Javascript must be enabled to continue!
Strategi Peningkatan Kualitas Permukiman berdasarkan Livable Settlement RW 10 Rancaekek Kencana
View through CrossRef
Abstract. Urbanization in Indonesia continues to increase, with an estimated 60% of the population living in cities by 2025. This phenomenon demands the concept of livable settlement to create livable, comfortable and sustainable settlements. This research was conducted in RW 10 Kelurahan Rancaekek Kencana, Bandung Regency, with the aim of evaluating the quality of settlements based on livable settlement criteria and designing strategies to improve them. The research method used qualitative and quantitative approaches through field observations, interviews, literature studies, institutional surveys, as well as descriptive and SWOT analysis. The results showed a number of problems, such as limited public transportation, lack of green open space (RTH), poor waste management, unmaintained drainage system, and road infrastructure that does not meet the standards. On the other hand, potentials such as the availability of education, health, and worship facilities can be optimized to support the quality of life of the community. The proposed strategies include vertical green space development, integrated waste management, improved transportation and infrastructure, and environmental education programs for the community. This strategy is expected to improve the quality of life, comfort, and sustainability of the settlement environment in RW 10. Active collaboration between the community and the government is key in realizing a settlement that is in accordance with the concept of livable settlement.
Abstrak. Urbanisasi di Indonesia terus meningkat, dengan estimasi 60% populasi akan tinggal di perkotaan pada tahun 2025. Fenomena ini menuntut adanya konsep livable settlement untuk menciptakan permukiman yang layak huni, nyaman, dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan di RW 10 Kelurahan Rancaekek Kencana, Kabupaten Bandung, dengan tujuan mengevaluasi kualitas permukiman berdasarkan kriteria livable settlement dan merancang strategi peningkatannya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui observasi lapangan, wawancara, studi literatur, survei instansional, serta analisis deskriptif dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan sejumlah permasalahan, seperti keterbatasan transportasi umum, minimnya ruang terbuka hijau (RTH), buruknya pengelolaan sampah, sistem drainase yang tidak terpelihara, serta infrastruktur jalan yang belum memenuhi standar. Di sisi lain, potensi seperti tersedianya fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peribadatan dapat dioptimalkan untuk mendukung kualitas hidup masyarakat. Strategi yang diusulkan meliputi pembangunan RTH vertikal, pengelolaan sampah terintegrasi, peningkatan transportasi dan infrastruktur, serta program edukasi lingkungan bagi masyarakat. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup, kenyamanan, dan keberlanjutan lingkungan permukiman di RW 10. Kolaborasi aktif antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci dalam mewujudkan permukiman yang sesuai dengan konsep livable settlement.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Strategi Peningkatan Kualitas Permukiman berdasarkan Livable Settlement RW 10 Rancaekek Kencana
Description:
Abstract.
Urbanization in Indonesia continues to increase, with an estimated 60% of the population living in cities by 2025.
This phenomenon demands the concept of livable settlement to create livable, comfortable and sustainable settlements.
This research was conducted in RW 10 Kelurahan Rancaekek Kencana, Bandung Regency, with the aim of evaluating the quality of settlements based on livable settlement criteria and designing strategies to improve them.
The research method used qualitative and quantitative approaches through field observations, interviews, literature studies, institutional surveys, as well as descriptive and SWOT analysis.
The results showed a number of problems, such as limited public transportation, lack of green open space (RTH), poor waste management, unmaintained drainage system, and road infrastructure that does not meet the standards.
On the other hand, potentials such as the availability of education, health, and worship facilities can be optimized to support the quality of life of the community.
The proposed strategies include vertical green space development, integrated waste management, improved transportation and infrastructure, and environmental education programs for the community.
This strategy is expected to improve the quality of life, comfort, and sustainability of the settlement environment in RW 10.
Active collaboration between the community and the government is key in realizing a settlement that is in accordance with the concept of livable settlement.
Abstrak.
Urbanisasi di Indonesia terus meningkat, dengan estimasi 60% populasi akan tinggal di perkotaan pada tahun 2025.
