Javascript must be enabled to continue!
Dekolonisasi Tanpa Revolusi: Strategi Diplomasi, Ekonomi, dan Monarki Brunei Darussalam dalam Lepas dari Kolonialisme Inggris (1888-1984)
View through CrossRef
Penelitian ini membahas proses dekolonisasi Brunei Darussalam sebagai salah satu kasus unik dalam sejarah Asia Tenggara. Berbeda dengan negara-negara tetangga yang menempuh jalur perjuangan nasionalis dan konflik bersenjata, Brunei memperoleh kemerdekaan melalui diplomasi elit, perjanjian internasional, serta pemanfaatan kekuatan ekonomi minyak dan gas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-historis dengan menelaah dokumen perjanjian, konstitusi, literatur akademik, dan laporan internasional. Analisis dilakukan dengan kerangka teori kedaulatan dan studi dekolonisasi yang menekankan peran aktor lokal (monarki), aktor eksternal (Britania Raya), serta struktur material (sumber daya ekonomi). Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun berada di bawah perlindungan Inggris sejak 1888, Brunei berhasil mempertahankan eksistensi monarki, menegosiasikan otonomi melalui Konstitusi 1959, serta menolak integrasi dengan Malaysia pada 1962. Puncak proses dekolonisasi ditandai dengan Perjanjian Persahabatan 1979, yang membuka jalan menuju proklamasi kemerdekaan 1 Januari 1984. Pasca-kemerdekaan, Brunei meneguhkan ideologi Melayu Islam Beraja (MIB), menjaga stabilitas politik, serta memanfaatkan kekayaan minyak untuk membangun negara kesejahteraan, meski masih menghadapi tantangan diversifikasi ekonomi dan kritik internasional terkait reformasi hukum Islam. Dengan demikian, pengalaman Brunei memperlihatkan bahwa dekolonisasi di Asia Tenggara tidak seragam, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang unik.
Title: Dekolonisasi Tanpa Revolusi: Strategi Diplomasi, Ekonomi, dan Monarki Brunei Darussalam dalam Lepas dari Kolonialisme Inggris (1888-1984)
Description:
Penelitian ini membahas proses dekolonisasi Brunei Darussalam sebagai salah satu kasus unik dalam sejarah Asia Tenggara.
Berbeda dengan negara-negara tetangga yang menempuh jalur perjuangan nasionalis dan konflik bersenjata, Brunei memperoleh kemerdekaan melalui diplomasi elit, perjanjian internasional, serta pemanfaatan kekuatan ekonomi minyak dan gas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-historis dengan menelaah dokumen perjanjian, konstitusi, literatur akademik, dan laporan internasional.
Analisis dilakukan dengan kerangka teori kedaulatan dan studi dekolonisasi yang menekankan peran aktor lokal (monarki), aktor eksternal (Britania Raya), serta struktur material (sumber daya ekonomi).
Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun berada di bawah perlindungan Inggris sejak 1888, Brunei berhasil mempertahankan eksistensi monarki, menegosiasikan otonomi melalui Konstitusi 1959, serta menolak integrasi dengan Malaysia pada 1962.
Puncak proses dekolonisasi ditandai dengan Perjanjian Persahabatan 1979, yang membuka jalan menuju proklamasi kemerdekaan 1 Januari 1984.
Pasca-kemerdekaan, Brunei meneguhkan ideologi Melayu Islam Beraja (MIB), menjaga stabilitas politik, serta memanfaatkan kekayaan minyak untuk membangun negara kesejahteraan, meski masih menghadapi tantangan diversifikasi ekonomi dan kritik internasional terkait reformasi hukum Islam.
Dengan demikian, pengalaman Brunei memperlihatkan bahwa dekolonisasi di Asia Tenggara tidak seragam, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang unik.
.
Related Results
Analisis Diplomasi Pertahanan Negara Dalam Pandangan Chanakya (Studi Teks Arthashastra Sebagai Dasar Strategi Diplomasi Pertahanan)
Analisis Diplomasi Pertahanan Negara Dalam Pandangan Chanakya (Studi Teks Arthashastra Sebagai Dasar Strategi Diplomasi Pertahanan)
Abstrak -- Diplomasi pertahanan merupakan kajian baru dalam ilmu HI, utamanya diplomasi. Hal ini membuat kajian-kajian yang berkembang dalam diplomasi pertahanan masih minim dan di...
HUKUM PERKAWINAN MUSLIM DI BRUNEI DARUSSALAM (STUDI ANALISIS MASLAHAT AT-THUFI)
HUKUM PERKAWINAN MUSLIM DI BRUNEI DARUSSALAM (STUDI ANALISIS MASLAHAT AT-THUFI)
AbstractBrunei is claimed to be the oldest Malay kingdom in Southeast Asia. In addition, Brunei Darussalam is the only country in the Southeast Asian region that enforces Islamic c...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Implementation of Shafi’i Fiqh in Brunei’s Halal Law for Meat and Poultry Products
Implementation of Shafi’i Fiqh in Brunei’s Halal Law for Meat and Poultry Products
Abstract: Islamic Halal Law in the Shafi'i school in Brunei Darussalam is firmly rooted in the country's constitution, which stipulates the Shafi'i school as the basis of Islamic l...
Pencegahan Ideologi Radikalisme dan Ekstrimisme Melalui Pendidikan di Brunei Darussalam
Pencegahan Ideologi Radikalisme dan Ekstrimisme Melalui Pendidikan di Brunei Darussalam
Radikalisme dan ekstrimisme merupakan ancaman serius yang dapat menggungcang kestabilan dan keselamatan sesebuah negara. Negara Brunei Darussalam, sebagai negara yang menjunjung ti...
Proses Dekolonisasi Republik Demokratik Timor-Leste dan Keterlibatan Indonesia
Proses Dekolonisasi Republik Demokratik Timor-Leste dan Keterlibatan Indonesia
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dekolonisasi Timor Portugis dan latarbelakang keterlibatan Indonesia dalam proses dekolonisasi tersebut. Penelitian ini menggunak...
Diplomasi Pertahanan dan Diplomasi Hak Asasi Manusia Sebagai Penanggulangan Perdagangan Manusia (Studi Industri Perikanan Indonesia)
Diplomasi Pertahanan dan Diplomasi Hak Asasi Manusia Sebagai Penanggulangan Perdagangan Manusia (Studi Industri Perikanan Indonesia)
Abstrak - Penelitian ini membahas tentang diplomasi pertahanan dan diplomasi HAM yang dilakukan Indonesia sebagai penanggulangan kejahatan perdagangan manusia, khususnya di industr...

