Javascript must be enabled to continue!
ANALISIS SOSIAL-BUDAYA TIANG RAJA ‘RERONDORAN’ SEBAGAI UNGKAPAN BAHASA BERMAKNA PADA SIKLUS KEHIDUPAN MASYARAKAT TONSEA
View through CrossRef
Abstract
The king’s Pillar 'rerondoran' as exist in Tonsean is a culture that embedded in out setting a household life. The king's Pillar 'rerondoran' is a pole that is used in the marriage ward 'sabua'. The installation of the king's pillar went through a ritual process which was loaded of cultural meaning. This article highlights about language expressions that possess cultural meaning in the human life cycle. This way of thinking departs from people's behavior which is determined by the concept of reality and reality is determined by language.
Culture is a complex idea. It encompasses all human’s observation as social beings; hence language is included. In relation with language and culture, ethno linguistics is a branch of linguistics that examines the relationship between language and culture, especially observing how language is used in social groups.
This article aims to reveal the cultural meaning attached to the king’s pillar 'rerondoran' in making the ward 'sabua' used by the Tonsean ethnic community in marital process.
As a qualitative descriptive research, this method is capable of revealing and collecting valid and reliable data to be analyzed in order to answer the issues raised regarding the expression of the language which has the cultural meaning of the king’s pillar 'rerondoran'. This method will attempt to describe and interpret objects by using inductive approach. The stages as the application of this method are data collection, data analysis, and data presentation as the results of analysis (Sudaryanto, 2015).
The results showed that the king's pillar 'rerondoran' is an important attribute to determine the process of the ward 'sabua' installation, because it is the main pillar that support for the establishment of the marriage ward 'sabua'. The progress in modern era has resulted in culture shifting. It is the primary argument in conducting this article restore Tonsean to the king’s pillar 'rerondoran' culture as a marker of the life cycle of the Tonsean.
Keywords: language, culture, ‘tiang raja’, expression, life cycle, society
Abstrak
Tiang raja ‘rerondoran’ dalam kehidupan masyarakat Tonsea merupakan budaya yang tertanam dalam mengawali kehidupan berumah tangga. Tiang raja ‘rerondoran’ adalah tiang yang ditanam di bangsal ‘sabua’ pernikahan. Penancapan tiang raja melewati proses ritual yang sarat makna budaya. Tulisan ini menyoroti tentang ungkapan bahasa yang memiliki makna budaya dalam siklus kehidupan manusia. Pemikiran ini berangkat dari prilaku masyarakat yang ditentukan oleh konsep mengenai kenyataan dan kenyataan ditentukan oleh bahasa.
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, mencakup semua yang diamati manusia sebagai mahluk sosial, hal ini menunjukkan bahwa bahasa termasuk di dalamnya. Terkait bahasa dan budaya, etnolinguistik adalah salah satu cabang linguistik yang menelaah hubungan bahasa dan budaya terutama mengamati bagaimana bahasa digunakan dalam kelompok masyarakat.
Penelitian ini bertujuan mengungkap makna budaya yang melekat dalam tiang raja ‘rerondoran’ dalam pembuatan bangsal ‘sabua’yang digunakan masyarakat etnis Tonsea dalam perkawinan. Sebagai penelitian deskriptif kualitatif metode ini dipandang mampu mengungkap dan menjaring data yang valid, terandal untuk dianalisis guna menjawab masalah yang diangkat terkait ungkapan bahasa bermakna budaya tiang raja ‘rerondoran’. Metode ini akan berusaha mendeskripsikan, memerikan dan menginterpretasi objek dengan pendekatan induktif. Penerapan metode ini meliputi tiga tahapan yaitu penyediaan data, analisis, dan penyajian hasil analisis (Sudaryanto, 2015).
Hasil penelitian ini menunjukkan tiang raja ‘rerondoran’ merupakan atribut penentu yang harus dipakai dalam proses membangun bangsal ‘sabua’, karena merupakan penyangga utama berdirinya bangsal ‘sabua’ pernikahan.
