Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PENGENDALIAN LIMBAH AMONIA BUDIDAYA IKAN LELE DENGAN SISTEM HETEROTROFIK MENUJU SISTEM AKUAKULTUR NIR-LIMBAH

View through CrossRef
Limbah amonia dari budidaya ikan yang dibuang langsung ke perairan sekitarnya merupakan sumber pencemaran yang perlu mendapat perhatian. Potensi pasokan amonia ke dalam air budidaya ikan adalah sebesar 75% dari kadar nitrogen dalam pakan. Pengubahan nitrogen dalam sistem akuakultur yang berperan dalam pengurangan kandungan amonia terdiri atas tiga proses yakni proses fotoautotrofik oleh alga, proses bakterial autotrofik yang mengubah amonia menjadi nitrat, dan proses bakterial heterotrofik yang mengubah amonia langsung menjadi biomassa mikroba. Proses mikrobial seperti tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas air dan mengurangi beban cemaran limbah budidaya ikan ke perairan sekitarnya. Pada prinsipnya kandungan amonia di dalam air kolam dirangsang untuk berubah menjadi alga atau bakteri. Penelitian penerapan sistem heterotrofik untuk mengurangi beban limbah budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) telah dilaksanakan di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi. Air pemeliharaan ikan lele dialirkan ke ruang pemeliharaan ikan nila. Pemberian pakan hanya diberikan kepada ikan lele. Kandungan amonia yang ada dipacu untuk diubah menjadi biomassa bakteri dengan memberikan pasokan karbon berupa molases yang merupakan hasil samping pabrik gula. Hasil yang diperoleh setelah pengamatan selama 7 minggu menunjukkan bahwa kadar amonia dapat dipertahankan di bawah 0,1 mg/L NH3/L, produksi biomassa bakteri dalam bentuk padatan volatil total (total volatile solids, TVS) mencapai 85,5 mg/L dan pertumbuhan ikan nila mencapai 30,53%. Sistem heterotrofik mempunyai peluang untuk diterapkan dalam pemanfaatan limbah amonia pada pemeliharaan ikan lele. Namun demikian, masih diperlukan kajian lebih lanjut dalam rangka optimalisasi keragaan sistem heterotrofik dalam mendukung sistem akuakultur nir-limbah (zero-waste aquaculture).Waste from fish farm which is directly discharged to the sorounding water is a potential source of pollution. Theoritically, about 75% of nitrogen in feed will be released as fish waste. Conversion of nitrogenous compound in aquaculture system, which plays a key role in ammonium reduction, consisted of three processes, i.e. phototoautotrophic algal, autotrophic bacterial conversion of ammonium to nitrate, and heterotrophic bacterial conversion of ammonium to microbe biomass. This bacterial process can be exploited to improve water quality in fish pond and simultanously decrease impact of fish culture waste. Principally, ammonium compound in water is directly converted to bacterial biomass. An experiment applying heterotrophic system in catfish (Clarias gariepinus) culture had been conducted at the Research Institute for Freshwater Fish Breeding and Aquaculture, Sukamandi. Water from catfish pond was flown to the tilapia pond. Feed was given only to catfish. Supplemented molasses as carbon sources was spread onto tilapia pond to enhance ammonium conversion to bacterial biomass. The results showed that during 7 weeks of observation, ammonium level in tilapia pond could be controlled below 0.1 mg NH3/L, production of bacterial biomass reached up to  85,5 mg/L in term of total volatile solids (TVS), whereas tilapia grew 30,53% from their initial weight. Heterotrophic system has a highly potential application in utilization of ammonium waste of catfish culture. However, it is still required advance studies to optimize this systems performance in relation to zero-waste aquaculture development.
Agency for Marine and Fisheries Research and Development
Title: PENGENDALIAN LIMBAH AMONIA BUDIDAYA IKAN LELE DENGAN SISTEM HETEROTROFIK MENUJU SISTEM AKUAKULTUR NIR-LIMBAH
Description:
Limbah amonia dari budidaya ikan yang dibuang langsung ke perairan sekitarnya merupakan sumber pencemaran yang perlu mendapat perhatian.
Potensi pasokan amonia ke dalam air budidaya ikan adalah sebesar 75% dari kadar nitrogen dalam pakan.
Pengubahan nitrogen dalam sistem akuakultur yang berperan dalam pengurangan kandungan amonia terdiri atas tiga proses yakni proses fotoautotrofik oleh alga, proses bakterial autotrofik yang mengubah amonia menjadi nitrat, dan proses bakterial heterotrofik yang mengubah amonia langsung menjadi biomassa mikroba.
Proses mikrobial seperti tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas air dan mengurangi beban cemaran limbah budidaya ikan ke perairan sekitarnya.
Pada prinsipnya kandungan amonia di dalam air kolam dirangsang untuk berubah menjadi alga atau bakteri.
Penelitian penerapan sistem heterotrofik untuk mengurangi beban limbah budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) telah dilaksanakan di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi.
Air pemeliharaan ikan lele dialirkan ke ruang pemeliharaan ikan nila.
Pemberian pakan hanya diberikan kepada ikan lele.
Kandungan amonia yang ada dipacu untuk diubah menjadi biomassa bakteri dengan memberikan pasokan karbon berupa molases yang merupakan hasil samping pabrik gula.
Hasil yang diperoleh setelah pengamatan selama 7 minggu menunjukkan bahwa kadar amonia dapat dipertahankan di bawah 0,1 mg/L NH3/L, produksi biomassa bakteri dalam bentuk padatan volatil total (total volatile solids, TVS) mencapai 85,5 mg/L dan pertumbuhan ikan nila mencapai 30,53%.
Sistem heterotrofik mempunyai peluang untuk diterapkan dalam pemanfaatan limbah amonia pada pemeliharaan ikan lele.
Namun demikian, masih diperlukan kajian lebih lanjut dalam rangka optimalisasi keragaan sistem heterotrofik dalam mendukung sistem akuakultur nir-limbah (zero-waste aquaculture).
Waste from fish farm which is directly discharged to the sorounding water is a potential source of pollution.
Theoritically, about 75% of nitrogen in feed will be released as fish waste.
Conversion of nitrogenous compound in aquaculture system, which plays a key role in ammonium reduction, consisted of three processes, i.
e.
phototoautotrophic algal, autotrophic bacterial conversion of ammonium to nitrate, and heterotrophic bacterial conversion of ammonium to microbe biomass.
This bacterial process can be exploited to improve water quality in fish pond and simultanously decrease impact of fish culture waste.
Principally, ammonium compound in water is directly converted to bacterial biomass.
An experiment applying heterotrophic system in catfish (Clarias gariepinus) culture had been conducted at the Research Institute for Freshwater Fish Breeding and Aquaculture, Sukamandi.
Water from catfish pond was flown to the tilapia pond.
Feed was given only to catfish.
Supplemented molasses as carbon sources was spread onto tilapia pond to enhance ammonium conversion to bacterial biomass.
The results showed that during 7 weeks of observation, ammonium level in tilapia pond could be controlled below 0.
1 mg NH3/L, production of bacterial biomass reached up to  85,5 mg/L in term of total volatile solids (TVS), whereas tilapia grew 30,53% from their initial weight.
Heterotrophic system has a highly potential application in utilization of ammonium waste of catfish culture.
However, it is still required advance studies to optimize this systems performance in relation to zero-waste aquaculture development.

