Javascript must be enabled to continue!
Identifikasi Praktik Kefarmasian Yang Sesuai Dengan Kebutuhan Pasien Dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
View through CrossRef
The study of pharmaceutical practices in health care facilities was conducted in 2016. It aimed to identify pharmaceutical practices needed by patients and health care facilities. The study sites were in Central Java, Bali, South Kalimantan, and South Sulawesi. In each provinces, the study was conducted in one urban and one rural district areas. The sample locations were both government and private hospitals, health centers and pharmacies. The study design study was cross sectional. Data collection was carried out by in-depth interview to responsible pharmacists who did medicines management, and exit interview to patients after they received medicines services from government hospitals and primary health cares. The results showed that pharmaceutical practices needed by the health care facilities were good medicines planning andprocurement that can maintain the continuity of the availability of medicine stocks needed for patients, and the ability in managing medicines effi ciently and eff ectively. Moreover, the pharmaceutical practices needed by the communities were medicines completeness, quick services, as well as simple and complete medicines information. It is recommended that pharmacists should be trained on comprehensive medicines planning, strategy to anticipate the emptiness of medicines including lead times, and communication skills to the patients. In addition, IT supports for pharmacy services development is also needed.
Abstrak
Telah dilakukan studi mengenai praktik kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan yang bertujuan mengidentifikasi pelayanan kefarmasian yang dibutuhkan pasien dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan studi dilaksanakan di Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan. Dari masing-masing propinsi di atas dipilih satu kota dan satu kabupaten. Studi dilakukan pada tahun 2016. Lokasi penelitian adalah rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, puskesmas dan apotek dengan desain potong lintang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap apoteker penanggung jawab/pengelola obat, dan exit interview terhadap pasien rumah sakit pemerintah dan puskesmas yang baru selesai menerima pelayanan obat. Hasil penelitian menunjukkan praktik kefarmasian yang dibutuhkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan adalah perencanaan dan pengadaan obat yang baik yang dapat menjaga kesinambungan ketersediaan stok obat yang diperlukan bagi pelayanan ke pasien serta pengelolaan obat yang efektif dan efi sien. Praktikkefarmasian yang dibutuhkan masyarakat adalah tersedianya obat lengkap, kecepatan pelayanan, dan informasi obat yang singkat padat. Disarankan perlunya pelatihan perencanaan obat yang lebih komprehensif, kiat-kiat mengantisipasi kekosongan obat dan lamanya pengiriman, serta pelatihan cara berkomunikasi yang baik kepada pasien secara menyeluruh. Selain itu, dukungan teknologi informasi bagi pengembangan pelayanan farmasi juga dibutuhkan.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Title: Identifikasi Praktik Kefarmasian Yang Sesuai Dengan Kebutuhan Pasien Dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Description:
The study of pharmaceutical practices in health care facilities was conducted in 2016.
It aimed to identify pharmaceutical practices needed by patients and health care facilities.
The study sites were in Central Java, Bali, South Kalimantan, and South Sulawesi.
In each provinces, the study was conducted in one urban and one rural district areas.
The sample locations were both government and private hospitals, health centers and pharmacies.
The study design study was cross sectional.
Data collection was carried out by in-depth interview to responsible pharmacists who did medicines management, and exit interview to patients after they received medicines services from government hospitals and primary health cares.
The results showed that pharmaceutical practices needed by the health care facilities were good medicines planning andprocurement that can maintain the continuity of the availability of medicine stocks needed for patients, and the ability in managing medicines effi ciently and eff ectively.
Moreover, the pharmaceutical practices needed by the communities were medicines completeness, quick services, as well as simple and complete medicines information.
It is recommended that pharmacists should be trained on comprehensive medicines planning, strategy to anticipate the emptiness of medicines including lead times, and communication skills to the patients.
In addition, IT supports for pharmacy services development is also needed.
Abstrak
Telah dilakukan studi mengenai praktik kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan yang bertujuan mengidentifikasi pelayanan kefarmasian yang dibutuhkan pasien dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Kegiatan studi dilaksanakan di Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan.