Fenomena ini menuntut adanya konsep livable settlement untuk menciptakan permukiman yang layak huni, nyaman, dan berkelanjutan.
Penelitian ini dilakukan di RW 10 Kelurahan Rancaekek Kencana, Kabupaten Bandung, dengan tujuan mengevaluasi kualitas permukiman berdasarkan kriteria livable settlement dan merancang strategi peningkatannya.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui observasi lapangan, wawancara, studi literatur, survei instansional, serta analisis deskriptif dan SWOT.
Hasil penelitian menunjukkan sejumlah permasalahan, seperti keterbatasan transportasi umum, minimnya ruang terbuka hijau (RTH), buruknya pengelolaan sampah, sistem drainase yang tidak terpelihara, serta infrastruktur jalan yang belum memenuhi standar.
Di sisi lain, potensi seperti tersedianya fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peribadatan dapat dioptimalkan untuk mendukung kualitas hidup masyarakat.
Strategi yang diusulkan meliputi pembangunan RTH vertikal, pengelolaan sampah terintegrasi, peningkatan transportasi dan infrastruktur, serta program edukasi lingkungan bagi masyarakat.
Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup, kenyamanan, dan keberlanjutan lingkungan permukiman di RW 10.
Kolaborasi aktif antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci dalam mewujudkan permukiman yang sesuai dengan konsep livable settlement.
Related Results
Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau dan Prasarana Lingkungan Permukiman Kekalik Timur Kota Mataram
Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau dan Prasarana Lingkungan Permukiman Kekalik Timur Kota Mataram
Lingkungan permukiman Kekalik Timur mengalami pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan, hal ini dapat mempengaruhi ruang terbuka hijau dan ketersediaan prasarana lingkungan ya...
Kajian Kinerja Livable City Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung
Kajian Kinerja Livable City Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung
Abstract. The population and density in urban areas are growing drastically, including Bojongloa Kaler Sub-district, which is the most populous sub-district in Bandung City. Even s...
PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH MASYARAKAT PESISIR DI DESA SANGSIT
PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH MASYARAKAT PESISIR DI DESA SANGSIT
Desa Sangsit merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Buleleng yang memiliki sumberdaya kelautan yang potensial. Kenyataan ini didukung dengan peningkatan produktivitas hasil tangka...
Pelaksanaan Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Permukiman (Studi di Kota Mataram)
Pelaksanaan Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Permukiman (Studi di Kota Mataram)
Pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman, khususnya kawasan perkotaan harus senantiasa memperhatikan penataan ruang yang berlaku dikota yang bersangkutan. Sehingga terdapat...
Upaya Pencegahan Penularan TB dari Dewasa terhadap Anak
Upaya Pencegahan Penularan TB dari Dewasa terhadap Anak
TB (TB) pada anak mencerminkan transmisi TB yang terus berlangsung di populasi. Laju penularan TB pada anak tidak terlepas dari penderita TB dewasa Basil Tahan Asam(BTA) positif ya...
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERADAAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI SURAKARTA
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERADAAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI SURAKARTA
<p class="Style1">Kawasan permukiman kumuh merupakan kawasan yang terabaikan dari pembangunan kota dengan kondisi lingkungan permukiman yang mengalami penurunan kualitas fisi...
Perubahan Sosial pada Masyarakat Rancaekek Tahun 1980-2015
Perubahan Sosial pada Masyarakat Rancaekek Tahun 1980-2015
AbstrakTulisan ini membahas Perubahan Sosial pada Masyarakat Rancaekek sejak1980 sampai 2015. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui perubahan sosialyang terjadi pada masyara...
Pola Sebaran Permukiman Terdampak Lumpur Lapindo Sidoarjo
Pola Sebaran Permukiman Terdampak Lumpur Lapindo Sidoarjo
Bencana lumpur lapindo merupakan peristiwa semburan lumpur panas yang terjadi sejak 29 Mei 2006, yang mana bencana tersebut menimbulkan berbagai permasalahan seperti tergenangnya k...

