Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Studi Deskriptif Adversity Quotient pada Guru PG/TK X Bandung

View through CrossRef
Abstract. One of the formal education is kindergarten. PG/TK X Bandung is one of the regular schools that has several students with Special Needs and toddler students. Teachers are faced with situations where students with special needs often experience tantrums and not taking part in class activities. The teacher should pay more attention to students who have special needs and students who are still toddlers. In addition to students with special needs and students who are toddlers, there are also regular students who often annoy their friends and not obey the rules that the teacher has given. Infrastructure facilities owned by schools are still very limited. Teachers get they salary below standard minimum regional. These conditions cause teachers to be able to face the adversities and obstacles that exist. This research is intended to get the description of Adversity Quotient. The measurement tool used is Stoltz’s Adversity Response Profile (ARP) (2000). The result is 60% of teachers having high Adversity Quotient, called by Climbers and 40% teachers having moderate Adversity Quotient, called by Campers. It means, teachers are able to face adversities and obstacles that exist in the teaching process at school. Abstrak. Salah satu jalur pendidikan formal yaitu Taman Kanak-Kanak. PG/TK X Bandung merupakan salah satu sekolah reguler yang memiliki beberapa siswa ABK dan memiliki siswa dengan usia batita (Bawah Tiga Tahun). Para guru dihadapkan pada situasi dimana siswa dengan kebutuhan khusus sering mengalami tantrum dan sulit mengikuti kegiatan kelas. Guru harus memberikan perhatian lebih pada siswanya yang memiliki kebutuhan khusus dan siswa yang masih batita. Selain siswa dengan kebutuhan khusus dan siswa yang berusia batita, terdapat juga siswa normal yang sering mengganggu temannya, dan tidak patuh pada aturan yang telah guru berikan. Fasilitas sarana prasarana yang dimiliki sekolah masih sangat terbata. Para guru mendapatkan upah yang masih di bawah UMR dan guru sering mendapatkan upahnya tidak sesuai dengan seharusnya. Kondisi tersebut menyebabkan guru harus mampu menghadapi kesulitan dan hambatan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai Adversity Quotient pada guru. Pengukuran pada penelitian ini menggunakan Adversity Response Profile (ARP) dari Paul G. Stoltz (2000). Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebanyak 60% (6 guru) memiliki Adversity Quotient tinggi atau disebut dengan Climbers dan 40% (4 guru) memiliki Adversity Quotient sedang atau disebut dengan Campers. Artinya, guru mampu menghadapi kesulitan dan hambatan-hambatan yang ada dalam proses mengajar di sekolah.
Title: Studi Deskriptif Adversity Quotient pada Guru PG/TK X Bandung
Description:
Abstract.
One of the formal education is kindergarten.
PG/TK X Bandung is one of the regular schools that has several students with Special Needs and toddler students.
Teachers are faced with situations where students with special needs often experience tantrums and not taking part in class activities.
The teacher should pay more attention to students who have special needs and students who are still toddlers.
In addition to students with special needs and students who are toddlers, there are also regular students who often annoy their friends and not obey the rules that the teacher has given.
Infrastructure facilities owned by schools are still very limited.
Teachers get they salary below standard minimum regional.
These conditions cause teachers to be able to face the adversities and obstacles that exist.
This research is intended to get the description of Adversity Quotient.
The measurement tool used is Stoltz’s Adversity Response Profile (ARP) (2000).
The result is 60% of teachers having high Adversity Quotient, called by Climbers and 40% teachers having moderate Adversity Quotient, called by Campers.
It means, teachers are able to face adversities and obstacles that exist in the teaching process at school.
Abstrak.
Salah satu jalur pendidikan formal yaitu Taman Kanak-Kanak.
PG/TK X Bandung merupakan salah satu sekolah reguler yang memiliki beberapa siswa ABK dan memiliki siswa dengan usia batita (Bawah Tiga Tahun).
Para guru dihadapkan pada situasi dimana siswa dengan kebutuhan khusus sering mengalami tantrum dan sulit mengikuti kegiatan kelas.
Guru harus memberikan perhatian lebih pada siswanya yang memiliki kebutuhan khusus dan siswa yang masih batita.
Selain siswa dengan kebutuhan khusus dan siswa yang berusia batita, terdapat juga siswa normal yang sering mengganggu temannya, dan tidak patuh pada aturan yang telah guru berikan.
Fasilitas sarana prasarana yang dimiliki sekolah masih sangat terbata.
Para guru mendapatkan upah yang masih di bawah UMR dan guru sering mendapatkan upahnya tidak sesuai dengan seharusnya.
Kondisi tersebut menyebabkan guru harus mampu menghadapi kesulitan dan hambatan yang ada.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai Adversity Quotient pada guru.
Pengukuran pada penelitian ini menggunakan Adversity Response Profile (ARP) dari Paul G.
Stoltz (2000).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebanyak 60% (6 guru) memiliki Adversity Quotient tinggi atau disebut dengan Climbers dan 40% (4 guru) memiliki Adversity Quotient sedang atau disebut dengan Campers.
Artinya, guru mampu menghadapi kesulitan dan hambatan-hambatan yang ada dalam proses mengajar di sekolah.

