Javascript must be enabled to continue!
FENOMENA PENGEMIS DI KOTA MATARAM: STUDI KONSTRUKSI SOSIAL TENTANG STRATEGI BERTAHAN HIDUP PENGEMIS DI KECAMATAN SEKARBELA KOTA MATARAM
View through CrossRef
The study entitled “The Phenomenon of Beggars in the City of Mataram: Study of Social Construction on the Beggars Surviving Strategies in Sekarbela Subdistrict, Mataram City”. This study used a qualitative research method with a phenomenological approach and used the thinking framework of Peter L. Berger and Thomas Luckmann (1966) on Social Construction, and Erik Snel and Richard Staring (2001) on Survival Strategy as a analitical tool with several sociological concepts that are relevant to the study. Informants were sellected through purposive sampling and snowball sampling techniques. Based on the results of the study, the emergence of beggars is caused by two factors, namely the pushing factors and the pull factors. The development of beggars in Sekarbela Subdistrict, Mataram City is not spared from the formation of knowledge that is constructed based on experiences, the influence of the closest person and the social environment of the perpetrators. The results of the knowledge about the activities of begging or ‘alms keeper’ then bring out actions and behaviors that have been as survival strategies to meet their needs and survival. The survival strategies of beggars in the community environment both in the scope of other beggars and also the community at large is carried out mutual respect between beggars, mutual protection, collective action and manipulative actions that are carried out socially. Economically, beggars make an effort to carry out one type of work (single survival strategy), which is as beggars and carry out various survival strategies besides begging to be able to survive in meeting their needs.
Keywords: Phenomenon, Beggars, Social Construction, Survival Strategy
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan perilaku pengemis, faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya pengemis, makna mengemis bagi para pengemis dan proses konstruksi sosial terkait strategi bertahan hidup pengemis di lingkungan sosial Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan menggunakan kerangka pemikiran Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966) tentang Konstruksi Sosial serta Erik Snel dan Richard Staring (2001) tentang Strategi Bertahan Hidup sebagai pisau analisis dengan beberapa konsep sosiologi yang relevan dengan kajian penelitian. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa munculnya pengemis disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor penarik. Perkembangan pengemis di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram ini tidak luput dari terbentuknya pengetahuan yang dikonstruksi berdasarkan pengalaman, pengaruh orang terdekat dan lingkungan sosial pelaku. Hasil dari pengetahuan tentang aktivitas mengemis atau ‘penunggu sedekah’ tersebut kemudian memunculkan tindakan serta perilaku yang digunakan sebagai strategi bertahan hidup guna memenuhi kebutuhan dan keberlangsungan hidupnya. Strategi bertahan hidup pengemis dalam lingkungan masyarakat baik di lingkup para pengemis lainnya dan juga masyarakat secara luas dilakukan saling menghargai antar pengemis, saling melindungi, tindakan kolektif dan tindakan manipulatif hal tersebut dilakukan secara sosial. Secara ekonomi, pengemis melakukan upaya dengan menjalankan satu jenis pekerjaan (single survival strategy) yakni sebagai pengemis dan menjalankan berbagai jenis pekerjaan (multiple survival strategies) selain mengemis agar mampu bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhannya.
Universitas Gunung Rinjani
Title: FENOMENA PENGEMIS DI KOTA MATARAM: STUDI KONSTRUKSI SOSIAL TENTANG STRATEGI BERTAHAN HIDUP PENGEMIS DI KECAMATAN SEKARBELA KOTA MATARAM
Description:
The study entitled “The Phenomenon of Beggars in the City of Mataram: Study of Social Construction on the Beggars Surviving Strategies in Sekarbela Subdistrict, Mataram City”.
This study used a qualitative research method with a phenomenological approach and used the thinking framework of Peter L.
Berger and Thomas Luckmann (1966) on Social Construction, and Erik Snel and Richard Staring (2001) on Survival Strategy as a analitical tool with several sociological concepts that are relevant to the study.
Informants were sellected through purposive sampling and snowball sampling techniques.
Based on the results of the study, the emergence of beggars is caused by two factors, namely the pushing factors and the pull factors.
The development of beggars in Sekarbela Subdistrict, Mataram City is not spared from the formation of knowledge that is constructed based on experiences, the influence of the closest person and the social environment of the perpetrators.
The results of the knowledge about the activities of begging or ‘alms keeper’ then bring out actions and behaviors that have been as survival strategies to meet their needs and survival.
