desa Troso, Jepara. Variabel penelitian meliputi kapasitas kerja (umur, masa kerja, status gizi, kebiasaan merokok) dan kapasitas vital paru. Data dianalisis dengan uji chi-square. Hasil: Kadar debu tertinggi sebesar 0,64 m3/menit sedangkan kadar terendah sebesar 0,05 m3/menit; sebanyak 34.4% pekerja mengalami gangguan restriktif ringan, 56.2% mengalami restriktif sedang dan mengalami gangguan mixed sebesar 3.1%. Terdapat hubungan antara umur dan masa kerja dengan kapasitas vital paru (p< 0.05). Tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dan status gizi dengan kapasitas vital paru (p> 0.05)Simpulan: Kadar debu lingkungan kerja belum melampaui nilai ambang batas yang ditentukan namun terdapat pekerja yang mengalami gangguan fungsi paru berupa restriktif ringan, restriktif sedang dan mixed. Sangat disarankan bagi pekerja untuk melakukan upaya menjaga kesehatan parunya selama bekerja. ABSTRACT Title: Work Environment Dust Level and Work Capacity as A Determinant of Decreased Lung Function CapacityBackground: A safe and healthy work environment will make the worker feel comfortable and safe at work, these conditions will increase the level of productivity. One of the environmental factors that affect occupational health is dust exposure in the workplace. It can reduce comfortness and safety at work, impaired vision and impaired lung function. This study aimed to analyze the relationship between work capacity and workers’ decreased lung function in dusty environments. Method: This research is an explanatory research with a cross sectional approach. The research subjects were 32 weavers who were taken purposively in the village of Troso, Jepara. Research variables include work capacity (age, length of work, nutritional status, smoking habits) and lung vital capacity. Data were analyzed by chi-square test.Result: The highest dust level was 0.64 m3/minute while the lowest level was 0.05 m3/minute; 34.4% of workers experienced mild restrictive disorder, 56.2% experienced moderate restrictive disorder and 3.1% experienced mixed disorder. There was a relationship between age and length of work with vital lung capacity (p < 0.05). There was no relationship between smoking habit and nutritional status with lung vital capacity (p> 0.05).Conclusion: The dust level in the work environment has not exceeded the specified threshold value, but there were workers who experience impaired lung function in the form of mild restrictive, moderate restrictive and mixed. It is highly recommended for workers to maintain lung health while working.
Institute of Research and Community Services Diponegoro University (LPPM UNDIP)
Title: Kadar Debu Lingkungan Kerja dan Kapasitas Kerja sebagai Determinan Penurunan Kapasitas Fungsi Paru
Description:
Latar belakang: Selain meningkatkan produktivitas kerja karyawan, lingkungan kerja yang aman dan sehat akan membuat tenaga kerja nyaman dalam bekerja.
Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan kerja adalah paparan debu di tempat kerja.
Paparan debu dapat menyebabkan berkurangnya kenyamanan kerja, maslah penglihatan dan gangguan fungsi paru.
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kapasitas kerja dan penurunan fungsi paru pada pekerja di lingkungan berdebu.
Metode: Penelitian adalah penelitian eksplanatory research dengan pendekatan cross sectional.
Subyek penelitian sebanyak 32 orang penenun yang diambil secara purposif di desa Troso, Jepara.
Variabel penelitian meliputi kapasitas kerja (umur, masa kerja, status gizi, kebiasaan merokok) dan kapasitas vital paru.
Data dianalisis dengan uji chi-square.
Hasil: Kadar debu tertinggi sebesar 0,64 m3/menit sedangkan kadar terendah sebesar 0,05 m3/menit; sebanyak 34.
4% pekerja mengalami gangguan restriktif ringan, 56.
2% mengalami restriktif sedang dan mengalami gangguan mixed sebesar 3.
1%.
Terdapat hubungan antara umur dan masa kerja dengan kapasitas vital paru (p< 0.
05).
Tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dan status gizi dengan kapasitas vital paru (p> 0.
05)Simpulan: Kadar debu lingkungan kerja belum melampaui nilai ambang batas yang ditentukan namun terdapat pekerja yang mengalami gangguan fungsi paru berupa restriktif ringan, restriktif sedang dan mixed.
Sangat disarankan bagi pekerja untuk melakukan upaya menjaga kesehatan parunya selama bekerja.
