Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PENGARUH DURASI PENCAMPURAN TERHADAP MECHANICAL PROPERTIES CRUCIBLE PELEBURAN ALUMINIUM

View through CrossRef
Proses pencampuran perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya agglomeration sehingga dapat meningkatkan kualiatas dari produk crucible. Pencampuran adalah proses mencampurkan satu atau lebih bahan dengan menambahkan satu bahan ke bahan lainnya sehingga membuat suatu bentuk yang seragam. Oleh sebab itu, diperlukan suatu kajian untuk mengetahui pengaruh durasi pencampuran terhadap sifat mekanik pada material crucible yang dihasilkan. Spesimen crucible dibuat dengan mencampurkan semen tahan api, limbah evaporation boats, dan kaolin dengan komposisi tertentu. Proses pencampuran bahan dilakukan selama 30, 60 dan 90 menit dengan penambahan air sebanyak 15% dari total berat material. Proses kompaksi dilakukan dengan tekanan sebesar 40 kg/cm . Spesimen yang terbentuk didiamkan pada suhu 30°C selama 7 hari sebelum di sintering. Proses sintering dilakukan pada suhu 1000°C selama 2 jam menggunakan furnace untuk menghasilkan produk akhir. Proses karakterisasi pada penelitian ini menggunakan pengujian kekerasan dan foto makro. Hasil penelitian ini menunjukan spesimen dengan durasi mixing yang paling lama (90 menit) memiliki kekersan yang paling tinggi dikarenakan campuran bahan yang dihasilkan lebih homogen dibandingkan spesimen yang lain.
Title: PENGARUH DURASI PENCAMPURAN TERHADAP MECHANICAL PROPERTIES CRUCIBLE PELEBURAN ALUMINIUM
Description:
Proses pencampuran perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya agglomeration sehingga dapat meningkatkan kualiatas dari produk crucible.
Pencampuran adalah proses mencampurkan satu atau lebih bahan dengan menambahkan satu bahan ke bahan lainnya sehingga membuat suatu bentuk yang seragam.
Oleh sebab itu, diperlukan suatu kajian untuk mengetahui pengaruh durasi pencampuran terhadap sifat mekanik pada material crucible yang dihasilkan.
Spesimen crucible dibuat dengan mencampurkan semen tahan api, limbah evaporation boats, dan kaolin dengan komposisi tertentu.
Proses pencampuran bahan dilakukan selama 30, 60 dan 90 menit dengan penambahan air sebanyak 15% dari total berat material.
Proses kompaksi dilakukan dengan tekanan sebesar 40 kg/cm .
Spesimen yang terbentuk didiamkan pada suhu 30°C selama 7 hari sebelum di sintering.
Proses sintering dilakukan pada suhu 1000°C selama 2 jam menggunakan furnace untuk menghasilkan produk akhir.
Proses karakterisasi pada penelitian ini menggunakan pengujian kekerasan dan foto makro.
Hasil penelitian ini menunjukan spesimen dengan durasi mixing yang paling lama (90 menit) memiliki kekersan yang paling tinggi dikarenakan campuran bahan yang dihasilkan lebih homogen dibandingkan spesimen yang lain.

Related Results

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN DAPUR PELEBURAN ALUMINIUM BERBAHAN BAKAR GAS (LPG)
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN DAPUR PELEBURAN ALUMINIUM BERBAHAN BAKAR GAS (LPG)
Industri pengecoran sangat dibutuhkan dalam pengembangan suatu produk, baik permesinan maupun produk rumah tangga. Dapur peleburan logam (furnace) merupakan suatu alat yang penting...
ANALISIS SISTEM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI PERUSAHAAN PELEBURAN BAJA
ANALISIS SISTEM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI PERUSAHAAN PELEBURAN BAJA
Industri peleburan baja di Sidoarjo merupakan salah satu perusahaan special steel yang diperhitungkan dalam industri peleburan baja. Pada industri peleburan baja di Sidoarjo ini me...
Bahan Bakar dan Tanur
Bahan Bakar dan Tanur
Penulisan buku ajar ini disusun atas 10 bab, supaya mahasiswa mudah memahaminya dan mengerti tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk teknik peleburan besi. Baik dari prilaku ...
Sediment aluminium content of Lakes Rotorua and Rotoehu: 2020 monitoring survey
Sediment aluminium content of Lakes Rotorua and Rotoehu: 2020 monitoring survey
The application of aluminium sulphate (alum) to freshwater systems is commonly undertaken in order to restrict the availability of dissolved reactive phosphate (DRP), thereby reduc...
Toxicological effects of aluminium in relation to diel pH changes on fish and kōura
Toxicological effects of aluminium in relation to diel pH changes on fish and kōura
Since 2006, alum (aluminium sulphate; Al₂(SO₄)₃) has been applied to the Utuhina and Puarenga Streams at a targeted dose rate of 1 mg Al L⁻¹ to control phosphorus loading to Lake R...
Pengembangan getuk kacang tolo sebagai makanan selingan alternatif kaya serat
Pengembangan getuk kacang tolo sebagai makanan selingan alternatif kaya serat
<p><strong>ABSTRACT</strong></p><p><em><strong>Background</strong>: Getuk is traditional food that is familiar in all age group. How...

Back to Top