Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Prasangka terhadap Homoseksual: Peran Fundamentalisme Agama dan Identitas Sosial

View through CrossRef
Abstract—Indonesian society, which generally adheres to the notion of heteronormativity, views homosexuals as contrary to social norms.This beliefpromptedprejudice toward homosexuals. Various factors that encourage prejudice include religious fundamentalism and social identity.This study aimed to examine the role of religious fundamentalism and social identity towardhomosexuals’ prejudiceamong college students in Surabaya. The design of this study used a cross-sectional survey, with participant (N=384) students aged 18-25 years and heterosexual oriented, obtained through accidental sampling technique. Data were collected using RFS-12, A Three-factor Model of Social Identity Scale, and the Attitudes Toward Lesbian and Gay Men(ATLG) Scale. Results of multiple linear regression analysis showed that religious fundamentalism and social identity played a significant role in explaining prejudice against homosexuals(R=0.576; F=94,433; p<0.001). Meanwhile, the partial analysis revealed that religious fundamentalism could significantly explain the prejudice toward homosexuals (t=13.306; p<.001), while social identity could not(t=0.087; p=0.931). Additional analysis showed that prejudice toward homosexuals differed based on gender, type of university, presence or absence of contact, the quantity of contact, and quality of contact. The implications of this study were discussed in the context of Indonesia's contemporary society. Keywords: homosexual, prejudice, religious fundamentalism, social identity Abstrak—Masyarakat Indonesia, yang umumnya menganut paham heteronormativitas, memandang homoseksual bertentangan dengan norma sosial. Paham ini mendorong terjadinya prasangka terhadap homoseksual. Terdapat berbagai faktor yang membentuk prasangka diantaranya, fundamentalisme agama dan identitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran fundamentalisme agama dan identitas sosial terhadap prasangka homoseksual pada mahasiswa yang berkuliah di Surabaya. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional survey, dengan partisipan (N=384) mahasiswa berusia 18-25 tahun, dan berorientasi heteroseksual, yang didapat melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan RFS-12, A Three-factor Model of Social Identity Scale, dan Attitudes Toward Lesbian and Gay Men(ATLG) Scale. Hasil analisis regresi linear bergandamenunjukkan bahwa fundamentalisme agama dan identitas sosial berperan signifikan dalam menjelaskan prasangka terhadap homoseksual (R= 0.576; F= 94.433; p < 0.001). Selanjutnya, analisis korelasi parsial menunjukkan bahwa fundamentalisme agama berhubungan secara signifikan dengan prasangka terhadap homoseksual(t=13.306; p<.001), namun tidak dengan identitas sosial(t=0.087; p=0.931). Analisis tambahan menyatakan bahwa prasangka terhadap homoseksual berbeda berdasarkan jenis kelamin, jenis universitas, ada tidaknya kontak, kuantitas kontak, serta kualitas kontak. Implikasi dari hasil penelitian ini didiskusikan lebih lanjut dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini. Kata kunci: fundamentalisme agama, homoseksual, identitas sosial, prasangka
Title: Prasangka terhadap Homoseksual: Peran Fundamentalisme Agama dan Identitas Sosial
Description:
Abstract—Indonesian society, which generally adheres to the notion of heteronormativity, views homosexuals as contrary to social norms.
This beliefpromptedprejudice toward homosexuals.
Various factors that encourage prejudice include religious fundamentalism and social identity.
This study aimed to examine the role of religious fundamentalism and social identity towardhomosexuals’ prejudiceamong college students in Surabaya.
The design of this study used a cross-sectional survey, with participant (N=384) students aged 18-25 years and heterosexual oriented, obtained through accidental sampling technique.
Data were collected using RFS-12, A Three-factor Model of Social Identity Scale, and the Attitudes Toward Lesbian and Gay Men(ATLG) Scale.
Results of multiple linear regression analysis showed that religious fundamentalism and social identity played a significant role in explaining prejudice against homosexuals(R=0.
576; F=94,433; p<0.
001).
Meanwhile, the partial analysis revealed that religious fundamentalism could significantly explain the prejudice toward homosexuals (t=13.
306; p<.
001), while social identity could not(t=0.
087; p=0.
931).
Additional analysis showed that prejudice toward homosexuals differed based on gender, type of university, presence or absence of contact, the quantity of contact, and quality of contact.
The implications of this study were discussed in the context of Indonesia's contemporary society.
Keywords: homosexual, prejudice, religious fundamentalism, social identity Abstrak—Masyarakat Indonesia, yang umumnya menganut paham heteronormativitas, memandang homoseksual bertentangan dengan norma sosial.
Paham ini mendorong terjadinya prasangka terhadap homoseksual.
Terdapat berbagai faktor yang membentuk prasangka diantaranya, fundamentalisme agama dan identitas sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran fundamentalisme agama dan identitas sosial terhadap prasangka homoseksual pada mahasiswa yang berkuliah di Surabaya.
Desain penelitian ini menggunakan cross sectional survey, dengan partisipan (N=384) mahasiswa berusia 18-25 tahun, dan berorientasi heteroseksual, yang didapat melalui teknik accidental sampling.
Data dikumpulkan menggunakan RFS-12, A Three-factor Model of Social Identity Scale, dan Attitudes Toward Lesbian and Gay Men(ATLG) Scale.
Hasil analisis regresi linear bergandamenunjukkan bahwa fundamentalisme agama dan identitas sosial berperan signifikan dalam menjelaskan prasangka terhadap homoseksual (R= 0.
576; F= 94.
433; p < 0.
001).
Selanjutnya, analisis korelasi parsial menunjukkan bahwa fundamentalisme agama berhubungan secara signifikan dengan prasangka terhadap homoseksual(t=13.
306; p<.
001), namun tidak dengan identitas sosial(t=0.
087; p=0.
931).
Analisis tambahan menyatakan bahwa prasangka terhadap homoseksual berbeda berdasarkan jenis kelamin, jenis universitas, ada tidaknya kontak, kuantitas kontak, serta kualitas kontak.
Implikasi dari hasil penelitian ini didiskusikan lebih lanjut dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini.
Kata kunci: fundamentalisme agama, homoseksual, identitas sosial, prasangka.

