Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KAJIAN FUNGSI PANTUN BAANTARAN ETNIK BANJAR MENGGUNAKAN TEORI HERMENEUTIKA

View through CrossRef
AbstrakMetode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif yang artinya penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus. Peneliti menentukan subjek penelitian dengan teknik purposive sampling dengan pertimbangan tertentu, yaitu observasi secara deskriptif pada prosesi lamaran masyarakat etnik Banjar dengan melihat adat dan budaya yang menyertainya. Disamping itu penelitian ini juga mengunakan teori hermeneutika yang merupakan kegiatan penafsiran pada umumnya melibatkan beberapa unsur, yaitu teks, mediator, dan pembaca. Hasil penelitian ini mengetahui fungsi pantun baantaran serta menambah khasanah nilai kearifan lokal dalam hal berbalas pantun pada prosesi lamaran masyarakat Banjar. Penelitian ini menggali tentang prosesi adat dan budaya lamaran di daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan berupa penggunaan pantun sebagai tradisi lisan yang sering dilakukan dalam sebuah lamaran perkawinan. Berbalas pantun sebagai budaya lokal yang menggunakan sastra lisan untuk melamar dan menerima mempelai.  Pantun baantaran mempunyai beberapa fungsi diantaranya: 1. Sebagai sarana beramah tamah keluarga dari kedua belah mempelai.  2. Pendahuluan dalam kegiatan lamaran. 3. Isi dari pantun biasanya berisi nasihat. 4. Ungkapan terima kasih dari pihak perempuan maupun pihak laki-laki. 5. Pantun baantaran sebagai ciri khas tradisi lisan masyarakat Banjar atau etnik Banjar.Kata kunci: pantun baantaran, teori hermeneutika, etnik banjar. AbstractThis research method uses descriptive qualitative, which means research using a case study method or approach. The researcher determined the research subjects using a purposive sampling technique with certain considerations, namely descriptive observation of the application procession of the Banjar ethnic community by looking at the customs and culture that accompanied it. Apart from that, this research also uses hermeneutic theory, which is an interpretive activity that generally involves several elements, namely text, mediator, and reader. The results of this research determine the function of pantun baantaran and add to the repertoire of local wisdom values in terms of responding to rhymes in the application procession of the Banjar community. This research explores the traditional and cultural procession of proposals in the Hulu Sungai Selatan Regency area in the form of the use of rhymes as an oral tradition that is often carried out in marriage proposals. Reciprocating pantun is a local culture that uses oral literature to propose and receive a bride.  Baantaran pantun has several functions, including: 1. As a means of hospitality between the families of the bride and groom.  2. Introduction to application activities. 3. The content of the pantun usually contains advice. 4. Expressions of gratitude from women and men. 5. Pantun baantaran is a characteristic of the oral traditions of the Banjar people or Banjar ethnic group.Key words: pantun baantaran, hermeneutical theory, banjar ethnicity.
Title: KAJIAN FUNGSI PANTUN BAANTARAN ETNIK BANJAR MENGGUNAKAN TEORI HERMENEUTIKA
Description:
AbstrakMetode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif yang artinya penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus.
Peneliti menentukan subjek penelitian dengan teknik purposive sampling dengan pertimbangan tertentu, yaitu observasi secara deskriptif pada prosesi lamaran masyarakat etnik Banjar dengan melihat adat dan budaya yang menyertainya.
Disamping itu penelitian ini juga mengunakan teori hermeneutika yang merupakan kegiatan penafsiran pada umumnya melibatkan beberapa unsur, yaitu teks, mediator, dan pembaca.
Hasil penelitian ini mengetahui fungsi pantun baantaran serta menambah khasanah nilai kearifan lokal dalam hal berbalas pantun pada prosesi lamaran masyarakat Banjar.
Penelitian ini menggali tentang prosesi adat dan budaya lamaran di daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan berupa penggunaan pantun sebagai tradisi lisan yang sering dilakukan dalam sebuah lamaran perkawinan.
Berbalas pantun sebagai budaya lokal yang menggunakan sastra lisan untuk melamar dan menerima mempelai.
  Pantun baantaran mempunyai beberapa fungsi diantaranya: 1.
Sebagai sarana beramah tamah keluarga dari kedua belah mempelai.
  2.
Pendahuluan dalam kegiatan lamaran.
3.
Isi dari pantun biasanya berisi nasihat.
4.
Ungkapan terima kasih dari pihak perempuan maupun pihak laki-laki.
5.
Pantun baantaran sebagai ciri khas tradisi lisan masyarakat Banjar atau etnik Banjar.
Kata kunci: pantun baantaran, teori hermeneutika, etnik banjar.
 AbstractThis research method uses descriptive qualitative, which means research using a case study method or approach.
The researcher determined the research subjects using a purposive sampling technique with certain considerations, namely descriptive observation of the application procession of the Banjar ethnic community by looking at the customs and culture that accompanied it.
Apart from that, this research also uses hermeneutic theory, which is an interpretive activity that generally involves several elements, namely text, mediator, and reader.
The results of this research determine the function of pantun baantaran and add to the repertoire of local wisdom values in terms of responding to rhymes in the application procession of the Banjar community.
This research explores the traditional and cultural procession of proposals in the Hulu Sungai Selatan Regency area in the form of the use of rhymes as an oral tradition that is often carried out in marriage proposals.
Reciprocating pantun is a local culture that uses oral literature to propose and receive a bride.
  Baantaran pantun has several functions, including: 1.
As a means of hospitality between the families of the bride and groom.
  2.
Introduction to application activities.
3.
The content of the pantun usually contains advice.
4.
Expressions of gratitude from women and men.
5.
Pantun baantaran is a characteristic of the oral traditions of the Banjar people or Banjar ethnic group.
Key words: pantun baantaran, hermeneutical theory, banjar ethnicity.

