Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

ESTETIKA MUSIK ZAPIN SEBAGAI BUDAYA POPULER DI PEKANBARU

View through CrossRef
 ABSTRAK Musik Zapin di Kota Pekanbaru sebagai budaya populer merupakan fenomena pergeseran konsep, bentuk, fungsi, estetika dan makna bagi masyarakat pendukungnya. Pendekonstruksian pola-pola tertentu (tradisi) kepada keseragaman, standarisasi, pencitraan, kapitalisme, kreatifitas dan inovasi seniman. Secara praktis hal tersebut sebagai bentuk kreativitas dan inovasi seniman dalam berkarya, baik kaitan pengembangan ataupun pelestarian seni budaya Melayu. Musik Zapin sebagai budaya populer memiliki estetika posmodern, di antaranya: Parodi, pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia. Pertunjukan musik Zapin mengalami pergeseran nilai-nilai keteradisiannya (konsep estetika tradisi) ke estetika modern bahkan posmodern. Pergeseran tersebut oleh karena perubahan sosial masyarakat Kota Pekanbaru. Keterbukaan dan homogenitasan, baik etnis dan budaya menciptakaan keterbukaan ruang bagi pertunjukan musik Zapin untuk beradaptasi dengan ruang dan kebutuhan masyarakatnya. Oleh sebab itu, pertunjukan musik Zapin sebagai budaya populer (estetika profan). Kata Kunci: Komodifikasi, Budaya Populer, Musik Zapin, dan Kota Pekanbaru  ABSTRACT Music Zapin in Pekanbaru as popular culture is a phenomenon of shifting concept, form, function, aesthetics and meaning to community supporters. Pendekonstruksian certain patterns (traditions to uniformity, standardization, imaging, capitalism, creativity and innovation of artists. Practically it is a form of creativity and innovation in the work of artists, both regard the development or preservation of Malay culture and art. Zapin music as popular culture has a postmodern aesthetic, including: parody, pastiche, parody, kitsch, camp, and schizophrenia. Zapin music performances shifting values keteradisiannya (traditional aesthetic concept ) to the modern aesthetic and even postmodern. The shift is due to social change Pekanbaru. Openness and homogenitasan, both ethnic and cultural openness menciptakaan Zapin space for musical performances to adapt to the space and the needs of society. Therefore, musical performances Zapin as popular culture (aesthetic profane). Keywords: Commodification, Popular Culture, Music Zapin, and the city of Pekanbaru
Title: ESTETIKA MUSIK ZAPIN SEBAGAI BUDAYA POPULER DI PEKANBARU
Description:
 ABSTRAK Musik Zapin di Kota Pekanbaru sebagai budaya populer merupakan fenomena pergeseran konsep, bentuk, fungsi, estetika dan makna bagi masyarakat pendukungnya.
Pendekonstruksian pola-pola tertentu (tradisi) kepada keseragaman, standarisasi, pencitraan, kapitalisme, kreatifitas dan inovasi seniman.
Secara praktis hal tersebut sebagai bentuk kreativitas dan inovasi seniman dalam berkarya, baik kaitan pengembangan ataupun pelestarian seni budaya Melayu.
Musik Zapin sebagai budaya populer memiliki estetika posmodern, di antaranya: Parodi, pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia.
Pertunjukan musik Zapin mengalami pergeseran nilai-nilai keteradisiannya (konsep estetika tradisi) ke estetika modern bahkan posmodern.
Pergeseran tersebut oleh karena perubahan sosial masyarakat Kota Pekanbaru.
Keterbukaan dan homogenitasan, baik etnis dan budaya menciptakaan keterbukaan ruang bagi pertunjukan musik Zapin untuk beradaptasi dengan ruang dan kebutuhan masyarakatnya.
Oleh sebab itu, pertunjukan musik Zapin sebagai budaya populer (estetika profan).
 Kata Kunci: Komodifikasi, Budaya Populer, Musik Zapin, dan Kota Pekanbaru  ABSTRACT Music Zapin in Pekanbaru as popular culture is a phenomenon of shifting concept, form, function, aesthetics and meaning to community supporters.
Pendekonstruksian certain patterns (traditions to uniformity, standardization, imaging, capitalism, creativity and innovation of artists.
Practically it is a form of creativity and innovation in the work of artists, both regard the development or preservation of Malay culture and art.
Zapin music as popular culture has a postmodern aesthetic, including: parody, pastiche, parody, kitsch, camp, and schizophrenia.
Zapin music performances shifting values keteradisiannya (traditional aesthetic concept ) to the modern aesthetic and even postmodern.
The shift is due to social change Pekanbaru.
Openness and homogenitasan, both ethnic and cultural openness menciptakaan Zapin space for musical performances to adapt to the space and the needs of society.
Therefore, musical performances Zapin as popular culture (aesthetic profane).
 Keywords: Commodification, Popular Culture, Music Zapin, and the city of Pekanbaru.

Related Results

Reposisi Musik Tradisional di Zaman Teknologi
Reposisi Musik Tradisional di Zaman Teknologi
Reposisi musik sesungguhnya telah terjadi sejal Genre musik, Fashion dan Lifestyle Western menjadi kiblat baru. Artinya:reposisi adalah penempatan kembali ke posisi semula atau pen...
Reposisi Musik Tradisional di Zaman Teknologi
Reposisi Musik Tradisional di Zaman Teknologi
Reposisi musik sesungguhnya telah terjadi sejal Genre musik, Fashion dan Lifestyle Western menjadi kiblat baru. Artinya:reposisi adalah penempatan kembali ke posisi semula atau pen...
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
MUSIK GEREJA DAN HYMNE A.Musik GerejaMusik gereja adalah penggunaan musik yang berkembang dan digunakan di gereja musik sangat penting dalam ibadah gereja, karena sebagian besar ke...
NILAI ESRTIKA MODIFIKASI VESPA ROSOK BONDOWOSO
NILAI ESRTIKA MODIFIKASI VESPA ROSOK BONDOWOSO
NILAI ESTETIKA VESPA MODIFIKASI KOMUNITAS VESPA BONDOWOSO  Syarief Abdurahman Arrahim1, I Wayan Sudiarta2, I Gst Ngr. Sura Ardana31,2,3Program Studi Pendidikan Seni RupaFakultas Ba...
Musik – Die schönste Nebensache
Musik – Die schönste Nebensache
Jugend und Musik ist ein Thema, dem sich die Medienpädagogik immer wieder von Neuem zuwenden muss. Die zentrale Position, die Musik im Fühlen, aber auch im Denken und Handeln der M...
Music Theraphy
Music Theraphy
Berbagai permasalahan dalam pelaksanaan layanan konseling dialami konselor sekolah. Konselor belum mampu menerapkan konseling yang memiliki dampak yang signifikan bagi perubahan ti...
Analisis Musik Upacara Adat Bokas Di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan
Analisis Musik Upacara Adat Bokas Di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan
Musik merupakan bagian penting sebuah upacara dalam adat istiadat. Musik bagi msayarakat Dayak tidak hanya mempunyai peranan dalam kehidupan, tetapi mengandung nilai-nilai religius...
Expression of Culture Diversity Through Creation of Zapin Nusantara Berlenggang Dance
Expression of Culture Diversity Through Creation of Zapin Nusantara Berlenggang Dance
This article elaborates on Nusantara diversity as a phenomenon that underlies the creation of the Zapin Nusantara Berlenggang dance. In many regions, the characteristic of Zapin da...

Back to Top