Javascript must be enabled to continue!
Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-Young
View through CrossRef
Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-YoungAbstrakPenelitian ini menggali fenomena cyberbullying yang menimpa Jang Won-young, seorang idol K-pop yang menjadi sasaran perundungan di platform TikTok. Dalam era digital yang pesat, media sosial, khususnya TikTok, menjadi wadah masyarakat berbagi kreativitas dan tren terkini, termasuk fenomena fandom K-pop. Fandom K-pop tidak hanya sekadar penggemar, tetapi juga membentuk komunitas kuat dengan norma dan tradisi sendiri. Sayangnya, di balik popularitas, platform TikTok juga menjadi tempat terjadinya perundungan terhadap idol K-pop, menciptakan lingkungan online yang tidak aman dan merugikan. Studi kasus pada Jang Won-young memperlihatkan kompleksitas dampak cyberbullying terhadap reputasi publik seorang idol. Teori framing digunakan untuk menganalisis cara media sosial, terutama TikTok, membentuk naratif dan mempresentasikan cyberbullying. Framing media sosial dapat memengaruhi persepsi masyarakat, memberikan penekanan tertentu pada konten kontroversial, dan memicu respon beragam. Media sosial bukan hanya penyebar informasi, tetapi juga pembentuk opini publik yang dapat memengaruhi hubungan antara idol dan penggemar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi deskriptif, melibatkan Systematic Literature Review (SLR) dan Internet Searching untuk merangkum informasi terkait Judgment Culture. Hasil dan pembahasan menggambarkan deskripsi kasus, analisis faktor pemicu, respons publik, dan peran media sosial. Kesimpulan menekankan pentingnya edukasi dan kesadaran publik terhadap tekanan yang dihadapi oleh idol K-pop. Upaya bersama dari masyarakat, industri hiburan, dan media sosial diperlukan untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan mendukung bagi para idol.Kata kunci: cyberbullying, tiktok, fandom k-pop, teori framing Abstract This research explores the phenomenon of cyberbullying that befell Jang Won-young, a K-pop idol who was the target of bullying on the TikTok platform. In the rapid digital era, social media, especially TikTok, has become a forum for people to share creativity and the latest trends, including the K-pop fandom phenomenon. K-pop fandom is not just fans, but also forms a strong community with its own norms and traditions. Unfortunately, behind its popularity, the TikTok platform is also a place where bullying of K-pop idols occurs, creating an unsafe and detrimental online environment. The case study on Jang Won-young shows the complexity of the impact of cyberbullying on an idol's public reputation. Framing theory is used to analyze the way social media, especially TikTok, shapes narratives and presents cyberbullying. Social media framing can influence public perceptions, place a certain emphasis on controversial content, and trigger mixed responses. Social media is not only a disseminator of information, but also a shaper of public opinion that can affect the relationship between idols and fans. The research method uses a qualitative approach with descriptive studies, involving Systematic Literature Review (SLR) and Internet Searching to summarize information related to Judgment Culture. The results and discussion describe the case description, trigger factor analysis, public response, and the role of social media. The conclusion emphasizes the importance of education and public awareness of the pressures faced by K-pop idols. A concerted effort from the community, entertainment industry, and social media is needed to create a safer and more supportive online environment for idols. Keywords: cyberbullying, tiktok, k-pop fandom, framing theory
Title: Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-Young
Description:
Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-YoungAbstrakPenelitian ini menggali fenomena cyberbullying yang menimpa Jang Won-young, seorang idol K-pop yang menjadi sasaran perundungan di platform TikTok.
Dalam era digital yang pesat, media sosial, khususnya TikTok, menjadi wadah masyarakat berbagi kreativitas dan tren terkini, termasuk fenomena fandom K-pop.
Fandom K-pop tidak hanya sekadar penggemar, tetapi juga membentuk komunitas kuat dengan norma dan tradisi sendiri.
Sayangnya, di balik popularitas, platform TikTok juga menjadi tempat terjadinya perundungan terhadap idol K-pop, menciptakan lingkungan online yang tidak aman dan merugikan.
Studi kasus pada Jang Won-young memperlihatkan kompleksitas dampak cyberbullying terhadap reputasi publik seorang idol.
Teori framing digunakan untuk menganalisis cara media sosial, terutama TikTok, membentuk naratif dan mempresentasikan cyberbullying.
Framing media sosial dapat memengaruhi persepsi masyarakat, memberikan penekanan tertentu pada konten kontroversial, dan memicu respon beragam.
