Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

LANDASAN YURIDIS KEDUDUKAN PEREMPUAN PELAUT DALAM PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER DI INDONESIA

View through CrossRef
Ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan merupakan peraturan yang bersifat umum bagi pekerja pelaut perempuan terdapat dalam Paragraf 5 mengenai Keselamatan dan Kesejahteraan Kerja pada Pasal 86 point 1(b) mengenai moral dan kesusilaan. Penulis menemukan adanya fakta hukum yang terjadi dalam penelitian ini terkait dengan kedudukan perempuan pelaut dalam perspektif kesetaraan gender di Indonesia. Adapun rumusan masalahnya bagaimanakah perlindungan hukum terhadap  perempuan pelaut pada kapal-kapal berbendera Indonesia dalam perspektif kesetaraan gender dan  bagaimana peranan pemerintah agar kesetaraan gender bagi kaum perempuan pelaut pada kapal-kapal berbendera Indonesia dapat berjalan setara dengan pelaut laki-laki. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yakni beranjak dari adanya kekaburan norma yakni terdapat di dalam ketentuan Pasal 86 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang masih belum secara spesifik mengatur mengenai perlindungan terhadap perempuan pelaut yang mengalami kekerasan, pelecehan seksual dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Penelitian ini menggunakan pendekatan konseptual, pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus.  Kesimpulan dari penelitain ini adalah perlindungan hukum mengacu pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003  tentang Ketenagakerjan pada Pasal 86 belum sepenuhnya dapat menjadi acuan jika terjadi kekerasan dan pelecehan seksual terhadap pekerja perempuan pelaut pada kapal-kapal berdendera Indonesia. Peranan pemerintah dalam menyetarakan kesetaraan gender bagi kaum perempuan pelaut pada kapal-kapal berbendera Indonesia agar setara dengan pekerja pelaut laki-laki yakni dengan menyusun draft kerangka acuan regulasi yang lebih spesifik untuk dapat mengatur perlindungan pekerja pelaut.   Provisions stipulated under Law Number 13 of 2003 concerning Manpower are general provisions regulating female seafaring workers. The provisions are mainly stipulated in Paragraph 5 in which they contain Occupational Safety and Welfare of Article 86 point 1(b) concerning morals and decency. The author finds out that there are legal facts that occur in this study related to the position of women seafarers in the perspective of gender equality in Indonesia. As for the problem of this thesis, is about how the legal protection for women seafarers on Indonesian-flagged vessels in the perspective of gender equality and the role of the government, so the gender equality for female seafarers on Indonesian-flagged vessels can be enforced in an equal way with male seafarers. The type of this research is a normative legal research that is coming from the vagueness of norms containing in the provisions of Article 86 of Law No. 13 of 2003 concerning Manpower which have not specifically regulated the protection of women seafarers who suffer from violence, sexual harassment and criminal acts of human trafficking (TPPO). This research uses a conceptual, statutory and case approach. The conclusion of this research is concerning legal protection referenced to Law No. 13 of 2003 of Manpower of Article 86 which have not been fully enforced as a reference in cases related to violence and sexual harassment against female seafaring workers on Indonesian-flagged vessels. It is the role of the government in equalizing gender equality for women seafarers on Indonesian-flagged ships, therefore they are equal to male seafaring workers, that are by compiling draft of a more specific regulatory frame of reference to regulate the protection of seafarers.
Title: LANDASAN YURIDIS KEDUDUKAN PEREMPUAN PELAUT DALAM PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER DI INDONESIA
Description:
Ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan merupakan peraturan yang bersifat umum bagi pekerja pelaut perempuan terdapat dalam Paragraf 5 mengenai Keselamatan dan Kesejahteraan Kerja pada Pasal 86 point 1(b) mengenai moral dan kesusilaan.
Penulis menemukan adanya fakta hukum yang terjadi dalam penelitian ini terkait dengan kedudukan perempuan pelaut dalam perspektif kesetaraan gender di Indonesia.
Adapun rumusan masalahnya bagaimanakah perlindungan hukum terhadap  perempuan pelaut pada kapal-kapal berbendera Indonesia dalam perspektif kesetaraan gender dan  bagaimana peranan pemerintah agar kesetaraan gender bagi kaum perempuan pelaut pada kapal-kapal berbendera Indonesia dapat berjalan setara dengan pelaut laki-laki.
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yakni beranjak dari adanya kekaburan norma yakni terdapat di dalam ketentuan Pasal 86 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang masih belum secara spesifik mengatur mengenai perlindungan terhadap perempuan pelaut yang mengalami kekerasan, pelecehan seksual dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Penelitian ini menggunakan pendekatan konseptual, pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus.
 Kesimpulan dari penelitain ini adalah perlindungan hukum mengacu pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003  tentang Ketenagakerjan pada Pasal 86 belum sepenuhnya dapat menjadi acuan jika terjadi kekerasan dan pelecehan seksual terhadap pekerja perempuan pelaut pada kapal-kapal berdendera Indonesia.
Peranan pemerintah dalam menyetarakan kesetaraan gender bagi kaum perempuan pelaut pada kapal-kapal berbendera Indonesia agar setara dengan pekerja pelaut laki-laki yakni dengan menyusun draft kerangka acuan regulasi yang lebih spesifik untuk dapat mengatur perlindungan pekerja pelaut.
  Provisions stipulated under Law Number 13 of 2003 concerning Manpower are general provisions regulating female seafaring workers.
The provisions are mainly stipulated in Paragraph 5 in which they contain Occupational Safety and Welfare of Article 86 point 1(b) concerning morals and decency.
The author finds out that there are legal facts that occur in this study related to the position of women seafarers in the perspective of gender equality in Indonesia.
As for the problem of this thesis, is about how the legal protection for women seafarers on Indonesian-flagged vessels in the perspective of gender equality and the role of the government, so the gender equality for female seafarers on Indonesian-flagged vessels can be enforced in an equal way with male seafarers.
The type of this research is a normative legal research that is coming from the vagueness of norms containing in the provisions of Article 86 of Law No.
13 of 2003 concerning Manpower which have not specifically regulated the protection of women seafarers who suffer from violence, sexual harassment and criminal acts of human trafficking (TPPO).
This research uses a conceptual, statutory and case approach.
The conclusion of this research is concerning legal protection referenced to Law No.
13 of 2003 of Manpower of Article 86 which have not been fully enforced as a reference in cases related to violence and sexual harassment against female seafaring workers on Indonesian-flagged vessels.
It is the role of the government in equalizing gender equality for women seafarers on Indonesian-flagged ships, therefore they are equal to male seafaring workers, that are by compiling draft of a more specific regulatory frame of reference to regulate the protection of seafarers.

