Javascript must be enabled to continue!
Hubungan Status BPJS dengan Kegagalan Terapi Tuberkulosis Berdasarkan Data Sampel BPJS Indonesia Tahun 2019-2021
View through CrossRef
Abstract. Tuberculosis (TB) is a contagious disease and a global health concern. Indonesia has the second-highest TB burden worldwide caused by the Mycobacterium tuberculosis bacteria which can lead to severe complications particularly if treatment fails. The National Health Insurance Program (JKN) by BPJS Kesehatan has provided widespread access to TB treatment. However, differences in BPJS membership status, namely Contribution Assistance Beneficiaries (PBI) and NonPBI members, are suspected to influence treatment success rates. This study employed a retrospective cohort design, analyzing secondary data from 21,763 TB patients between 2019 and 2021. The analysis utilized the Risk Ratio (RR) method with a 95% Confidence Interval (CI) to evaluate the relationship between BPJS status and treatment success. Among the 21,763 samples, 11,209 patients (51.50%) were classified as PBI members, while 10,554 patients (48.50%) were Non-PBI members. The overall treatment success rate was exceptionally low, with only 0.6% of patients declared cured. Non-PBI patients were found to have a higher risk of treatment failure compared to PBI patients, with a Risk Ratio (RR) of 1.973 (95% CI = 1.367–2.846, p < 0.05). The study shows a significant relationship between BPJS status and TB treatment failure. These findings highlight the importance of strengthening early detection programs, education, and further interventions to improve treatment success among Non-PBI patients.
Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan global, dengan Indonesia memiliki beban TB tertinggi kedua di dunia yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menyebabkan komplikasi serius terutama jika pengobatan tidak berhasil. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan telah memberikan akses pengobatan TB secara luas namun perbedaan status kepesertaan BPJS, yaitu Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Non-PBI diduga memengaruhi keberhasilan terapi. Penelitian menggunakan desain cohort retrospective. Data sekunder sebanyak 21.763 sampel pasien TB dari periode 2019–2021 dianalisis menggunakan metode Risk Ratio (RR) dengan Confidence Interval (CI) 95% untuk menilai hubungan antara status BPJS dan keberhasilan terapi. Dari 21.763 sampel, bahwa pasien yang memiliki status PBI sebanyak 11.209 orang atau 51,50%, sementara jumlah pasien dengan status Non-PBI sebanyak 10.554 orang atau 48,50%. Untuk tingkat keberhasilan terapi secara keseluruhan sangat rendah, dengan hanya 0,6% pasien yang dinyatakan sembuh. Pasien Non-PBI memiliki risiko kegagalan terapi lebih tinggi dibandingkan pasien PBI, dengan Risk Ratio (RR) sebesar 1,973 (CI 95% = 1,367–2,846, p < 0,05). Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status BPJS dan kegagalan terapi TB. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan program deteksi dini, edukasi, dan intervensi lebih lanjut untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan pada pasien Non-PBI.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Hubungan Status BPJS dengan Kegagalan Terapi Tuberkulosis Berdasarkan Data Sampel BPJS Indonesia Tahun 2019-2021
Description:
Abstract.
Tuberculosis (TB) is a contagious disease and a global health concern.
Indonesia has the second-highest TB burden worldwide caused by the Mycobacterium tuberculosis bacteria which can lead to severe complications particularly if treatment fails.
The National Health Insurance Program (JKN) by BPJS Kesehatan has provided widespread access to TB treatment.
However, differences in BPJS membership status, namely Contribution Assistance Beneficiaries (PBI) and NonPBI members, are suspected to influence treatment success rates.
This study employed a retrospective cohort design, analyzing secondary data from 21,763 TB patients between 2019 and 2021.
The analysis utilized the Risk Ratio (RR) method with a 95% Confidence Interval (CI) to evaluate the relationship between BPJS status and treatment success.
Among the 21,763 samples, 11,209 patients (51.
50%) were classified as PBI members, while 10,554 patients (48.
50%) were Non-PBI members.
The overall treatment success rate was exceptionally low, with only 0.
