Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KARAKTERISTIK DAN POTENSI PENGGUNAAN IRIDIATOR MERAH PUTIH UNTUK PENANGANAN PRODUK PANGAN HASIL PERTANIAN

View through CrossRef
<p>Iradiator gamma, yang diberi nama iriradiator Merah Putih, telah selesai dibangun dan diisi dengan sumber Cobalt-60 dengan kapasitas sekitar 300 kCi. Dirancang untuk multiguna, iriadiator ini harus dapat menyediakan berbagai dosis serap dari rendah hingga tinggi. Sistem kontrol mengijinkan 4 opsi kombinasi rak-rak sumber dengan opsi aktivitas terkceil adalah 41,2 kCi. Di dalam bungker, produk akan menjalani mekanisme laluan iradiasi dengan tujuan agar mendapatkan dosis serap iradiasi yang beragam. Bungker menyediakan 72 posisi iradiasi. Di setiap posisi iradiasi, gerakan produk dapat dihentikan untuk jeda waktu tertentu menyesuaikan dosis serap iradiasi yang diinginkan. Waktu minimum bagi produk menyelesaikan menkanisme laluan iradiasi adalah 78,5 menit. Pengujian dosis dosimetri menunjukkan bahwa laju dosis serap opsi pengoperasiaan aktivitas sumber terkecil adalah 0,22 kGy per jam. Rasio Dmaks/Dmin bergantung pada densitas produk. Untuk densitas 0,2, 0,4, dan 0,6 g/cm3, rasio keseragaman dosis masing-masing adalah 1,54, 1,65, dan 1,71. Kombinasi karakterisasi mekanik dan dosimetri mengantarkan pada dosis serap minimum yang mungkin diperoleh sebesar 0,29 kGy. Dengan batasan minimum ini, segala tujuan iradiasi yang membutuhkan lebih besar dari dosis tersebut sangat dimungkinkan menggunakan iradiator Merah Putih seperti untuk karantina buah segar, pengawetan biji-biji serelia, buah-buahan kering, dan lain-lain. Permasalahan kapasitas produk juga menjadi bahan pertimbangan. Kapasitas produksi iradiasi bergantung berbagai parameter seperti dosis serap iradiasi yang diinginkan dan densitas produk, serta parameter operasional lainnya. Jika dibutuhkan dosis serap iradiasi Gy dan densitas produk 0,4 gr/cm3, maka kapasitas produksinya adalah 3,17 ton/jam atau 76 ton/hari. Kapasitas dapat berubah bila parameter iradiator juga berubah.</p><p> </p><p><strong>Characterisation and Potential use of Irradiator Red and White for Handling Food Product Agricultural.</strong></p><p>A gamma irrdiator called Irradiator Merah Putih, has been contructed and loaded with Cobalt-60 sources having a total activity of about 300 kCi. Designed for multipurposes, the irriditor should be able to provide low-to-high absorbed doses. The control system allows 4 options for combination of source racks with the smallest activity option is 41.2 kCi. Inside the irridiator bunker, the product to be irradiated will undergo an irridiation source pass mechanism in order to obetain uniform irradition absorbed dose. The bunker provides as many as 72 irradiation positions. At its position, the product maybe stopped for certain period of delight adjusting the desired irradition dose. The minimum time for the product to complete the source pass mechanism is 78.5 minutes. The dosimetry test showed that the absorbed dose rate for the smallest source activy operation was 0.22 kGy/hr. The Dmax/Dmin ratio depend on the product densitiy. For densities 0.2, 0.4, and 0.6 g/cm3, the dose uniformity ratios were respectively 1.54, 1.65, and 1.71. The combination of both mechanical and dosimetry characterization leads to a minimum absorbed dose of 0.29 kGy. With this minimum restriction, any irradiation objective requiring greater than that dose is posible using the irradiator Merah Putih such as for fresh fruit, quarantine, presservation of ceral grains, dried fruits,and others. The irradiator’s throughput is also considered. The irradiation capasity depends on various parameters such as the desired irradiation absorbed dose and the density of thr product as well as other operational paramters. If a 400 Gy of irradiation of absorbed dose is required for a product with the density of 0.4 g/cm3, its production capacity is about 3.17 ton/h or 76 ton/day. The capasity may change when irradiator operational parameters are also change.</p>
Title: KARAKTERISTIK DAN POTENSI PENGGUNAAN IRIDIATOR MERAH PUTIH UNTUK PENANGANAN PRODUK PANGAN HASIL PERTANIAN
Description:
<p>Iradiator gamma, yang diberi nama iriradiator Merah Putih, telah selesai dibangun dan diisi dengan sumber Cobalt-60 dengan kapasitas sekitar 300 kCi.
Dirancang untuk multiguna, iriadiator ini harus dapat menyediakan berbagai dosis serap dari rendah hingga tinggi.
Sistem kontrol mengijinkan 4 opsi kombinasi rak-rak sumber dengan opsi aktivitas terkceil adalah 41,2 kCi.
Di dalam bungker, produk akan menjalani mekanisme laluan iradiasi dengan tujuan agar mendapatkan dosis serap iradiasi yang beragam.
Bungker menyediakan 72 posisi iradiasi.
Di setiap posisi iradiasi, gerakan produk dapat dihentikan untuk jeda waktu tertentu menyesuaikan dosis serap iradiasi yang diinginkan.
Waktu minimum bagi produk menyelesaikan menkanisme laluan iradiasi adalah 78,5 menit.
Pengujian dosis dosimetri menunjukkan bahwa laju dosis serap opsi pengoperasiaan aktivitas sumber terkecil adalah 0,22 kGy per jam.
Rasio Dmaks/Dmin bergantung pada densitas produk.
Untuk densitas 0,2, 0,4, dan 0,6 g/cm3, rasio keseragaman dosis masing-masing adalah 1,54, 1,65, dan 1,71.
Kombinasi karakterisasi mekanik dan dosimetri mengantarkan pada dosis serap minimum yang mungkin diperoleh sebesar 0,29 kGy.
Dengan batasan minimum ini, segala tujuan iradiasi yang membutuhkan lebih besar dari dosis tersebut sangat dimungkinkan menggunakan iradiator Merah Putih seperti untuk karantina buah segar, pengawetan biji-biji serelia, buah-buahan kering, dan lain-lain.
Permasalahan kapasitas produk juga menjadi bahan pertimbangan.
Kapasitas produksi iradiasi bergantung berbagai parameter seperti dosis serap iradiasi yang diinginkan dan densitas produk, serta parameter operasional lainnya.
Jika dibutuhkan dosis serap iradiasi Gy dan densitas produk 0,4 gr/cm3, maka kapasitas produksinya adalah 3,17 ton/jam atau 76 ton/hari.
Kapasitas dapat berubah bila parameter iradiator juga berubah.
</p><p> </p><p><strong>Characterisation and Potential use of Irradiator Red and White for Handling Food Product Agricultural.
</strong></p><p>A gamma irrdiator called Irradiator Merah Putih, has been contructed and loaded with Cobalt-60 sources having a total activity of about 300 kCi.
Designed for multipurposes, the irriditor should be able to provide low-to-high absorbed doses.
The control system allows 4 options for combination of source racks with the smallest activity option is 41.
2 kCi.
Inside the irridiator bunker, the product to be irradiated will undergo an irridiation source pass mechanism in order to obetain uniform irradition absorbed dose.
The bunker provides as many as 72 irradiation positions.
At its position, the product maybe stopped for certain period of delight adjusting the desired irradition dose.
The minimum time for the product to complete the source pass mechanism is 78.
5 minutes.
The dosimetry test showed that the absorbed dose rate for the smallest source activy operation was 0.
22 kGy/hr.
The Dmax/Dmin ratio depend on the product densitiy.
For densities 0.
2, 0.
4, and 0.
6 g/cm3, the dose uniformity ratios were respectively 1.
54, 1.
65, and 1.
71.
The combination of both mechanical and dosimetry characterization leads to a minimum absorbed dose of 0.
29 kGy.
With this minimum restriction, any irradiation objective requiring greater than that dose is posible using the irradiator Merah Putih such as for fresh fruit, quarantine, presservation of ceral grains, dried fruits,and others.
The irradiator’s throughput is also considered.
The irradiation capasity depends on various parameters such as the desired irradiation absorbed dose and the density of thr product as well as other operational paramters.
If a 400 Gy of irradiation of absorbed dose is required for a product with the density of 0.
4 g/cm3, its production capacity is about 3.
17 ton/h or 76 ton/day.
The capasity may change when irradiator operational parameters are also change.
</p>.