Related Results

Pengaruh Adversity Quotient terhadap Work-Study Conflict pada Mahasiswa yang Bekerja
Pengaruh Adversity Quotient terhadap Work-Study Conflict pada Mahasiswa yang Bekerja
Abstract. Students who assume dual roles as learners and workers face challenges in balancing academic and work demands simultaneously. This condition may lead to work–study confli...
Adversity Quotient Mahasiswa Pendidikan Matematika dan Keterkaitannya dengan Indeks Prestasi Kumulatif
Adversity Quotient Mahasiswa Pendidikan Matematika dan Keterkaitannya dengan Indeks Prestasi Kumulatif
AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Adversity quotient mahasiswa pendidikan matematika angkatan 2015 dan mengetahui ada atau tidak adanya keterkaitan antara Advers...
Didactic Design for Developing Students' Creative Thinking Ability in Solving Open-Ended Problems: An Adversity Quotient Perspective
Didactic Design for Developing Students' Creative Thinking Ability in Solving Open-Ended Problems: An Adversity Quotient Perspective
This study aims to develop students’ creative thinking skills, address their learning obstacles, and describe their creative thinking abilities in relation to their adversity quoti...
Program “Bandung Menjawab” sebagai Strategi Komunikasi
Program “Bandung Menjawab” sebagai Strategi Komunikasi
Abstract. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bandung City functions as a platform to communicate messages to the public. Diskominfo Bandung City develops one of its flag...
Hubungan antara Adversity Quotient dengan Stres Akademik pada Mahasiswa Semester Akhir Universitas Islam Bandung
Hubungan antara Adversity Quotient dengan Stres Akademik pada Mahasiswa Semester Akhir Universitas Islam Bandung
Abstract. Students are required to have critical thinking and be able to act quickly and precisely. Students will be faced with various demands and obstacles during the lecture pro...
Ability to Understand Mathematical Concepts and Adversity Quotient Students Reviewed from Al-Qur’an Memorize Ability
Ability to Understand Mathematical Concepts and Adversity Quotient Students Reviewed from Al-Qur’an Memorize Ability
Peserta didik sering merasa kesulitan dalam memahami konsep yang ada dalam matematika. Kebanyakan dari mereka merasa sulit untuk berkonsentrasi, serta mudah menyerah untuk memahami...
Upaya Guru dalam Meningkatkan Minat Membaca Anak pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru di BMBA AIUEO Batujajar Bandung
Upaya Guru dalam Meningkatkan Minat Membaca Anak pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru di BMBA AIUEO Batujajar Bandung
Abstract. Based on the PISA report which was just released 2019, Indonesia's reading score is ranked 72 out of 77 countries (liputan6.com,2019). This condition shows the poor inter...

Back to Top