Related Results

PANTUN: KATA DAN BUNYI MEMBENTUK MAKNA
PANTUN: KATA DAN BUNYI MEMBENTUK MAKNA
Abstrak Pantun adalah puisi lisan Melayu ciptaan peribumi yang ada di Nusantara. Penggunaan pantun dalam semua bentuk komunikasi lisan adalah sebahagian daripada etos budaya lisan...
Nilai Peradaban Melayu dalam Pantun Peranakan Baba
Nilai Peradaban Melayu dalam Pantun Peranakan Baba
Pantun merupakan salah satu medium penting dalam pembentukan peradaban masyarakat Melayu. Melalui pantun, pelbagai nilai telah diterapkan sebagai alat untuk menegur, menasihati dan...
KOMUNIKASI DAN PERSEPSI HUBUNGAN ETNIK DI UNIVERSITI PUTRA MALAYSIA
KOMUNIKASI DAN PERSEPSI HUBUNGAN ETNIK DI UNIVERSITI PUTRA MALAYSIA
ABSTRAK Berasaskan Teori Contact Hypothesis, tinjauan ini dijalankan dengan objektif berikut: (1) mengenalpasti persepsi terhadap iklim hubungan etnik dan pola komunikasi merentas...
KONSTRUKSI SEPADAN DAN TAK SEPADAN ANTARA LARIK SAMPIRAN DAN LARIK ISI SEBUAH PANTUN
KONSTRUKSI SEPADAN DAN TAK SEPADAN ANTARA LARIK SAMPIRAN DAN LARIK ISI SEBUAH PANTUN
Pantun merupakan salah satu puisi lama Melayu yang memiliki ciri keindahan atau keteraturan bahasanya. Banyak tulisan yang telah membahas hal tersebut, tetapi belum ada yang membah...
METAFORA DALAM PANTUN MELAYU KALIMANTAN BARAT
METAFORA DALAM PANTUN MELAYU KALIMANTAN BARAT
Abstract Pantun is an old form of poetry in Malay literature that until now is still used actively in various activities of malay nusantara community life, including in West Kalima...
Untaian Pantun Oleh Merak Dalam Hikayat Isma Yatim
Untaian Pantun Oleh Merak Dalam Hikayat Isma Yatim
ABSTRAK   Artikel ini membincangkan tentang puisi tradisi Melayu iaitu pantun yang diucapkan oleh watak merak dalam Hikayat Isma Yatim. Kajian ini menggunakan metodologi kepusta...
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GEDUNG BALE BANJAR BUALU KELURAHAN BENOA, KABUPATEN BADUNG
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GEDUNG BALE BANJAR BUALU KELURAHAN BENOA, KABUPATEN BADUNG
Banjar Bualu didirikan sekitar tahun 1905 dan merupakan banjar pertama yang dibentuk di kawasan Desa Adat Bualu. Terdapat 8 banjar yang ada di wilayah Desa Adat Bualu, nama-nama Ba...
Kepelbagaian makna Leksikal dalam Pantun Sekalung Budi Seuntai Bahasa
Kepelbagaian makna Leksikal dalam Pantun Sekalung Budi Seuntai Bahasa
Pantun merupakan salah satu khazanah Melayu berbentuk puisi asli dan unik yang melambangkan kehidupan masyarakat di Alam Melayu. Bukan itu sahaja, pantun juga mempunyai akar yang m...

Back to Top