Javascript must be enabled to continue!
Membangun Teologi Kebersamaan Melalui Tradisi Julu Nuru Masyarakat Manggarai
View through CrossRef
Culture is a place to build theology. This paper tries to explain the theology of togetherness that was built through the julu nuru tradition of the Manggarai community. The methodology used in this paper is a literature study to explore the values of togetherness in the julu nuru tradition in order to build dialogue within the theological framework. The julu nuru tradition is an activity of distributing meat evenly to a certain group. The concept of sharing is the forerunner of the theology of togetherness. The julu nuru tradition presupposes that there is a living situation in togetherness so that a constructive dialogue can be created. The theology of togetherness through the julu nuru culture is the foundation for Indonesian life which emphasizes the spirit of mutual cooperation. The concept of julu nuru can be an inspiration for the Indonesian people to continue to foster the spirit of brotherhood and solidarity in the midst of ethnic, religious, racial, and inter-group diversity. The essence of life is sharing with others. Dialogue means sharing experiences to build the common good together.
Budaya adalah salah satu tempat untuk membangun teologi. Tulisan ini mencoba menjelaskan teologi kebersamaan yang dibangun melalui tradisi julu nuru masyarakat Manggarai. Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur untuk menggali nilai-nilai kebersamaan dalam tradisi julu nuru dalam rangka membangun dialog dalam kerangka teologis. Tradisi julu nuru merupakan kegiatan pembagian daging secara merata kepada kelompok tertentu. Konsep berbagi merupakan cikal bakal teologi kebersamaan. Tradisi julu nuru mengandaikan adanya situasi yang hidup dalam kebersamaan sehingga dapat tercipta dialog yang konstruktif. Teologi kebersamaan melalui budaya julu nuru merupakan landasan kehidupan bangsa Indonesia yang mengedepankan semangat gotong royong. Konsep julu nuru dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk terus menumbuhkan semangat persaudaraan dan solidaritas di tengah keragaman suku, agama, ras dan antar golongan. Inti dari hidup adalah berbagi dengan orang lain. Dialog berarti berbagi pengalaman untuk membangun kebaikan bersama.
Kata-kata kunci: julu nuru, budaya, dialog, kebersamaan, sharing.
Institusi Aditya Wacana Pusat Pengkajian Agama dan Kebudayaan
Title: Membangun Teologi Kebersamaan Melalui Tradisi Julu Nuru Masyarakat Manggarai
Description:
Culture is a place to build theology.
This paper tries to explain the theology of togetherness that was built through the julu nuru tradition of the Manggarai community.
The methodology used in this paper is a literature study to explore the values of togetherness in the julu nuru tradition in order to build dialogue within the theological framework.
The julu nuru tradition is an activity of distributing meat evenly to a certain group.
The concept of sharing is the forerunner of the theology of togetherness.
The julu nuru tradition presupposes that there is a living situation in togetherness so that a constructive dialogue can be created.
The theology of togetherness through the julu nuru culture is the foundation for Indonesian life which emphasizes the spirit of mutual cooperation.
The concept of julu nuru can be an inspiration for the Indonesian people to continue to foster the spirit of brotherhood and solidarity in the midst of ethnic, religious, racial, and inter-group diversity.
The essence of life is sharing with others.
Dialogue means sharing experiences to build the common good together.
Budaya adalah salah satu tempat untuk membangun teologi.
Tulisan ini mencoba menjelaskan teologi kebersamaan yang dibangun melalui tradisi julu nuru masyarakat Manggarai.
Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur untuk menggali nilai-nilai kebersamaan dalam tradisi julu nuru dalam rangka membangun dialog dalam kerangka teologis.
Tradisi julu nuru merupakan kegiatan pembagian daging secara merata kepada kelompok tertentu.
Konsep berbagi merupakan cikal bakal teologi kebersamaan.
Tradisi julu nuru mengandaikan adanya situasi yang hidup dalam kebersamaan sehingga dapat tercipta dialog yang konstruktif.
Teologi kebersamaan melalui budaya julu nuru merupakan landasan kehidupan bangsa Indonesia yang mengedepankan semangat gotong royong.
Konsep julu nuru dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk terus menumbuhkan semangat persaudaraan dan solidaritas di tengah keragaman suku, agama, ras dan antar golongan.
Inti dari hidup adalah berbagi dengan orang lain.
Dialog berarti berbagi pengalaman untuk membangun kebaikan bersama.
Kata-kata kunci: julu nuru, budaya, dialog, kebersamaan, sharing.
Related Results
Penerapan Jurnalisme Advokasi di Kanal Youtube Asumsi
Penerapan Jurnalisme Advokasi di Kanal Youtube Asumsi
Abstract. One of the concepts of journalism that is developing today is advocacy journalism which becomes a force with an attitude to defend or something. Advocacy journalism is a ...
KARAKTERISTIK DAN DINAMIKA SISTEM PERTANIAN LAHAN KERING DALAM KEBUDAYAAN MANGGARAI
KARAKTERISTIK DAN DINAMIKA SISTEM PERTANIAN LAHAN KERING DALAM KEBUDAYAAN MANGGARAI
Penelitian ini mengkaji karakteristik dan dinamika sistem pertanian lahan kering dalam kebudayaan Manggarai, lambang identitas masyarakat Manggarai sebagai anggota kelompok etnik M...
Keunikan Ragam Bahasa Tarian Caci Manggarai
Keunikan Ragam Bahasa Tarian Caci Manggarai
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan keunikan suatu kebudayaan di Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tepatnya di Manggarai. Masyarakat Manggarai memiliki ciri khas bu...
THE MEANING OF MANTRA IN THE RITUAL TEING HANG KOLANG IN A TRADITIONAL COMMUNITY CEREMONY IN TANGGE VILLAGE, LEMBOR DISTRICT, WEST MANGGARAI
THE MEANING OF MANTRA IN THE RITUAL TEING HANG KOLANG IN A TRADITIONAL COMMUNITY CEREMONY IN TANGGE VILLAGE, LEMBOR DISTRICT, WEST MANGGARAI
Teing Hang Kolang is commonly known in West Manggarai regency as one of the traditional rites of ancestral heritage since its existence in this world, which is as old as the belief...
Klitik Klausa Pasif Bahasa Manggarai Dialek Barat Buha Aritonang
Klitik Klausa Pasif Bahasa Manggarai Dialek Barat Buha Aritonang
Clitics is one of the language systems retained in the Western dialect of Manggarai. The clitics in that language is a bound form that phonologically has no stress and its form can...
INTERFERENSI KALIMAT BAHASA MANGGARAI TERHADAP BAHASA INDONESIA DALAM PERCAKAPAN MAHASISWA MANGGARAI DI UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
INTERFERENSI KALIMAT BAHASA MANGGARAI TERHADAP BAHASA INDONESIA DALAM PERCAKAPAN MAHASISWA MANGGARAI DI UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
Interference is a language error caused by the influence of other languages, which is often used so that it affects the use of other languages. This study aims to describe the inte...
Likang Telu: Cultural Basis for Muslim-Catholic Relations in Manggarai
Likang Telu: Cultural Basis for Muslim-Catholic Relations in Manggarai
This article explores the power of culture as an effort to promote a harmonious, tolerant and peaceful life between Muslims and Catholics. Likang telu is a cultural concept of the ...
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
Kearifan Lokal merupakan nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya tradisi pada kelompok masyarakat dari generasi ke generasi yang diwariskan secara turun temurun. Oleh kar...

