Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

MEMORIZING PROPAGANDA OF EQUALITY IN NGULANDARA AND KIRTI NDJOENJOENG DRADJAT, NOVELS OF BALAI POESTAKA (Mengingat Kembali Propaganda Kesetaraan dalam Novel-Novel Balai Poestaka, Ngulandara dan Kirti Ndjoenjoeng Dradjat)

View through CrossRef
Equality of men is a great issue to maintain every country all the time. Indonesia is one of them which should struggle to maintain it so far. Fictional work is one of the aesthetical means to support it. The way of struggle can be memorized through the time of independence era in fictional works of Balai Poestaka publisher. Javanese language novels, Ngulandara and Kirti NdjoendjoengDradjat are two literary works published by BalaiPoestaka that were written in the dominance times of Balai Poestaka activities as commission for people’s reading in Dutch colonial era in Indonesia (Dutch Indies). Kepriyayian (nobility) was the theme of Ngulandara (1936) and Kirti NdjoendjoengDradjat(1924) novels. As seen from propaganda point of view, ideologically the portrayal of priyayi (nobleman) was analogy symbol of Dutch colonial government that ruled social system. Ngulandara and Kirti Njunjung Drajat showed a “struggle” through literary works as portrayed in wong cilik (Javanese: lower class people) who struggled against the existence of the authorities. The struggle emerged in the way of wong cilik behaved intellectually, morally, even mannerly better than the nobles (priyayi). This research used the theory of literature and propaganda using a sociological approach. Those oppositional relationships between deconstruction nobles and the raise of wong cilik in the field of intellectual, moral, and manner show the propaganda of equality of men through the voice of Jasawidagdo and Margana Djajaatmadja.Kesetaraan manusia merupakan isu besar yang harus selalu dijaga di setiap negara. Indonesia adalah salah satu negara yang harus tetap berjuang menjaga isu tersebut. Karya fiksi berfungsi sebagai salah satu peranti estetis untuk mendukung isu tersebut. Cara memperjuangkan isu tersebut ialah dengan mengingat kembali masa kemerdekaan melalui penerbit Balai Poestaka. Novel-novel berbahasa Jawa, Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat ialah dua karya sastra yang diterbitkan oleh Balai Poestaka yang ditulis pada waktu dominasi Balai Poestaka sebagai komisi bacaan rakyat di era kolonial Belanda di Indonesia (Hindia Belanda). Kepriyayian merupakan tema novel Ngulandara (1936) dan Kirti Njoendjoeng Dradjat (1924). Dilihat dari sudut pandang propaganda, penggambaran priyayi merupakan analogi simbol pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa mengatur sistem sosial kemasyarakatan. Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat menunjukkan sebuah “perjuangan” melalui karya sastra seperti digambarkan melalui wong cilik yang berjuang melawan kemapanan penguasa. Perjuangan tersebut muncul dengan cara wong cilik tersebut bertindak secara intelektual, bermoral, bahkan bersikap lebih terhormat daripada para priyayi. Penelitian ini menggunakan teori sastra dan propaganda dengan pendekatan sosiologi. Relasi oposisional antara dekonstruksi priyayi dan bangkitnya wong cilik dalam ranah intelektual, moral, dan sikap menunjukkan propaganda kesetaraan manusia melalui suara Jasawidagdo dan Margana Djajaatmadja.  
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Title: MEMORIZING PROPAGANDA OF EQUALITY IN NGULANDARA AND KIRTI NDJOENJOENG DRADJAT, NOVELS OF BALAI POESTAKA (Mengingat Kembali Propaganda Kesetaraan dalam Novel-Novel Balai Poestaka, Ngulandara dan Kirti Ndjoenjoeng Dradjat)
Description:
Equality of men is a great issue to maintain every country all the time.
Indonesia is one of them which should struggle to maintain it so far.
Fictional work is one of the aesthetical means to support it.
The way of struggle can be memorized through the time of independence era in fictional works of Balai Poestaka publisher.
Javanese language novels, Ngulandara and Kirti NdjoendjoengDradjat are two literary works published by BalaiPoestaka that were written in the dominance times of Balai Poestaka activities as commission for people’s reading in Dutch colonial era in Indonesia (Dutch Indies).
Kepriyayian (nobility) was the theme of Ngulandara (1936) and Kirti NdjoendjoengDradjat(1924) novels.
As seen from propaganda point of view, ideologically the portrayal of priyayi (nobleman) was analogy symbol of Dutch colonial government that ruled social system.
Ngulandara and Kirti Njunjung Drajat showed a “struggle” through literary works as portrayed in wong cilik (Javanese: lower class people) who struggled against the existence of the authorities.
The struggle emerged in the way of wong cilik behaved intellectually, morally, even mannerly better than the nobles (priyayi).
This research used the theory of literature and propaganda using a sociological approach.
Those oppositional relationships between deconstruction nobles and the raise of wong cilik in the field of intellectual, moral, and manner show the propaganda of equality of men through the voice of Jasawidagdo and Margana Djajaatmadja.
Kesetaraan manusia merupakan isu besar yang harus selalu dijaga di setiap negara.
Indonesia adalah salah satu negara yang harus tetap berjuang menjaga isu tersebut.
Karya fiksi berfungsi sebagai salah satu peranti estetis untuk mendukung isu tersebut.
Cara memperjuangkan isu tersebut ialah dengan mengingat kembali masa kemerdekaan melalui penerbit Balai Poestaka.
Novel-novel berbahasa Jawa, Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat ialah dua karya sastra yang diterbitkan oleh Balai Poestaka yang ditulis pada waktu dominasi Balai Poestaka sebagai komisi bacaan rakyat di era kolonial Belanda di Indonesia (Hindia Belanda).
Kepriyayian merupakan tema novel Ngulandara (1936) dan Kirti Njoendjoeng Dradjat (1924).
Dilihat dari sudut pandang propaganda, penggambaran priyayi merupakan analogi simbol pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa mengatur sistem sosial kemasyarakatan.
Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat menunjukkan sebuah “perjuangan” melalui karya sastra seperti digambarkan melalui wong cilik yang berjuang melawan kemapanan penguasa.
Perjuangan tersebut muncul dengan cara wong cilik tersebut bertindak secara intelektual, bermoral, bahkan bersikap lebih terhormat daripada para priyayi.
Penelitian ini menggunakan teori sastra dan propaganda dengan pendekatan sosiologi.
Relasi oposisional antara dekonstruksi priyayi dan bangkitnya wong cilik dalam ranah intelektual, moral, dan sikap menunjukkan propaganda kesetaraan manusia melalui suara Jasawidagdo dan Margana Djajaatmadja.
  .

