Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Studi Fenomenologi Orientasi Komunikasi Co-Cultural Pada Anggota Bhayangkari

View through CrossRef
Di Indonesia, budaya hierarki sangat kuat dan terlihat jelas di berbagai bidang, termasuk di organisasi polisi dan organisasi istri polisi (Bhayangkari). Budaya ini memengaruhi cara atasan dan bawahan berinteraksi satu sama lain, di mana atasan dianggap lebih berkuasa dan dihormati dibandingkan bawahan. Ketika berbicara di dalam suatu kegiatan, anggota Bhayangkari yang merupakan istri Perwira akan lebih mendominasi percakapan dan lebih banyak melakukan komunikasi satu arah. Memberi kritik kepada anggota Bhayangkari yang lebih tinggi posisinya akan dianggap sebagai hal yang tidak sopan dan tidak etis. Kebiasaan yang dilakukan oleh anggota Bhayangkari tersebut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dalam institusi/organisasi suami mereka (Polri), di mana dalam organisasi Polri sangat memperhatikan hierarki pada saat berbicara.Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan interpretasi fenomenologis guna mendapatkan pemahaman yang deskriptif dan mendalam tentang pengalaman anggota Bhayangkari-istri Bintara (subdominan) berkomunikasi dengan anggota Bhayangkari-istri Perwira (dominan). Hasil wawancara dengan anggota Bhayangkari di aplikasikan dalam teori Co-cultural yang digagas (Orbe, 1998) yang memaparkan sembilan orientasi komunikasi. Peneliti menemukan dua orientasi komunikasi anggota Bhayangkari. Pertama, orientasi nonassertive assimilation, yakni dengan pendekatan yang tidak konfrontatif. Kedua, nonassertive separation yakni memilih mempertahankan identitas kelompok Co-cultural secara tegas dan menjaga hubungan dalam kelompok sendiri, namun dengan pendekatan yang tidak konfrontatif. Anggota Co-cultural menggunakan praktik komunikasi tersebut untuk mempertahankan orientasi pemisahan selama berinteraksi. Mereka menghindari komunikasi secara tidak tegas atau halus. Bagi orang-orang yang mengadopsi orientasi ini, akan menghindar secara penghindaran fisik jika memungkinkan.
Title: Studi Fenomenologi Orientasi Komunikasi Co-Cultural Pada Anggota Bhayangkari
Description:
Di Indonesia, budaya hierarki sangat kuat dan terlihat jelas di berbagai bidang, termasuk di organisasi polisi dan organisasi istri polisi (Bhayangkari).
Budaya ini memengaruhi cara atasan dan bawahan berinteraksi satu sama lain, di mana atasan dianggap lebih berkuasa dan dihormati dibandingkan bawahan.
Ketika berbicara di dalam suatu kegiatan, anggota Bhayangkari yang merupakan istri Perwira akan lebih mendominasi percakapan dan lebih banyak melakukan komunikasi satu arah.
Memberi kritik kepada anggota Bhayangkari yang lebih tinggi posisinya akan dianggap sebagai hal yang tidak sopan dan tidak etis.
Kebiasaan yang dilakukan oleh anggota Bhayangkari tersebut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dalam institusi/organisasi suami mereka (Polri), di mana dalam organisasi Polri sangat memperhatikan hierarki pada saat berbicara.
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan interpretasi fenomenologis guna mendapatkan pemahaman yang deskriptif dan mendalam tentang pengalaman anggota Bhayangkari-istri Bintara (subdominan) berkomunikasi dengan anggota Bhayangkari-istri Perwira (dominan).
Hasil wawancara dengan anggota Bhayangkari di aplikasikan dalam teori Co-cultural yang digagas (Orbe, 1998) yang memaparkan sembilan orientasi komunikasi.
Peneliti menemukan dua orientasi komunikasi anggota Bhayangkari.
Pertama, orientasi nonassertive assimilation, yakni dengan pendekatan yang tidak konfrontatif.
Kedua, nonassertive separation yakni memilih mempertahankan identitas kelompok Co-cultural secara tegas dan menjaga hubungan dalam kelompok sendiri, namun dengan pendekatan yang tidak konfrontatif.
Anggota Co-cultural menggunakan praktik komunikasi tersebut untuk mempertahankan orientasi pemisahan selama berinteraksi.
Mereka menghindari komunikasi secara tidak tegas atau halus.
Bagi orang-orang yang mengadopsi orientasi ini, akan menghindar secara penghindaran fisik jika memungkinkan.

Related Results

EVALUASI KOMUNIKASI KELOMPOK PADA ANGGOTA DAPUR PANDHAWA
EVALUASI KOMUNIKASI KELOMPOK PADA ANGGOTA DAPUR PANDHAWA
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui evaluasi komunikasi kelompok pada anggota Dapur Pandhawa. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah pendekatan kualitatif....
ANALISA PROSES KOMUNIKASI ATAS NORMALISASI KONSEP PANOPTICON DALAM ORGANISASI BHAYANGKARI
ANALISA PROSES KOMUNIKASI ATAS NORMALISASI KONSEP PANOPTICON DALAM ORGANISASI BHAYANGKARI
This article discusses the panopticon mechanism happened in Bhayangkari – an organization of wives of police in Indonesia. By using case study, this article focuses to see the syst...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
PROGRAM ACARA GEGIRANG SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI BERLANDASKAN AGAMA HINDU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK (LPP) TVRI STASIUN BALI
PROGRAM ACARA GEGIRANG SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI BERLANDASKAN AGAMA HINDU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK (LPP) TVRI STASIUN BALI
Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Stasiun Bali merupakan salah stasiun televisi lokal milik pemerintah Republik Indonesia yang dekat dengan budaya masyarakat setempat. Selain pen...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...

Back to Top