Kemajuan zaman berakibat bergesernya budaya, hal inilah yang mendasari diangkatnya penelitian ini untuk membawa kembali masyarakat Tonsea pada budaya tiang raja ‘rerondoran’ sebagai penanda siklus kehidupan masyarakat Tonsea.
Kata kunci: bahasa, budaya, tiang raja, ungkapan, siklus kehidupan, masyarakat
Title: ANALISIS SOSIAL-BUDAYA TIANG RAJA ‘RERONDORAN’ SEBAGAI UNGKAPAN BAHASA BERMAKNA PADA SIKLUS KEHIDUPAN MASYARAKAT TONSEA
Description:
Abstract
The king’s Pillar 'rerondoran' as exist in Tonsean is a culture that embedded in out setting a household life.
The king's Pillar 'rerondoran' is a pole that is used in the marriage ward 'sabua'.
The installation of the king's pillar went through a ritual process which was loaded of cultural meaning.
This article highlights about language expressions that possess cultural meaning in the human life cycle.
This way of thinking departs from people's behavior which is determined by the concept of reality and reality is determined by language.
Culture is a complex idea.
It encompasses all human’s observation as social beings; hence language is included.
In relation with language and culture, ethno linguistics is a branch of linguistics that examines the relationship between language and culture, especially observing how language is used in social groups.
This article aims to reveal the cultural meaning attached to the king’s pillar 'rerondoran' in making the ward 'sabua' used by the Tonsean ethnic community in marital process.
As a qualitative descriptive research, this method is capable of revealing and collecting valid and reliable data to be analyzed in order to answer the issues raised regarding the expression of the language which has the cultural meaning of the king’s pillar 'rerondoran'.
This method will attempt to describe and interpret objects by using inductive approach.
The stages as the application of this method are data collection, data analysis, and data presentation as the results of analysis (Sudaryanto, 2015).
The results showed that the king's pillar 'rerondoran' is an important attribute to determine the process of the ward 'sabua' installation, because it is the main pillar that support for the establishment of the marriage ward 'sabua'.
The progress in modern era has resulted in culture shifting.
It is the primary argument in conducting this article restore Tonsean to the king’s pillar 'rerondoran' culture as a marker of the life cycle of the Tonsean.
Keywords: language, culture, ‘tiang raja’, expression, life cycle, society
Abstrak
Tiang raja ‘rerondoran’ dalam kehidupan masyarakat Tonsea merupakan budaya yang tertanam dalam mengawali kehidupan berumah tangga.
Tiang raja ‘rerondoran’ adalah tiang yang ditanam di bangsal ‘sabua’ pernikahan.
Penancapan tiang raja melewati proses ritual yang sarat makna budaya.
Tulisan ini menyoroti tentang ungkapan bahasa yang memiliki makna budaya dalam siklus kehidupan manusia.
Pemikiran ini berangkat dari prilaku masyarakat yang ditentukan oleh konsep mengenai kenyataan dan kenyataan ditentukan oleh bahasa.
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, mencakup semua yang diamati manusia sebagai mahluk sosial, hal ini menunjukkan bahwa bahasa termasuk di dalamnya.
Terkait bahasa dan budaya, etnolinguistik adalah salah satu cabang linguistik yang menelaah hubungan bahasa dan budaya terutama mengamati bagaimana bahasa digunakan dalam kelompok masyarakat.
Penelitian ini bertujuan mengungkap makna budaya yang melekat dalam tiang raja ‘rerondoran’ dalam pembuatan bangsal ‘sabua’yang digunakan masyarakat etnis Tonsea dalam perkawinan.
Sebagai penelitian deskriptif kualitatif metode ini dipandang mampu mengungkap dan menjaring data yang valid, terandal untuk dianalisis guna menjawab masalah yang diangkat terkait ungkapan bahasa bermakna budaya tiang raja ‘rerondoran’.