Media sosial bukan hanya penyebar informasi, tetapi juga pembentuk opini publik yang dapat memengaruhi hubungan antara idol dan penggemar.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi deskriptif, melibatkan Systematic Literature Review (SLR) dan Internet Searching untuk merangkum informasi terkait Judgment Culture.
Hasil dan pembahasan menggambarkan deskripsi kasus, analisis faktor pemicu, respons publik, dan peran media sosial.
Kesimpulan menekankan pentingnya edukasi dan kesadaran publik terhadap tekanan yang dihadapi oleh idol K-pop.
Upaya bersama dari masyarakat, industri hiburan, dan media sosial diperlukan untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan mendukung bagi para idol.
Kata kunci: cyberbullying, tiktok, fandom k-pop, teori framing Abstract This research explores the phenomenon of cyberbullying that befell Jang Won-young, a K-pop idol who was the target of bullying on the TikTok platform.
In the rapid digital era, social media, especially TikTok, has become a forum for people to share creativity and the latest trends, including the K-pop fandom phenomenon.
K-pop fandom is not just fans, but also forms a strong community with its own norms and traditions.
Unfortunately, behind its popularity, the TikTok platform is also a place where bullying of K-pop idols occurs, creating an unsafe and detrimental online environment.
The case study on Jang Won-young shows the complexity of the impact of cyberbullying on an idol's public reputation.
Framing theory is used to analyze the way social media, especially TikTok, shapes narratives and presents cyberbullying.
Social media framing can influence public perceptions, place a certain emphasis on controversial content, and trigger mixed responses.
Social media is not only a disseminator of information, but also a shaper of public opinion that can affect the relationship between idols and fans.
The research method uses a qualitative approach with descriptive studies, involving Systematic Literature Review (SLR) and Internet Searching to summarize information related to Judgment Culture.
The results and discussion describe the case description, trigger factor analysis, public response, and the role of social media.
The conclusion emphasizes the importance of education and public awareness of the pressures faced by K-pop idols.
A concerted effort from the community, entertainment industry, and social media is needed to create a safer and more supportive online environment for idols.
Keywords: cyberbullying, tiktok, k-pop fandom, framing theory.
Related Results
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
This study examines the role of corporate governance in moderating the influence of green accounting disclosure, corporate social responsibility (CSR), and firm size on the financi...
Empati dan Cyberbullying pada Remaja Pengguna Media Sosial: Sebuah Kajian Literatur
Empati dan Cyberbullying pada Remaja Pengguna Media Sosial: Sebuah Kajian Literatur
The many emerging social media features and easy access when using them have made the younger generation interested in using social media. However, excessive use of social media or...
Moderasi Anonimitas dalam Pengaruh Celebrity Worship terhadap Cyberbullying NCTzen
Moderasi Anonimitas dalam Pengaruh Celebrity Worship terhadap Cyberbullying NCTzen
Abstract. Cyberbullying behavior has become a prevalent phenomenon within K-pop fandom communities, often influenced by the intensity of attachment to celebrities and the presence ...
School Staff's Perceptions and Attitudes towards Cyberbullying
School Staff's Perceptions and Attitudes towards Cyberbullying
<p>Parallel with the spread of technology use, cyberbullying has become a serious problem in schools, particularly those in developed countries where most young people have r...
Fenomena Cyberbullying di Media Sosial TikTok
Fenomena Cyberbullying di Media Sosial TikTok
TikTok is a social media platform that creates 15-60 second videos with various music features, filters, stickers, and other creative effects. The existence of the Tiktok social ne...
Remaja, Media Sosial, dan Cyberbullying: Kajian Literatur
Remaja, Media Sosial, dan Cyberbullying: Kajian Literatur
Social media and teenagers are interrelated and almost inseparable. Since the pandemic, the level of mobile phone usage has increased because learning activities and social interac...
Catatan dari Managing Editor
Catatan dari Managing Editor
Salam sejahtera,
Tahun 2020 ini menandakan awal dari akhir sebuah dekade dimana terjadi berbagai perubahan sosial dan teknologi. Pertama, diketahui bahwa teknologi internet dan me...
Pesan dari Managing Editor
Pesan dari Managing Editor
Salam sejahtera,
Untuk volume 17 edisi 2 tahun 2019, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) menerbitkan tujuh naskah dengan topik yang menyentuh berbagai fenomena di masyarakat Indonesia. ...