ABSTRACT Title: Work Environment Dust Level and Work Capacity as A Determinant of Decreased Lung Function CapacityBackground: A safe and healthy work environment will make the worker feel comfortable and safe at work, these conditions will increase the level of productivity.
One of the environmental factors that affect occupational health is dust exposure in the workplace.
It can reduce comfortness and safety at work, impaired vision and impaired lung function.
This study aimed to analyze the relationship between work capacity and workers’ decreased lung function in dusty environments.
Method: This research is an explanatory research with a cross sectional approach.
The research subjects were 32 weavers who were taken purposively in the village of Troso, Jepara.
Research variables include work capacity (age, length of work, nutritional status, smoking habits) and lung vital capacity.
Data were analyzed by chi-square test.
Result: The highest dust level was 0.
64 m3/minute while the lowest level was 0.
05 m3/minute; 34.
4% of workers experienced mild restrictive disorder, 56.
2% experienced moderate restrictive disorder and 3.
1% experienced mixed disorder.
There was a relationship between age and length of work with vital lung capacity (p < 0.
05).
There was no relationship between smoking habit and nutritional status with lung vital capacity (p> 0.
05).
Conclusion: The dust level in the work environment has not exceeded the specified threshold value, but there were workers who experience impaired lung function in the form of mild restrictive, moderate restrictive and mixed.
It is highly recommended for workers to maintain lung health while working.
.
Related Results
Scoping Review: Efek Debu terhadap Fungsi Paru Pekerja
Scoping Review: Efek Debu terhadap Fungsi Paru Pekerja
Debu merupakan partikel kecil dengan diameter berukuran <100 µm yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit sistem pernapasan. Gangguan sistem pernapasan yang dipengaruhi o...
Korelasi Kapasitas Vital Paru dengan Prestasi Atlet Di Sekolah Olahraga Nasional Sriwijaya Palembang
Korelasi Kapasitas Vital Paru dengan Prestasi Atlet Di Sekolah Olahraga Nasional Sriwijaya Palembang
Prestasi olahraga memiliki nilai yang sangat tinggi bagi suatu bangsa. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi olahraga antara lain daya tahan, kekuatan, frekuensi latihan serta d...
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
This study examines the role of corporate governance in moderating the influence of green accounting disclosure, corporate social responsibility (CSR), and firm size on the financi...
SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT PARU-PARU PADA MANUSIA BERBASIS WEB
SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT PARU-PARU PADA MANUSIA BERBASIS WEB
Sistem pakar adalah salah satu bagian dari kecerdasan buatan yang mengandung pengetahuantertentu sehingga setiap orang dapat menggunakannya untuk memecahkan berbagai masalah yangbe...
Hubungan Antara Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja dengan Efektifitas Kerja Dosen di AMIK Citra Buana Indonesia Sukabumi
Hubungan Antara Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja dengan Efektifitas Kerja Dosen di AMIK Citra Buana Indonesia Sukabumi
Motivasi Kerja dan lingkungan kerja merupakan salah satu upaya manajemen dalam meningkatkan mutu pelayanan padamahasiswa, dengan diberikannya semangat, dorongan, yang kuat otomatis...
ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR MOTIVASI, BEBAN KERJA, DAN LINGKUNGAN KERJA DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI
ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR MOTIVASI, BEBAN KERJA, DAN LINGKUNGAN KERJA DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI
Kepuasan kerja merupakan aspek penting dalam manajemen sumber daya manusia, terutama di sektor pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi (RSG...
ANALISIS LOKUSI ILOKUSI PERLOKUSI DALAM DRAMA KOE KOI
ANALISIS LOKUSI ILOKUSI PERLOKUSI DALAM DRAMA KOE KOI
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam kehidupan sehari-hari melalui drama koe koi, dan mendeskripsikan da...
Hubungan Beban Kerja Dan Lingkungan Kerja Dengan Stres Perawat Di Rsud Dr. Adnaan Wd Payakumbuh
Hubungan Beban Kerja Dan Lingkungan Kerja Dengan Stres Perawat Di Rsud Dr. Adnaan Wd Payakumbuh
Profesi sebagai perawat memberikan kontribusi sangat besar terhadap kejadian stres kerja. Hasil survey yang dilakukan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (2006) bahwa 50,9% p...