Metode ini akan berusaha mendeskripsikan, memerikan dan menginterpretasi objek dengan pendekatan induktif.
Penerapan metode ini meliputi tiga tahapan yaitu penyediaan data, analisis, dan penyajian hasil analisis (Sudaryanto, 2015).
Hasil penelitian ini menunjukkan tiang raja ‘rerondoran’ merupakan atribut penentu yang harus dipakai dalam proses membangun bangsal ‘sabua’, karena merupakan penyangga utama berdirinya bangsal ‘sabua’ pernikahan.
Kemajuan zaman berakibat bergesernya budaya, hal inilah yang mendasari diangkatnya penelitian ini untuk membawa kembali masyarakat Tonsea pada budaya tiang raja ‘rerondoran’ sebagai penanda siklus kehidupan masyarakat Tonsea.
Kata kunci: bahasa, budaya, tiang raja, ungkapan, siklus kehidupan, masyarakat.
Related Results
HUBUNGAN EFISIENSI KAPASITAS DUKUNG TERHADAP JARAK ANTAR TIANG PADA KELOMPOK TIANG
HUBUNGAN EFISIENSI KAPASITAS DUKUNG TERHADAP JARAK ANTAR TIANG PADA KELOMPOK TIANG
This study aims to determine the most effective bored pile spacing to support the load of a structure. This study used a group pile configuration with dimensions 10x10, 30 m long, ...
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA MENGGUNAKAN MODEL Lc 7e SISWA MTsN 1 ACEH BARAT
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA MENGGUNAKAN MODEL Lc 7e SISWA MTsN 1 ACEH BARAT
Tujuan Penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A MTsN 1 Aceh Barat setelah menggunakan model pembelajaran Lc 7e. Pada siklus I dan s...
ANALISIS EFISIENSI TIANG UJUNG PADA FONDASI TIANG BOR DI PROYEK GADING SERPONG
ANALISIS EFISIENSI TIANG UJUNG PADA FONDASI TIANG BOR DI PROYEK GADING SERPONG
The foundation is a building structure that is below ground level to support the load above it. So the foundation selection must be adjusted to the load used and the carrying capac...
UJI TAHANAN TARIK MODEL FONDASI TIANG DALAM TANAH PASIR
UJI TAHANAN TARIK MODEL FONDASI TIANG DALAM TANAH PASIR
ABSTRACTCertain buildings limit displacement of pile foundation with relatively small value so as not to cause damage to the structure. Loading test directly in the field requires ...
MENENTUKAN WAKTU STANDAR PADA AKTIVITAS KERJA PRODUKSI SABLON MANUAL DI CV. DWIPUTRA IHWA
MENENTUKAN WAKTU STANDAR PADA AKTIVITAS KERJA PRODUKSI SABLON MANUAL DI CV. DWIPUTRA IHWA
Analisis waktu standar produksi merupakan salah satu analisis metoda kuantitatif yang dilakukan untuk mengukur waktu produksi dan bertujuan agar dapat memiliki waktu standar sebaga...
PENGARUH DIAMETER TIANG TERHADAP TAHANAN GESEK TIANG DALAM TANAH LEMPUNG
PENGARUH DIAMETER TIANG TERHADAP TAHANAN GESEK TIANG DALAM TANAH LEMPUNG
AbstractSome buildings impose limits on the foundation displacement that occur with relatively small values so as not to cause structural damage. The test method used was to make a...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
STUDI PERILAKU DAN KERUSAKAN TIANG MENGGUNAKAN DATA GETARAN PILE INTEGRITY TEST
STUDI PERILAKU DAN KERUSAKAN TIANG MENGGUNAKAN DATA GETARAN PILE INTEGRITY TEST
Abstrak: Fondasi merupakan salah satu struktur yang memiliki peranan penting sehingga diperlukan pemeriksaan secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan respon ti...