6% of patients declared cured.
Non-PBI patients were found to have a higher risk of treatment failure compared to PBI patients, with a Risk Ratio (RR) of 1.
973 (95% CI = 1.
367–2.
846, p < 0.
05).
The study shows a significant relationship between BPJS status and TB treatment failure.
These findings highlight the importance of strengthening early detection programs, education, and further interventions to improve treatment success among Non-PBI patients.
Abstrak.
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan global, dengan Indonesia memiliki beban TB tertinggi kedua di dunia yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menyebabkan komplikasi serius terutama jika pengobatan tidak berhasil.
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan telah memberikan akses pengobatan TB secara luas namun perbedaan status kepesertaan BPJS, yaitu Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Non-PBI diduga memengaruhi keberhasilan terapi.
Penelitian menggunakan desain cohort retrospective.
Data sekunder sebanyak 21.
763 sampel pasien TB dari periode 2019–2021 dianalisis menggunakan metode Risk Ratio (RR) dengan Confidence Interval (CI) 95% untuk menilai hubungan antara status BPJS dan keberhasilan terapi.
Dari 21.
763 sampel, bahwa pasien yang memiliki status PBI sebanyak 11.
209 orang atau 51,50%, sementara jumlah pasien dengan status Non-PBI sebanyak 10.
554 orang atau 48,50%.
Untuk tingkat keberhasilan terapi secara keseluruhan sangat rendah, dengan hanya 0,6% pasien yang dinyatakan sembuh.
Pasien Non-PBI memiliki risiko kegagalan terapi lebih tinggi dibandingkan pasien PBI, dengan Risk Ratio (RR) sebesar 1,973 (CI 95% = 1,367–2,846, p < 0,05).
Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status BPJS dan kegagalan terapi TB.
Temuan ini menekankan pentingnya penguatan program deteksi dini, edukasi, dan intervensi lebih lanjut untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan pada pasien Non-PBI.
Related Results
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
PEMETAAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS DI KOTA PAREPARE
PEMETAAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS DI KOTA PAREPARE
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian yang disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium tuberculosis). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peme...
Perlindungan Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam Memperoleh Pelayanan Operasi Katarak di Rumah Sakit
Perlindungan Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam Memperoleh Pelayanan Operasi Katarak di Rumah Sakit
Abstract
The limited financial capacity of BPJS Health is one of the problems faced by the National Health Insurance (JKN) program. As an effort to answer this problem, BPJS ...
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Pendahuluan. Pada negara dengan keterbatasan sumber daya, pengukuran viral load (VL) sebagai prediktor efektivitas terapi antiretroviral (ARV) tidak selalu mudah untuk diakses oleh...
ANALISIS KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS WARUNGGUNUNG DAN PUSKESMAS BAROS TAHUN 2023
ANALISIS KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS WARUNGGUNUNG DAN PUSKESMAS BAROS TAHUN 2023
Salah satu indikator utama pemantauan kualitas pelayanan adalah kepuasan pelanggan, ini berasal dari fakta bahwa harapan pelanggan telah dipenuhi oleh layanan yang mereka terima. P...
Gambaran Status Gizi Pasien Tuberkulosis Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Gambaran Status Gizi Pasien Tuberkulosis Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang
AbstrakPrevalensi kejadian tuberkulosis pada anak di Sumatera Barat cukup tinggi, salah satu faktor risikonya adalah status gizi. Anak dengan gizi buruk akan mengakibatkan kekurusa...
GAMBARAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SEMANDING
GAMBARAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SEMANDING
ABSTRAK Tuberkulosis Paru telah menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia dan angka keberhasilan pengobatan merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat...
Hubungan Fase Pengobatan Tuberkulosis dengan Status Gizi Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cakranegara
Hubungan Fase Pengobatan Tuberkulosis dengan Status Gizi Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cakranegara
Latar Belakang: Indonesia merupakan negara dengan kasus Tuberkulosis tertinggi nomor tiga di dunia. Infeksi TB dapat menyebabkan penurunan nafsu makan dan perubahan metabolisme tub...