Related Results

Penyelenggaraan Dewan Pengujian Keahlian Pelaut
Penyelenggaraan Dewan Pengujian Keahlian Pelaut
Pada saat pertumbuhan ekonomi dunia tinggi, berdampak besarnya ekspansi pergerakan muatan yang menggunakan moda transportasi laut. Disisi lain kebutuhan akan kapal juga bertambah, ...
KRITIK WACANA TAFSIR ATAS TEOLOGI KESETARAAN GENDER RIFFAT HASSAN
KRITIK WACANA TAFSIR ATAS TEOLOGI KESETARAAN GENDER RIFFAT HASSAN
Abstract: This article discuss about how theology construct worked by Riffat Hassan to realize gender equality and how the implication caused from gender equality and how the relat...
Praksis Pastoral Terhadap Pelaut di Gereja Toraja Klasis Makale Selatan
Praksis Pastoral Terhadap Pelaut di Gereja Toraja Klasis Makale Selatan
The aim to be achived in this paper is to analyze the relevant pastoral services (praxis) for the problems of seafares in the service area of the Southern  Makale Classics Toraja C...
Kewenangan Satgas Yuridis Dalam Memproses Data Yuridis Pada Program Ptsl Di Bpn Kabupaten Pandeglang
Kewenangan Satgas Yuridis Dalam Memproses Data Yuridis Pada Program Ptsl Di Bpn Kabupaten Pandeglang
Pelaksanaan dalam memproses data yuridis pada program PTSL dilakukan oleh Satgas Yuridis PTSL namun dalam kewenangannya, Satgas Yuridis memiliki hambatan sehingga dapat mengakibatk...
Nilai Nilai Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Pembelajaran PAI di SD 05 Binanga Dua Labuhanbatu Selatan
Nilai Nilai Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Pembelajaran PAI di SD 05 Binanga Dua Labuhanbatu Selatan
Penelitian ini mengkaji penerapan nilai-nilai kesetaraan gender dalam pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD 05 Binanga Dua. Pokok masalah yang diangkat adalah...
KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK PERSPEKTIF SIYASAH SYAR’IYYAH
KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK PERSPEKTIF SIYASAH SYAR’IYYAH
Peran perempuan Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai manusia yang hidup dalam situasi dramatis. Disatu sisi perempuan Indonesia dituntut untuk berperan dalam semua sektor, ...
POWER PEREMPUAN DALAM TRADISI MUSIK BECANANG DI BENER MERIAH
POWER PEREMPUAN DALAM TRADISI MUSIK BECANANG DI BENER MERIAH
This study aims to identify and examine the existence and role of women in the bronze musical tradition: becanang in Bener Meriah. The extent of the role of men in Aceh, including ...
Sosialisasi kesetaraan gender dalam olahraga bolavoli
Sosialisasi kesetaraan gender dalam olahraga bolavoli
Perjuangan persamaan gender sampai saat ini terus berlanjut, masih menjadi permasalahan yang penting untuk dikampanyekan kepada khalayak dalam hal ini pelatih olahraga bolavoli. Tu...

Back to Top