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Nilai Nilai Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Pembelajaran PAI di SD 05 Binanga Dua Labuhanbatu Selatan
Nilai Nilai Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Pembelajaran PAI di SD 05 Binanga Dua Labuhanbatu Selatan
Penelitian ini mengkaji penerapan nilai-nilai kesetaraan gender dalam pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD 05 Binanga Dua. Pokok masalah yang diangkat adalah...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
KRITIK WACANA TAFSIR ATAS TEOLOGI KESETARAAN GENDER RIFFAT HASSAN
KRITIK WACANA TAFSIR ATAS TEOLOGI KESETARAAN GENDER RIFFAT HASSAN
Abstract: This article discuss about how theology construct worked by Riffat Hassan to realize gender equality and how the implication caused from gender equality and how the relat...
Propaganda
Propaganda
Propaganda has a rich history and an equally rich literature. Scholars do not always agree on a single definition of propaganda, but Jowett and O’Donnell’s 2019 book, Propaganda an...
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
ABSTRACT Character education is one of the activities that aims to educate future generations by perfecting students self by training their self-ability towards a better life...
Sosialisasi kesetaraan gender dalam olahraga bolavoli
Sosialisasi kesetaraan gender dalam olahraga bolavoli
Perjuangan persamaan gender sampai saat ini terus berlanjut, masih menjadi permasalahan yang penting untuk dikampanyekan kepada khalayak dalam hal ini pelatih olahraga bolavoli. Tu...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...

Back to Top