Related Results

TINGKAT PREVELENSI EKTOPARASIT IKAN BAWAL BINTANG (Trachinotus blochii) di BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG
TINGKAT PREVELENSI EKTOPARASIT IKAN BAWAL BINTANG (Trachinotus blochii) di BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG
Kegiatan budidaya dengan sistem keramba jaring apung (KJA), merupakan inovasi yang diharapkan mampu meningkatkan efesiensi, efektivitas, dan kontrol terhadap ikan yang dibudidayaka...
Akuaponik sebagai Sistem Pemanfaatan Limbah Budidaya Ikan Lele di Desa Kalijaran
Akuaponik sebagai Sistem Pemanfaatan Limbah Budidaya Ikan Lele di Desa Kalijaran
Kelompok tani ikan Mina Jaya Desa Kalijaran mempunyai potensi dalam memproduksi sayur-sayuran dengan menggunakan sistem akuaponik, hal ini karena didukung oleh limbah budidaya ikan...
PENINGKATAN NILAI TAMBAH IKAN LELE MELALUI PENGOLAHAN KREATIF DAN BERKELANJUTAN DI DESA KALUKUBULA KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI
PENINGKATAN NILAI TAMBAH IKAN LELE MELALUI PENGOLAHAN KREATIF DAN BERKELANJUTAN DI DESA KALUKUBULA KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI
Kabupaten Sigi memiliki potensi besar dalam budidaya ikan lele, namun sebagian besar produksinya masih dijual dalam bentuk segar sehingga nilai tambahnya rendah. Pengolahan ikan le...
Pengolahan Ikan di Kabupaten Bantaeng
Pengolahan Ikan di Kabupaten Bantaeng
UKM Melati dan UKM Sipatujui adalah dua mitra yang bergerak dalam bidang pengolahan ikan di Kabupaten Bantaeng. Kedua mitra selama ini hanya mengembangkan kerupuk amplang dan bakso...
Pemanfaatan Limbah Pelelangan Ikan Jembatan Puri Di Kota Sorong Sebagai Bahan Pembuatan Tepung Ikan
Pemanfaatan Limbah Pelelangan Ikan Jembatan Puri Di Kota Sorong Sebagai Bahan Pembuatan Tepung Ikan
Kegiatan pelelangan ikan di TPI Jembatan Puri atau PPI Klaligi berlangsung setiap hari demikian juga dengan limbah hasil pelelangan ikan sebagai hasil sampingan terbuang ke daerah ...

Back to Top