The survival strategies of beggars in the community environment both in the scope of other beggars and also the community at large is carried out mutual respect between beggars, mutual protection, collective action and manipulative actions that are carried out socially.
Economically, beggars make an effort to carry out one type of work (single survival strategy), which is as beggars and carry out various survival strategies besides begging to be able to survive in meeting their needs.
Keywords: Phenomenon, Beggars, Social Construction, Survival Strategy
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan perilaku pengemis, faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya pengemis, makna mengemis bagi para pengemis dan proses konstruksi sosial terkait strategi bertahan hidup pengemis di lingkungan sosial Kecamatan Sekarbela Kota Mataram.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan menggunakan kerangka pemikiran Peter L.
Berger dan Thomas Luckmann (1966) tentang Konstruksi Sosial serta Erik Snel dan Richard Staring (2001) tentang Strategi Bertahan Hidup sebagai pisau analisis dengan beberapa konsep sosiologi yang relevan dengan kajian penelitian.
Informan dipilih dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa munculnya pengemis disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor penarik.
Perkembangan pengemis di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram ini tidak luput dari terbentuknya pengetahuan yang dikonstruksi berdasarkan pengalaman, pengaruh orang terdekat dan lingkungan sosial pelaku.
Hasil dari pengetahuan tentang aktivitas mengemis atau ‘penunggu sedekah’ tersebut kemudian memunculkan tindakan serta perilaku yang digunakan sebagai strategi bertahan hidup guna memenuhi kebutuhan dan keberlangsungan hidupnya.
Strategi bertahan hidup pengemis dalam lingkungan masyarakat baik di lingkup para pengemis lainnya dan juga masyarakat secara luas dilakukan saling menghargai antar pengemis, saling melindungi, tindakan kolektif dan tindakan manipulatif hal tersebut dilakukan secara sosial.
Secara ekonomi, pengemis melakukan upaya dengan menjalankan satu jenis pekerjaan (single survival strategy) yakni sebagai pengemis dan menjalankan berbagai jenis pekerjaan (multiple survival strategies) selain mengemis agar mampu bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhannya.
.
Related Results
ANALISIS KEMAMPUAN GURU KELAS MELAKSANAKAN PENILAIAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN
ANALISIS KEMAMPUAN GURU KELAS MELAKSANAKAN PENILAIAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Penilaian yang dilaksanakan oleh guru masih didominasi oleh penilaian yang digunakan mengukur aspek kognitif yang bisa diterapkan dalam penilaian kurikulum. Atas dasar tersebut pen...
PERANAN DINAS SOSIAL DALAM MEREHABILITASI PEMERLU PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DI KOTA MEDAN
PERANAN DINAS SOSIAL DALAM MEREHABILITASI PEMERLU PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DI KOTA MEDAN
Kesejahteraan sosial merupakan hal yang ingin dicapai setiap individu, sampai dengan saat ini kesejahteraan belum merata dirasakan oleh setiap masyarakat di Indonesia, di Kota Meda...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
PEMBINAAN KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN UMUM: (Studi Kasus Gelandangan dan Pengemis)
PEMBINAAN KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN UMUM: (Studi Kasus Gelandangan dan Pengemis)
Fokus kajian ini dilatarbelakangi atas fenomena yang terjadi di wilayah perkotaan adalah hadirnya gelandangan dan pengemis. Tujuan penulisan kajian ini adalah untuk memperoleh gamb...
Program Dinas Sosial Dan Tenaga Kerja Kota Subulussam Dalam Mengatasi Pengemis
Program Dinas Sosial Dan Tenaga Kerja Kota Subulussam Dalam Mengatasi Pengemis
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana program Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Subulussalam dalam mengatasi pengemis, bagaimana realisasi program yang dilakukan ...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
Implementasi Kebijakan Penanggulangan Pengemis di Kota Mataram
Implementasi Kebijakan Penanggulangan Pengemis di Kota Mataram
Fenomena keberadaan pengemis di Kota Mataram masih menjadi persoalan sosial yang kompleks. Meskipun pemerintah daerah telah menerbitkan Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2012 tentang Pe...
KAJIAN GAYA DALAM PADA KONSTRUKSI RANGKA BATANG (VAKWERK)
KAJIAN GAYA DALAM PADA KONSTRUKSI RANGKA BATANG (VAKWERK)
Dalam ilmu statika benda didalam bidang dapat dibedakan menjadi konstruksi batang dan konstruksi rangka batang. Konstruksi rangka batang merupakan konstruksi yang terdiri dari elem...