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
Pemanfaatan Media Sosial Terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian Di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar
Pemanfaatan Media Sosial Terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian Di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar
Abstrak . Pesannya pengguna media sosial saat ini berpotensi untuk dimanfaatkan oleh semua profesi termasuk penyuluh sebagai sumber belajar dan media informasi pertanian. Melalui p...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., &amp; Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Kebijakan Strategis Pengelolaan Cadangan Pangan Beras Nasional
Kebijakan Strategis Pengelolaan Cadangan Pangan Beras Nasional
I. Pendahuluan 1. Stabilisasi pasokan dan harga pangan merupakan aspek penting untuk mencapai ketahanan pangan. Salah satu upaya untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan ...
Strategi Pengembangan Diversifikasi Pangan Lokal
Strategi Pengembangan Diversifikasi Pangan Lokal
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis capaian diversifikasi konsumsi pangan dan menyusun strategi pengembangan diversifikasi pangan berbasis pangan lokal. Data yang digunakan ad...
PENGARUH AMELIORAN DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH GAMBUT
PENGARUH AMELIORAN DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH GAMBUT
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi, baik ditinjau dari sisi pemenuhan untuk konsumsi nasional, sebagai sumber peng...
PENGOPTIMALAN PRODUKSI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DENGAN PEMANFAATAN PUPUK KANDANG AYAM
PENGOPTIMALAN PRODUKSI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DENGAN PEMANFAATAN PUPUK KANDANG AYAM
Bawang merah (Allium Ascalonicum L.) merupakan family dari Lilyceae yang berasal dari Asia Tengah, yaitu sekitar Bangladesh, India, dan Pakistan. Bawang merah merupakan salah satu ...

Back to Top