Related Results

Prasangka Mahasiswa IAIN Pontianak terhadap Non-Muslim
Prasangka Mahasiswa IAIN Pontianak terhadap Non-Muslim
Studi tentang pengaruh mata kuliah Perbandingan Agama dalam merubah prasangka mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak sangat rel...
Fase Pembentukan Perubahan Seksual Tokoh Utama Film Serial TV Transit Girls Karya Masato Maeda
Fase Pembentukan Perubahan Seksual Tokoh Utama Film Serial TV Transit Girls Karya Masato Maeda
Orientasi seksual kaum homoseksual yang berbeda dari kelompok heterogen memicu problematika identitas dalam dirinya dan dalam relasi sosial. Proses yang dilalui oleh pelaku homosek...
Menelisik politik identitas di Kalimantan Barat berdasarkan perspektif filsafat politik Armada Riyanto
Menelisik politik identitas di Kalimantan Barat berdasarkan perspektif filsafat politik Armada Riyanto
Artikel ini membahas politik identitas sebagai tindakan politis yang bertujuan untuk memajukan kepentingan kelompok berdasarkan kesamaan identitas atau karakteristik mereka. Politi...
Empati dan Prasangka terhadap Penyandang Disabilitas
Empati dan Prasangka terhadap Penyandang Disabilitas
Abstract— Stereo types toward persons with disability have resulted in many people having prejudice about persons with disability and committing discriminatory behavior. This negat...
Studi Fenomenologi Perilaku Homoseksual Di Kota Semarang
Studi Fenomenologi Perilaku Homoseksual Di Kota Semarang
Homoseksual merupakan masalah global dan modern sekarang ini, gaya hidup atau lifestyle merupakan hal yang sangat penting dan kerap menjadi ajang untuk menunjukkan identitas diri. ...
Catatan dari Managing Editor
Catatan dari Managing Editor
Salam sejahtera, Tahun 2020 ini menandakan awal dari akhir sebuah dekade dimana terjadi berbagai perubahan sosial dan teknologi. Pertama, diketahui bahwa teknologi internet dan me...
SOSIALISASI AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM
SOSIALISASI AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM
Dalam proses pembangunan manusia Indonesia, agama memiliki kedudukan penting dan utama dalam upaya membentuk kualitas manusia dan masyarakat yang maju dan mandiri. Melalui pembangu...

Back to Top