Javascript must be enabled to continue!
UPACARA SENI HODO SEBAGAI RITUAL KESUBURAN MASYARAKAT DUKUH PARIOPO SITUBONDO
View through CrossRef
Upacara seni Hodo adalah seni tradisi yang berbentuk upacara adat (ritual). Dilaksanakan sekitar bulan September-Oktober setiap tahunnya oleh masyarakat Dukuh Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ritual Hodo merupakan ritual kesuburan yang diyakini oleh masyarakat dapat menurunkan hujan, mengingat kondisi daerah Dukuh Pariopo yang tandus dan kering. Kekeringan menjadi masalah serius karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagi petani dan termasuk daerah agraris yang mengandalkan hujan untuk keberlangsungan hidup masyarakatnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam ritual Hodo meliputi nilai spiritual, estetis, dan historis. Nilai spiritualnya adalah meyakini dan melaksanakan ritual Hodo sebagai sarana untuk memohon kesuburan kepada Tuhan. Nilai estetisnya adalah adanya keberanekaragaman seni antara lain; seni musik, seni tari, seni resitasi, dan seni rupa. Nilai historis karena ritual ini dilaksanakan secara turun-temurun dan masih bertahan sampai sekarang. Adapun rangkaian acara ritual Hodo adalah: 1) pesucen (tahap mensucikan diri); 2) bersemedi (tahap memohon petunjuk kepada Tuhan); 3) berkurban (mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan); dan 4) pelaksanaan ritual Hodo
Title: UPACARA SENI HODO SEBAGAI RITUAL KESUBURAN MASYARAKAT DUKUH PARIOPO SITUBONDO
Description:
Upacara seni Hodo adalah seni tradisi yang berbentuk upacara adat (ritual).
Dilaksanakan sekitar bulan September-Oktober setiap tahunnya oleh masyarakat Dukuh Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo.
Ritual Hodo merupakan ritual kesuburan yang diyakini oleh masyarakat dapat menurunkan hujan, mengingat kondisi daerah Dukuh Pariopo yang tandus dan kering.
Kekeringan menjadi masalah serius karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagi petani dan termasuk daerah agraris yang mengandalkan hujan untuk keberlangsungan hidup masyarakatnya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam ritual Hodo meliputi nilai spiritual, estetis, dan historis.
Nilai spiritualnya adalah meyakini dan melaksanakan ritual Hodo sebagai sarana untuk memohon kesuburan kepada Tuhan.
Nilai estetisnya adalah adanya keberanekaragaman seni antara lain; seni musik, seni tari, seni resitasi, dan seni rupa.
Nilai historis karena ritual ini dilaksanakan secara turun-temurun dan masih bertahan sampai sekarang.
Adapun rangkaian acara ritual Hodo adalah: 1) pesucen (tahap mensucikan diri); 2) bersemedi (tahap memohon petunjuk kepada Tuhan); 3) berkurban (mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan); dan 4) pelaksanaan ritual Hodo.
Related Results
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
SENI LUKIS KONSEP DAN METODE
SENI LUKIS KONSEP DAN METODE
Membuat seni lukis sebagai landasan berkarya yang mengikuti kaidah seni lukis dengan baik dan mampu menguasai konsep berkarya dan teknik seni lukis. Selanjutnya seni lukis menjadi ...
MUSIK DALAM UPACARA ADAT POSUO
MUSIK DALAM UPACARA ADAT POSUO
Musik merupakan salah satu aspek penting yang digunakan dalam berbagai upacara keagamaan dan budaya oleh masyarakat seperti upacara kelahiran, pernikahan, kematian dan upacara inis...
TARI TANDIK LAYAR DALAM UPACARA ADAT BAWANANG DI DESA MAPAT KECAMATAN HALONG KABUPATEN BALANGAN
TARI TANDIK LAYAR DALAM UPACARA ADAT BAWANANG DI DESA MAPAT KECAMATAN HALONG KABUPATEN BALANGAN
Penelitian ini berkenaan dengan Tari Tandik Layar Dalam Upacara Bawanang sebagai bagian dari upacara aruh adat bawanang. Penelitian ini dilakukan untuk menggali ingin mengetahui le...
Upacara Tabut di Pesisir Barat Sumatera
Upacara Tabut di Pesisir Barat Sumatera
Upacara tabut sangat layak untuk dikaji dalam konteks kajian budaya dan masyarakat pendukungnya. Hal ini disebabkan bahwa upacara tabut sebagai identitas budaya, perekat nilai buda...
PENDIDIKAN ETIKA HINDU PADA TEKS AGASTYA PARWA DALAM KEHIDUPAN MODERN
PENDIDIKAN ETIKA HINDU PADA TEKS AGASTYA PARWA DALAM KEHIDUPAN MODERN
ABSTRAK
Agama Hindu memiliki tiga kerangka dasar yaitu tattwa, etika dan upacara. Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi suatu kesatuan yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Ji...
The Black Mass as Play: Dennis Wheatley's The Devil Rides Out
The Black Mass as Play: Dennis Wheatley's The Devil Rides Out
Literature—at least serious literature—is something that we work at. This is especially true within the academy. Literature departments are places where workers labour over texts c...
THE LEGEND OF PRINCE ARYO GAJAH SITUBONDO IN SITUBONDO REGENCY AND ITS RELATION TO COMMUNITY HISTORY
THE LEGEND OF PRINCE ARYO GAJAH SITUBONDO IN SITUBONDO REGENCY AND ITS RELATION TO COMMUNITY HISTORY
This article discusses the origin of Situbondo Regency. The purpose of this writing is to find out the legend of the prince of the elephant aryo king Situbondo as someone who divid...

