Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Posibilitas Hukum Penerapan Akad Musyarakah Mutanaqisah  dalam Refinancing Proyek Non Business Development di  Industri Hulu Migas  (Studi Kasus PT. ABC Hulu Energi)

View through CrossRef
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keunggulan dan kelemahan penerapan akad Musyarakah Mutanaqisah (MMq) sebagai alternatif skema pembiayaan dalam proyek strategis sektor hulu migas, khususnya untuk proyek non-business development, serta mengevaluasi mekanisme penerapannya dalam konteks PT. ABC Hulu Energi. Akad MMq merupakan bentuk kerja sama kemitraan antara dua pihak atau lebih dalam kepemilikan aset yang kemudian salah satu pihak secara bertahap membeli porsi kepemilikan pihak lainnya hingga menjadi pemilik penuh. Dibandingkan dengan skema pendanaan konvensional seperti Intercompany Funding (ICF) dan Shareholder Loan (SHL), MMq menawarkan pendekatan pembiayaan yang sesuai prinsip syariah, berbasis bagi hasil, tanpa bunga, serta memberikan fleksibilitas dalam struktur kepemilikan dan pembiayaan jangka panjang. Keunggulan MMq terletak pada kepatuhan syariah, potensi pembagian risiko yang lebih adil, serta peningkatan akuntabilitas pengelolaan dana. Namun, kelemahan MMq di antaranya adalah kompleksitas perjanjian, kebutuhan regulasi khusus, dan keterbatasan literasi industri terhadap implementasi akad syariah. Dalam penerapannya di PT. ABC Hulu Energi, MMq dapat dijadikan mekanisme refinancing dengan memanfaatkan pembentukan skema kepemilikan bertahap atas aset proyek non-business development yang telah selesai atau menghasilkan pendapatan, guna mengurangi beban investasi awal dan meningkatkan efisiensi pendanaan. Landasan hukum penerapan MMq antara lain merujuk pada Fatwa DSN MUI No. 73/DSN-MUI/XI/2008 tentang Musyarakah Mutanaqisah serta prinsip-prinsip syariah yang termuat dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Temuan ini menunjukkan bahwa MMq berpotensi menjadi instrumen pembiayaan strategis yang adaptif, berkelanjutan, dan sejalan dengan nilai-nilai syariah di sektor energi nasional.    
Title: Posibilitas Hukum Penerapan Akad Musyarakah Mutanaqisah  dalam Refinancing Proyek Non Business Development di  Industri Hulu Migas  (Studi Kasus PT. ABC Hulu Energi)
Description:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keunggulan dan kelemahan penerapan akad Musyarakah Mutanaqisah (MMq) sebagai alternatif skema pembiayaan dalam proyek strategis sektor hulu migas, khususnya untuk proyek non-business development, serta mengevaluasi mekanisme penerapannya dalam konteks PT.
ABC Hulu Energi.
Akad MMq merupakan bentuk kerja sama kemitraan antara dua pihak atau lebih dalam kepemilikan aset yang kemudian salah satu pihak secara bertahap membeli porsi kepemilikan pihak lainnya hingga menjadi pemilik penuh.
Dibandingkan dengan skema pendanaan konvensional seperti Intercompany Funding (ICF) dan Shareholder Loan (SHL), MMq menawarkan pendekatan pembiayaan yang sesuai prinsip syariah, berbasis bagi hasil, tanpa bunga, serta memberikan fleksibilitas dalam struktur kepemilikan dan pembiayaan jangka panjang.
Keunggulan MMq terletak pada kepatuhan syariah, potensi pembagian risiko yang lebih adil, serta peningkatan akuntabilitas pengelolaan dana.
Namun, kelemahan MMq di antaranya adalah kompleksitas perjanjian, kebutuhan regulasi khusus, dan keterbatasan literasi industri terhadap implementasi akad syariah.
Dalam penerapannya di PT.
ABC Hulu Energi, MMq dapat dijadikan mekanisme refinancing dengan memanfaatkan pembentukan skema kepemilikan bertahap atas aset proyek non-business development yang telah selesai atau menghasilkan pendapatan, guna mengurangi beban investasi awal dan meningkatkan efisiensi pendanaan.
Landasan hukum penerapan MMq antara lain merujuk pada Fatwa DSN MUI No.
73/DSN-MUI/XI/2008 tentang Musyarakah Mutanaqisah serta prinsip-prinsip syariah yang termuat dalam Undang-Undang No.
21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Temuan ini menunjukkan bahwa MMq berpotensi menjadi instrumen pembiayaan strategis yang adaptif, berkelanjutan, dan sejalan dengan nilai-nilai syariah di sektor energi nasional.
   .

Related Results

Perbandingan Fiqh Tentang Akad Tidak Bernama
Perbandingan Fiqh Tentang Akad Tidak Bernama
Abstract This paper uses a type of qualitative research with a library research focus. The discussion of this paper, first discusses the meaning of contract in a comparative ...
The Canberra Bubble
The Canberra Bubble
According to the ABC television program Four Corners, “Parliament House in Canberra is a hotbed of political intrigue and high tension … . It’s known as the ‘Canberra Bubble’ and i...
Analisa Literatur Akuntansi Akad Musyarakah
Analisa Literatur Akuntansi Akad Musyarakah
Abstract: The development of the Islamic economic concept requires the development of other economic scientific concepts to support the development of Islamic economics. One of the...
Musyarakah Mutanaqisah: A Systematic Literature Review
Musyarakah Mutanaqisah: A Systematic Literature Review
The present research aims to highlight trends in the previous research conducted on the Musyarakah Mutanaqisah arrangement. This research conducted a systematic literature review o...
Refinancing Syariah Dengan Menggunakan Akad Musyarakah Mutanaqishah
Refinancing Syariah Dengan Menggunakan Akad Musyarakah Mutanaqishah
Banyak masyarakat yang belum mampu membeli rumah secara tunai menjadikan mereka membelinya secara kredit pada bank. Terkadang pembayaran secara kredit tersebut mempunyai kendala, y...
Kaidah Al Masyghul La Yushghal Dalam Konteks Akad Musyarakah Mutanaqisah
Kaidah Al Masyghul La Yushghal Dalam Konteks Akad Musyarakah Mutanaqisah
This article describes the principles of al-masyghul la yusyghal fiqh principles in one of the Islamic economic practices, namely the musyarakah mutanaqisah contract. The method us...
Implementasi Akad Musyarakah Mutanaqisah pada Produk Pembiayaan BSI Griya
Implementasi Akad Musyarakah Mutanaqisah pada Produk Pembiayaan BSI Griya
Abstract. Home is a basic need for all humans, because home is a place for humans to rest after a long day's activities. However, not everyone can afford to own a house, especially...
Urgensi Pengaturan Artificial Intelligence (AI) Dalam Bidang Hukum Hak Cipta Di Indonesia
Urgensi Pengaturan Artificial Intelligence (AI) Dalam Bidang Hukum Hak Cipta Di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta memahami urgensi pengaturan AI dalam UU Hak Cipta di Indonesia serta potensi AI sebagai subjek hukum dalam sistem hukum di Indonesia...

Back to Top