Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Pemahaman Akuntansi Forensik, Persepsi Whistleblowing, dan Moralitas Individu terhadap Pencegahan Kecurangan di Ditjen Bina Bangda

View through CrossRef
Kecurangan masih menjadi permasalahan yang serius di Indonesia, baik dalam sektor publik maupun swasta. Berbagai kasus kecurangan yang sering terjadi mencakup korupsi, manipulasi laporan keuangan, dan penyalahgunaan uang publik. Pencegahan kecurangan secara fundamental menuntut adanya kolaborasi antara faktor kognitif (pengetahuan), persepsi (sikap), dan nilai etis (moralitas). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman akuntansi forensik, persepsi whistleblowing, dan moralitas individu terhadap pencegahan kecurangan di Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 74 responden. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan software SPSS 24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi forensik berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan kecurangan, yang menegaskan bahwa semakin baik pemahaman pegawai mengenai konsep, teknik, dan prosedur akuntansi forensik, semakin efektif upaya mendeteksi manipulasi dan mencegah penyimpangan. Persepsi whistleblowing tidak berpengaruh positif dan signifikan, karena meskipun persepsinya baik, tindakan pelaporan memerlukan dukungan sistem pengendalian, budaya organisasi yang aman, serta perlindungan pelapor. Moralitas individu menunjukkan pengaruh positif dan signifikan paling dominan. Integritas, kejujuran, dan nilai moral menjadi faktor internal yang kuat dalam membentuk perilaku antikecurangan, karena individu bermoral tinggi lebih mampu mengendalikan tindakan melanggar aturan dan memahami dampak negatif kecurangan. Secara simultan, ketiga variabel memiliki berdampak positif dan signifikan terhadap pencegahan kecurangan di Ditjen Bina Bangda, dengan nilai koefisiensi determinasi sebesar 82,1%, sedangkan sisanya 17,9% disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini (R2 = 0,821).
Title: Pemahaman Akuntansi Forensik, Persepsi Whistleblowing, dan Moralitas Individu terhadap Pencegahan Kecurangan di Ditjen Bina Bangda
Description:
Kecurangan masih menjadi permasalahan yang serius di Indonesia, baik dalam sektor publik maupun swasta.
Berbagai kasus kecurangan yang sering terjadi mencakup korupsi, manipulasi laporan keuangan, dan penyalahgunaan uang publik.
Pencegahan kecurangan secara fundamental menuntut adanya kolaborasi antara faktor kognitif (pengetahuan), persepsi (sikap), dan nilai etis (moralitas).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman akuntansi forensik, persepsi whistleblowing, dan moralitas individu terhadap pencegahan kecurangan di Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda).
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 74 responden.
Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan software SPSS 24.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi forensik berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan kecurangan, yang menegaskan bahwa semakin baik pemahaman pegawai mengenai konsep, teknik, dan prosedur akuntansi forensik, semakin efektif upaya mendeteksi manipulasi dan mencegah penyimpangan.
Persepsi whistleblowing tidak berpengaruh positif dan signifikan, karena meskipun persepsinya baik, tindakan pelaporan memerlukan dukungan sistem pengendalian, budaya organisasi yang aman, serta perlindungan pelapor.
Moralitas individu menunjukkan pengaruh positif dan signifikan paling dominan.
Integritas, kejujuran, dan nilai moral menjadi faktor internal yang kuat dalam membentuk perilaku antikecurangan, karena individu bermoral tinggi lebih mampu mengendalikan tindakan melanggar aturan dan memahami dampak negatif kecurangan.
Secara simultan, ketiga variabel memiliki berdampak positif dan signifikan terhadap pencegahan kecurangan di Ditjen Bina Bangda, dengan nilai koefisiensi determinasi sebesar 82,1%, sedangkan sisanya 17,9% disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini (R2 = 0,821).

Related Results

Pencegahan Kecurangan di Pemerintah Desa melalui Moralitas Individual
Pencegahan Kecurangan di Pemerintah Desa melalui Moralitas Individual
Fraud Prevention in Village Government through Individual Morality  Purpose: The aims to determine impact of village apparatus competence, whistleblowing, internal control, financi...
Studi Eksperimen: Moralitas Individu, Kesesuaian Kompensasi, dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
Studi Eksperimen: Moralitas Individu, Kesesuaian Kompensasi, dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
Perkembangan kasus kecurangan akuntansi dapat disebabkan oleh faktor yang berasal dari individu maupun organisasi. Tinggi rendahnya moralitas individu serta kesesuaian kompensasi y...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
FAKTOR-FAKTOR PEMICU PENTINGNYA AKUNTANSI FORENSIK
FAKTOR-FAKTOR PEMICU PENTINGNYA AKUNTANSI FORENSIK
Akuntansi Forensik memegang peranan penting dalam mengungkap kejahatan-kejahatan financial terutama yang dilakukan oleh mereka yang profesional, berpendidikan dan berilmu pengetahu...
Pengungkapan Kecurangan di Lembaga Kemahasiswaan
Pengungkapan Kecurangan di Lembaga Kemahasiswaan
Latar Belakang:Fenomena terjadinya kecurangan di Lembaga Kemahasiswaan (LK) tingkat fakultas menunjukkan adanya gambaran terjadinya praktik-praktik kecurangan yang dilakukan LK tin...
Factors Influencing Intention in Implementing an External Whistleblowing System
Factors Influencing Intention in Implementing an External Whistleblowing System
This studies goals to research and decide the simultaneous and partial affect of Instrumental, Affective, Self-Efficacy, Perceived Controllability, and Independence Commitment on E...
Representasi Komunikasi Forensik pada Film Ice Cold
Representasi Komunikasi Forensik pada Film Ice Cold
Abstract. The murder case of Mirna Salihin, which sparked controversy and inspired the making of the documentary film "Ice Cold." This film attempts to depict the chronology of the...

Back to Top