Dari masing-masing propinsi di atas dipilih satu kota dan satu kabupaten.
Studi dilakukan pada tahun 2016.
Lokasi penelitian adalah rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, puskesmas dan apotek dengan desain potong lintang.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap apoteker penanggung jawab/pengelola obat, dan exit interview terhadap pasien rumah sakit pemerintah dan puskesmas yang baru selesai menerima pelayanan obat.
Hasil penelitian menunjukkan praktik kefarmasian yang dibutuhkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan adalah perencanaan dan pengadaan obat yang baik yang dapat menjaga kesinambungan ketersediaan stok obat yang diperlukan bagi pelayanan ke pasien serta pengelolaan obat yang efektif dan efi sien.
Praktikkefarmasian yang dibutuhkan masyarakat adalah tersedianya obat lengkap, kecepatan pelayanan, dan informasi obat yang singkat padat.
Disarankan perlunya pelatihan perencanaan obat yang lebih komprehensif, kiat-kiat mengantisipasi kekosongan obat dan lamanya pengiriman, serta pelatihan cara berkomunikasi yang baik kepada pasien secara menyeluruh.
Selain itu, dukungan teknologi informasi bagi pengembangan pelayanan farmasi juga dibutuhkan.
.
Related Results
Naskah Kebijakan Pelayanan Kesehatan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas: Rekomendasi Kebijakan Komite Nasional MOST-UNESCO Indonesia
Naskah Kebijakan Pelayanan Kesehatan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas: Rekomendasi Kebijakan Komite Nasional MOST-UNESCO Indonesia
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28H Ayat (1) dan UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 5 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kesehatan. UU 1945 Pasal 28H Ayat (1) men...
MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE MELALUI PELAYANAN PUBLIK DI DESA LISE
MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE MELALUI PELAYANAN PUBLIK DI DESA LISE
pendahuluan Kepemerintahan yang baik (good governance) merupakan isu yang paling menemuka dalam pengelolaan administrasi publik saat ini. Prasetyantoko (2008) mengatakan bahwa untu...
Hubungan mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Rias Kabupaten Bangka Selatan
Hubungan mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Rias Kabupaten Bangka Selatan
Latar Belakang: Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator penting yang harus diperhatikan dalam pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien adalah hasil penilaian pasien terhadap pel...
Analisis Pelaksanaan Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Unit Gawat Darurat Ribka Saktiana Pasaribu
Analisis Pelaksanaan Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Unit Gawat Darurat Ribka Saktiana Pasaribu
Latar belakang Keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan anal...
KUALITAS PELAYANAN PENGIRIMAN POS KILAT KHUSUS DI PT POS KEBONROJO SURABAYA
KUALITAS PELAYANAN PENGIRIMAN POS KILAT KHUSUS DI PT POS KEBONROJO SURABAYA
Pelayanan jasa merupakan salah satu bentuk pelayanan publik. Saat ini pelayanan jasa yang sering digunakan berupa jasa pengiriman barang. Penyelenggara jasa titipan adalah kegiatan...
ANALISIS STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS WAWONASA KOTA MANADO
ANALISIS STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS WAWONASA KOTA MANADO
Peraturan Menteri Kesehatan Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, menetapkan bahwa semua tenaga kefarmasian dalam melaksanakan tugas profesinya di puskesma...
Pelaksanaan Kolaborasi Komunikasi antara Dokter-Pasien di Rumah Sakit Kota Padang
Pelaksanaan Kolaborasi Komunikasi antara Dokter-Pasien di Rumah Sakit Kota Padang
Patient care in the hospital consists of 4 pillars of health professionals who play a role, namely clinicians, pharmacists, nurses and nutritionists. To realize good service to pat...
Profil Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Kefarmasian di Klinik Mabarrot MWC NU Wringinanom
Profil Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Kefarmasian di Klinik Mabarrot MWC NU Wringinanom
Sistem pelayanan kesehatan yang bertugas menyediakan layanan kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi termasuk layanan kefarmasian. Jika prosedurnya sesuai dengan standa...

