Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Fisioterapi pada pasien dengan Tetraparesis Ensefalitis: laporan kasus

View through CrossRef
Penatalaksanaan pasien ensefalitis memerlukan kerjasama dari Tim Rehabilitasi untuk segera mengembalikan fungsi serta mengurangi kecacatan dan komplikasi, berupa dekubitus, penurunan massa otot dan kekuatan otot, gangguan mobilitas, dan kontraktur akibat spastisitas. Tujuan dari program rehabilitasi adalah untuk meningkatkan keterampilan motorik, koordinasi, mobilisasi dan gangguan lain yang ada untuk mencapai kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (ADL). Fisioterapi sebagai bagian dari program rehabilitasi dapat memberikan latihan core stability, fasilitasi dan stimulasi gerak ekstremitas atas dan bawah, latihan keseimbangan dan latihan mobilisasi. Latihan penguatan dilakukan dengan teknik fasilitasi dan stimulasi aktif menggunakan berat badan pasien sebagai beban pelatihan. Latihan penguatan dapat menurunkan spastisitas dengan cara memperkuat otot antagonis, yang akan menghambat reaksi otot spastis. Latihan juga dimaksudkan untuk mengurangi spastisitas. Spastisitas terlihat seperti otot yang kuat, tetapi tanpa konektivitas otak-ke-otot, otot yang spastis tetap menjadi otot yang lemah. Setelah enam bulan program fisioterapi, Manual Muscle Testing (MMT) dievaluasi untuk ekstremitas atas kanan 3/5, ekstremitas atas kiri 5/5, ekstremitas bawah kanan 1/5, ekstremitas bawah kiri 2/5. Ekstremitas atas kanan skala Ashworth 1/4, ekstremitas bawah kanan 2/4, ekstremitas bawah kiri 1/4. Clonus berkurang, pasien dapat berdiri dengan dukungan maksimal tanpa klonus selama 10 menit. Trunk Impairment Scale 12/23 dan Indeks Barthel 65/100. Mobilisasi pasien mampu duduk dengan bantuan minimal yaitu stabilisasi pada panggul, duduk ke berdiri dengan bantuan sedang, yaitu stabilisasi knee bilateral, dan berdiri dengan stabilisasi pada knee dan pelvic selama 10 menit. Laporan kasus ini menyimpulkan bahwa meskipun fisioterapi dengan metode latihan penguatan dan teknik penguatan core stability, dapat meningkatkan keterampilan motorik yang selanjutnya akan meningkatkan kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas fungsional dan ADL. 
Universitas 'aisyiyah Yogyakarta
Title: Fisioterapi pada pasien dengan Tetraparesis Ensefalitis: laporan kasus
Description:
Penatalaksanaan pasien ensefalitis memerlukan kerjasama dari Tim Rehabilitasi untuk segera mengembalikan fungsi serta mengurangi kecacatan dan komplikasi, berupa dekubitus, penurunan massa otot dan kekuatan otot, gangguan mobilitas, dan kontraktur akibat spastisitas.
Tujuan dari program rehabilitasi adalah untuk meningkatkan keterampilan motorik, koordinasi, mobilisasi dan gangguan lain yang ada untuk mencapai kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (ADL).
Fisioterapi sebagai bagian dari program rehabilitasi dapat memberikan latihan core stability, fasilitasi dan stimulasi gerak ekstremitas atas dan bawah, latihan keseimbangan dan latihan mobilisasi.
Latihan penguatan dilakukan dengan teknik fasilitasi dan stimulasi aktif menggunakan berat badan pasien sebagai beban pelatihan.
Latihan penguatan dapat menurunkan spastisitas dengan cara memperkuat otot antagonis, yang akan menghambat reaksi otot spastis.
Latihan juga dimaksudkan untuk mengurangi spastisitas.
Spastisitas terlihat seperti otot yang kuat, tetapi tanpa konektivitas otak-ke-otot, otot yang spastis tetap menjadi otot yang lemah.
Setelah enam bulan program fisioterapi, Manual Muscle Testing (MMT) dievaluasi untuk ekstremitas atas kanan 3/5, ekstremitas atas kiri 5/5, ekstremitas bawah kanan 1/5, ekstremitas bawah kiri 2/5.
Ekstremitas atas kanan skala Ashworth 1/4, ekstremitas bawah kanan 2/4, ekstremitas bawah kiri 1/4.
Clonus berkurang, pasien dapat berdiri dengan dukungan maksimal tanpa klonus selama 10 menit.
Trunk Impairment Scale 12/23 dan Indeks Barthel 65/100.
Mobilisasi pasien mampu duduk dengan bantuan minimal yaitu stabilisasi pada panggul, duduk ke berdiri dengan bantuan sedang, yaitu stabilisasi knee bilateral, dan berdiri dengan stabilisasi pada knee dan pelvic selama 10 menit.
Laporan kasus ini menyimpulkan bahwa meskipun fisioterapi dengan metode latihan penguatan dan teknik penguatan core stability, dapat meningkatkan keterampilan motorik yang selanjutnya akan meningkatkan kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas fungsional dan ADL.
 .

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Tinjauan Kepuasan Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Kesehatan
Tinjauan Kepuasan Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Kesehatan
Dari survey pendahuluan terhadap 20 pasien diperoleh 5 (25%) pasien menyatakan kurang puas terhadap mutu pelayanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasa...
Kualitas Pelayanan Terhadap Tingkat Kepatuhan Pasien Program Fisioterapi Praktik Mandiri di Malang Raya
Kualitas Pelayanan Terhadap Tingkat Kepatuhan Pasien Program Fisioterapi Praktik Mandiri di Malang Raya
Pendahuluan: Kualitas merupakan keseluruhan karakteristik dari produk dan jasa yang meliputi marketing, engineering, manufacture, dan maintenance dimana produk dan jasa tersebut da...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
Evaluasi Pemberian Fisioterapi Dada Terhadap Status Pernafasan Anak Dengan Bronkopneumonia
Evaluasi Pemberian Fisioterapi Dada Terhadap Status Pernafasan Anak Dengan Bronkopneumonia
Pendahuluan: Bronkopneumenia menyebabkan perubahan pernafasan pada anak sehingga membutuhkan tindakan untuk mengatasi hal tersebut. teknik fisioterapi dada merupakan salah satu jen...
Manajemen Fisioterapi pada Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT): Laporan Kasus
Manajemen Fisioterapi pada Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT): Laporan Kasus
Kondisi adanya obstruksi saluran napas atau Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT). Pasien tuberkulosis dengan lesi paru minimal bisa menyebabkan kerusakan paru yang terjadi p...
Pengaruh Kualitas Layanan dan Keterlibatan Pasien terhadap Kepuasan: Peran Mediasi Pengalaman Pasien
Pengaruh Kualitas Layanan dan Keterlibatan Pasien terhadap Kepuasan: Peran Mediasi Pengalaman Pasien
Penelitian mengenai kepuasan pasien umumnya berfokus pada pengaruh langsung kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien, sementara peran keterlibatan pasien dan pengalaman pasien s...
Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Rawat Jalan Pasien di RSUD Kota Makassar
Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Rawat Jalan Pasien di RSUD Kota Makassar
Menurut Kemenkes RI Nomor 129/Menkes/SK/II 2008 waktu tunggu pelayanan adalah waktu yang diperlukan mulai dari pasien mendaftar di tempat pendaftraran pasien rawat jalan (TPPRJ), s...

Back to Top